NovelToon NovelToon
Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Keluarga / Cerai
Popularitas:870
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Makam Di Tengah Hujan.

Aku tidak pulang.

Kakiku bergerak sendiri. Entah kapan aku belok ke kanan di pertigaan dekat warung Pak Soleh, entah kapan aku melewati jalan tanah yang becek itu, entah kapan hujan mulai turun dan aku tidak lari mencari tempat berteduh tapi malah terus jalan. Baju basah kuyup. Sandal jepit yang solnya sudah tipis itu sekarang penuh lumpur. Aku tidak peduli.

Kakiku tahu ke mana mau pergi, meskipun kepalaku belum memutuskan apa-apa.

Tempat itu tidak jauh dari kampung. Tapi terasa jauh. Selalu terasa jauh setiap kali aku ke sini, karena jarak yang sebenarnya bukan soal berapa meter, tapi soal apa yang menungguku di ujungnya.

Makam.

Sederhana. Nisan putih yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian karena tidak ada yang sempat mengecat ulang. Nama yang terukir di sana sudah agak pudar, tapi aku hafal setiap hurufnya. Sudah lima tahun aku hafal, dan tidak pernah lupa, tidak akan pernah lupa.

Abdul Rahman.

Bapakku.

Aku berlutut.

Tidak tahu kapan lututku menyentuh tanah. Tahu-tahu aku sudah di sini, di lumpur basah yang dingin, di depan nisan itu, dengan hujan yang makin deras menghantam punggungku kayak tangan yang terus-terusan menepuk, menepuk, menepuk.

"Pak..."

Suaraku pecah di kata pertama.

Tenggorokanku terasa seperti ada yang meremas dari dalam. Aku telan ludah. Coba lagi.

"Pak, aku... aku gagal."

Hujan tidak berhenti. Tidak ada jawaban. Tentu saja tidak ada jawaban. Itu yang paling menyakitkan dari datang ke sini. Kamu bicara dan bicara dan satu-satunya yang membalas adalah suara hujan dan angin dan suara kamu sendiri yang makin lama makin tidak karuan.

Tanganku turun ke tanah di depan nisan.

Aku tidak tahu kapan aku mulai memukul. Tapi tiba-tiba tanganku sudah menghantam tanah, satu kali, dua kali, berkali-kali, tanah basah itu muncrat ke baju, ke muka, tapi aku tidak berhenti, karena ada sesuatu di dalam dadaku yang terlalu penuh dan terlalu sesak dan satu-satunya cara supaya tidak meledak adalah terus pukul, terus pukul sampai tanganku perih, sampai ada merah tipis di buku-buku jariku yang bercampur dengan lumpur, sampai aku tidak punya tenaga lagi.

Aku berhenti.

Tangan kiriku gemetar di atas tanah. Darah tipis bercampur air hujan mengalir pelan di punggung tanganku, hilang ke tanah, hilang entah ke mana.

Air mata aku tidak sadar kapan keluarnya. Mungkin dari tadi. Mungkin dari jembatan tadi. Mungkin sudah dari pagi ketika aku pakai baju terbaikku dan berangkat dengan parcel itu dan berjalan dengan kepala yang penuh harapan yang ternyata tidak ada harganya sama sekali.

"Kenapa Bapak pergi," aku berbisik.

Bukan pertanyaan. Lebih ke kalimat yang sudah terlalu lama aku tahan dan akhirnya jebol juga malam ini.

"Kenapa Bapak harus pergi waktu aku masih... waktu aku belum bisa apa-apa, Pak. Waktu aku masih butuh Bapak. Waktu aku masih SMA. Waktu adik masih kecil banget. Kenapa..."

Aku menggigit bibir bawahku keras-keras supaya tidak meraung. Tapi tetap keluar juga. Pelan. Suara yang malu-malu tapi tidak bisa ditahan.

"Tadi aku diludahi, Pak."

Suaraku aneh sekali waktu bilang kalimat itu. Datar. Seperti orang melaporkan cuaca. Tapi justru itu yang membuat aku sendiri ngeri mendengarnya.

"Aku bawa parcel. Beli pakai tabungan empat bulan. Aku pikir aku sudah cukup. Aku pikir kalau aku datang baik-baik, sopan, dengan niat yang serius... aku pikir orang akan lihat niatnya, Pak, bukan rekening tabungannya. Tapi ternyata..."

Aku tertawa. Tawa yang salah. Tawa yang keluar di waktu yang seharusnya bukan waktunya ketawa, tapi keluar juga karena kadang ketika sesuatu terlalu menyakitkan untuk ditangisi, tubuhmu memilih ketawa sebagai gantinya.

"Ternyata aku cuma bocah dongo yang gak punya bapak. Itu kata dia, Pak. Kata Pak Hendra. Siapa yang mau biayain pernikahan lo. Harusnya lo sadar."

Aku terdiam.

Hujan terus turun.

Dan dalam keheningan yang basah dan dingin itu, ada suara kecil di sudut kepalaku yang muncul pelan-pelan, suara yang aku tidak mau dengarkan tapi makin lama makin keras, suara yang bilang: mungkin dia benar. Mungkin memang tidak ada gunanya. Mungkin ini sudah ujungnya. Mungkin lebih baik berhenti sekalian, berhenti dari semuanya, berhenti capek, berhenti nahan, berhenti pura-pura kuat padahal sudah lama sekali aku tidak merasa kuat.

Tangan kananku masuk ke saku celana.

Bukan ke cincin.

Ke belati kecil yang selalu kubawa sejak proyek kemarin. Belati lipat, ukurannya tidak besar, lebih ke pisau kerja daripada senjata, tapi cukup. Cukup untuk banyak hal.

Aku keluarkan.

Duduk di lumpur, hujan deras, depan nisan Bapak, dengan belati di tangan kanan dan luka di tangan kiri, dan kepala yang terlalu penuh dengan suara Pak Hendra dan suara ibu-ibu di warung dan suara anggur yang pecah di lantai teras dan suara pintu yang dibanting dan ludah hangat di kakiku dan semua itu berputar dan berputar dan tidak berhenti.

Aku menatap belati itu lama.

Lama sekali.

Dan kemudian, entah dari mana, entah dari sudut ingatan yang mana, muncullah wajah Ibu.

Bukan wajah Ibu waktu muda yang ada di foto di lemari. Bukan. Wajah Ibu yang sekarang. Wajah Ibu yang tadi pagi waktu aku pamit, beliau sedang duduk di kursi rotannya yang sudah agak kendur anyamannya, dengan daster batik lusuh yang warnanya sudah pudar, rambut yang sudah lebih banyak putihnya dari hitam, dan beliau bilang sambil tidak menatapku langsung karena beliau tidak mau aku lihat matanya yang cemas, "Hati-hati, Tri. Pulangnya jangan kemalaman."

Itu saja.

Hati-hati. Pulangnya jangan kemalaman.

Kalimat yang sama yang selalu beliau bilang setiap kali aku pergi ke mana pun. Kalimat yang sudah ribuan kali aku dengar sampai kadang aku tidak benar-benar mendengarnya lagi. Kalimat yang biasa saja, tidak ada istimewanya, tidak puitis, tidak dramatis.

Tapi malam ini kalimat itu menghantamku tepat di tengah dada.

Karena Ibu masih menunggu. Di kursi rotan itu. Sekarang juga. Di tengah hujan ini, Ibu pasti sudah cemas karena aku belum pulang. Ibu tidak tahu ke mana aku pergi. Ibu tidak tahu apa yang terjadi tadi pagi. Dan Ibu akan duduk di sana, di kursi itu, menatap pintu, menunggu suara sandal jepitku di teras.

Kalau aku tidak pulang malam ini, Ibu akan menunggu terus.

Besok pagi, lusa, selamanya, Ibu akan menunggu seseorang yang tidak kembali. Dan beliau tidak akan pernah tahu alasannya. Beliau cuma akan duduk di kursi rotan yang kendur itu, dengan daster batik yang warnanya pudar, dan menunggu.

Adikku juga. Dani. Yang tadi pagi masih minta uang jajan dengan muka polosnya.

Aku menatap belati itu sekali lagi.

Lalu perlahan, aku lipat.

Aku masukkan ke saku.

Tanganku gemetar. Badanku gemetar. Entah karena dingin atau karena sesuatu yang lain, aku tidak bisa memisahkan keduanya sekarang.

Aku putar badan ke arah nisan. Ke nama yang hampir pudar itu.

"Maaf, Pak."

Suaraku menggigil.

"Maaf tadi... maaf aku hampir..."

Aku tidak bisa melanjutkannya. Ada yang mengganjal di tengah kalimat dan tidak mau pergi.

Aku duduk di sana beberapa saat lagi. Membiarkan hujan terus mengguyur. Membiarkan dingin itu meresap sampai ke tulang. Mungkin ini semacam hukuman yang pantas. Mungkin tidak. Aku tidak tahu.

Yang aku tahu, satu kalimat muncul di kepalaku, pelan-pelan, seperti sesuatu yang sudah lama tersimpan akhirnya mau keluar.

"Aku akan coba lagi, Pak."

Bukan kalimat yang gagah. Bukan kalimat yang penuh semangat atau berapi-api. Lebih ke... bisikan orang yang kelelahan tapi belum mau berhenti. Orang yang sudah jatuh dan lututnya berdarah dan tidak yakin masih bisa bangun, tapi tetap bilang akan coba.

"Aku tidak tahu caranya. Aku tidak tahu mulai dari mana. Tapi aku akan coba. Karena Ibu masih di rumah. Karena Dani masih butuh uang jajan. Karena..."

Aku berhenti.

Menelan sesuatu yang terasa pahit di tenggorokan.

"Karena aku belum selesai, Pak. Belum."

Aku berdiri.

Lututku penuh lumpur. Baju basah dan berat. Tangan kiri masih perih dengan goresan tipis yang sudah berhenti berdarah tapi tetap berdenyut. Aku berdiri pelan-pelan seperti orang tua, seperti orang yang tubuhnya baru saja menanggung sesuatu yang terlalu berat untuk ukurannya.

Aku tatap nisan itu satu kali lagi.

Nama yang hampir pudar itu.

Abdul Rahman.

Bapak yang tidak sempat aku tunjukkan bahwa aku bisa jadi sesuatu. Bapak yang tidak akan pernah lihat aku berhasil. Bapak yang tidak ada di sini malam ini kecuali sebagai nama di batu putih yang catnya mengelupas, di bawah hujan, di tengah pemakaman yang sepi, dengan anaknya berdiri di depannya dengan tangan berdarah dan hati yang remuk tapi masih bernafas.

Masih bernafas.

Itu dulu yang penting. Yang lain nanti.

Aku berbalik. Aku pulang.

Langkah pertamaku berat sekali. Langkah kedua sedikit lebih ringan. Langkah ketiga, keempat, kelima, aku tidak hitung lagi, aku cuma jalan, cuma terus bergerak maju, karena kalau aku berhenti sekarang aku tidak yakin bisa mulai lagi.

Hujan masih turun.

Tapi aku sudah tidak merasakannya.

1
ASASTA
😄😄
tria123
ruqiyah aja tad si nirmala setan nya banyak
tria123
kasih aku waktu... demi si toxic.. pertahankan aja si toxic
tria123
udah mending cerai, nikahi sonia dan lo nanti bisa nyanyi "kubuat pagar besi yang mengelilingi dirimu... "
tria123
saya mencium perselingkuhan nih
tria123
bang bang kalima-lima gobang bang
tria123
paling gak suka sama perilaku seperti itu, emangnya esok nya masalah selesai ketika lo mati bundir, enggaklah..
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
tria123
kebiasaan warga Konoha nih, ekonomi sulit gaya elit akhirnya hutang melangit
tria123
bemo oh bemo... 🤣
tria123
peran pelawak nih si bemo
tria123
haji udin aja baik, masa istri sendiri pelit, udah lah ceraikan nirmala nikahi haji udin ehh... 🤣
tria123
dan kedepan nya lo gak dapat lagi rezeki, karena rezeki yang lo dapat gak di Terima secara ikhlas, liat aja hukum karma nya
tria123
dasar anak daj**, masih kecil udah bicara kayak gitu ampun generasi anak Konoha
tria123
istri macam apa kamu 🤭🤣
tria123
hahahahah, denger kalo mau makan enak yaudah lahiran di warteg atau di warung nasi padang, nama nya juga rumah sakit
tria123
makanya dengerin nasihat ibu, cerita ini ada makna dan nasihat tertentu tentang firasat seorang ibu
tria123
tolol🤣, firasat ibu gak salah, dengerin dia yang ngelahirin lo
tria123
cerita nya bagus.. drama kehidupan nya berasa nyata dan semoga satria bisa bangkit dan sukses jangan gampang nyerah

pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!