NovelToon NovelToon
Idola Kampus Itu Pacarku

Idola Kampus Itu Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"

​Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Magnet di hari emas

Manda menyelesaikan sambutannya dengan suara yang sedikit bergetar, masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Lara tidak akan muncul. Namun, suasana berubah drastis saat Randy melangkah maju ke depan mikrofon dengan senyum lebar yang penuh arti.

​"Terima kasih kepada Sekretaris Umum atas sambutannya," ujar Randy dengan nada suara yang lantang, membuat seluruh lapangan kembali riuh. "Selanjutnya, momen yang kita tunggu-tunggu. Sebagai bagian dari tradisi tahun emas ini, mari kita sambut Ketua Panitia PKKMB kita, Baskara Langit, didampingi oleh perwakilan Mahasiswa Baru terbaik dari Kelompok 3, Lara Wijaya, untuk memberikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi!"

​Manda yang baru saja hendak turun dari panggung seketika membeku. Langkahnya terhenti tepat di pinggir podium. Matanya membelalak lebar saat tirai di belakang panggung tersingkap.

​Baskara melangkah keluar dengan wibawa yang luar biasa, mengenakan jas almamater yang sangat rapi. Di sampingnya, Lara berjalan dengan anggun, mengenakan pakaian formal yang elegan namun tetap sopan.

Suara riuh tepuk tangan dan siulan kagum dari ribuan mahasiswa baru memenuhi udara. Semua orang terpesona melihat keserasian mereka berdua.

​Baskara sempat berhenti sejenak tepat di samping Manda yang masih mematung pucat. Tanpa sepatah kata pun, Baskara hanya memberikan tatapan dingin yang tajam—sebuah pernyataan bisu bahwa rencana licik Manda telah hancur berkeping-keping.

​Baskara dan Lara sampai di depan mikrofon. Baskara menyesuaikan ketinggian mikrofon untuk Lara terlebih dahulu dengan gerakan yang sangat perhatian, sebelum ia mulai berbicara.

​"Selamat pagi, rekan-rekan mahasiswa dan seluruh civitas akademika," suara berat Baskara bergema, berwibawa namun kali ini terdengar lebih hangat. "Hari ini adalah hari istimewa bagi kampus kita. Dan di samping saya, Lara Wijaya, mewakili kalian semua sebagai wajah baru masa depan kampus ini."

​Lara tersenyum ke arah massa, lalu mulai berbicara dengan nada yang tenang dan jelas. Di bawah panggung, Randy mengacungkan jempolnya, sementara Manda hanya bisa menunduk dalam, menahan malu dan amarah yang meledak-ledak di dalam hatinya.

Gemuruh di lapangan utama kampus pagi itu bukan lagi sekadar tepuk tangan formal, melainkan luapan kekaguman dari ribuan pasang mata. Kehadiran Baskara dan Lara di atas podium menciptakan visual yang begitu kontras namun sempurna, seolah-olah mereka adalah raja dan ratu di hari emas tersebut.

​Suasana lapangan menjadi riuh rendah. Dari barisan mahasiswa baru, para laki-laki tak henti-hentinya berbisik memuji kecantikan Lara. Dengan riasan tipis yang elegan dan senyum tulus yang tersungging di bibirnya, Lara memancarkan aura "Gadis Kampus" yang cerdas namun tetap rendah hati.

​"Gila, itu maba kelompok mana? Cantik banget, natural lagi!" celetuk salah satu mahasiswa di barisan depan.

"Namanya Lara, ketua kelompok 3. Beruntung banget ya bisa berdiri di sebelah Kak Baskara," sahut yang lain dengan nada iri.

​Di sisi lain, para mahasiswi senior maupun baru pun dibuat histeris dalam diam. Baskara yang biasanya terlihat menyeramkan dan dingin, pagi ini tampak begitu mempesona. Jas almamater yang melekat sempurna di bahu tegapnya, ditambah dengan tatapan matanya yang tajam namun terlihat lebih "hidup" saat melirik ke arah Lara, membuat banyak mahasiswi tak henti-hentinya mengambil foto dari kejauhan.

​"Kak Baskara hari ini gantengnya nggak ada obat!" bisik seorang mahasiswi ke temannya.

"Lihat deh, cara dia nungguin Lara selesai bicara... Gentle banget!"

​Baskara menyadari keriuhan itu. Bukannya merasa risih, ia justru semakin merapatkan posisinya dengan Lara. Ia seolah ingin menegaskan kepada semua orang di sana—terutama kepada Manda yang masih berdiri di sudut panggung—bahwa Lara adalah tanggung jawabnya dan pusat perhatiannya hari ini.

​Lara yang merasakan tatapan ribuan orang padanya sempat merasa sedikit gugup, namun setiap kali ia melirik ke samping, ia menemukan sorot mata Baskara yang menenangkan. Seolah-olah Baskara sedang berkata, "Jangan takut, saya ada di sini."

​Sambutan pun berakhir dengan sangat manis. Saat mereka hendak turun dari podium, Baskara secara spontan menawarkan tangannya untuk membantu Lara menuruni tangga panggung yang cukup tinggi. Tindakan kecil itu kembali memicu sorakan dari para mahasiswa, membuat wajah Lara memerah sempurna, namun hatinya merasa sangat dilindungi.

1
ASTRI LIANTI
kok di paragraf atas ga berjilbab kok di sini berjilbab sih
Zet3: mksh kak koreksi nya,aku perbaiki yaa🙏🏻
total 1 replies
Ryuu
semangat terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!