NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Mafia

Benih Rahasia Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Anak Genius
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.

Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.

Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.

Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.

Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam

Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14 Kita Bercerai Saja

"Pergi, Dante. Pulanglah ke rumah besar mu dan jangan pernah menapakkan kaki di sini lagi," ucap Venus dengan tegas namun ada getaran yang tak bisa ia sembunyikan di balik topeng kulitnya.

Venus berdiri mematung di depan teras rumah, sementara Dante masih terpaku setelah tepisan kasar yang baru saja diterimanya.

Angin pagi Amsterdam yang dingin terasa menusuk hingga ke tulang, namun tak sedingin tatapan mata Venus.

"Kau memintaku pergi setelah tujuh tahun aku mencari mu seperti orang gila? Aku baru saja menemukanmu, Venus. Aku tidak akan membiarkanmu hilang lagi." Dante melangkah maju, suaranya parau oleh emosi yang tertahan di tenggorokan.

"Kau sudah kehilangan aku saat kau membiarkan api itu membakar rumah kita!" bentak Venus, akhirnya emosinya meledak. "Dan sekarang, kehadiranmu hanya akan membawa luka baru. Kau lihat anak itu? Kau lihat Sean? Dia membencimu, Dante. Dia membencimu lebih dari apa pun di dunia ini!"

Dante menggeleng cepat dengan mata memerah. "Dia membenciku karena dia tidak tahu kebenarannya! Dia tidak tahu kalau aku mencintainya, kalau aku mencintaimu!"

"Cinta?" Venus tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar menyakitkan. "Cinta macam apa yang membuatmu bersanding dengan Bianca di pelaminan? Cinta macam apa yang membuatmu memberikan posisi yang seharusnya milikku kepada wanita yang ingin melenyapkan ku? Jangan bicara soal cinta padaku sementara kau masih memakai cincin pernikahan dengan wanita itu di jarimu!"

"Pernikahan itu tidak pernah kuinginkan, kau tahu itu! Aku dijebak, Venus! Aku akan mengakhirinya, aku akan menceraikannya hari ini juga jika itu yang kau mau!" ucap Dante menunduk, menatap jemarinya dengan rasa jijik.

"Sudah terlambat!" Venus menunjuk ke arah pintu rumahnya yang tertutup. "Sean adalah prioritasku sekarang. Dia sudah cukup menderita tumbuh tanpa ayah, dan aku tidak akan membiarkannya menderita lagi karena harus melihat ayahnya membagi hati dengan wanita lain. Selama kau masih berstatus sebagai suami Bianca, bagiku kau adalah musuh. Menjauh lah demi Sean!"

"Aku tidak bisa menjauh!" Dante berteriak, frustrasinya memuncak. "Dia darah dagingku! Kau tidak punya hak menjauhkan seorang ayah dari putranya!"

"Ayah? Di mana sosok ayah itu saat Sean menangis karena diejek teman-temannya sebagai anak monster? Di mana kau saat aku berdarah-darah menyelamatkannya dari api? Kau tidak ada, Dante. Yang ada hanyalah Paman Leo. Jadi jangan berani-berani menuntut hakmu sekarang!"

Dante terdiam, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Kata-kata Venus menghantamnya lebih keras daripada peluru mana pun yang pernah menembus tubuhnya.

"Sudah, sudah! Hentikan kalian berdua!" Leo berdiri di tengah-tengah mereka sebagai pembatas. Ia menatap kakaknya, lalu beralih pada Venus. Suasana mendadak menjadi sangat kaku.

"Kak Dante, kau harus tenang. Berteriak di depan rumah ini hanya akan membuat Sean semakin membencimu. Dia ada di dalam, dia mendengar semuanya," ucap Leo dengan suara rendah yang penuh peringatan.

"Dia harus tahu aku menginginkannya, Leo!" sahut Dante keras kepala.

"Dan itu masalahnya!" Leo mendorong dada Dante pelan agar menjauh.

"Dia tahu kau ayahnya, tapi dia juga tahu kau adalah suami dari wanita yang mungkin saja dalang di balik penderitaan ibunya. Kau pikir anak secerdas Sean bisa menerima itu begitu saja? Kau pikir dia akan langsung memelukmu dan memanggilmu papa?"

"Lalu aku harus apa? Menunggu sampai dia tumbuh dewasa dan semakin membenciku?"

"Kau harus membuktikan dirimu, Kak. Bukan dengan kata-kata, bukan dengan paksaan. Selesaikan dulu urusanmu di Mansion Carson. Bersihkan namamu, bersihkan hidupmu dari Bianca. Selama Bianca masih ada di sekitarmu, kau adalah ancaman bagi mereka," ucap Leo menasehati.

"Dengarkan adikmu, Dante. Pergilah. Aku tidak ingin Sean melihat kita seperti ini," ucap Venus memalingkan wajah, menolak untuk menatap Dante.

Dante menatap punggung Venus yang nampak tegar namun rapuh di saat yang bersamaan. Ia menyadari bahwa memenangkan kembali kepercayaan istri dan anaknya tidak akan semudah memenangkan perang antar mafia.

"Aku akan pergi sekarang," ucap Dante akhirnya. "Tapi dengarkan ini, Venus. Aku tidak akan menyerah. Aku akan menghancurkan siapa pun yang pernah menyakitimu, termasuk keluarga Bianca. Aku akan mendapatkan kalian kembali, meski aku harus membakar seluruh Amsterdam untuk melakukannya."

"Jangan membakar apa pun lagi, Dante. Cukup hati kami saja yang sudah kau buat hangus," sahut Venus tanpa menoleh.

Dante tertegun. Ia memberikan tatapan terakhir pada Leo, sebuah tatapan yang meminta adiknya itu untuk tetap menjaga mereka sebelum ia berbalik menuju mobilnya.

Leo menghela napas panjang saat mobil Dante meluncur pergi. Ia menoleh pada Venus yang kini bahunya nampak bergetar. "Kau baik-baik saja, Kakak Ipar?"

Venus tidak menjawab. Ia hanya terus menatap jalanan kosong di depannya. Di dalam rumah, di balik jendela, Sean berdiri memperhatikan kepergian mobil ayahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Ada kerinduan yang tersembunyi di balik kebenciannya, sebuah konflik batin yang belum mampu diselesaikan oleh bocah berusia enam tahun itu.

"Dia tidak akan pernah mengerti, Leo," bisik Venus lirih. "Bahwa setiap kali aku melihat wajahnya, aku melihat semua alasan mengapa aku dulu sangat mencintainya... dan mengapa sekarang aku begitu takut untuk kembali."

Leo terdiam, menyadari bahwa badai besar baru saja dimulai, dan kali ini, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar siap untuk menghadapinya.

*******

"Kita bercerai saja, Bianca. Hari ini juga," ucap Dante terdengar dingin dan tajam, membelah keheningan ruang kerja yang mewah itu.

Ia meletakkan selembar map hitam di atas meja, tepat di depan Bianca yang masih terpaku dengan cangkir teh di tangannya.

Bianca tersedak, wajahnya pucat pasi seolah seluruh darahnya tersedot keluar. "Apa? Kau bercanda, kan, Dante? Kita sudah menikah selama tujuh tahun! Aku yang merawat mu saat kau sekarat!"

"Tujuh tahun yang penuh kebohongan maksudmu?" sahut Dante tanpa ekspresi. Matanya menatap Bianca dengan kebencian. "Aku sudah tahu semuanya. Tentang kebakaran itu, tentang rencana busuk keluargamu, dan tentang siapa yang sebenarnya hampir membunuh istriku."

"Dante, dengarkan aku—"

"Tidak ada lagi yang perlu didengar!" Dante menggebrak meja, membuat Bianca tersentak. "Aku sudah menyiapkan surat cerai itu. Kau tinggal menandatanganinya, atau aku akan memastikan kau dan seluruh keluargamu membusuk di penjara karena percobaan pembunuhan."

"Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Aku mencintaimu!" teriak Bianca histeris, air matanya mulai luruh.

"Cintamu adalah racun," balas Dante ketus sembari berbalik pergi. "Tanda tangani surat itu sebelum kesabaranku habis. Mulai detik ini, kau bukan lagi bagian dari hidupku."

Dante melangkah keluar tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan Bianca yang menjerit frustrasi di tengah reruntuhan ambisinya yang kini hancur lebur.

"Kau pikir aku akan semudah itu menerima keputusanmu? Tidak Dante! Justru aku akan menghancurkan semua yang ada di dekatmu mulai sekarang! Termasuk detektif monster dan Venus yang selalu kau banggakan itu!" gumamnya.

1
Tiara Bella
pedes bngt loh Dante kata² anakmu...
Nice1808
bacanya sambil mewek lihat sean yg menangis dlm pelukan dante😭.Ayolah sean terima dan maafkan papamu agar bianca gk ambil papamu lagi🤣
Senja: kyak Teletubbies😆
total 3 replies
Arbaati
othooor...tanggung jawab...aku mewek ini
Senja: peluk jauh kak😚
total 1 replies
Sri Rahayu
ayolah Sean maafkan papa mu...karena semuanya itu bukan keinginan Dante...lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Senja: Siapp
total 1 replies
tinie
akhirnya mulai luluh tembok dingin itu😭😭😭
Senja: huuhuhum
total 1 replies
Sri Rahayu
baru tau kamu Dante....anak mu Sean sangat cerdas, mulutnya pedas dan pemberani...lanjut Thorr😘😘😘
tinie
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/🤣rasakan kau dantee
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tidak bergeming = tidak diam?
Senja: Beda2 ya kak, 🤣🤭
total 4 replies
tia
nikmati benih u dante 😁😁
🇧🇬
😆😆😆
D
infooo si Venus makan apa sih waktu hamil??
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh 🫪
D
tau tuh si Dante, loe mau anak istri loe kembali,
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
D
Udah didalem kamar pun masih nyaut 🥸
Tiara Bella
papahmu itu Sean....
D
bener kata Sean Ve,,,,, Suami mafia mu itu,, Oneng nya tuh Ngoneng bangettt /Scream//Scream/
D
Wkwkwkkwkwkwk
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣
lovely_day
ayo Sean.. makan with papa🤗
D
Ttttaaapiiiii ucapan Sean bener loh 😳
D
Sayangnya suami mamamu itu adalah papamu Sean 👀👀
gimana donk??
D
Tapi elooo juga punya istri baru dante,
kata² cinta loe 7 tahun lalu itu Beneran pretttttttt pada waktunya 🙎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!