NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 - Sesuatu Yang Aneh

Malam datang tanpa banyak tanda, seperti hari-hari sebelumnya yang berjalan tanpa perubahan yang mencolok. Langit gelap seperti biasa, lampu-lampu kota menyala satu per satu, dan suara kendaraan perlahan berkurang seiring waktu yang bergerak menuju larut. Tidak ada sesuatu yang benar-benar berbeda jika dilihat dari luar, semuanya masih berada di tempatnya masing-masing, mengikuti ritme yang sudah terbentuk sejak lama.

Namun bagi Airel Virellia, ada sesuatu yang terasa bergeser, hal kecil yang sulit dijelaskan tapi cukup untuk mengganggu ketenangan yang selama ini ia jaga. Ia berdiri di depan jendela kamarnya, menatap ke luar tanpa benar-benar fokus pada apa pun yang ada di sana. Pantulan dirinya samar di kaca, bercampur dengan cahaya lampu jalan yang temaram, menciptakan bayangan yang tidak sepenuhnya jelas.

Tangannya menyentuh tirai tipis di sampingnya, menggenggam tanpa sadar, lalu melepaskannya kembali seolah tidak menemukan alasan untuk tetap menahan. Udara malam masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka, membawa hawa dingin yang seharusnya menenangkan, tapi tidak cukup untuk meredakan apa yang ia rasakan.

Sejak beberapa hari terakhir, ada perasaan yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata sederhana. Bukan sesuatu yang jelas seperti takut atau cemas, juga bukan kegelisahan yang datang dengan alasan yang pasti. Lebih seperti sesuatu yang menggantung, tidak memiliki bentuk yang jelas, tapi tetap terasa ada di dalam dirinya.

Ia tidak tahu kapan itu mulai muncul, dan tidak ada kejadian khusus yang bisa ia jadikan titik awal. Rutinitasnya tetap berjalan seperti biasa, tidak ada perubahan besar yang mengganggu, namun tetap saja ada bagian kecil yang terasa berbeda. Airel menarik napas pelan, lalu menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan pikirannya dengan cara yang sama seperti hari-hari sebelumnya.

Matanya melirik ke arah jam di meja samping tempat tidur, angka digital yang menyala redup di tengah gelapnya kamar. Waktu itu bukan sesuatu yang biasa ia perhatikan, berbeda dengan jam-jam tertentu yang sudah melekat dalam kebiasaannya.

23.41.

Tatapannya tertahan di sana beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, seperti sedang menunggu sesuatu yang bahkan tidak ia pahami. Ia mengalihkan pandangan, lalu berjalan menuju tempat tidur dengan langkah yang tidak tergesa, tapi juga tidak benar-benar santai.

Tubuhnya terasa lelah setelah seharian beraktivitas, namun pikirannya belum sepenuhnya tenang. Airel berbaring, menarik selimut sampai menutupi sebagian tubuhnya, lalu menatap langit-langit kamar yang diterangi cahaya samar dari luar. Bayangan garis-garis tipis terbentuk di permukaan atas, bergerak pelan mengikuti arah cahaya yang masuk dari jendela.

Beberapa detik berlalu tanpa perubahan berarti, lalu berganti menjadi menit yang terasa lebih panjang dari biasanya. Napasnya perlahan menjadi lebih teratur, matanya mulai terasa berat, dan kesadarannya mulai melemah tanpa ia sadari.

Namun tepat saat ia hampir terlelap sepenuhnya, sesuatu muncul tanpa peringatan yang jelas.

Bukan suara yang utuh, bukan pula gambar yang bisa dikenali dengan mudah, hanya potongan kecil yang datang secara tiba-tiba. Langkah kaki terdengar, cepat, seperti seseorang yang berlari di atas permukaan yang tidak rata.

Alis Airel mengerut dalam tidurnya, tubuhnya sedikit menegang meski ia tidak sepenuhnya sadar. Suara itu semakin dekat, semakin jelas, lalu berhenti di jarak yang terasa terlalu dekat untuk diabaikan.

Dan di antara jeda yang singkat itu, ada suara lain yang menyusul.

“Rel…”

Panggilan itu pelan, tapi terasa dekat, seolah diucapkan tepat di sampingnya.

Airel membuka mata dengan cepat, napasnya terengah seperti baru saja berlari tanpa benar-benar bergerak. Ia langsung duduk, pandangannya menyapu seluruh kamar dengan cepat, mencari sesuatu yang tidak ia ketahui bentuknya.

Kamar kembali seperti semula, sunyi dan tidak berubah. Tidak ada siapa pun di sana, tidak ada suara selain detak jam yang pelan dan angin yang menyentuh tirai di dekat jendela.

Tangannya terangkat, menyentuh pelipis sejenak seolah mencoba memastikan dirinya benar-benar sadar.

“Itu apa…” gumamnya pelan.

Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, lebih pelan dari yang ia bayangkan, hampir tenggelam dalam keheningan ruangan. Ia menatap sekeliling sekali lagi, memastikan tidak ada sesuatu yang terlewat, tapi semuanya tetap sama seperti sebelumnya.

Namun perasaan itu tidak hilang, justru semakin jelas setelah ia terbangun. Gelisah yang tadi samar kini bercampur dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih tajam dan sulit diabaikan.

Seperti ingatan yang mencoba muncul ke permukaan, tapi terhenti sebelum benar-benar terbentuk.

Airel menarik napas dalam, lalu perlahan berdiri dari tempat tidur. Langkahnya membawanya kembali ke jendela, tempat ia berdiri sebelumnya, dan tangannya kembali menyentuh tirai, kali ini membukanya sedikit lebih lebar.

Udara malam masuk lebih banyak, dingin yang menyentuh kulitnya terasa nyata, tapi tidak cukup untuk menenangkan pikirannya. Ia memejamkan mata sebentar, mencoba menahan semua yang mulai muncul tanpa urutan yang jelas.

Di balik kegelapan itu, potongan lain datang tanpa diminta.

Jembatan kayu.

Hujan.

Seseorang berdiri di ujungnya.

Gambar itu muncul lebih jelas dibanding sebelumnya, tapi tetap tidak utuh. Setiap kali ia mencoba fokus pada wajah yang ada di sana, bayangan itu mengabur dengan sendirinya, seperti menolak untuk dikenali.

Airel membuka mata dengan cepat, napasnya sedikit lebih berat dari sebelumnya. Dadanya terasa sesak, bukan karena lelah, tapi karena sesuatu yang tidak bisa ia pahami sepenuhnya.

Ini bukan pertama kalinya ia mengingat sesuatu, tapi biasanya kenangan itu datang dengan pola yang sama, berulang dalam bentuk yang hampir identik. Namun kali ini berbeda, lebih acak, lebih dekat, dan terasa lebih nyata.

Seolah ada sesuatu yang mencoba menembus batas yang selama ini tetap tertutup.

Ia menunduk sedikit, tangannya mencengkeram ujung tirai dengan lebih kuat dari sebelumnya.

“Kenapa sekarang…” bisiknya pelan.

Tidak ada jawaban, hanya suara angin malam yang masuk perlahan, membawa kesunyian yang terasa lebih dalam. Airel akhirnya kembali ke tempat tidur, meski pikirannya tidak lagi setenang sebelumnya.

Ia berbaring dengan posisi yang sama, menatap ke arah langit-langit, namun kali ini pikirannya tidak berhenti bergerak. Setiap detik terasa lebih panjang, setiap napas terasa lebih berat dari biasanya.

Beberapa saat kemudian, kantuk kembali datang, tapi tidak sedalam sebelumnya. Ia terlelap dengan kesadaran yang masih setengah terbuka, seperti seseorang yang tidak sepenuhnya siap untuk tertidur.

Dan sekali lagi, ia masuk ke dalam sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.

Kali ini bukan hanya suara.

Ada bayangan yang lebih jelas, langkah kaki di atas jalan yang basah, dan seseorang yang berdiri membelakangi di kejauhan. Airel mencoba mendekat, langkahnya terasa ringan, tapi jarak itu tidak pernah benar-benar berkurang.

“Rel.”

Suara itu kembali terdengar, lebih jelas, lebih dekat, seperti berasal dari seseorang yang benar-benar ada di sana.

Airel mencoba menjawab, mencoba memanggil balik, tapi suaranya tidak keluar. Tenggorokannya terasa kaku, dan kata-kata yang ingin ia ucapkan hanya berhenti di dalam pikirannya.

Sosok itu bergerak menjauh, lebih cepat dari sebelumnya, seolah ditarik oleh sesuatu yang tidak terlihat.

“Jangan…” ucapnya dalam hati.

Namun semuanya kembali gelap sebelum ia sempat mendekat lebih jauh.

Ia terbangun lagi, kali ini lebih cepat dan lebih sadar dari sebelumnya. Napasnya tidak teratur, tangannya mencengkeram selimut dengan kuat, seolah mencoba menahan sesuatu yang tidak bisa disentuh.

Jam di meja menunjukkan angka yang berbeda.

02.13.

Airel menatap angka itu cukup lama, membiarkan pikirannya perlahan kembali ke keadaan semula. Ia menutup matanya sebentar, mencoba menenangkan diri, tapi perasaan itu tidak benar-benar pergi.

Justru semakin jelas, semakin terasa nyata.

Ada sesuatu yang berubah, bukan di luar, melainkan di dalam dirinya sendiri, seperti bagian yang selama ini diam mulai bergerak perlahan.

Pagi datang tanpa memberi banyak waktu untuk merenung lebih jauh, membawa rutinitas yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Airel bangun, bersiap ke kampus, dan menjalani semuanya dengan cara yang sama seperti biasa.

Dari luar, tidak ada yang terlihat berbeda, ia tetap berjalan dengan langkah yang tenang, tetap menjawab saat diajak bicara, dan tetap duduk di kelas dengan sikap yang sama. Namun di sela-sela itu, ada momen kecil yang terasa aneh, seperti saat ia tiba-tiba berhenti di tengah koridor dan menoleh ke belakang tanpa alasan yang jelas.

Atau saat ia menatap jam lebih lama dari biasanya, bahkan di waktu yang tidak memiliki arti khusus baginya.

“Airel.”

Suara Kalista membuatnya kembali sadar dari pikirannya.

“Kamu denger aku dari tadi, enggak?” tanya Kalista, alisnya sedikit berkerut.

“Denger.”

“Tapi kamu bengong.”

Airel tidak membantah, hanya tersenyum tipis tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Kalista menatapnya beberapa detik, mencoba memahami sesuatu yang tidak diucapkan.

“Lagi kepikiran sesuatu?”

Airel terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab.

“Iya.”

“Apaan?”

Ia menggeleng pelan, matanya tidak sepenuhnya fokus.

“Enggak tahu.”

Jawaban itu jujur, tapi justru karena itu terasa lebih membingungkan. Hari tetap berjalan seperti biasa, kelas demi kelas berlalu tanpa perubahan besar, namun perasaan itu tidak benar-benar hilang.

Langkah kaki.

Suara hujan.

Panggilan yang terputus.

Semua itu muncul tanpa urutan, seperti potongan yang tidak bisa disusun dengan mudah.

Sore hari tiba, dan seperti biasa, kakinya membawanya ke halte. Namun kali ini langkahnya terasa sedikit berbeda, lebih cepat tanpa ia sadari, seolah ada dorongan yang tidak bisa ia jelaskan.

Ia sampai lebih awal dari biasanya, duduk di bangku dengan napas yang sedikit lebih pendek. Tangannya bergerak melihat jam.

17.38.

Lebih cepat dari waktu yang biasa ia perhatikan.

Airel mengerutkan kening, mencoba mengingat apakah ia memang mempercepat langkahnya, tapi tidak menemukan jawaban yang jelas. Tubuhnya seolah bergerak lebih dulu tanpa menunggu pikirannya menyusul.

Angin sore berembus pelan, membawa suasana yang sama seperti hari-hari sebelumnya, namun perasaan di dalam dirinya tidak lagi sama. Ia menatap lurus ke depan, mencoba menenangkan diri, tapi gelisah itu justru terasa lebih kuat.

Tangannya mencengkeram tas di sampingnya tanpa sadar, jari-jarinya sedikit menegang.

“Kenapa rasanya…” ia berhenti sejenak.

“…kayak ada yang mau datang.”

Kalimat itu keluar pelan, hampir seperti bisikan yang hanya ia dengar sendiri. Tidak ada jawaban, tidak ada perubahan yang langsung terlihat di sekitarnya.

Namun perasaan itu tetap ada, semakin jelas, semakin dekat.

Airel menatap ke arah jalan dengan fokus yang berbeda dari biasanya, seperti seseorang yang benar-benar menunggu sesuatu yang akan muncul dalam waktu dekat. Waktu terus berjalan, tapi kali ini terasa sedikit berbeda, tidak lagi sepenuhnya datar seperti sebelumnya.

Dan tanpa ia sadari, sesuatu yang selama ini hanya diam mulai bergerak, perlahan tapi pasti, mendekat ke arah yang tidak bisa ia hindari.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!