NovelToon NovelToon
DETIK TERAKHIR BERSAMAMU

DETIK TERAKHIR BERSAMAMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kepahiang Martin

"Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku harus menjadi orang paling jahat di dunia."



Semua orang bilang Arsenio itu dingin, kejam, dan tak punya hati.
Terutama bagi Keyla. Gadis itu benci setengah mati pada pria yang tiba-tiba datang dan merenggut segalanya. Keyla benci cara Arsenio memaksanya tinggal, benci tatapan dinginnya, dan benci kenyataan bahwa pria itu seolah menikmati penderitaannya.

"Kau tidak lebih dari budak di sini, Keyla. Jangan harap aku akan bersikap manis."

Setiap hari Keyla berdoa agar Arsenio mati.
Setiap hari Keyla berencana kabur.
Hingga suatu malam, tanpa sengaja ia mendengar percakapan yang memecahkan dunianya.

"Waktumu tinggal 3 bulan, Arsen. Tumor di otakmu tidak bisa dioperasi. Kau akan mati perlahan, dan akan sangat sakit."

"Biarkan saja. Asal dia tidak tahu. Biarkan dia membenciku. Biarkan dia membenciku sampai detik terakhir. Lebih baik dia menangis karena aku jahat, daripada dia hancur karena aku pergi selamanya."

Dunia Keyla runtuh.
Ternyata se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JAGA JARAK

Setelah pintu tertutup rapat dan suara langkah kaki Arsyad perlahan menjauh, ruangan itu kembali sunyi. Keyla masih memegang batang bunga mawar itu dengan lembut, merasakan kelopak yang halus dan wangi yang masih terasa hingga ke ujung jari. Senyum di bibirnya tidak hilang, meski ia berusaha menekannya kembali, seolah takut perasaan itu akan membuatnya merasa bersalah.

Selama dua tahun menikah dengan Arsenio, ia hanya pernah melihat suaminya tersenyum sedikit hanya saat ia sedang membaca surat lamaran kerja karyawan baru atau saat melihat laporan keuangan yang sangat memuaskan. Arsenio tidak pandai mengucapkan kata-kata manis, bahkan jarang menatap matanya lama saat berbicara. Tapi ia tahu, di balik sifatnya yang dingin itu, ada perhatian yang begitu dalam—cara ia menyiapkan minuman kesukaan Keyla setiap pagi, cara ia memeriksa keamanan rumah sebelum tidur, cara ia selalu ada di sampingnya saat ia membutuhkan bantuan, tanpa perlu diminta.

Sekarang Arsenio sudah tiada, meninggalkan Keyla sendirian memimpin perusahaan besar yang menjadi milik suaminya. Ia berusaha sekuat tenaga menjalankan tugasnya dengan baik, meniru cara kerja Arsenio yang teratur dan tegas, tapi terkadang beban itu terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian.

Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar lagi, lebih pelan dan teratur dibanding saat Arsyad masuk tadi. Keyla mengangkat kepala, mengira itu adalah sekretarisnya yang akan membawa berkas tambahan.

"Masuk," panggilnya dengan suara yang sudah kembali datar dan tegas.

Pintu terbuka sedikit, dan seorang wanita paruh baya berjalan masuk dengan membawa nampan berisi teh dan kue kering. Itu Sari, asisten pribadi yang sudah bekerja bersama keluarga Wijaya selama puluhan tahun. Wajahnya terlihat khawatir saat menatap Keyla.

"Bu, tadi saya dengar suara orang berisik sekali. Apa ada masalah?" tanya Sari sambil meletakkan nampan di meja samping.

Keyla menggeleng pelan, lalu menatap bunga mawar di mejanya. "Tidak ada masalah, Sari. Hanya Arsyad yang datang sebentar. Dia memang seperti itu, ceria dan berisik."

Sari menghela nafas lega, lalu duduk di kursi di depan meja dengan wajah yang sedikit serius. "Bu, sebenarnya saya mau bicara sesuatu dengan Anda. Sudah lama saya ingin menyampaikannya, tapi takut membuat Anda tidak nyaman."

Keyla menatapnya dengan pandangan penasaran. "Apa itu? Katakan saja, Sari. Kamu sudah seperti keluarga bagi saya."

Sari mengangguk perlahan, tangannya memegang ujung baju dengan gugup. "Bu, saya tahu Arsenio sudah pergi dan Anda sedang berusaha menjalankan semuanya dengan baik. Tapi... saya khawatir dengan Arsyad. Dia terlalu sering datang ke sini, dan cara dia berbicara dan bersikap... kadang-kadang terlihat terlalu dekat, melebihi batas sebagai saudara ipar."

Keyla terdiam sejenak, lalu menunduk memandang kertas di mejanya. Ia tahu apa yang dikatakan Sari itu benar. Setiap kali Arsyad datang, ia selalu membuat suasana menjadi lebih ringan, tapi terkadang sentuhan dan kata-katanya terasa lebih dari sekadar keakraban biasa. Namun entah bagaimana, ia tidak pernah merasa terganggu atau tidak nyaman. Sebaliknya, kehadiran Arsyad selalu membuat hari-harinya yang berat menjadi lebih mudah dijalani.

"Saya tahu apa yang kamu maksud, Sari," jawab Keyla pelan. "Tapi Arsyad hanya bersikap seperti itu karena dia memang orangnya. Dia tidak bermaksud buruk, saya yakin itu. Dia hanya tidak bisa menahan diri untuk tidak mengungkapkan apa yang dia rasakan."

"Tapi Bu... orang lain sudah mulai berbicara," tegas Sari dengan suara yang lebih rendah. "Karyawan-karyawan sudah mulai melihat, dan ada juga yang mulai berbicara di luar. Mereka mengatakan bahwa Arsyad datang ke sini bukan hanya untuk urusan kerja, tapi karena alasan lain. Dan ini bisa merusak nama baik perusahaan Wijaya Group, apalagi dengan keadaan yang sedang seperti ini."

Kata-kata Sari membuat Keyla terdiam. Ia tahu bahwa apa yang dikatakan asistennya itu benar. Nama baik perusahaan adalah hal yang paling berharga, dan apapun yang merusaknya akan berbahaya. Ia tidak ingin Arsenio yang telah membangun perusahaan ini dengan susah payah menjadi tercoreng hanya karena hal-hal yang tidak perlu.

"Baiklah, saya mengerti kekhawatiranmu," kata Keyla akhirnya, suaranya terdengar lebih tegas dari sebelumnya. "Saya akan bicara dengan Arsyad. Saya akan menjelaskan bahwa dia harus menjaga jarak dan memperhatikan sikapnya. Saya tidak ingin ada yang berbicara tidak baik tentang kita atau perusahaan ini."

Sari menghela nafas lega. "Terima kasih, Bu. Saya hanya ingin yang terbaik untuk Anda dan perusahaan ini."

Setelah Sari keluar, Keyla duduk termenung. Kata-kata Sari terus berputar di pikirannya. Ia tahu bahwa ia harus menjelaskan semuanya pada Arsyad, tapi saat ia membayangkan wajah ceria dan tatapan penuh kekaguman pemuda itu, hatinya terasa sedikit berat. Ia tidak ingin menyakiti perasaannya, tapi ia juga harus memikirkan segala sesuatu dengan bijak.

Tak lama kemudian, ponsel di mejanya berdering. Nomor yang tertera di layar adalah nomor pribadi Arsyad. Keyla ragu sejenak, lalu mengangkat telepon itu.

"Halo?" suaranya terdengar sedikit gugup.

"Kak Keyla! Sudah sampai di pabrik sekarang! Semua orang di sini sudah siap mendengarkan penjelasan saya. Tadi saya sudah bicara dengan manajernya, mereka semua sangat setuju dengan rencana yang saya sampaikan. Wah, kalau Kakak saya ada di sini, pasti dia akan bangga melihat seberapa baik saya menjalankan tugasnya, kan?" suara Arsyad terdengar ceria dan penuh semangat, seolah tidak ada masalah di dunia ini.

Keyla menelan ludah, lalu menjawab dengan suara yang tenang. "Selamat, Arsyad. Saya senang mendengarnya."

"Terima kasih, Kak! Nanti saya pulang ke kantor lagi ya, mau lapor semuanya ke kamu. Dan nanti siang saya sudah pesan makanan kesukaan kamu, kamu tunggu ya! Saya janji kali ini bawa yang paling enak!"

Keyla menarik nafas panjang, lalu berkata dengan suara yang tegas namun lembut. "Arsyad, tunggu sebentar. Saya mau bicara sesuatu dengan kamu, penting."

Suara Arsyad yang ceria itu sedikit berubah, menjadi lebih perhatian. "Ada apa, Kak? Kenapa suaranya terdengar serius? Apakah ada masalah?"

"Tidak ada masalah yang buruk, tapi saya mau kita bicara dengan jujur. Kamu tahu kan apa yang dikatakan orang-orang tentang kita? Bahwa sikapmu terlihat terlalu dekat, melebihi batas sebagai saudara ipar. Saya sudah bicara dengan Sari, dan dia juga merasa hal ini bisa merusak nama baik perusahaan dan juga nama baik kita sendiri."

Keyla berhenti sejenak, lalu melanjutkan. "Arsyad, saya menghargai kebaikanmu dan perhatianmu yang kamu berikan pada saya. Kamu membuat hari-hariku menjadi lebih baik, dan saya sangat berterima kasih untuk itu. Tapi kita harus menjaga jarak yang tepat. Saya tahu kamu tidak bermaksud buruk, tapi orang lain tidak akan melihatnya seperti itu. Saya mohon, mulai sekarang bersikaplah lebih teratur dan sesuai dengan aturan yang seharusnya."

Di seberang telepon, tidak ada suara selama beberapa detik. Keyla mulai merasa khawatir, apakah ia telah menyakiti perasaan Arsyad. Tiba-tiba, suara Arsyad terdengar lagi, kali ini suaranya tidak lagi ceria, tapi terdengar sedikit sedih dan lembut.

"Jadi... itu maksud kamu, Kak?" tanyanya pelan.

"Ya, Arsyad. Saya hanya ingin semuanya berjalan dengan baik dan tidak ada yang berbicara tidak baik tentang kita," jawab Keyla dengan suara yang lebih lembut.

Arsyad terdiam lagi, lalu menghela nafas panjang. "Saya mengerti, Kak. Saya tidak menyadari bahwa sikap saya bisa membuat orang lain berbicara begitu. Saya hanya... saya hanya tidak bisa menahan diri untuk tidak menunjukkan perasaan saya. Saya tidak bermaksud membuat kamu tidak nyaman atau merusak apa pun."

"Terima kasih sudah mengerti, Arsyad. Saya menghargainya," kata Keyla dengan perasaan yang sedikit lega.

"Baiklah, Kak. Saya akan lakukan apa yang kamu minta. Saya akan menjaga jarak, dan bersikap sesuai dengan apa yang seharusnya. Tapi tolong ingat, Kak... perasaan saya tidak akan berubah. Saya akan selalu menghargai kamu, dan saya akan selalu ada di sini untuk kamu, kapan saja kamu membutuhkan saya," ucap Arsyad dengan suara yang lembut dan tulus.

Setelah menutup telepon, Keyla duduk termenung. Ia merasa lega karena semuanya sudah dijelaskan, tapi hatinya terasa sedikit kosong. Tanpa kehadiran Arsyad yang ceria dan kata-kata manisnya, ruangan yang luas itu terasa lebih sunyi dan berat lagi.

Beberapa jam kemudian, Arsyad kembali ke kantor. Ia berjalan masuk dengan langkah yang lebih tenang dibanding saat pagi tadi, senyumnya masih ada tapi tidak lagi seceria dan sebebas sebelumnya. Ia menatap Keyla yang sedang sibuk dengan berkas-berkasnya, lalu berjalan ke meja kerjanya sendiri di seberang ruangan.

Keyla menatapnya sekilas, dan melihat perubahan pada dirinya. Ia masih terlihat sama persis dengan Arsenio—wajah yang identik, postur tubuh yang tinggi—tapi sekarang ada perbedaan yang terlihat jelas. Arsyad yang dulu ceria dan bebas, sekarang terlihat lebih tenang dan teratur, seolah ia telah mengubah sifatnya hanya demi permintaan Keyla.

Meskipun jarak mereka sudah dijaga, tapi Keyla tidak bisa menyembunyikan perasaan yang muncul di hatinya. Setiap kali ia menatap Arsyad, ia teringat pada kehangatan yang pernah ia rasakan, dan ia menyadari bahwa sifat Arsyad yang ceria dan perhatian telah berhasil masuk ke dalam hatinya, perlahan-lahan mengisi ruang yang kosong ditinggalkan oleh Arsenio.

Sore harinya, saat semua orang sudah pulang dan hanya mereka berdua yang masih ada di ruangan kerja yang luas, Arsyad berdiri dan berjalan mendekati meja Keyla. Ia berhenti di depan meja, menatap Keyla dengan pandangan yang masih penuh kekaguman, meski kali ini ia berusaha menjaga jarak yang aman.

"Kak, saya mau pamit dulu. Semua pekerjaan sudah selesai, dan saya akan pulang," katanya dengan suara yang tenang dan sopan.

Keyla mengangkat kepala, menatapnya dengan pandangan yang lembut. "Terima kasih sudah mengerti, Arsyad. Saya tahu ini tidak mudah untukmu."

Arsyad tersenyum tipis, senyum yang masih terlihat tulus. "Tidak apa-apa, Kak. Saya akan lakukan apa saja untuk membuat kamu nyaman. Tapi sebelum saya pergi, boleh saya katakan satu hal saja?"

"Boleh," jawab Keyla pelan.

"Saya tidak akan berubah cara saya memperlakukan kamu, meski saya harus menjaga jarak. Saya akan tetap menjadi orang yang selalu ada di sini untuk kamu, untuk mendengarkanmu, untuk membantu kamu, dan untuk menghargai kamu. Karena bagi saya, kamu adalah orang yang paling istimewa di dunia ini, lebih berharga dari apa pun yang ada di perusahaan ini atau di sekitar kita," ucapnya dengan suara yang lembut dan jelas.

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan. "Dan satu hal lagi... meski saya terlihat seperti Arsenio, saya adalah orang yang berbeda. Saya akan mencintaimu dengan cara yang berbeda, dengan cara yang saya bisa berikan. Saya akan menunggu, Kak. Saya akan menunggu sampai waktunya tepat, sampai kamu bisa menerima perasaan ini dengan hati yang terbuka."

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Arsyad membungkuk sedikit sebagai tanda hormat, lalu berjalan menuju pintu dan keluar dari ruangan.

Keyla duduk termenung, memegang bunga mawar yang masih segar di mejanya. Ia tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Arsenio yang dingin dan tegas telah pergi, meninggalkan kenangan yang indah dan tanggung jawab yang besar. Tapi Arsyad yang ceria dan tulus telah datang, membawa cahaya dan harapan baru yang perlahan mengubah jalan hidupnya.

Dan Keyla menyadari bahwa di tengah kesedihan dan tanggung jawab yang membebani, ia telah menemukan sesuatu yang baru—sesuatu yang bisa membuatnya tersenyum lagi, sesuatu yang bisa membuat hatinya berdebar kencang, dan sesuatu yang akan membawanya ke masa depan yang baru.

1
Nessa
lanjut thor
M ipan: baca novel horor q juga dong kak
total 2 replies
M ipan
terimah kasih masih setia di sini kak🙏
Nessa
lanjut, akhirnya up juga thor
M ipan: maaf kakak saya berada di perkebunan hp saya drop dan vocer saya habis🤣🤣
total 1 replies
Arasya Radit
mf Thor mau apa kah arsenio ga puny keluarga..disaat sakit parah KY gitu ko ga ada org Laen selain Keyla SM Arsen doang🙏
M ipan: nanti kita bahas
total 1 replies
eva
👍🏼👍🏼 lanjut thor
Nessa
kapok sarah
Dian Fitriana
update
M ipan: siap kakak,, terima kasih udah mampr
total 1 replies
eva
Keyla dibuat karakter tegas juga thor dia kan istri sah arsenio jangan dibikin menye²
M ipan: siap,, setiap saran dari semua pembaca insakallah saya turutin, semoga harimu menyenangkan🌹💪
total 1 replies
eva
dasar MC² maruk
M ipan: terima kasih udah mampir kak🌹
total 1 replies
Nessa
bagus arsyad 👍🏻👍🏻
M ipan: terima kasih dukungan nya kakak
total 1 replies
Nessa
smngt arsyad 😊
M ipan: 💪 semangat dekatin kakak ipar
total 1 replies
Wiwit
cerita ini tentang mereka ber 2 ja kh
M ipan: iya nanti nambah adik nya sama yang jahat nya
total 1 replies
Nur Mei
sedih banget 🥲
M ipan: terima kasih udah mampir🌹
total 1 replies
M ipan
😭🌹
Nessa
mencintai sampai maut memisahkan nyeseeek bgt euy 😭😭😭😭
meongming
semangat thor💪
M ipan: terima kasih kakak atas dukungan nya❤️
total 1 replies
Nessa
baru baca sinopsis nya udah nyesek duluan membayangin bab2 berikutnya fikx bikin mewek ni novel 😭
M ipan: terima kasih kakak sudah mau mampir
total 1 replies
Zia Zee
😭😭😭😭
M ipan: insakallah kakak, semoga kakak setia di buku saya ya🌹
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!