NovelToon NovelToon
JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.

Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!

Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 CEO di Ruang Rapat, Cosplay di Tebet

Ekantika duduk di ruang rapat utama, dikelilingi oleh dewan direksi. Wajahnya tegang, namun ia berusaha keras untuk menampilkan ketenangan seorang pemimpin. Ia tahu persaingan sangat ketat, dengan beberapa perusahaan teknologi raksasa ikut serta. Ia juga tahu bahwa Aksara Digital, perusahaan Riton, telah menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat.

Vina, asistennya, berdiri di depan layar proyektor, bersiap mengumumkan daftar finalis. "Baik, Bapak, Ibu dewan direksi. Setelah melalui proses seleksi ketat dari tim internal dan konsultan independen, inilah tiga finalis yang akan maju ke tahap akhir presentasi proyek Garuda." Suara Vina terdengar formal, namun Ekantika bisa merasakan tatapan sinis dari Pak Doni yang duduk di seberang meja. Pak Doni selalu mencari celah untuk menjatuhkannya.

Layar proyektor menampilkan logo-logo perusahaan. Pertama, sebuah perusahaan multinasional yang sudah sangat dikenal. Kedua, sebuah startup teknologi yang sedang naik daun. Lalu, yang ketiga, sebuah logo yang membuat jantung Ekantika berhenti berdetak.

Logo Aksara Digital.

Nama perusahaan Riton terpampang jelas di layar. Sebuah senyum pahit terukir di bibir Ekantika. Takdir. Atau... ironi yang kejam. Rasa dingin merayapi, namun diikuti oleh gelora kompetisi yang membakar. Ia selalu menyukai tantangan, namun ini... ini adalah tantangan yang melibatkan hatinya.

"Seperti yang kita lihat, Aksara Digital menjadi salah satu finalis. Mereka adalah kompetitor yang kuat," suara Pak Doni memecah keheningan, mengomentari. Tatapannya tertuju pada Ekantika, seolah ingin melihat reaksi di wajahnya. "CEO mereka, Riton, adalah mantan karyawan kita, bukan? Seorang pemuda yang ambisius."

Ekantika mengangguk kaku. "Benar, Pak Doni. Riton adalah aset berharga yang dulu kita miliki. Dan kini ia adalah kompetitor yang harus kita hadapi dengan serius." Ia menekan setiap kata, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya. Mantan karyawan. Mantan kekasih fiktif.

"Saya dengar ada beberapa isu tidak mengenakkan tentang CEO Aksara Digital ini," Pak Doni melanjutkan, nadanya menjengkelkan. "Beberapa investor mereka khawatir dengan manajemen pribadinya. Kabarnya, dia terlibat dalam sebuah drama asmara dengan seorang wanita yang dikenal manipulatif." Ia sengaja melirik Ekantika.

Ekantika merasakan darahnya mendidih. Wanita manipulatif. Kata-kata itu menusuknya. Apakah Pak Doni tahu sesuatu? Atau ini hanya kebetulan? Tidak mungkin ini kebetulan. Rasa dingin merayapi. Apakah Arsa sudah bergerak?

Wanita senior dewan direksi, Ibu Indri, yang selalu mendukung Ekantika, ikut angkat bicara. "Pak Doni, saya rasa isu pribadi CEO kompetitor tidak relevan dengan kualifikasi teknis perusahaan mereka. Mari kita fokus pada strategi kita untuk memenangkan tender ini."

"Saya setuju dengan Ibu Indri," Ekantika berkata, suaranya kembali menemukan ketenangannya. "Fokus kita adalah memenangkan tender ini dengan strategi terbaik. Aksara Digital mungkin punya kelebihan dalam inovasi, tapi Garuda punya pengalaman dan stabilitas. Kita akan bersaing secara sehat."

Sehat?Ekantika mengejek dirinya sendiri dalam hati. Tidak ada yang sehat dalam hidupku sekarang. Ia harus menghancurkan Riton secara profesional untuk memenangkan tender ini. Pria yang membuat hatinya berdebar, pria yang ia bohongi, pria yang kini memiliki setiap potongan teka-teki tentang dirinya. Bagaimana aku bisa menghancurkan seseorang yang sangat ingin kulindungi?

Rapat dilanjutkan dengan pembahasan strategi. Ekantika menyadari dilema moral yang besar di hadapannya. Ia punya flashdisk berisi dokumen tender rahasia Aksara Digital yang Riton berikan padanya sebagai Nana. Informasi yang bisa membongkar kelemahan Riton dan mengantarkan Garuda pada kemenangan mutlak. Tapi menggunakannya... itu adalah tindakan kotor, pengkhianatan yang jauh lebih kejam dari sekadar membohongi umur.

Beberapa hari berikutnya, Ekantika hidup dalam ketegangan yang konstan. Siang ia adalah CEO Garuda, menghadapi tekanan dewan direksi yang mendesaknya untuk memenangkan tender, bahkan jika itu berarti menggunakan cara kotor. Malamnya, ia adalah Nana, yang masih berusaha mempertahankan topengnya di hadapan Riton yang semakin curiga. Ia tahu Riton masih menelusuri kebenaran. Tatapan matanya, pertanyaan-pertanyaan kecilnya, semua menunjukkan bahwa Riton sedang mencari sesuatu.

Suatu sore, setelah rapat internal yang menguras energi, Ekantika memutuskan untuk menghirup udara segar. Ia butuh pelarian. Ia melajukan mobilnya tanpa arah, dan tanpa sadar, mobil itu membawanya ke Tebet. Ke Kopi Senja.

Ia memarkir mobil agak jauh, lalu berjalan kaki. Udara sore di Tebet selalu punya daya tarik tersendiri. Aroma kopi, deru obrolan anak muda, dan musik indie yang mengalun dari kafe-kafe. Ia melihat ke dalam Kopi Senja, berharap Riton tidak ada di sana. Atau berharap Riton ada di sana, agar ia bisa berbicara dengannya sebagai Nana. Dilema yang tak berkesudahan.

Riton ada di sana.

Ia duduk sendirian di meja pojok yang sama, tempat mereka berkencan pertama kali. Wajahnya terlihat kusut, rambutnya sedikit berantakan, dan ia terus memijat pelipisnya. Di depannya, ada laptop yang terbuka dan tumpukan dokumen. Ia tampak sangat stres.

"Ton?" Ekantika menyapa, suaranya lembut, berusaha seceria mungkin sebagai Nana. Ia mengenakan hoodie dan jeans lusuh, penampilan yang sudah menjadi identitas palsunya.

Riton mendongak, matanya yang lelah melebar sedikit saat melihat Nana. Senyum tipis muncul di wajahnya, senyum yang terasa tulus namun dipenuhi beban. "Na? Kamu di sini? Sendirian?"

Ekantika mengangguk, duduk di kursi di seberang Riton. "Iya. Lagi pengen refreshing aja. Kamu kenapa, Ton? Kok kelihatan pusing banget?"

Riton menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Ini, Na. Soal tender Proyek Garuda itu. Aksara Digital masuk short-list final. Tapi persaingannya gila-gilaan. Perusahaan yang satu lagi itu raksasa, dan Garuda juga... mereka punya CEO yang gila kerja."

Ekantika menahan diri agar tidak tersenyum. Aku tahu persis seperti apa CEO Garuda yang gila kerja itu, Ton. "Oh ya? Wah, berat juga ya. Tapi aku yakin kamu pasti bisa kok. Kamu kan hebat, Ton." Ia mencoba terdengar suportif, memendam fakta bahwa ia adalah CEO yang gila kerja itu.

Riton tersenyum kecil, meraih tangan Nana di atas meja. "Makasih ya, Na. Kamu selalu bisa bikin aku semangat." Ia mengusap punggung tangan Ekantika. "Tapi ini beneran bikin aku stres. Investor juga mulai banyak tanya. Beberapa di antara mereka kayaknya sengaja mau bikin aku jatuh."

Investor?Sebuah alarm berbunyi di kepala Ekantika. Mungkinkah ada hubungannya dengan Arsa? Ia tahu Arsa punya banyak koneksi di dunia investasi.

"Memangnya kenapa, Ton?" Ekantika bertanya, pura-pura tidak tahu apa-apa.

Riton menghela napas panjang. "Ada satu investor yang terus-terusan mengungkit masalah pribadiku di masa lalu, Na. Bilang aku nggak bisa dipercaya, bakal manipulatif. Sampai menyeret-nyeret nama kamu dan 'Tante' kamu itu. Bilang kalau aku punya hubungan aneh dengan dua wanita yang... mirip."

Ekantika merasakan jantungnya mencelos. Sial. Arsa sudah mulai bergerak. Dan Riton sudah mulai menghubungkan semuanya. Ini bukan lagi sekadar curiga, ini sudah menuju ke arah tuduhan. Ia harus berhati-hati.

"Maksudnya apa, Ton?" Ekantika bertanya, suaranya bergetar. "Hubungan aneh apa?"

Riton menatapnya dalam, mata cokelatnya penuh dengan tanda tanya dan sedikit rasa sakit yang tersembunyi. "Aku... aku juga nggak yakin, Na. Tapi dia bilang ada sebuah skandal yang akan meledak dan melibatkan aku dan... 'Tante' kamu. Dan dia juga bilang kalau aku ini terlalu naif. Aku... aku nggak tahu harus percaya siapa lagi sekarang, Na."

Melihat Riton yang begitu rentan, begitu putus asa, membuat hati Ekantika tercabik-cabik. Aku tidak ingin menyakitimu lagi, Riton. Aku ingin jujur. Namun, lidahnya kelu. Ia sudah terjerat begitu dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!