Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelakuan Karin yang Membuat Darah Tinggi
Jika ada satu hal yang bisa membuat Vittorio Genovese—pria yang pernah tetap tenang saat ditodong tiga moncong senapan mesin di Sisilia—kehilangan kendali atas denyut jantungnya, itu bukanlah ancaman pembunuhan dari Lupi di Mare. Bukan pula intimidasi dari Hadi Sujatmiko. Hal itu adalah seorang gadis bernama Karin yang sedang berdiri di atas meja belajar dengan mengenakan helm proyek berwarna oranye terang dan membawa tongkat narsis seolah-olah itu adalah senjata suci.
Pagi itu, kamar kost Vittorio yang biasanya rapi dan sunyi telah berubah menjadi lokasi syuting film amatir yang sangat tidak jelas genrenya.
"JUNA! Pose dong! Kasih muka yang dark, yang misterius, yang kayak habis nelen nyawa orang!" teriak Karin sambil mengarahkan ponselnya ke wajah Vittorio yang baru saja bangun tidur.
Vittorio memijat pelipisnya. Ia merasa kepalanya berdenyut lebih kencang daripada saat ia dihantam pipa besi kemarin. "Karin, ini baru jam enam pagi. Kenapa kau ada di kamarku? Dan kenapa kau memakai helm proyek?"
"Ini namanya pengamanan preventif, Juna! Kan lu bilang sendiri banyak musuh yang ngincer kita," jawab Karin tanpa dosa. Ia melompat turun dari meja dengan bunyi dentum yang cukup keras untuk membuat Mbak Yanti di lantai bawah mengumpal. "Gue barusan bikin akun TikTok baru buat lu. Username-nya: @Arjuna_The_Mafia_Alien. Follower-nya udah sepuluh orang loh dalam lima menit!"
Vittorio tertegun. Ia merampas ponsel dari tangan Karin. Matanya membelalak saat melihat video yang diunggah Karin: sebuah rekaman tersembunyi saat Vittorio sedang berlatih push-up satu tangan semalam, ditambahi musik dangdut koplo yang sangat kencang dan stiker bunga-bunga yang berkedip di pojok layar.
"Karin... kau mengunggah videoku sedang berlatih?" suara Vittorio rendah, tanda bahwa ia sedang berada di ambang ledakan emosi.
"Iya! Biar orang-orang tahu kalau lu itu bukan sembarang cupu! Liat deh komennya, ada yang bilang 'Mas Arjuna keren, kayak abang-abang jualan cilok tapi jago karate'. Kan lumayan buat pencitraan!"
Vittorio menarik napas panjang, mencoba mengingat teknik meditasi pernapasan yang ia pelajari. Namun, kelakuan Karin sepertinya dirancang khusus untuk merusak setiap inci ketenangan batinnya. "Hapus. Sekarang. Kau mengundang perhatian yang tidak perlu, wanita semprul!"
"Dih, pelit amat! Padahal gue udah capek-capek ngedit pake filter 'Glow Up' biar muka lu nggak terlalu sangar," Karin mengerucutkan bibirnya, namun ia segera beralih ke kegilaan berikutnya. "Eh, lu tau nggak? Hari ini di kampus ada festival budaya. Gue udah daftarin kita berdua buat lomba makan kerupuk tingkat universitas."
Vittorio membeku. "Lomba... makan kerupuk?"
"Iya! Hadiahnya lumayan, Juna! Voucer makan seblak gratis sebulan! Lu harus ikut, lu kan punya insting pembunuh. Pasti lu jago banget nangkep kerupuk yang goyang-goyang itu pake mulut!"
Vittorio membayangkan dirinya—mantan penguasa duni bawah Italia yang ditakuti oleh menteri dan jenderal—sedang berdiri di lapangan kampus, mendongak ke atas dengan tangan terikat di belakang punggung, mencoba menggigit kerupuk putih yang digantung dengan tali rafia di depan ratusan mahasiswa.
"Aku lebih baik ditembak di kepala daripada melakukan hal konyol seperti itu," ucap Vittorio dengan martabat setinggi gunung.
"Halah, sok jagoan! Kemarin aja lu bantuin gue ngerjain statistik sampe jam satu malem mau-mau aja," Karin menarik-narik lengan kemeja Vittorio. "Ayo dong, Jun! Sekali-kali lu harus bersosialisasi. Jangan kayak kanebo kering mulu. Lagian, ini strategi penyamaran! Musuh lu pasti nggak bakal nyangka kalau 'Sang Anomali' lagi sibuk berjuang demi kerupuk kaleng!"
Vittorio menutup matanya rapat-rapat. Logika Karin yang bengkok entah bagaimana selalu memiliki celah yang sulit ia bantah. Memang benar, bersembunyi di balik kekonyolan adalah teknik kamuflase yang efektif. Tapi tetap saja... makan kerupuk?
"Baiklah, aku akan pergi ke kampus. Tapi aku tidak janji soal lomba itu," putus Vittorio akhirnya.
Kekacauan tidak berhenti di situ. Sesampainya di kampus, Karin ternyata sudah menyiapkan "kostum" untuk festival. Ia memaksa Vittorio mengenakan selempang kain batik yang ia klaim sebagai simbol "Pendekar Hukum Abad 21".
"Karin, lepaskan ini," desis Vittorio saat mereka berjalan melewati koridor fakultas. Semua mata tertuju pada mereka—atau lebih tepatnya, pada selempang norak yang melingkar di bahu Vittorio.
"Jangan dilepas! Itu penolak bala!" Karin berjalan dengan bangga di sampingnya, memegang ember plastik berisi botol-botol air mineral yang ia jual secara ilegal kepada mahasiswa yang kehausan. "Es teh! Es teh manis! Seger kayak liat muka Juna!"
Vittorio merasa tekanan darahnya benar-benar naik sekarang. Ia merasa lebih terintimidasi oleh teriakan dagangan Karin daripada oleh ancaman pembunuh bayaran kemarin.
Tiba-tiba, langkah mereka terhenti di depan stan Fakultas Hukum. Selly—gadis yang kemarin ditampar Vittorio—berdiri di sana bersama ayahnya, Hadi Sujatmiko (yang tampak sedang melakukan kunjungan resmi sebagai dewan penyantun), dan Satya, sang Ketua BEM.
Suasana mendadak menjadi sangat kaku.
Hadi menatap Vittorio dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara amarah yang tertahan dan rasa penasaran yang besar. Sementara itu, Selly tampak menyembunyikan wajahnya yang masih sedikit sembab di balik kacamata hitam besar.
"Wah, ada Pak Hadi!" Karin berseru dengan ceria, seolah-olah ia tidak tahu bahwa pria di depannya adalah musuh besar Vittorio. "Pak, mau beli es teh nggak? Buat bapak saya kasih harga khusus, sepuluh ribu aja. Biasanya saya jual lima ribu, tapi kan bapak orang kaya, jadi harus sedekah lebih banyak!"
Seluruh pengawal Hadi terperangah. Satya bahkan sampai tersedak ludahnya sendiri mendengar keberanian—atau kebodohan—Karin.
Vittorio menahan lengan Karin sebelum gadis itu melangkah lebih jauh. "Cukup, Karin."
Hadi menatap Karin sejenak, lalu beralih ke Vittorio. "Temanmu ini... sangat berisik, Arjuna. Sama seperti dirimu yang sekarang."
"Berisik terkadang lebih jujur daripada keheningan yang penuh dengan rencana busuk, Tuan Hadi," jawab Vittorio dengan nada yang sangat tenang namun tajam.
Karin yang merasakan ketegangan itu, bukannya mundur, malah menawarkan botol es tehnya tepat ke depan hidung Hadi. "Beneran nggak mau, Pak? Ini es tehnya pake gula asli loh, bukan janji manis politik. Seger banget buat ngademin hati yang lagi panas karena sahamnya turun."
Selly tidak tahan lagi. "Kau! Dasar cewek kampung tidak tahu sopan santun! Pergi dari sini sebelum aku panggil keamanan!"
Karin langsung berkacak pinggang. "Eh, Mbak Kacamata Gede! Ini area publik ya! Gue dagang halal, nggak kayak bokap lu yang—"
Vittorio segera membekap mulut Karin dengan telapak tangannya. "Kita pergi sekarang," ucap Vittorio pada Hadi, lalu menyeret Karin menjauh dari stan itu.
"Mmph! Mmph!" Karin meronta-ronta sampai mereka berada di balik gedung perpustakaan.
"Kau ingin mati, ya?!" Vittorio melepaskan bekapannya, napasnya sedikit memburu. "Kau tahu siapa dia? Dia bisa melenyapkanmu dalam satu malam tanpa meninggalkan jejak!"
Karin merapikan rambutnya yang berantakan, wajahnya tidak menunjukkan rasa takut sama sekali. "Gue tau dia jahat, Juna. Gue tau dia orang yang bikin lu luka-luka. Makanya gue gituin! Gue nggak suka liat orang yang udah nyakitin temen gue berdiri sombong kayak gitu. Gue mau dia tau kalau lu nggak sendirian, dan lu punya 'tameng' yang lebih berisik dari senjatanya dia!"
Vittorio terdiam. Amarahnya yang tadinya meluap karena rasa malu dan frustrasi, mendadak padam. Ia menatap gadis kecil di depannya yang hanya setinggi bahunya, namun memiliki keberanian yang melampaui logika. Karin tidak sedang bersikap bodoh; ia sedang berperang dengan caranya sendiri. Cara yang konyol, berisiko, dan sangat membuat darah tinggi, namun penuh dengan kesetiaan.
"Kau benar-benar wanita paling semprul yang pernah kutemui," gumam Vittorio.
"Dan lu adalah alien paling kaku yang pernah gue temuin!" balas Karin sambil nyengir. "Udah ah, jangan marah-marah terus. Nanti gantengnya ilang, sisa galaknya doang. Yuk, ke lapangan! Lomba makan kerupuk bentar lagi mulai!"
Vittorio menyerah sepenuhnya. Ia membiarkan Karin menarik tangannya menuju lapangan tengah universitas yang sudah ramai dengan teriakan mahasiswa.
Di lapangan, panggung kecil telah disiapkan. Puluhan kerupuk putih tergantung di tali rafia, menari-nari ditiup angin siang yang terik.
"Peserta nomor urut 04, Arjuna dari Fakultas Hukum!" teriak pembawa acara lewat pelantang suara.
Vittorio melangkah maju dengan enggan, masih mengenakan selempang batik norak dari Karin. Saat ia berdiri di bawah kerupuknya, ia melihat Satya dan beberapa anggota BEM tertawa di pinggir lapangan. Bahkan ia bisa melihat Hadi Sujatmiko dan Selly menonton dari kejauhan di balkon lantai dua.
Ini adalah penghinaan terbesar dalam karirku sebagai mafia, batin Vittorio.
"JUNA! SEMANGAT! BAYANGIN ITU KERUPUK ADALAH KEPALA MUSUH LU!" teriak Karin dari barisan penonton paling depan, sambil melambaikan ember plastiknya.
Peluit berbunyi.
Lomba dimulai. Peserta lain mulai melompat-lompat konyol, mencoba mencaplok kerupuk yang sengaja ditarik-ulur oleh panitia. Vittorio berdiri diam selama dua detik. Ia memejamkan mata, memfokuskan seluruh insting predatornya. Ia menghitung ritme ayunan tali, kecepatan angin, dan titik gravitasi kerupuk tersebut.
Dalam satu gerakan yang sangat presisi dan cepat—gerakan yang sama yang ia gunakan untuk mematahkan leher musuh—Vittorio menyambar kerupuk itu dengan sekali gigitan besar.
KRAUK!
Hanya dalam tiga kali kunyahan kuat, setengah kerupuk itu lenyap. Ia melompat sedikit, memberikan tekanan pada sisa kerupuk di tali, dan menelannya dalam hitungan detik.
"JUARA! JUNA JUARA!" Karin histeris sampai terjatuh dari kursi plastik yang ia duduki.
Vittorio berdiri tegak, membersihkan sisa remahan kerupuk di bibirnya dengan sapu tangan sutra. Ia menatap ke arah balkon, tepat ke arah mata Hadi Sujatmiko. Pesannya jelas: Jika aku bisa menaklukkan hal sekonyol ini dengan presisi seperti itu, bayangkan apa yang bisa kulakukan pada hidupmu.
Hadi tampak membuang muka, sementara Satya berhenti tertawa dan mulai terlihat gelisah.
Sore harinya, Vittorio dan Karin duduk di taman kampus sambil menikmati voucer seblak gratis hasil kemenangan Vittorio. Karin tidak berhenti bicara tentang betapa "ikonik"-nya cara Vittorio makan kerupuk.
"Lu tadi kayak hiu nangkep anjing laut, Jun! Serem tapi keren banget!" Karin menyuap seblaknya dengan lahap. "Terus liat muka Selly? Dia kayak mau pingsan liat lu menang lomba rakyat. Pasti dia mikir, 'Kok pangeran kegelapan makan kerupuk sih?'"
Vittorio hanya menyesap air mineralnya. Meskipun harinya dipenuhi dengan hal-hal yang membuat darah tinggi, ada sebuah rasa puas yang aneh. Ia menyadari bahwa di dunia ini, kekuatan tidak selalu harus ditunjukkan dengan peluru. Terkadang, menunjukkan bahwa kau bisa menundukkan dunia mereka yang konyol dengan aturanmu sendiri jauh lebih menghancurkan bagi mental musuh.
"Juna," panggil Karin pelan, kali ini tanpa nada bercanda.
"Apa?"
"Makasih ya udah mau ikut lomba itu. Gue tau lu sebenernya risih banget. Gue cuma pengen lu ngerasain jadi mahasiswa biasa sebentar aja. Sebelum... sebelum perang lu yang beneran dimulai."
Vittorio menatap Karin. Cahaya matahari sore yang berwarna oranye jatuh di wajah gadis itu, membuatnya terlihat lebih lembut dari biasanya. "Aku yang harusnya berterima kasih, Karin. Kau membuatku menyadari bahwa darah tinggi lebih baik daripada mati rasa."
Karin tersipu, lalu segera memukul lengan Vittorio. "Dih! Mulai deh puitis aliennya! Udah, cepetan habisin seblaknya! Entar malem temenin gue belanja stok mi instan di minimarket ya? Harus pake selempang batik lagi!"
Vittorio menghela napas panjang, menatap langit Jakarta yang mulai gelap. "Hanya jika kau mematikan akun TikTok itu, Karin."
"Nggak mau! Follower-nya udah jadi dua puluh orang sekarang! Kita lagi menuju viral, Juna!"
Vittorio hanya bisa pasrah. Musuh-musuhnya mungkin sedang merencanakan pembunuhan, tapi asistennya sedang merencanakan konten TikTok. Hidup sebagai Arjuna ternyata jauh lebih melelahkan daripada menjadi seorang Don. Namun, saat ia melihat tawa lepas Karin, Vittorio tahu bahwa ia tidak akan menukar kekacauan ini dengan kekuasaan apa pun di dunia.
"Satu bab lagi dalam hidupku yang hancur karena seorang wanita semprul," gumam Vittorio sambil tersenyum tipis.
"Gue denger itu, Juna!"
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍