"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Elena
Malam di Uluwatu seharusnya menjadi simfoni ketenangan, namun bagiku, suara deburan ombak yang menghantam tebing di bawah villa kini terdengar seperti dentuman genderang perang yang jauh. Angin laut bertiup lebih kencang, membawa aroma garam yang tajam dan dingin, menusuk hingga ke pori-pori kulitku yang terbalut gaun linen tipis. Di atas meja kayu jati yang mewah, gelas anggurku sudah kehilangan embun dinginnya, sama seperti suasana hatiku yang mendadak membeku sejak nama itu diucapkan.
Elena.
Nama itu hanya terdiri dari lima huruf, namun cara Bastian menyebutnya tadi—dengan nada yang merupakan campuran antara rasa muak, kenangan pahit, dan otoritas yang terganggu—membuat nama itu terasa seberat timah. Bastian masih berdiri di tepi tebing, sosoknya hanya berupa siluet gelap yang membelakangi lampu-lampu villa. Ia tampak begitu terasing, seolah-olah percakapan telepon tadi telah menariknya kembali ke sebuah dunia yang tidak bisa kujangkau.
Aku menatap punggungnya yang tegap. Selama beberapa minggu terakhir, aku merasa telah mengenal setiap inci dari kekuatan pria ini. Aku telah melihatnya sebagai penyelamat, sebagai mentor, dan sebagai seseorang yang menghargai setiap tetes keringatku. Namun sekarang, melihatnya terdiam di bawah langit malam Bali, aku menyadari betapa sedikitnya aku tahu tentang badai yang pernah menghancurkan hatinya sebelum ia bertemu denganku.
Bastian akhirnya berbalik. Langkah kakinya di atas dek kayu terdengar berat. Saat ia masuk kembali ke area cahaya lampu villa, aku bisa melihat garis-garis kelelahan yang mendadak muncul di wajahnya. Matanya yang biasanya jernih dan penuh keyakinan kini tampak mendung, menyimpan kegelapan yang membuat dadaku berdenyut perih.
"Maafkan aku, Arelia," ucapnya, suaranya rendah dan serak. Ia duduk kembali di sofa, namun ia tidak lagi menyentuh gelasnya. "Aku tidak bermaksud merusak malam kemenanganmu dengan bayang-bayang masa laluku."
"Siapa dia sebenarnya, Bastian? Lebih dari sekadar mantan istri?" tanyaku pelan, mencoba menjaga suaraku agar tetap stabil meskipun jantungku berdetak tak keruan.
Bastian menarik napas panjang, menatap ke arah laut yang gelap. "Elena adalah putri tunggal dari pemilik Aristhoteles Group. Jika Adhitama Group adalah penguasa pasar properti domestik, mereka adalah raksasanya di tingkat regional. Pernikahan kami dulu... awalnya dimulai sebagai sebuah aliansi bisnis yang dianggap sempurna oleh kedua keluarga. Namun, Elena bukan wanita yang puas hanya dengan menjadi istri seorang CEO. Dia ingin menjadi pemilik panggungnya sendiri, bahkan jika itu berarti harus meruntuhkan panggung suaminya."
Ia berhenti sejenak, wajahnya mengeras seolah sedang menahan rasa sakit dari luka lama yang terbuka kembali.
"Dia meninggalkan Indonesia lima tahun lalu setelah perceraian kami yang sangat berisik di kalangan elit. Dia pergi ke Singapura untuk memimpin cabang ayahnya di sana. Dan sekarang, dia kembali ke Bali karena dia tahu proyek kita sedang berada di titik krusial. Dia tahu tentang sabotase Kaivan, Arelia. Dan yang lebih mengkhawatirkan, dia tahu detail yang bahkan belum diketahui oleh tim legal kita."
"Bagaimana mungkin dia tahu?" tanyaku terperangah.
"Karena Kaivan, dalam keputusasaannya, tidak hanya mencoba menjual data ke kompetitor sembarang orang. Dia mencoba menjualnya ke Aristhoteles Group. Dia berpikir Elena akan senang melihatku jatuh. Tapi Elena lebih licik dari itu. Dia tidak membeli data itu untuk menjatuhkanku secara langsung; dia menyimpannya sebagai senjata untuk memaksaku menemuinya."
Aku terdiam, merasa mual yang hebat merayap di perutku. Kaivan. Bahkan setelah ia mendekam di balik jeruji besi, racun yang ia tebarkan masih bisa menjangkauku hingga ke ujung pulau ini. Pria itu benar-benar tidak akan membiarkanku bahagia sedikit pun.
"Dia ingin bertemu besok pagi di hotelnya," Bastian melanjutkan, matanya kini menatapku dengan tatapan memohon yang jarang kulihat. "Dan dia meminta agar kamu ikut hadir, Arelia."
"Aku?"
"Dia menyebutmu sebagai 'Analis Jenius yang menggantikan perannya di sisiku'. Dia ingin melihat wanita seperti apa yang mampu membuatku memberikan kontrak Paris yang selama ini ia incar untuk perusahaannya."
Aku merasakan dingin yang luar biasa menjalar di tulang punggungku. Ini bukan lagi soal pekerjaan. Ini adalah konfrontasi personal yang dibungkus dengan protokol bisnis. Elena ingin melihat lawannya. Ia ingin melihat wanita yang telah mengambil alih ruang yang dulu ia miliki.
"Aku akan ikut," kataku mantap, meskipun tanganku sedikit gemetar di bawah meja. "Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi wanita itu sendirian, Bastian. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk mantan istrimu, meragukan integritas riset yang aku bangun."
Bastian meraih tanganku, ia meremasnya kuat, seolah sedang menyalurkan kekuatannya padaku. "Ingat satu hal, Arelia. Dia akan mencoba memancing emosimu. Dia akan mencoba membuatmu merasa tidak layak. Jangan biarkan dia menang. Kamu adalah analis terbaik yang pernah saya miliki, dan kamu memiliki tempat di sini bukan karena belas kasihan saya, tapi karena kompetensimu."
Malam itu, aku hampir tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali aku menutup mata, aku membayangkan sosok Elena. Dalam pikiranku, ia adalah manifestasi dari segala hal yang tidak kumiliki: kekuasaan sejak lahir, kecantikan yang dingin, dan sejarah yang panjang dengan Bastian. Aku merasa seperti seorang penyusup yang baru saja masuk ke dalam bab tengah dari sebuah novel yang sangat rumit.
Keesokan paginya, aku bersiap dengan ketelitian yang obsesif. Aku memilih setelan jas berwarna putih tulang dari bahan sutra mentah yang memberikan kesan murni namun sangat tegas. Aku menyanggul rambutku dengan rapi, membiarkan wajahku terlihat sepenuhnya tanpa helai rambut yang mengganggu. Aku ingin terlihat seperti profesional yang tidak bisa ditembus. Jika Elena adalah badai, maka aku harus menjadi dinding karang yang tidak akan goyah.
Kami berkendara menuju sebuah hotel mewah di kawasan Nusa Dua. Hotel itu adalah milik Aristhoteles Group, dan kemegahannya terasa sangat angkuh. Begitu kami memasuki lobi yang luas dengan langit-langit setinggi sepuluh meter, aku bisa merasakan tatapan para staf yang seolah-olah sudah tahu siapa kami.
Kami diantar menuju Royal Suite di lantai paling atas. Pintu ganda kayu jati yang besar terbuka, dan aroma parfum Jasmine yang sangat mahal—tipe parfum yang hanya dipakai oleh wanita yang tahu benar nilainya—langsung menyergap indra penciumanku.
Di sana, di depan balkon yang menghadap ke laut lepas, berdiri seorang wanita.
Ia mengenakan terusan sutra berwarna biru safir yang membalut tubuhnya dengan sangat elegan. Rambut hitamnya dibiarkan terurai lurus, berkilau di bawah cahaya matahari pagi. Saat ia berbalik, aku merasa seolah-olah waktu berhenti sejenak. Elena sangat cantik. Tipe kecantikan yang intimidatif, dengan rahang yang tegas dan mata yang tajam seperti elang.
"Bastian," sapa Elena. Suaranya tidak melengking, melainkan rendah dan berwibawa, penuh dengan intonasi yang menunjukkan bahwa ia terbiasa ditaati.
Ia melangkah mendekat, mengabaikanku sejenak dan menatap Bastian dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang pernah berbagi bantal dengan pria itu. Ada keintiman yang menyakitkan dalam cara matanya menelusuri wajah Bastian.
"Sudah lama sekali. Kamu terlihat lebih... dewasa. Jakarta sepertinya sangat cocok untukmu," tambahnya dengan senyum tipis yang tidak mencapai matanya.
"Elena. Langsung saja pada intinya. Di mana data yang dikirimkan Kaivan?" Bastian menjawab dengan nada dingin yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Elena terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar seperti denting kristal yang pecah. Ia kemudian mengalihkan pandangannya padaku. Tatapannya menilaiku dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah-olah ia sedang memeriksa sebuah aset yang baru saja dibeli oleh perusahaannya.
"Dan ini... Arelia?" tanya Elena. Ia melangkah mendekatiku, aroma parfumnya kini terasa menyesakkan. "Aku sudah membaca riwayat hidupmu. Lulusan terbaik, analis tajam, asisten setia Kaivan selama tujuh tahun. Menarik. Sangat menarik bagaimana seorang wanita bisa bertahan begitu lama menjadi bayang-bayang pria medioker seperti Kaivan, hanya untuk kemudian melompat ke pelukan pria yang jauh lebih berkuasa saat ada kesempatan."
Darahku mendidih mendengar hinaan yang terselubung itu. Ia mencoba melabeliku sebagai oportunis.
"Nama saya Arelia, Nona Elena," kataku, suaraku terdengar jauh lebih stabil dari yang kuduga. "Dan saya tidak melompat ke mana pun. Saya berdiri di sini karena integritas profesional saya. Sesuatu yang sepertinya gagal dipahami oleh Kaivan, dan mungkin... oleh orang-orang yang menganggap data sebagai alat tawar-menawar emosional."
Elena mengangkat sebelah alisnya, tampak sedikit terkejut dengan keberanianku. Ia kemudian berjalan menuju meja kerja yang ada di sudut ruangan dan mengambil sebuah flash drive berwarna perak.
"Kaivan mencoba menjual ini padaku seharga dua juta dolar Singapura," Elena memutar-mutar benda itu di jarinya. "Dia bilang ini berisi kelemahan struktural proyek Bali yang bisa membuat Adhitama Group bangkrut jika datanya bocor ke publik. Dia sangat putus asa, Bastian. Dia menangis di telepon, bilang kalau wanita di sampingmu ini telah mengkhianatinya."
"Dia yang mengkhianati perusahaan, Elena! Dia mencoba mencuri aset intelektual!" Bastian memotong dengan marah.
"Aku tahu itu," Elena tersenyum tenang. "Itulah sebabnya aku tidak membelinya. Aku tidak tertarik pada data sampah dari pria pecundang. Tapi aku tertarik pada satu hal: siapa yang sebenarnya membuat data ini begitu berharga sehingga Kaivan sampai rela menghancurkan hidupnya?"
Ia berjalan ke arahku lagi, menatapku tepat di mata. "Arelia, aku tahu kamu yang mengembangkan sistem enkripsi barunya. Aku tahu kamu yang menemukan celah di sektor vendor C yang selama ini tersembunyi. Kamu punya bakat yang luar biasa. Sayang sekali jika bakat itu hanya digunakan untuk membangun kerajaan mantan suamiku."
Elena meletakkan flash drive itu di tanganku. Sentuhan jarinya terasa sedingin es.
"Aku memberikan ini secara gratis sebagai tanda perkenalan. Tapi sebagai gantinya, aku ingin Adhitama Group menarik diri dari tender ekspansi di Paris. Aku ingin sektor itu untuk Aristhoteles. Jika kalian setuju, aku akan menyerahkan semua bukti keterlibatan pihak ketiga dalam sabotase Kaivan yang bisa membersihkan nama Adhitama sepenuhnya dari investigasi otoritas bursa."
Suasana ruangan mendadak menjadi sangat tegang. Ini adalah pemerasan yang sangat halus. Elena menggunakan reputasi Adhitama sebagai sandera untuk menyingkirkan pesaingnya di Eropa.
Bastian terdiam, rahangnya mengeras. Ia menoleh padaku, seolah-olah ia sedang menimbang antara masa depanku di Paris dan keamanan perusahaannya di Jakarta.
"Paris bukan hanya soal Adhitama Group, Elena," kata Bastian dengan suara yang sangat berat. "Paris adalah panggung yang sudah aku janjikan untuk Arelia. Dan aku tidak akan menukar masa depan rekan strategis saya demi kenyamanan jangka pendek."
"Rekan strategis?" Elena tertawa lagi, kali ini suaranya lebih keras. "Bastian, jangan naif. Kita semua tahu kenapa kamu membawanya ke Bali. Kamu sedang mencoba menggantikan aku dengan versi yang lebih 'patuh', bukan? Kamu rindu memiliki seseorang yang bisa kamu kendalikan."
"Cukup, Elena!" Bastian melangkah maju, namun aku menahannya.
Aku maju satu langkah ke depan Elena. Aku bisa melihat pantulan diriku di matanya yang dingin. Di saat itu, aku menyadari satu hal: Elena tidak lebih kuat dariku. Ia hanya lebih kaya. Dan kekayaan tidak bisa membeli ketajaman analisis yang telah kucelup dalam tujuh tahun air mata dan kerja keras.
"Nona Elena," kataku, suaraku kini memenuhi ruangan itu dengan otoritas yang murni. "Anda bicara soal kontrol seolah-olah itu adalah satu-satunya bentuk hubungan yang Anda pahami. Mungkin itulah sebabnya Anda gagal dengan Bastian dulu. Karena Anda melihat pernikahan sebagai merger, bukan sebagai kemitraan."
Wajah Elena berubah pucat sesaat, namun ia segera menutupinya dengan senyuman sinis.
"Soal tender di Paris," lanjutku sambil menimang flash drive perak itu. "Anda tidak perlu meminta kami mundur. Jika data di dalam ini memang sekuat yang dikatakan Kaivan, maka saya akan membuktikannya dalam rapat pleno besok bahwa Adhitama Group tetaplah pilihan terbaik. Kami tidak butuh bukti tambahan untuk membersihkan nama kami; kami punya kompetensi untuk melakukannya sendiri. Simpan saja ancaman Anda. Karena bagi seorang analis, data yang paling berharga bukan di dalam benda ini, tapi di dalam kepala saya."
Aku berbalik menuju pintu, memberikan isyarat pada Bastian bahwa pembicaraan ini sudah selesai. Bastian menatapku dengan binar mata yang penuh dengan kekaguman yang nyaris seperti pemujaan. Ia mengikuti langkahku keluar dari suite itu, meninggalkan Elena yang berdiri mematung di tengah kemegahan hotelnya.
Begitu pintu ganda itu tertutup, aku merasa seluruh tenagaku terkuras. Aku bersandar pada dinding koridor yang dingin, menarik napas dalam-dalam.
"Arelia, kamu baru saja menantang wanita paling berbahaya di Asia," bisik Bastian sambil merangkul bahuku.
"Aku tidak menantangnya, Bastian. Aku hanya menetapkan batas," jawabku, menatapnya dengan mata yang kini berkaca-kaca. "Aku tidak ingin menjadi bayangan siapa pun lagi. Tidak bayangan Kaivan, dan tidak juga bayangan dari masa lalumu."
Bastian menarikku ke dalam pelukannya di tengah koridor yang sepi itu. Ia mencium keningku dengan sangat lembut. "Kamu tidak akan pernah menjadi bayangan, Arelia. Kamu adalah cahayanya. Dan besok, kita akan membuktikan pada Elena, pada Jakarta, dan pada dunia, bahwa cahaya yang sejati tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh gertakan murahan."
Di luar sana, laut Bali berkilauan di bawah matahari yang semakin terik. Aku tahu, hari ini aku baru saja memenangkan satu pertempuran kecil melawan hantu masa lalu. Namun, aku juga tahu bahwa Elena tidak akan menyerah begitu saja. Di matanya tadi, aku melihat sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar ambisi bisnis: aku melihat rasa iri yang mendalam.
Elena bukan hanya ingin memenangkan tender Paris. Ia ingin mengambil kembali apa yang ia rasa miliknya. Dan aku... aku baru saja menyatakan bahwa aku bukan hanya sekadar pengganti. Aku adalah pemenang baru di panggung ini.
Nyaris jadi kita?
Kalimat itu kini memiliki makna baru. Kami nyaris dihancurkan oleh masa lalu masing-masing hari ini. Namun, saat aku menggenggam tangan Bastian menuju mobil, aku tahu bahwa kami tidak akan membiarkan "nyaris" itu menjadi kenyataan. Kami akan menjadi "kita" yang sesungguhnya, melewati setiap badai yang Elena kirimkan.
Bali baru saja menjadi saksi: Arelia yang baru telah lahir. Dan ia tidak takut pada siapa pun.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain