Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Materai 10 Ribu
Namun, sebelum Aluna sempat menarik gas motornya lebih jauh, suara bariton Elvano kembali terdengar, menghentikan niatnya untuk kabur secepat kilat dari tempat terkutuk itu.
"Tunggu."
Satu kata. Datar, tapi punya otoritas yang membuat Aluna refleks menekan rem.
Aluna menoleh dengan wajah super jutek. "Apa lagi?! Kurang puas ngehina saya?"
Elvano berjalan mendekat dua langkah. Dia menatap uang lecek tiga puluh lima ribu yang digenggam Aluna. Tiba-tiba, tangannya bergerak cepat menyambar uang itu kembali dari tangan Aluna.
"Eh! Maling!" pekik Aluna kaget.
"Saya bukan maling. Saya meralat metode pembayaran," ucap Elvano santai sambil memasukkan uang receh itu kembali ke saku celananya. "Saya baru ingat, saya tidak punya uang tunai lagi di dompet. Itu uang terakhir saya buat bayar parkir nanti."
"Hah?! Mas bercanda?!" Aluna melotot. "Terus saya dibayar pake apa? Pake daun? Pake senyuman?"
"Saya tidak biasa senyum gratis," balas Elvano. Dia merogoh saku jas bagian dalam, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna emas yang berkilau.
Dengan gerakan slow motion yang menyebalkan, Elvano menjentikkan kartu nama itu ke arah Aluna. Kartu itu melayang di udara, berputar-putar, lalu mendarat tepat di atas jok motor Aluna yang sobek sedikit.
"Datang ke kantor saya," perintah Elvano sambil menunjuk gedung pencakar langit di atas kepala mereka. "Lantai 50. Diwantara Group. Temui sekretaris saya untuk klaim asuransi kerusakan motor kamu senilai tiga puluh lima ribu rupiah."
Aluna mengambil kartu nama itu. Bahannya tebal, tulisannya dicetak timbul dengan tinta emas. Elvano Diwantara - CEO.
"Mas nyuruh saya naik ke lantai lima puluh cuma buat ambil duit gocap kurang lima belas ribu?" tanya Aluna tak percaya. "Mas tahu nggak ongkos lift sama tenaga saya naik ke sana lebih mahal daripada duitnya!"
"Itu prosedur perusahaan. Semua pengeluaran harus tercatat," Elvano tidak peduli. Dia berbalik badan, memberi isyarat pada Elora untuk mengikutinya.
Tapi sebelum benar-benar pergi, Elvano berhenti sejenak dan menoleh sedikit.
"Oh, satu lagi. Jangan lupa bawa materai sepuluh ribu. Kamu harus tanda tangan kwitansi pelunasan ganti rugi di atas materai. Saya tidak mau di kemudian hari kamu menuntut saya lagi dengan alasan kurang bayar."
Setelah mengucapkan kalimat pamungkas itu, Elvano melenggang pergi dengan langkah tegap, diikuti Elora yang memeletkan lidah ke arah Aluna sebelum berlari mengejar kakaknya.
Aluna mematung di atas motornya.
Angin parkiran berhembus pelan, menerbangkan rambutnya yang lepek.
Otaknya yang cerdas mulai melakukan kalkulasi cepat.
Ganti rugi: Rp 35.000.
Harga materai: Rp 10.000.
Sisa bersih yang diterima: Rp 25.000.
"Dua puluh lima ribu..." desis Aluna, tangannya meremas kartu nama emas itu sampai lecek.
"Gila! Sinting! Miring!" teriak Aluna frustasi pada angin kosong. "Kalau gue beli materai sepuluh ribu, berarti gue cuma dapat bersih dua puluh lima ribu dong?! Itu bahkan nggak cukup buat beli nasi padang pake rendang dekat kost gue! Dasar lintah darat! Dasar CEO kikir! Dasar kalkulator berjalan!"
Aluna ingin sekali mengejar Elvano dan melempar helmnya ke kepala pria itu. Tapi dia sadar, melawan orang kaya di kandangnya sendiri sama saja bunuh diri.
Dengan hati dongkol setengah mati, Aluna menyalakan mesin motornya yang bersuara krek-krek memilukan. Dia harus segera pergi dari sini sebelum dia benar-benar gila.
"Awas aja lo, Elvano Diwantara," gerutu Aluna sambil memacu motornya keluar parkiran. "Kalau kita ketemu lagi, gue pastiin lo bayar mahal atas penghinaan ini!"
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁