Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Berputar di Ketinggian dan Sebentuk Pengakuan Tanpa Suara
Kerlap-kerlip lampu pijar dari wahana bianglala tua itu menembus pekatnya malam, berputar lambat diiringi derit pelan gesekan besi yang telah dimakan usia. Keriuhan pasar kaget di simpang tiga perlahan terdengar meredup, tergantikan oleh desir angin malam yang menyusup masuk ke dalam gondola besi bercat merah pudar yang kini membawa Jenawa Adraw dan Sinaca Tina mengangkasa.
Mereka duduk berhadapan. Ruang yang teramat sempit di dalam gondola itu memaksa lutut Jenawa sesekali bersinggungan tipis dengan ujung celana kain Sinaca kala wahana sedikit bergoyang. Setiap persinggungan kecil itu seolah mengirimkan gelombang kejut yang tak kasatmata ke aliran darah sang mantan panglima.
Jenawa menyandarkan tubuhnya, membiarkan kedua lengannya terlipat di depan dada. Alih-alih menatap hamparan gemerlap lampu kota Wonosari yang kian mengecil di bawah sana, sepasang netra kelamnya justru mengunci pada satu-satunya pemandangan yang ia anggap paling berharga malam itu.
Sinaca tengah menatap ke luar jendela gondola berselimut kawat, paras ayunya diterangi oleh pendar cahaya rembulan dan lampu wahana yang silih berganti. Angin malam mempermainkan ujung rambutnya yang tergerai bebas.
"Kau melewatkan pemandangan yang teramat indah di bawah sana, Jenawa," tegur Sinaca pelan tanpa menoleh. Sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis, menyadari bahwa sedari tadi pemuda di hadapannya tak henti menatapnya lekat.
"Aku tak melewatkan apa pun, Sinaca," sahut Jenawa, suaranya mengalun berat nan syahdu, berpadu dengan derit pelan bianglala. "Pemandangan indah yang kau sebutkan itu ada di hadapanku. Untuk apa aku membuang pandanganku ke arah aspal dan atap-atap rumah, jika sang rembulan telah berkenan duduk berhadapan denganku?"
Mendengar rayuan yang dirangkai dengan diksi teramat rapi itu, Sinaca akhirnya menoleh. Rona merah di pipinya tak lagi bisa disembunyikan oleh temaramnya malam. Gadis yang senantiasa berlindung di balik benteng logika dan kalimat-kalimat baku itu mendadak kehilangan perbendaharaan katanya.
"Kau... kau semakin piawai merangkai kiasan yang berlebihan," balas Sinaca sedikit gugup, jemarinya bertaut erat di atas pangkuan.
"Itu bukanlah sebuah kiasan, melainkan sebuah realita," Jenawa mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara mereka. "Bertahun-tahun lamanya aku mendamba ketinggian di atas aspal jalanan. Aku mengejar pengakuan, kekuasaan, dan rasa hormat dengan cara menumbangkan orang lain. Namun malam ini, di ketinggian wahana besi yang usang ini, aku baru menyadari satu hal."
"Menyadari hal apa?" tanya Sinaca, suaranya nyaris menyerupai bisikan kala mata mereka kembali bersirobok.
"Bahwa satu-satunya pengakuan yang kubutuhkan, hanyalah binar kebanggaan dari sepasang matamu," jawab Jenawa mutlak. Tak ada keraguan, tak ada arogansi. Yang tersisa hanyalah sebentuk ketulusan dari seorang laki-laki yang telah bertekuk lutut pada sebuah afeksi yang murni.
Tepat pada detik itu, bianglala berhenti berputar untuk menurunkan penumpang di bawah sana, menahan gondola mereka tepat di titik puncak tertinggi. Dunia seolah membeku. Tak ada lagi Seno, tak ada lagi Agam, dan tak ada lagi bayang-bayang pertumpahan darah yang sempat menghantui hari-hari mereka.
Sinaca menelan ludah. Hatinya bergetar hebat. Laki-laki di hadapannya ini telah mengorbankan takhtanya, menelan egonya, dan meredam amarahnya hanya demi menepati satu janji kepadanya.
Perlahan, Sinaca melepaskan tautan jemarinya. Ia mengulurkan tangan kanannya melintasi celah sempit di antara lutut mereka, lalu meletakkannya di atas kepalan tangan Jenawa yang sedari tadi bertumpu di pahanya. Sentuhan itu ringan, namun bagi Jenawa, rasanya lebih berat dan mengikat daripada jangkar kapal.
"Kau tak lagi perlu membuktikan apa-apa kepadaku, Jenawa," ucap Sinaca dengan nada yang teramat lembut, meruntuhkan seluruh dinding kekakuan yang selama ini ia pelihara. "Kau telah memenangkan peperangan yang paling sulit, yakni peperangan melawan egomu sendiri. Dan aku... aku bangga padamu."
Tiga kata itu. Aku bangga padamu.
Bagi seorang Jenawa Adraw, kalimat tersebut laksana embun yang menitik di atas padang pasir kerontang. Tak ada piala atau sorak-sorai jalanan yang mampu menandingi nilainya.
Jenawa membalikkan telapak tangannya, menyambut jemari lentik Sinaca dan menggenggamnya dengan penuh kehati-hatian, seolah ia tengah memegang sebuah pualam yang rapuh. Kulit mereka yang bersentuhan menyalurkan kehangatan yang mengusir udara dingin malam itu hingga tak bersisa.
"Genggaman ini," bisik Jenawa, ibu jarinya mengusap pelan punggung tangan Sinaca, "adalah hadiah paling berharga yang pernah kuterima dari sebuah kekalahan."
"Kekalahan?" dahi Sinaca berkerut samar.
"Ya. Kekalahan telak hatiku oleh pesonamu," kekeh Jenawa pelan.
Sinaca tertawa kecil, sebuah tawa yang renyah dan lepas, terdengar laksana gita cinta yang mengalun harmonis di telinga Jenawa. Gadis itu tak menarik tangannya. Ia membiarkan jemari mereka saling bertaut erat, seiring dengan mesin bianglala yang kembali berderit, membawa gondola mereka perlahan turun ke bumi.
Malam itu, di antara kelap-kelip lampu pasar malam dan lautan manusia di simpang tiga, dua semesta yang amat bertolak belakang itu akhirnya resmi melebur. Pertengkaran jalanan mungkin telah usai, namun bagi Jenawa dan Sinaca, sebuah lakon baru yang tak kalah mendebarkan baru saja dimulai. Lakon tentang dua jiwa muda yang saling bertaut, merajut asmara di antara puing-puing masa lalu, bersiap menyongsong hari esok yang tak lagi diwarnai oleh kepalan tangan, melainkan oleh genggaman yang takkan pernah dilepaskan.
semangat Thor nulisnya...💪💪💪