Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Disuruh Datang Bersama Suami
"Baik." Shafiya mengangguk.
"Saya yang salah. Saya yang melanggar aturan." Dia tak ingin menjelaskan apa pun.
"Saya akan lebih mematuhi aturan itu. Tapi tolong, kembalikan mereka."
Sagara tak langsung menjawab. Ia menatap Shafiya sesaat, lalu bergeser pada sarapan yang belum disentuh.
"Ratri." Ia menatap Ratri. Memberi satu kode.
"Baik, Tuan." Ratri beranjak. Kembali ke dapur. Mencabut perintah pemecatan.
Masalah sudah selesai. Tapi Shafiya tidak langsung beranjak. Langkahnya sempat tertahan. Padahal keinginannya jelas. Kembali ke kamar.
Menutup semua yang terjadi.
Tapi ia tetap di sana. Beberapa detik masih berdiri saja. Lalu menarik kursi perlahan.
Bukan karena ingin sarapan.
Bukan karena Sagara menuruti--tidak jadi memecat petugas dapur.
Tapi… karena ia sudah berada di meja itu.
Dan dalam didikan yang ia bawa,
sesuatu yang sudah dimulai… tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
Shafiya duduk dengan tenang.
Seolah tidak ada yang terjadi.
Padahal selera makannya sudah hilang.
Ia menarik Piring di depannya yang masih bersih. Mengambil sendok. Gerakannya tidak terburu-buru. Seperti... hanya sekedar melakukan.
Tidak ada yang membuka suara.
Agam sempat melirik. Lalu kembali pada makanannya. Raka menyesap kopinya pelan.
Sagara tetap di tempatnya.
Shafiya menyuapkan satu sendok.
Rasanya hambar.
Bukan karena makanannya. Menunya bahkan istimewa. Tapi karena sesuatu di dalam dirinya sudah lebih dulu menutup.
Raka akhirnya mengangkat pandangan.
"Sudah masuk bulan ketiga ya?"
Jelas itu pertanyaan untuk siapa.
Raka tahu karena saat dokter Zulaika kemarin melaporkan hasil pemeriksaan Shafiya--untuk diteruskan ke Sagara.
"Ya." Shafiya memberi jawaban singkat. Sebenarnya tidak minat. Bicara dengan siapa pun. Namun tidak sopan juga jika mengabaikan pertanyaan orang lain.
"Selera makan, tetap?"
Tapi Raka tetap membangun pembicaraan itu.
Shafiya menatap Raka sejenak. "Mulai berubah, Dok." Masih enggan. Tapi ia menjawab lebih panjang. Dan jelas.
Raka tersenyum. Ia berhasil membuat Shafiya bicara. Dan itu tujuannya.
Raka paham di balik gesekan yang terjadi barusan antara Shafiya dan Sagara. Mereka berdiri di dua konteks yang tidak sama. Shafiya tidak menjelaskan, dan Sagara tidak meminta kepahaman dari luar prinsip yang ia pegang.
Raka tahu keputusan Sagara itu bukan hanya karena sistem dalam rumahnya tidak berjalan sesuai. Tapi karena ia juga peduli dengan Shafiya. Tapi Sagara tak menjelaskan lebih jauh. Dan Shafiya juga tak menceritakan alasan keinginannya.
"Mulai ada keinginan sederhana... tapi tidak bisa digantikan?"
Raka tidak menebak, lebih pada meminta konfirmasi.
Shafiya diam sejenak. Ada yang berubah di matanya. Sekilas. Seperti lega, ada yang paham dengan apa yang dirasa.
Ia mengangguk. Dan semua melihat itu.
Beberapa hari terakhir, selera makannya berubah. Bukan pada sesuatu yang sulit didapat. Justru sebaliknya, pada hal-hal sederhana yang tak tersedia di rumah sebesar ini.
Seperti hari ini, ia hanya ingin makan nasi hangat dan lauk kampung. Sambal yang dibuat sendiri. Disajikan dengan teh hangat. Dan menu makan seperti itu tidak ada di rumah mewah tersebut.
Karena itu ia berinisiatif membuatnya sendiri.
Agam mengetuk cangkirnya sebentar. Ia paham arahnya. Dan Sagara tetap diam.
"Hari ini kepikiran makan apa?"
Raka makin memperjelas arah. Padahal ia sudah melihat reaksi Sagara berubah. Meski hanya sekilas.
Shafiya menggeleng. "Tidak lagi."
Dan ia menyelesaikan sarapannya. Mendorong piring. Bersiap beranjak.
"Lain kali, bilang." Suara itu terdengar. Tidak keras. Tidak pelan. Hanya terucap seperti keharusan. Sagara juga tak menatap Shafiya saat mengucapkan.
Shafiya akhirnya mengangguk. Setelah beberapa saat.
"Hari ini tidak bisa ke pesantren."
Sagara melanjutkan. Dan semua tahu ucapan itu untuk siapa.
Shafiya mengangguk singkat.
"Iya. Tidak apa-apa."
"Kalau kamu ingin berangkat sekarang--" Ia diam sebentar. Tatapannya bergeser ke Agam.
"Agam akan mengantar."
Agam sedikit mengangkat alis. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Tapi tatapan Sagara tidak memberinya ruang untuk bertanya.
Shafiya menggeleng. "Tidak usah. Saya tidak mau merepotkan."
"Tidak ada yang direpotkan."
"Seingat saya." Shafiya menatap Sagara kali ini. "Abi menyuruh saya datang bersama suami. Dan saya tidak ingin mengubah maksud itu."
Sagara diam. Satu kata itu--suami--jatuh lebih lama dari seharusnya. Bukan karena asing, tapi karena belum pernah benat-benar dipakai. Ia tidak biasa.
Tatapannya tertahan pada Shafiya beberapa detik. Lalu bergeser kembali lurus. "Baik." Satu kata singkat. Tidak memberi janji apa pun.
Hening jatuh sesaat, sebelum dipecahkan dengan ponsel milik Agam. Ia mengangkatnya. Mendengarkan sebentar.
"Tim sudah stand by. Fligh sudah siap." lapornya pada Sagara usai menerima telepon itu.
Sagara mengangguk. Melihat penunjuk waktu. "Siapkan."
Agam beranjak sebentar. Lalu datang lagi membawa beberapa berkas yang harus dibawa. "Mau sekalian ikut?" tawarnya pada Raka. Ringan.
"Lumayan. Lihat langsung medan perangnya."
"Tidak." Raka menggeleng cepat.
"Aku langsung ke AMC saja."
Adinata Medical Center
Shafiya juga beranjak. Namun Raka menahan. "Nona Shafiya."
Shafiya berhenti. Menoleh.
"Lain kali jika ingin apa pun, sampaikan. Langsung ke Sagara." Raka tersenyum akrab.
"Jangan sungkan. Dia suami kamu."
Ia sengaja mengucap kata itu, ditambahi sedikit penekanan.
Sagara melirik tajam. Tapi tak mengatakan apa pun.
“Satu lagi,” tambah Agam, kini menoleh sekilas ke arah Shafiya.
Nada suaranya masih ringan. Tapi kali ini lebih tepat.
“Untuk hal tertentu… memang bukan bagian yang bisa didelegasikan. Dia juga pasti paham."
Shafiya belum menjawab. Ketika suara Sagara mengambil tempat lebih dulu.
"Berangkat."