Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Pacar Vivi
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat, dan Vivi masih terjebak di dalam apartemen Althan.
Althan hari ini benar-benar bertingkah dengan sangat menyebalkan. Ia berulangkali meminta Vivi mengulang pekerjaannya, bahkan tak tanggung tanggung meminta Vivi melakukan sesuatu hal yang tidak masuk akal, seperti menyuruhnya menata ratusan baju yang ada di ruangan wardrobe sesuai dengan warna dan jenis kainnya.
Awas kamu Althan, aku akan balas dendam suatu hari nanti! Vivi bertekad dalam hati.
Sementara itu, pihak yang menyiksa Vivi, Althan, hanya santai santai saja menatap pekerjaan Vivi. Sesekali ia duduk di ruangan wardrobe sambil memerintah ini itu, kadangkala ia berpindah ke sofa depan dan membaringkan tubuh, sembari pura pura membaca majalah yang sebenarnya sama sekali tidak menarik perhatiannya.
"Althan, ini sudah hampir jam sebelas loh, memangnya kamu nggak kasian apa sama Mbak Vivi? Biarkan dia pulang dulu lah," Roni yang sedari tadi diam saja akhirnya membuka suara karena khawatir. Apalagi dilihatnya wajah Vivi sudah pucat, matanya memerah karena mengantuk, dan rambutnya sudah acak acakan. Rasanya ia seperti melihat zombie.
"Oh ya? Aku nggak sadar kalau sudah jam segitu," Althan berkata santai.
Ya iyalah, mana mungkin kamu sadar, kerjaan kamu aja dari tadi cuma santai santai doang! Roni membatin dongkol.
"Oke deh, kayanya udah cukup buat hari ini," Althan bangkit dari sofa dan berjalan ke ruangan wardrobe tempat Vivi berada. Roni di belakangnya hanya bisa geleng geleng kepala.
"Aku heran, sebenarnya kenapa Althan yang terkenal sopan kepada orang bersikap seperti ini pada Mbak Vivi? Apa Mbak Vivi pernah melakukan kesalahan sampai membuatnya dendam kesumat? Ya Tuhan, kalau tidak dihentikan, bisa bisa nanti ada mayat manusia di apartemen ini. Astaga, aku ini bicara apa. Amit amit, amit amit,"
Roni sibuk bergumam sendiri, sementara Althan sudah masuk ke ruangan wardrobe.
Di dalam sana, Althan mencari cari keberadaan Vivi. Ia melihat sekeliling dan mengernyitkan dahi karena tak melihat keberadaan perempuan itu di sana.
"Vivi?" Althan memanggil, tapi tak ada jawaban. Tiba-tiba ada rasa panik menyergapnya. "Apa jangan jangan dia pingsan?"
Tepat saat Althan maju satu langkah, matanya menangkap sosok wanita yang sedang duduk bersandar di dinding, tubuhnya sedikit tertutup oleh tumpukan baju. Buru buru Althan menghampirinya.
"Vivi!" panggilnya dengan sedikit khawatir.
Saat ia sudah berada di dekat gadis itu, barulah terdengar dengkur halusnya. Hal itu membuat Althan seketika menghela napas lega. Ternyata Vivi hanya sedang tertidur saja.
"Apa sih, kenapa aku jadi khawatir begini? Ah, nggak, nggak, aku bukannya khawatir dia kenapa kenapa. Aku cuma khawatir kalau dia pingsan atau mati di sini, bisa bisa aku kena masalah. Iya, aku khawatir karena itu," Lagi lagi, Althan berbicara dengan dirinya sendiri.
"Eng..."
Althan sontak menoleh. Tampak raut wajah Vivi terlihat gelisah. Keningnya berkerut, tapi matanya masih terpejam.
"Apa dia mimpi buruk?" Reflek, Althan mengangkat tangannya, hendak meraih wajah Vivi. Tapi, tepat sebelum itu, Tiba-tiba ponsel yang ada di dekat kaki Vivi berdering.
Althan sontak menjauhkan tangannya dan memundurkan badan. Sebelum memalingkan muka, ia sempat melihat nama kontak yang menelpon Vivi. Matanya terbelalak saat membacanya.
Duniaku, dengan emoticon love di sampingnya.
Vivi terperanjat dari tidurnya, buru buru meraih ponsel. Dengan kesadaran yang masih belum pulih sepenuhnya, Ia menerima panggilan itu.
"Halo? Iya sayang?"
Tepat pada saat itu, Vivi menyadari keberadaan Althan di sana. Ia sempat terbelalak sebentar, kemudian buru buru melangkah pergi dari ruangan itu.
Althan hanya bisa menatap kepergian wanita itu dengan perasaan campur aduk.
"Duniaku? Sayang? Jadi...dia sudah punya pacar baru?"
Entah kenapa, ada perasaan sakit yang terasa di dada Althan sekarang.
Sementara itu, Vivi melangkah ke arah balkon apartemen. Ia sempat melihat ke sekeliling, sebelum kembali fokus pada telepon.
"Halo, sayang? Maaf ya, mama belum bisa pulang, kamu belum tidur?"
"Mama..." terdengar suara rengekan Mikaila di seberang telepon. "Aku kangen Mama..."
"Astaga, sayang..." Hati Vivi terasa mencelos saat mendengar suara putrinya. "Maaf ya, hari ini Mama harus lembur. Soalnya bos Mama galak, jadi Mama belum boleh pulang kalau kerjaan mama belum selesai. Kamu tidur sama Rika dulu ya.. Besok pagi Mama jemput, oke?"
Memang, tadi saat hari sudah menjelang sore, Vivi sempat mengirim pesan pada Anita untuk menjaga Mikaila lebih lama. Untungnya Anita tak keberatan dan malah merasa senang karena Rika punya teman tidur. Jadi awalnya Vivi merasa tenang. Tapi ternyata, di malam hari Mikaila malah menangis karena merindukannya. Hal itu membuat hatinya gundah.
"Memang siapa sih Ma, bos mama itu, kok jahat sekali sama Mama.. Bilangin Ma, nanti kalau jahat jahat, Mikaila pukul,"
Ucapan putrinya itu sukses membuat Vivi tertawa geli. "Jangan dong, bos Mama itu galak banget loh, Mikaila nggak bakal berani,"
"Berani kok Ma.. Tenang aja, nanti aku yang akan melindungi Mama,"
Vivi tersenyum, hatinya serasa hangat. "Makasih ya Mikaila.. Mikaila memang satu satunya malaikat Mama. Mama nggak apa apa kok. Mama janji, besok besok mama nggak akan pulang telat lagi, jadi Mikaila nggak usah marah ya sama bos mama. Sekarang, Mikaila bobok lagi ya, biar besok Mikaila bisa menyambut mama yang jemput Mikaila.. Oke?"
"Iya Mama..."
"Anak pintar..."
Diam diam, dari kejauhan, Althan memperhatikan Vivi yang sedang menelpon. Ia tak dapat mendengar percakapan apa yang sedang dilakukan Vivi, tapi ia bisa tau dari senyumannya, kalau wanita itu sedang bahagia.
Siapa? Siapa yang membuat kamu tersenyum begitu lebar, Vivi? Apa pria itu memperlakukan kamu lebih baik dari aku? Sampai kamu tega membuangku begitu saja?
"Althan,"
Panggilan Roni membuat Althan tersadar. Ia buru buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Mbak Vivi mana? Dia nggak pingsan di dalam sana kan?" Roni bertanya khawatir.
"Tuh, lagi telepon pacarnya," Althan menunjuk dengan dagu. "Habis ini suruh dia pulang bang. Besok tidak usah kesini lagi. Hubungi dia kalau aku ada jadwal syuting aja,"
"Oh, oke. Jadi, kamu udah Terima dia jadi personal stylish kamu? Nggak jadi dipecat?"
Althan tidak menjawab pertanyaan Roni, malah ngeluyur pergi begitu saja menuju kamarnya. Setelah itu, Althan membanting pintu kamarnya keras keras.
Brakkkk!
"Ya ampun, bisa bisa copot jantungku!" Roni mengusap dadanya sendiri. "Anak ini hari ini kenapa, sih?! Kok tingkah lakunya aneh sekali, apa dia lagi PMS? Tapi, emangnya cowok bisa PMS?"
semoga althan segera tau kebenaran ny ,, klo vivi ninggalin dy krn Selina ,,
mungkin vivi di bawah ancaman Selina ,,
next kak
kalau kamu g membuat mereka berpisah juga g bakalan mereka pisah😡
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
sebenarnya vivi juga pengin ngaku kalau Mikaila anak althan, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.
harusnya Vivi terus terang kenapa dia dulu ninggalin althan, biar althan kasih pelajaran sama wanita serakah itu kalau kebahagiaan althan sama Vivi g bakalan menghambat karirnya.
yang bukan dari harga, tapi dari nilainya siapa yang memberi dan kenanganny😭😭😭😭
sabar vi semua pasti akan terungkap tanpa harus kamu bicara