Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Topeng Kemenangan
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela besar di kantor Arsenia. Namun, suasana di sana tidak lagi sekaku biasanya. Tidak ada lagi tumpukan berkas yang menekan pundaknya dengan rasa bersalah. Arsenia meletakkan papan namanya yang bertuliskan "Direktur Operasional" di atas meja, lalu tersenyum tipis.
Hari ini adalah hari pertama penyelidikan resmi terhadap Daniel dimulai.
"Nona... maksud saya, Arsenia," panggil asistennya yang masuk dengan ragu. "Pak Daniel sudah dinonaktifkan per pagi ini. Tim audit sedang memeriksa semua aliran dana yang ia klaim sebagai 'biaya lobi' di wilayah barat."
Arsenia mengangguk mantap. "Pastikan semua bukti dari lapangan, termasuk data risiko sosial yang saya kumpulkan bersama Raka, diserahkan ke tim audit. Kita tidak hanya ingin membersihkan nama saya, tapi juga melindungi warga di sana."
Pertemuan di Warung "Baru"
Satu jam kemudian, Arsenia sudah berada di warung kecil itu. Namun, kali ini ia tidak datang dengan mobil hitam mewahnya. Ia memilih menggunakan taksi daring dan mengenakan pakaian kasual—kemeja linen dan celana kain yang membuatnya tampak seperti warga biasa.
Raka sudah duduk di sana, memutar-mutar gelas kopi hitamnya. Begitu melihat Arsenia, ia terpaku.
"Kamu terlihat... berbeda," ujar Raka pelan saat Arsenia duduk di depannya.
"Berbeda lebih baik, atau berbeda yang aneh?" goda Arsenia.
"Berbeda yang... nyata. Seperti tidak ada dinding kaca di antara kita lagi."
Arsenia tertawa kecil, suara yang jarang terdengar di ruang rapat Valen Group. "Daniel sudah tamat, Raka. Perusahaan akhirnya melihat apa yang kamu lihat—bahwa ada manusia di balik angka-angka ekspansi itu. Mereka membatalkan proyeknya secara permanen."
Bayang-Bayang yang Tersisa
Namun, kebahagiaan itu terus terusik oleh rasa waspada. Arsenia menyadari bahwa Daniel bukanlah orang yang akan menyerah begitu saja. Pria itu memiliki koneksi yang gelap dan ego yang terluka.
"Raka, aku ingin kamu tetap berhati-hati," bisik Arsenia, menggenggam tangan Raka di atas meja kayu yang kasar. "Daniel kehilangan segalanya karena 'orang biasa' sepertimu. Dia mungkin akan mencoba mencari celah untuk membalas."
Raka menatap mata Arsenia, memberikan kekuatan yang tidak bisa dibeli dengan saham manapun. "Aku tidak takut, Senia. Selama ini aku hidup dengan sedikit, jadi aku tidak punya banyak hal untuk dirampas. Satu-satunya hal berharga yang kupunya sekarang adalah kepercayaanmu."
Kejutan di Sore Hari
Saat mereka sedang berbincang, sebuah mobil sedan tua berhenti di depan warung. Seorang pria turun dengan terburu-buru. Ia adalah salah satu mandor lapangan yang dulu bekerja di bawah Daniel, namun pernah dibantu oleh Raka saat anaknya sakit.
"Bang Raka! Nona!" serunya dengan napas tersenggal. "Kalian harus pergi dari sini sebentar. Saya dengar Daniel menyewa orang untuk merusak wilayah ini sore nanti. Dia ingin membuat kerusuhan supaya terlihat seolah-olah keputusan Nona membatalkan proyek adalah kesalahan besar karena wilayah ini 'tidak stabil'."
Wajah Arsenia menegang. Daniel tidak hanya menyerangnya secara personal, tapi juga ingin menghancurkan komunitas yang dicintai Raka.
"Dia ingin membakar rumah-rumah di sini?" tanya Raka dengan suara rendah yang penuh kemarahan.
"Bukan hanya membakar, Bang. Dia ingin memfitnah warga sini yang memulainya."
Arsenia berdiri, ponselnya sudah di tangan. "Dia pikir dia bisa bermain kotor? Dia lupa bahwa sekarang saya punya bukti manipulasi datanya. Raka, kita tidak bisa lari. Kita harus menghentikannya sebelum mereka sampai di sini."