Ibu hamil yang wafat di tempat kejadian,sebut saja Rini bersama dengan anaknya yang belum lahir. Rasa cinta yang dalam pada anaknya dan kemarahan pada mereka yang menyebabkan kematiannya membuatnya menjadi arwah penasaran yang tak bisa pergi ke alam lain. Setiap malam, dia muncul di jalan raya tempat kejadian itu terjadi—bayangan dia dengan perut membuncit dan tas yang masih tersangkut di bagian tubuhnya sering dilihat oleh sopir yang lewat, membuat mereka merasa dingin mendadak dan merasakan kesedihan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata Ade Yang Melihat Arwah
"Ade itu, Om!" kata Ade sambil mengangkat tangan kanannya dan menunjuk tepat ke arah sisi kanan Rizky tempat di mana tidak ada seorang pun atau apa-apa yang terlihat.
Rizky segera melihat ke arah yang ditunjuk Ade, tapi hanya melihat ruang kosong di sebelahnya. Hatinya mulai berdebar kencang.
"Adeee....!" teriak Rasti dengan suara sedikit tinggi, langsung berdiri dan menarik Ade menjauh dari sisi Rizky. Ia kemudian membawanya ke sudut ruangan dan berbisik pelan, "Kamu lihat apa saja, nak? Jangan sembarang ngomong ya."
Tapi Ade hanya menggeleng dan melihat ke arah tempat Rizky duduk. "Mama, kenapa Bibi diam saja? Rambutnya berantakan tapi Bibi cuma senyum ke Ade lho," ucapnya dengan suara yang jelas terdengar di ruangan yang tiba-tiba menjadi sunyi.
Mendengar kata-kata cucunya itu, Sri langsung berdiri dan mendekati Ade. Ia segera memeluk anak kecil itu erat dan mengusap-usap kepalanya dengan lembut. "Sudah, sudah nak... tenang aja ya. Bibi mungkin mau kamu diam-diam aja," ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar, matanya menatap ke arah tempat yang ditunjuk Ade.
Rizky hanya bisa diam di tempatnya, tubuhnya sedikit menggigil. Rasa takut dan bahagia datang bersamaan dalam hatinya seolah ada sesuatu yang memberitahunya bahwa arwah istri yang dicintainya,Rini, sedang berada di sisinya...
Nenek, kenapa muka Bibi begitu pucat dan bajunya berantakan kayak orang yang gak mandi seminggu?" tanya Ade lagi dengan rasa ingin tahu yang besar, tidak menyadari suasana di ruangan mulai berubah mendung.
neneknya tidak bisa menjawab apa-apa. Hatinya seperti ditusuk tajam mendengar gambaran dari cucunya tentang anak perempuannya yang sudah tiada. Ia hanya mengeratkan pelukan pada Ade, kepalanya menyandarkan pada pundak anak kecil itu hingga air matanya mulai menetes tak terkendali, merembes ke pakaian Ade tanpa disadari.
Rasti berdiri dengan wajah pucat, tangannya menggigil saat menggendong Putra yang mulai menangis karena merasakan suasana yang tidak nyaman. Semua orang di ruangan itu tiba-tiba terdiam dan teringat pada Rini.
Wajah Rizky semakin pucat, matanya menatap ke arah tempat Ade menunjuk tadi. Ia bisa merasakan getaran hangat yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, seolah Rini benar-benar ada di sana dan ingin menyampaikan sesuatu. Ruangan yang tadinya hangat kini terasa sangat dingin, dan semua orang hanya bisa diam dalam kesedihan yang mendalam, masing-masing memikirkan kenangan indah bersama Rini yang sudah tiada.
Melihat semua orang sedih, Rini yang sedang duduk di sisi Rizky dengan hati yang berat perlahan mengulurkan tangannya. Ia menyentuh tangan Rizky yang berada di paha, lalu menatap wajah suaminya yang penuh kesedihan. "Aku rindu kamu mas..." ucapnya dengan lembut, meskipun hanya bisa dirasakan bukan didengar. Rini pun merasakan kesedihan yang sama mendalam, melihat bagaimana orang tersayangnya masih terluka karena kepergiannya.
Walaupun tahu Rizky tidak bisa melihatnya, Rini tetap berada di sana, ingin memberikan sedikit kedekatan yang mungkin bisa membuat suaminya merasa lebih baik.
Rizky tiba-tiba merasakan kehangatan yang lembut menyentuh tangannya. Ia segera menoleh ke arah sumber kehangatan itu, meskipun tidak melihat apa-apa. "Rini... kenapa aku tidak bisa melihatmu? Aku sangat rindu padamu, Rin..." ucapnya dalam hati, air mata kembali mengalir di pipinya.