Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.
Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.
Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.
Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Makan Siang Bersama dikantor
Embun menatap Berys yang mempersilahkannya untuk berjalan kedepan, kemudia dia berkata “Tuan Berys kenapa ya? Kok musti saya yang ada di depan?” embun berkata sedikit kesal.
“Maaf Nona, anda adalah Nyonya saya, istri Tuan Muda, jadi tidak sopan kalau saya berjalan di depan, saya harus melayani anda dengan hormat” timpal Berys dengan sedikit menunduk menjawab perkataan embun barusan.
“Heem, Tuan berys ada ada saja” ucap embun yang langsung berjalan melangkah.
“Nona Muda, kalau bisa jangan anda memanggil saya dengan sebutan tuan, karena saya bisa dipenggal oleh tuan muda” pinta Berys kepada embun.
Embun langsung membalikan badannya memandang Berys “lalu saja harus memanggil tuan Berys apa?”.
“Eemm, nona bisa langsung memanggil nama saya, saya tidak keberatan nona” usul Berys dengan sopan.
“Baiklah saya akan memanggil anda dengan Pak Berys, saja ya” jawab Embun yang langsung diangguki oleh Berys.
Embun langsung bergegas menuju ruangan sang CEO, ketika sampai didepan pintu Berys langsung putar badan meninggalkan pasangan suami istri tersebut.
“Ada apa Tuan Memanggil saya” Tanya embun yang langsung pada intinya.
“emm, tolong bukakan ikatan nasi kotaknya, kita makan disini saja” sahut Rido dengan singkat.
“Ohh, itu doang” kata embun dengan entengnya berkata.
Rido sedikit mengernyit mendengar jawaban dari sang istri, dia tidak menyangka jawaban sang istri akan seprti itu padanya.
“memangnya kamu tidak lapar ya?” timpal Rido berkat kepada embun yang masih sibuk dengan nasi kotaknya.
“siapa sih manusia yang tidak lapar kalau sudah siang begini? Iron Man saja pasti ngiler kalau melihat sup ayam kampung seperti ini” sahut embun dengan menelan sedikit ludahnya.
Rido sedikit tersenyum ketika melihat embun yang menelan ludahnya bagaikan anak kecil, dia membereskan berkas yang masih ada diatas mejanya, sambil berkata dia melihat kearah embun “kalau sudah lapar, makanya cepetan taruh nasinya dipiring, kamu hanya bisa terus menelan ludah kayak anak anak”.
Mendengar kata kata dari Rido, embun melirik dengan sedikit kesal namun dia tidak bisa menunjukkan rasa kesal itu dihadapan sang tuan muda, dia hanya bisa mencibir “ya sabarlah, sebentar lagi juga siap, piringnya ini wajib di Lap, emang tuan mau makan dengan piring yang berdebu? Tentu tidak kan, heem”.
Rido hanya bisa mengangguk pasrah, ketika dia mendapatkan ocehan yang begitu panas dari sang istri, di terpaksa menunggu kapan datangnya pembagian jatah makanan yang ada diatas piring itu, bagaikan penantian pembagian PKH sembako di tengah tengah warga.
Rido meraih kursi yang ada di seberang meja, dia menyeretnya kesamping kursi rodanya, perbuatannya itu hanya terus disaksikan oleh kaum hawa yang sedang menata makanan di atas meja itu.
Setelah semuanya sudah beres, Rido menyuruh embun untuk duduk “Ayoo duduklah, kita makan, bawakan kita dalam doa makan” usul Rido kepada sang istri.
Embun menurut dengan perkataan sang suami, dia hanya terus berdoa semoga saja suasana ini bisa terus dia rasakan untuk selamanya, namun apalah adaya dialah hanya sebatas istri kontrak yang sebentar lagi akan dicampakan ke dunia ilusi.
Embun merasakan adanya perubahan sikap dari sang suami, namun dia tetap saja mengacuhkan hal itu karena dia tidak mau terperangkap dengan perasan kepada Rido.
“Bagaimana? Apakah rasa makanan ini enak?” Tanya Rido yang menatap embun dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
“Emm.. enak! Tapi bagusan masakan dari rumah saja, karena itu lebih terjamin kualitasnya” ucap embun dengan santai.
“Kalau makanan dari rumah lebih berkualitas, besok kamu buatkan untuk kita saja” timpal Rido degan penuh harap sang istri akan memenuhi perkataannya itu.
“Emm, tergantung siapa yang memintanya, kalau Tuan Muda yang meminta maka akan tersaji dengan baik, tapi kalau orang lain, Heemm, sori banget ye, emang lo siape?” seru embun dengan terus mengunyah makanannya itu.
“kamu ini, ada ada saja tingkahnya” kata Rido yang menggelengkan kepalanya pelan, sambil dia memasukan makannya itu kedalam mulut.
Embun dengan lahap memakan makananya, sehingga dia lupa kalau ada orang disebelahnya yang sedang memperhatikannya saat sedang makan.
“Pelan pelan saja makanya, tidak ada yang mau rebutan kok” ledek Rido dengan sembarang.
Embun membalikan kepalanya menatap sumber suara, dia melemparkan senyuman malu malu karena dia sempat melupakan orang yang sedang berada disebelahnya.
“Ehh, maaf? Habisnya ini makanan enak bangit karena sudah jam lapar” ucap embun dengan menahan rasa malunya.
“heemm” Rido menanggapi ucapan embun dengan deheman.
Mendengar jawaban sang suami dengan deheman saja, sontak saja wajah embun berubah menjadi kecut “lagi lagi sifat dinginnya kambuh lagi deh, jawabnya hanya deheman saja” ketusnya lirih.
“uhuk Uhuk” sontak saja Rido terbatuk karena tersedak makananya, ketika dia mendengar ucapan ketus embun yang mengatainya.
Embun langsung menyodorkan segelas air hangat kepada Rido “Pelan pelan saja makannya, tidak ada yang mau rebutan kok”.
Rido menjadi sangat kesal dibuat istri durhakanya itu, dia langsung meraih gelasnya dan langsung meminumnya sampai gelas itu kosong.
“kamu ini! Suka sekali buat saya menjadi kesal sampai mati” ketus Rido sambil dia mengelap mulutnya dengan tisu pokeman.
“Iya sudahlah, cepetan habisin makananmu, karena jam istrirahat sebentar lagi selesai, dan saya harus kembali bekerja” keluh embun menunggu sang suami yang masih dengan tenangnya memakan makanannya.
“Kenapa memangnya kalau kamu terlambat! Toh kamu kan wakil Direktur di Perusahaan ini, apanya yang kamu takutkan” ujar Rido dengan melihat embun yang sedang menunggunya untuk menyelesaikan sisa makanannya.
“Hadeeh.. Tuan Muda yang terhormat! Saya itu harus tau diri, jabatan Wakil Direktur itukan hanya sebagai formalitas belaka, dan saya juga memang harus belajar dari nol, saya suka kok bekerja di sana” Timpal embun dengan memandang keatas langit langit plafon ruangan itu.
“Ciih, terserah kamu sajalah kalau begitu, toh juga kamu yang bekerja bukan saya” ketus Rido yang telah meminun air mineralnya dari botol, kemudian dia meletakan tempat makannya di kantong plastic.
Embun langsung meninggalkan tempat itu, ketika dia sudah selesai membereskan sisa sisa makanan di atas meja kerjas suaminya.
Rido Prasetio hanya bisa menatap dengan tatapan yang penuh arti, ketika punggung embun semakin menghilang dari balik pintu itu.
“Kenapa sepertinya saya lebih senang jika dia berada di sampingku?” gumam Rido lirih, namun dia langsung menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat.
“Tidak bisa! Mana mungkin saya sama dia, dia itu kan hanya orang kampungd dan miskin, saya dan dia tentu tidaklah pantas untuk hidup selamanya” ucap Rido dengan mengepalkan kedua tangannya, dia seakan menahan rasa sakit dari tubuhnya ketika dia memikirkan istri kecilnya itu.
“Haiiss,, jangan lagi terlalu memikirkannya, bisa bisa saya menjadi aneh” timpal Rido lagi dengan mencoba menyadarkan dirinya dari rasa monolognya.