NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Jahat Menentang Langit

Perjalanan Dewa Jahat Menentang Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chizella

Yun Zhu hanyalah seorang murid rendahan dari Sekte Qingyun. Tanpa orang tua, tanpa latar belakang yang berarti—ia hanya bisa masuk sekte itu secara kebetulan setelah sebuah bencana menghancurkan hidupnya.

Akar spiritualnya lemah, bakatnya pun nyaris tak terlihat. Di mata orang lain, ia tak lebih dari sampah yang tak layak diperhitungkan. Tatapan meremehkan dan hinaan telah menjadi bagian dari kesehariannya.

Namun takdir mulai berbalik arah ketika Yun Zhu secara tak terduga memperoleh sebuah kekuatan misterius—kekuatan yang perlahan akan mengubah nasibnya… dan mengguncang dunia yang selama ini merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Orang lemah, mudah ditindas

Air tenang seolah menyimpan arus yang dalam. Awan bergerak perlahan di langit biru, sementara angin tipis berembus, menggoyangkan dedaunan dengan lembut. Di tengah lapangan sekte, udara bergetar samar, tersentak oleh benturan kekuatan yang terus bersahutan.

Para murid berlatih dengan lawan masing-masing. Pedang beradu tanpa henti, denting logamnya tajam dan nyaring, memantul di antara dinding bangunan.

Qi mengalir keluar dari tubuh mereka, membungkus gerakan dengan energi yang terasa alami, seakan itu bagian dari napas mereka sendiri.

Di kejauhan, Yun Zhu hanya duduk diam di sebuah bangku kayu. Tatapannya lurus ke depan, mengikuti setiap gerakan para murid yang berlatih tanpa henti.

Kenapa ia hanya menonton?

Bukan karena tidak mau. Ia tidak bisa.

Semua itu berakar dari satu hal yang tidak pernah bisa ia ubah, akar spiritualnya yang buruk. Bakatnya rendah, jauh tertinggal dari yang lain.

Setiap hari, yang bisa ia lakukan hanyalah duduk dan menyaksikan, menjadi bayangan yang tak pernah benar-benar ada.

Kini usianya tujuh belas tahun. Enam tahun berkultivasi, namun ia masih terjebak di Alam Body Refining tahap akhir. Sebuah tingkat yang bahkan murid baru bisa capai dalam waktu singkat.

Memalukan.

Sebagian besar pemuda seusianya telah melangkah ke Qi Refining, bahkan beberapa sudah menembus Foundation Establishment. Sementara dirinya tetap tertinggal, seperti batu yang tak bergerak di tengah arus deras.

"Huhh..."

Napas panjang keluar dari bibirnya. Yun Zhu perlahan menyandarkan punggungnya pada bangku, menatap langit yang luas tanpa batas.

"Suatu hari nanti... pasti bisa."

Tangannya terangkat, menepuk pelan kedua pipinya sendiri, seakan ingin mengusir keraguan yang terus menggerogoti.

"Memangnya kenapa kalau akar spiritualku buruk? Kenapa kalau bakatku rendah?"

Matanya mengeras, sorotnya perlahan berubah.

"Aku tidak akan menyerah. Apa pun yang terjadi, aku akan menjadi seperti yang kuinginkan."

Kalimat itu bukan pertama kali ia ucapkan.

Setiap hari, setiap saat ketika rasa putus asa mulai merayap, ia akan mengulanginya lagi dan lagi, menjadikannya satu-satunya penopang yang ia miliki.

Namun kenyataan tetaplah dingin.

Kesepian menyelimuti hari-harinya. Tidak ada teman, tidak ada yang mendekat. Di mata sekte, ia hanyalah sampah yang tak layak diperhatikan.

Dan sebagai sampah, ia bahkan tidak pantas untuk diperhatikan.

Ia menghela napas pelan.

"Lupakan. Diam di sini juga tidak berguna," gumamnya.

Yun Zhu perlahan berdiri dan meninggalkan tempat itu. Langkahnya ringan, namun terasa hampa. Ia melewati bangunan-bangunan sekte yang menjulang megah, dindingnya kokoh dengan ukiran indah yang menunjukkan kejayaan.

Namun semua itu bukan untuknya. Tempat-tempat itu seolah memiliki batas tak kasatmata, memisahkannya dari dunia para murid berbakat.

Kakinya terus melangkah tanpa tujuan pasti, hingga akhirnya berhenti di area asrama murid. Satu-satunya tempat di mana ia bisa merasa sedikit tenang.

Kamarnya sendiri.

Ia membuka pintu, lalu menutupnya kembali begitu masuk. Suasana di dalam gelap dan sunyi, hanya menyisakan kesan kosong yang sudah terlalu akrab baginya.

Pandangan Yun Zhu tertuju pada jendela yang masih tertutup rapat.

Ia mendekat, lalu membukanya perlahan. Cahaya matahari langsung menerobos masuk, mengusir gelap yang menyelimuti ruangan. Sinar itu jatuh tepat ke wajahnya, membuatnya sedikit menyipit dan mengangkat tangan untuk menutupi silau.

Beberapa saat ia berdiri diam, membiarkan hangat matahari menyentuh kulitnya.

Perlahan, Yun Zhu mengangkat tangannya. Energi Qi mulai mengalir keluar, tampak samar dan lemah, jauh berbeda dari milik murid lain yang penuh tekanan dan kekuatan.

Qi miliknya rapuh.

Namun, itu adalah hasil dari latihan tanpa henti selama bertahun-tahun. Meski begitu, tidak ada perubahan berarti yang bisa ia rasakan.

"Dalam berkultivasi harus bersabar. Aku benar-benar membutuhkan teknik sekarang ini, senjata magis, atau mungkin pil yang berguna," gumamnya.

Pikiran itu bukan tanpa dasar. Dari apa yang ia pelajari selama ini, ia memahami bahwa kekuatan tidak selalu datang dari bakat semata.

Teknik dapat mengubah cara seseorang memanfaatkan kekuatan.

Senjata magis mampu menutupi kekurangan dalam pertarungan.

Dan pil, terkadang menjadi kunci untuk menembus batas yang mustahil.

Bagi Yun Zhu, salah satu dari ketiganya sudah cukup untuk mengubah nasibnya.

"Sayang sekali tidak ada tempat untuk mendapatkannya dalam sekte ini."

Sekte Qingyun hanya menghargai mereka yang berbakat luar biasa. Mereka yang bersinar akan dipelihara, dibimbing, dan diberikan sumber daya tanpa batas.

Sebaliknya, mereka yang tidak menunjukkan perkembangan seperti Yun Zhu akan dilupakan begitu saja, seolah tidak pernah ada.

Ia tahu betul posisinya.

Satu-satunya alasan ia bisa berada di sini bukan karena bakat, bukan pula karena keberuntungan. Enam tahun lalu, desanya diserang oleh kawanan monster.

Sekte turun tangan untuk memusnahkan ancaman itu, dan sebagai bagian dari tanggung jawab mereka, para penyintas dibawa kembali.

Yun Zhu hanyalah salah satunya.

Bukan murid pilihan.

Hanya seseorang yang kebetulan diselamatkan, lalu dibiarkan bertahan hidup di tempat yang bukan miliknya.

"Keluar dari sekte untuk menjadi lebih kuat mungkin pilihan yang bagus. Tapi juga pilihan yang buruk."

Yun Zhu tahu betul batas dirinya saat ini.

"Tanpa teknik bertarung, kemampuan magis. Aku hanyalah makanan binatang buas di luar sana," gumamnya.

Ia sedikit frustasi dengan ini.

"Aghh. Ini sungguh memuakkan."

Namun, tepat setelah kata-kata itu terucap, sesuatu yang aneh terjadi.

Tubuhnya tiba-tiba diselimuti oleh Qi berwarna hitam pekat.

Pekat. Dalam. Menekan.

Itu bukan miliknya.

Yun Zhu bisa merasakannya dengan jelas. Energi itu asing, liar, dan jauh melampaui kendalinya.

Ia langsung berdiri dari tempat duduknya, mata menyapu sekeliling dengan waspada.

"Apa yang—"

Belum sempat kalimatnya selesai, rasa sakit menghantam perutnya dengan keras. Seolah ada sesuatu yang merobek dari dalam, memaksanya sedikit membungkuk.

Qi hitam itu semakin menebal.

Namun anehnya, perlahan energi tersebut mulai menjauh dari tubuh Yun Zhu. Mengalir turun ke lantai seperti kabut berat, lalu berkumpul dalam satu titik.

Menggumpal.

Memadat.

Kemudian mulai membentuk sesuatu.

Dari sepasang kaki yang halus, perlahan naik membentuk pinggang, perut, dada, bahu, hingga lengan yang ramping. Terakhir, wajah dan rambut terbentuk dengan sempurna, seolah sosok itu memang selalu ada, hanya menunggu untuk muncul.

Yun Zhu menatap tanpa berkedip.

Di hadapannya kini berdiri seorang wanita.

Rambutnya hitam legam, jatuh lurus hingga punggung. Mata merahnya berkilat samar, menatap Yun Zhu dengan ketenangan yang sulit dijelaskan.

Cantik.

Terlalu cantik.

Wajahnya seperti ukiran sempurna, seolah dewi yang turun dari lukisan. Bibir merahnya melengkung tipis, membentuk senyum yang sulit diartikan.

Tubuhnya proporsional, tiap lekuknya tampak anggun meski tertutup pakaian tipis yang sederhana. Tanpa banyak hiasan, justru aura yang ia pancarkan terasa semakin kuat dan memikat.

Wanita itu melangkah pelan, mendekat.

Yun Zhu tetap berdiri di tempatnya. Tidak mundur, tidak pula menyerang. Hanya menatap dengan kebingungan yang tertahan.

"Siapa kau?" tanyanya. Bukan karena takut, melainkan murni rasa ingin tahu.

Wanita itu mengangkat tangannya. Jari-jarinya yang dingin menyentuh wajah Yun Zhu dengan lembut.

"Namaku, Tianqiong."

Suaranya tenang, nyaris seperti bisikan yang mengalir di udara.

"Bocah, aku telah berada pada dirimu bertahun-tahun. Tidak kusangka kau masih bertahan hidup meski tertekan oleh kekuatanku."

Ujung jarinya bergerak perlahan, menyusuri pipi, dahi, hingga dagu Yun Zhu, seolah sedang menilai sesuatu.

"Akar spiritual buruk, tanpa bakat. Namun memiliki mental yang kuat, fondasi yang kokoh."

Ia kemudian mundur satu langkah, memberi jarak.

Tatapan merahnya tetap tertuju pada Yun Zhu.

"Bocah, dengan bakatmu, kau tak akan melangkah jauh… kecuali kau memilihku."

Kata-kata itu jatuh begitu saja, ringan, namun membawa tekanan yang tak kasatmata.

Yun Zhu hanya bisa berdiri diam.

Pikirannya kosong.

Semua yang terjadi terlalu tiba-tiba, terlalu tidak masuk akal untuk dicerna dalam waktu singkat.

"Hah?"

1
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Cantik, pingin lihat versi mominya/Doge/
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Wah, saking cantiknya sampai deskripsinya sepanjang ini😌
Fajar Fathur rizky
thor cepat bantai klan wang
Fajar Fathur rizky
thor cepat bantai klan wang dengan cara paling kejam termasuk wangchen
Cecilia: sip, sedang ditulis🔥🔥
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
thor istri mcnya berapa
Cecilia: dua yg paling disayangi, satu tianqiong, satunya udh muncul cuma blum interaksi. sisanya cuma tambahan aja
total 3 replies
Fajar Fathur rizky
habis klan wang bantai juga klan Qin thor ambil sumber daya mereka
Huo Ling'er
upp
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
kayak milih suami aja🤣
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Saatnya memerah sapi, eh, keuntungan maksudnya /Pray//Doge/
Cecilia: yep, tpi lama sih
total 5 replies
Nadia Annazwa
/Determined//Determined//Determined/
Nadia Annazwa
alamakkk bahaya nihh
Chen Xi
nextt~
Fajar Fathur rizky
thor cepat naikin ranah kultivasi mcnya habis itu bantai klan wang
Cecilia: udh kutulis kok, tinggal up aja, nunggu waktunya
total 1 replies
Chen Xi
nexttt/Determined//Determined/
Nadia Annazwa
yoshaa🔥
Huo Ling'er
yeyy cwk baruuu
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Infokan cara bungkus istri kayak gini 🙃
Cecilia: aku jga mw
total 1 replies
[?.?.?]
yandere kah?🗿
Chen Xi
next bantai²
Huo Ling'er
makin gg aja ni mc!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!