NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Suasana kelas 3-A yang tadinya tenang mendadak pecah oleh kebisingan khas dari pintu masuk. Anggita muncul bukan sendirian, melainkan diapit oleh dua sosok yang sangat familiar bagi Sandi. Di sebelah kanannya ada Vino yang tampak santai dengan tas tersampir satu bahu, dan di sebelah kirinya adalah Andra—si pasien kemarin sore yang wajahnya kini terlihat jauh lebih segar meski sisa-sisa pucat akibat demam masih mengintip di balik senyumnya yang dipaksakan.

Sandi, yang sedang duduk menyender di kursinya, langsung menegakkan punggung. "Wih, lihat siapa yang baru 'bangkit dari kubur' dan langsung masuk sekolah lagi. Masih bau minyak kayu putih lo, Ndra?" goda Sandi sembari memperhatikan sahabatnya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Andra senyam-senyum bangga sambil menaruh tasnya di meja depan Sandi. "Nggak betah gue di rumah, San. Isinya cuma bubur hambar sama omelan Nyokap yang nyuruh minum obat tiap dua jam. Mending di sekolah lah, setidaknya ada hiburan melihat muka tengil lo," sahut Andra dengan nada bicara yang sudah kembali bertenaga.

Saskia, yang duduk di sebelah Sandi, ikut mencondongkan badan. Ekspresinya tampak khawatir namun penuh simpati. "Kamu sudah beneran fit, Ndra? Baru sehari loh kamu tepar kena demam tinggi. Kamu nggak memaksakan diri, kan? Nanti kalau pingsan di tengah pelajaran, kita yang repot gotongnya ke UKS."

Andra menepuk dadanya dua kali, bergaya seolah-olah dia adalah atlet yang sedang diwawancarai. "Aman, Sas! Makasih ya atas doa dan kunjungan kalian kemarin. Kayaknya berkat keributan kalian di rumah gue, virus-virusnya langsung kabur karena ketakutan. Gue sudah jauh lebih sehat sekarang."

Sandi mendengus geli, matanya menyipit penuh selidik. "Alah, jangan ngibul. Bilang saja lo nekat masuk karena mau diam-diam makan es krim, kan? Kalau di rumah pasti dilarang keras sama Nyokap lo sampai lo beneran sehat total. Di sini kan nggak ada yang ngawasin."

Vino menyambar ucapan Sandi sambil tertawa lebar. "Bener, San! Tadi pas di parkiran dia bisik-bisik ke gue, katanya semalam dia kepikiran es krim cokelat-kacang mulu sampai kebawa mimpi. Makanya dia 'kabur' ke sekolah biar bisa jajan bebas."

Anggita yang baru saja membagikan pesanan makaroni pedas dan cokelat batangan pesanan Saskia, ikut menimpali sambil berkacak pinggang. "Nah, mumpung orangnya sudah ada di sini, San, jangan lupa janji lo kemarin. Lo bilang kalau Andra sembuh, lo mau traktir, kan?"

Sandi melipat tangannya di dada, memasang wajah sok tenang. "Woles... Es krim dung-dung Mang Soleh yang lewat depan gerbang itu, kan? Yang pake kerupuk sama roti tawar?"

Gelak tawa Anggita, Vino, Saskia, dan Andra pecah seketika memenuhi ruangan. Andra yang paling keras tertawa sampai harus memegang perutnya. "Sue lo, San! Ya kali es krim premium ditukar es krim dung-dung! Untuk apa gue paksain diri naik motor ke sekolah kalau cuma dapet es krim seribuan Mang Soleh? Gengsi dong, penderitaan gue kemarin mahal harganya!"

Sandi ikut tertawa renyah melihat ekspresi protes sahabatnya. Ia kemudian melirik Saskia sejenak, teringat pembicaraan mereka semalam soal "wibawa" dan bantuan dana rahasia yang sudah disiapkan gadis itu. Sandi berdehem, mencoba mengatur nada suaranya agar terdengar seperti orang paling kaya di kelas.

"Tenang, tenang. Gue serius. Nanti pulang sekolah, gue traktir lo semua makan es krim premium di kedai yang ada AC-nya. Gimana?"

Mendengar kata "serius" dan "premium", Anggita, Vino, dan Andra seolah-olah sedang melakukan sinkronisasi gerakan. Mereka bertiga tersentak bersamaan dengan mata membelalak lebar. "Seriusan lo, San?!" tanya mereka serempak, persis seperti grup vokal yang sudah latihan berbulan-bulan.

Sandi tertawa geli sampai hampir terjungkal dari kursi. "Tadi pagi, Saskia sama Anggita yang kompak. Sekarang giliran lo bertiga yang serempak ngomongnya. Kayaknya kelas ini perlu bikin grup paduan suara deh."

Tawa mereka kembali meledak, namun rasa penasaran masih menggantung di udara. Anggita mendekat, masih memegang sandwich-nya. "Tapi beneran, San? Dompet lo nggak lagi kena 'serangan jantung' kan kalau beliin kita es krim mahal? Sejak kapan lo jadi dermawan begini?"

Sandi memainkan alisnya naik-turun, gaya tengilnya yang legendaris kini beraksi maksimal. Ia sengaja membuat ekspresi misterius. "Yoi, gue beliin lo semua. Tenang saja, saldo aman. Mumpung hari ini Saskia lagi ulang tahun, jadi gue mau ngerayain sedikit."

Mendengar nama Saskia disebut, trio Sableng itu kembali melakukan gerakan sinkronisasi. Mereka menoleh ke arah Saskia dengan mulut menganga. "Lo ulang tahun hari ini, Sas?!" teriak mereka serempak untuk yang kesekian kalinya.

Saskia tertawa geli sampai wajahnya memerah, ia langsung memukuli bahu Sandi dengan gemas menggunakan tangan mungilnya. "Iiiihhh, Sandi mah bohong! Aku nggak ulang tahun hari ini tahu! Jangan dengerin dia, dia cuma mau ngerjain kalian!"

Sandi tertawa lepas, ia berdiri dan merentangkan tangannya ke depan seolah sedang berada di atas panggung besar di hadapan ribuan penonton. "Tuh, lihat! Mereka bertiga lucu banget, kan? Sudah kayak gue lagi nonton konser terus gue teriak: 'Semuanya angkat tangan!'" (Sandi meniru gaya vokalis band rock yang sedang memprovokasi penonton).

Vino, Andra, dan Anggita akhirnya menyadari kalau mereka baru saja "dikerjain" mentah-mentah oleh Sandi. Meskipun kesal karena kena tipu soal ulang tahun Saskia, tawa mereka tetap pecah. Kelompok Sableng itu akhirnya berkumpul melingkari meja Sandi, suasana kelas yang tadinya membosankan kini penuh dengan kehangatan persahabatan yang kental, sebelum bel pelajaran pertama benar-benar memisahkan mereka ke bangku masing-masing.

Gelak tawa kelompok sableng yang memenuhi koridor sekolah perlahan surut saat bel masuk berdering dengan nyaring, memaksa mereka untuk segera melipat keceriaan dan menggantinya dengan wajah-wajah serius—meski sebagian besar hanya pura-pura—untuk menghadapi rentetan pelajaran yang membosankan. Detik demi detik merangkak di bawah deru kipas angin plafon yang berputar malas, hingga tanpa terasa, matahari mulai tergelincir ke arah barat. Jarum jam menunjukkan pukul 14.30 WIB, dan bel pulang sekolah yang dinanti-nanti akhirnya bergema, memicu sorak-sorai tertahan dari seluruh penjuru kelas 3-A.

Satu per satu siswa melangkah keluar, namun kelompok sableng tetap pada tradisi mereka: keluar dalam satu formasi yang seolah sudah dipatenkan oleh takdir. Anggita, sang ketua kelas yang tomboi dengan langkah tegap, memimpin di barisan paling depan. Di sisi kanannya, Andra berjalan dengan gaya santai, sementara di sisi kirinya, Vino sesekali bersiul tipis. Sandi mengekor tepat di belakang mereka dengan ransel tersampir di satu bahu, dan tentu saja, Saskia menempati posisi paling belakang, jemari lentiknya tidak pernah absen memegangi ujung seragam Sandi seolah takut kehilangan jejak di tengah kerumunan siswa lainnya.

Langkah mereka membawa mereka ke area parkiran motor yang mulai riuh. Namun, langkah Anggita mendadak terhenti di depan sebuah motor sport yang masih berkilau terkena cahaya sore. Dengan wajah penuh kebanggaan dan tangan terentang lebar, ia berseru, "Jeng jeng! Liat, keren nggak motor baru gue?"

Sandi, Vino, dan Andra yang biasanya hobi meledek, kali ini dibuat terpaku. Mata mereka membelalak menatap sosok Ninja 150RR warna merah menyala yang terparkir gagah. "Wih, anjir!" teriak mereka bertiga secara serempak, nada kekaguman mereka bersatu dalam frekuensi yang sama.

Anggita dan Saskia langsung meledak dalam tawa geli melihat reaksi spontan ketiga laki-laki itu. Sementara itu, Sandi, Vino, dan Andra saling lirik, menyadari betapa kompaknya mereka hari ini. "Gila, dari pagi tadi sampai sekarang, bisa-bisanya kita ngomong sinkron mulu!" ujar Sandi sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Emang bener ya kata orang," timpal Vino sambil menyugar rambutnya, "kalau kita sering sama-sama, jangankan omongan, gerakan kita pun bisa otomatis sinkron. Kayak ada koneksi batin gitu."

Andra tidak mau kalah, ia menyandarkan tubuhnya di jok motornya sendiri. "Dulu nenek gue juga pernah bilang begitu. Katanya kalau sahabat sejati sering bareng, bukan cuma omongan atau gerakan aja yang sama, lama-lama muka kita bisa mirip juga tahu!"

Seketika parkiran itu pecah oleh tawa terpingkal-pingkal kelompok sableng. Sandi yang paling keras memprotes, "Wah, gue sih ogah kalau muka gue harus samaan sama Saskia atau Anggita. Masa cowok seganteng gue mirip cewek sih? Jatuhnya malah aneh."

Vino menyenggol lengan Sandi sambil terkekeh jahil, "Halah, lo mah kalau dipakaikan jilbab juga bakal cantik, San. Pas lah jadi kembarannya Saskia." Ledakan tawa kembali membuncah, membuat beberapa siswa lain menoleh ke arah mereka dengan iri.

"Udah ah, sakit perut gue ketawa terus," kata Sandi sambil berusaha mengatur napas. Ia kemudian mengedarkan pandangan ke deretan kendaraan mereka. "Sekarang di sini yang motornya nggak pakai kopling cuma Andra doang ya? Gue pakai Ninja 150RR hijau, Vino Satria 120 kuning, Anggita Ninja 150RR merah, dan si Andra setia sama Supra birunya."

Vino tiba-tiba menjentikkan jari, "Anjir, kalau dilihat-lihat warna motor kita kayak Power Ranger ya! Merah, kuning, hijau, biru. Lengkap banget formasi kita! Kurang satu warna lagi kita bisa berubah jadi robot gede."

"Lah, iya juga ya! Kalau Sandi nggak sebutin satu-satu tadi, gue nggak bakal engeh," sahut Andra sambil menepuk jidatnya. Mereka berlima kembali tertawa, merasa bahwa kekonyolan mereka memang sudah mendarah daging.

Sandi menatap motor baru Anggita dengan saksama. "Nggi, lo emang sengaja ambil warna merah?"

"Yoi," jawab Anggita mantap sembari mengelus tangki bensinnya. "Tadinya gue mau ambil warna putih, tapi pas ingat warna motor kalian, gue pikir sekalian aja ambil merah biar kalau kita jalan bareng di jalan raya, kelihatan kayak pelangi. Biar makin ikonik kelompok kita!"

Saskia yang sejak tadi hanya menyimak, bertanya dengan nada kagum, "Kamu beneran bisa bawa motor kopling, Nggi? Kan susah mainin tuasnya."

"Bisa dong! Sebelum beli, gue udah minta diajarin diam-diam sama Sandi. Tadinya sih gue tertarik sama Satria-nya Vino, tapi gue mikir lagi, gue kan nggak kuat kalau harus mainin kick starter terus. Makanya gue pilih motor kayak punya Sandi, ada elektrik starter-nya, jadi tinggal pencet langsung ngeng, nggak perlu repot-repot gue engkol pakai tenaga dalam," jelas Anggita panjang lebar.

"Bener-bener ya, kelompok kita ini sablengnya nggak ada obat," gumam Andra bangga.

"Yaudah ah, kelamaan kita di sini. Jadi nggak kita beli es krimnya? Gue kan sekarang udah nggak tinggal di Jatinegara lagi, gue harus ke Pondok Indah, perjalanannya lumayan makan waktu," ujar Sandi mengingatkan.

Andra tersentak kecil, "Ehh, berarti sekarang lo sama Saskia yang rumahnya paling jauh ya?"

Sandi mengangguk mantap. "Iya, Nyokap gue sekarang udah mulai kerja jadi ART di rumah Saskia. Terus orang tua Saskia ngasih paviliun di belakang rumah utama buat kami tinggal. Jadi gue nggak perlu lagi pusing mikirin kontrakan di Jatinegara."

Andra manggut-manggut paham. "Wah, keren itu. Yaudah, karena rumah lo berdua jauh, kita berangkat sekarang deh. Kasihan kalian kalau kemalaman di jalan."

Anggita dan Vino mengangguk setuju. Mereka segera menaiki motor masing-masing. Dan seperti ritual yang sudah-sudah, Saskia kembali sibuk bergulat dengan pengait helmnya yang selalu terasa sulit untuk dikunci. Tanpa perlu diminta, Sandi menarik lengan Saskia mendekat, jemarinya dengan telaten memasangkan tali pengait helm itu hingga terdengar bunyi klik yang mantap. Kelompok sableng lainnya hanya bisa terkekeh melihat pemandangan itu; pemandangan di mana Sandi yang tengil berubah menjadi sangat perhatian hanya pada satu gadis. Setelah helm terpasang paten, Saskia naik ke jok belakang Ninja hijau Sandi dengan senyum kemenangan.

"Jadi, kita makan es krim di mana nih?" tanya Anggita sambil menghidupkan mesin motornya yang menderu gahar.

"Terserah Andra aja," jawab Sandi. "Ini kan spesial buat merayakan dia yang baru bangkit dari 'kuburnya'."

Andra berpikir sejenak lalu terkekeh, "Gimana kalau kita ke A&W Rawamangun aja?"

Sandi menyipitkan mata, curiga. "A&W? Lo mau beli es krim atau mau modus makan ayam goreng, Pe'a?"

Andra tertawa renyah, "Karena lo udah mau bayarin es krimnya, gimana kalau sebagai gantinya gue yang traktir kalian semua makan ayam? Kita anggap ini perayaan ganda: ngerayain pindah rumah lo ke komplek elit Pondok Indah, sekaligus ngerayain gue yang udah kembali sehat sentosa."

Mendengar tawaran menggiurkan itu, kelompok sableng saling melirik satu sama lain. Tanpa komando, bibir mereka bergerak serentak, "GAS!"

Ledakan tawa kembali membahana di parkiran sekolah karena kekompakan yang tidak disengaja itu. Akhirnya, empat motor dengan warna-warni mencolok itu meninggalkan area sekolah, membelah jalanan Jakarta dalam satu iring-iringan yang solid, siap merayakan persahabatan mereka di bawah langit sore.

Iring-iringan empat motor berwarna mencolok—hijau, kuning, merah, dan biru—itu akhirnya membelah kemacetan khas siang menjelang sore di kawasan Jakarta Timur. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di pelataran parkir A&W Rawamangun yang legendaris. Bau harum ayam goreng khas dengan bumbu rempah yang kuat langsung menyambut indra penciuman mereka begitu mesin-mesin motor dimatikan.

Sandi turun dari motornya, diikuti Saskia yang masih sibuk merapikan seragamnya yang sedikit kusut. "Gimana nih? Lo mau ice cream monas aja atau yang pakai root beer sekalian biar mantap?" tanya Sandi sambil melepas helm.

Andra yang sudah berdiri di depan pintu kaca otomatis menyahut dengan semangat, "Bukannya kalau kita pesan paket nasi ayam yang 'Golden Aroma' itu sudah otomatis dapat root beer-nya? Tanggung kalau cuma minum air mineral."

Anggita, sang ketua kelas yang praktis, menimpali, "Iya, ambil paketan saja dulu buat mengisi perut yang sudah demo dari tadi. Nanti ice cream-nya kita pesan pas sudah selesai makan besar saja, biar nggak cair duluan kena suhu ruangan. Sayang kalau cuma jadi genangan manis di gelas."

Vino yang biasanya paling berisik kali ini hanya manggut-manggut pasrah. "Gue sih ikut suara mayoritas saja, wong judulnya ini ditraktir. Mau dikasih kerupuk pun gue sikat," selorohnya yang memicu kekehan kecil dari kelompok sableng tersebut.

Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan ber-AC yang sejuk, Sandi tiba-tiba berhenti dan menunjuk ke sebuah sudut. "Sas, lo nggak mau ikutan tuh? Mumpung masih sepi," godanya sambil menunjuk ke arah playground atau tempat bermain anak-anak yang berisi perosotan plastik warna-warni dan mandi bola.

Kelompok sableng serentak menoleh dan langsung meledak dalam tawa. Saskia yang merasa diledek langsung mengerucutkan bibirnya meski matanya jenaka. "Ihh, Sandi mah! Kalau kamu main, aku mau deh main di situ!"

Anggita menepuk jidatnya pelan sambil tertawa geli. "Lo berdua ngaco saja. Liat tuh ada tulisannya di depan pintu pagar plastiknya, Pe'a! Maksimal untuk usia 8 tahun. Badan lo berdua sudah bangkotan begini, kalau naik perosotan itu yang ada malah ambruk tempatnya!"

Candaan itu mengiringi mereka menuju konter pemesanan. Andra mengajukan diri sebagai garda terdepan. "Yaudah, biar gue yang antre pesen makanannya dulu. Kalian cari tempat duduk yang enak saja, biar nanti kalau sudah selesai, giliran Sandi yang show off pesen ice cream-nya."

Anggita segera menyisir ruangan dan memilih area pojok dengan kursi sofa panjang yang empuk. "Sini saja, Cuy! Lebih privat, enak buat ngobrol lama," serunya. Formasi duduk pun terbentuk secara alami: Anggita duduk di pojok dalam, Vino tepat di hadapannya, Sandi di sebelah Vino, dan Saskia awalnya hendak duduk di samping Sandi.

Namun, Anggita tiba-tiba menepuk kursi kosong di sebelahnya. "Sas, sini saja duduk sama gue. Biar kita satu kubu sesama cewek cantik, biarkan yang di sana jadi blok laki-laki semua." Sandi menoleh dan mengangguk setuju, memberi ruang bagi Saskia yang kemudian pindah ke samping Anggita dengan senyum manis.

Tak lama kemudian, Andra datang membawa nomor meja dan duduk di samping Sandi. "Tinggal tunggu diantar mas-masnya. Aman," ucapnya puas.

Sambil menunggu, Sandi memulai obrolan yang sempat tertunda di parkiran sekolah tadi. "Ndra, gue penasaran deh. Kenapa lo nggak pakai motor kopling bokap lo saja ke sekolah? Kan keren tuh, modelnya laki banget."

Andra menghela napas panjang. "Motor bokap gue—Suzuki Thunder itu—berat banget, Cok! Sumpah, kalau buat bermanuver di gang sempit Jatinegara atau selap-selip di kemacetan, rasanya kayak lagi angkat beban di gym. Beda sama Ninja atau Satria kalian yang 2-tak, lebih enteng tarikannya."

Sandi manggut-manggut. "Sayang saja sih, kemarin pas gue ke rumah lo, gue lihat debunya sudah lumayan tebal. Kayak jarang dipanasin."

"Iya, bokap gue sekarang lebih sering pakai mobil kalau ke kantor. Dia itu sebenarnya salah beli, cuma ikut-ikutan tren temen kantornya saja biar dibilang anak motor, padahal aslinya mah nggak kuat kaki nahan bobotnya," curhat Andra yang disambut tawa Vino.

"Keluarga lo emang hobi warna biru ya, Ndra? Dari motor sampai seragam basket lo kayaknya biru semua," tanya Vino iseng.

"Bukan keluarga gue, tapi bokap gue yang fanatik biru. Itu mobil kalau ada stok warna biru pas beli, pasti dia sikat. Sayang saja pas kemarin ambil unit, yang ada warna biru cuma 'biru taksi'. Akhirnya dia ambil warna lain daripada dikira mau narik penumpang," jawab Andra.

Anggita menimpali dengan kilatan jahil di matanya, "Katanya suka biru, harusnya ambil saja yang biru taksi itu Ndra, tinggal pasang argometer di dasbornya. Lumayan kan kalau lo lagi bokek bisa narik keliling sekolah."

Tawa mereka kembali pecah memenuhi sudut A&W. "Ya kali mobil pribadi ada argonya, Nggi!" sahut Andra sambil geleng-geleng kepala.

Sandi kemudian memberikan saran teknis. "Sebenarnya bisa dimodif sedikit biar bobotnya lebih enteng, Ndra. Ganti beberapa part yang nggak perlu pakai bahan aluminium atau diringankan."

"Emang bisa, San?" tanya Andra antusias.

"Bisa lah, Pe'a. Kalau lo mau, nanti gue anterin ke bengkel langganan almarhum bokap gue dulu. Itu bengkel punya temen kerjanya pas masih di pabrik motor. Dia suhu kalau urusan bikin motor jadi lebih lincah."

Andra tampak berpikir serius. "Nanti gue coba tanya bokap dulu deh. Jujur gue juga pengen naik kopling, cuma ya itu, beratnya nggak tahan. Sebenarnya pas naik kelas kemarin gue sempat minta motor baru yang lebih enteng kayak punya Vino, tapi bokap ngasih syarat berat: gue harus masuk peringkat 3 besar sekolah. Baru motor itu turun."

Vino langsung menyambar, "Wah, kalau lo naik ke peringkat 3, berarti posisi gue kegeser ke urutan empat dong? Sialan, persaingan makin ketat nih!"

"Otomatis! Rekor 'abadi' kita dari kelas satu bisa hancur berantakan," timpal Andra menantang.

Saskia yang sejak tadi menyimak dengan rasa ingin tahu akhirnya bersuara, "Memangnya rekor kalian itu gimana sih? Aku baru dengar."

Vino menjelaskan dengan bangga, "Jadi gini, Sas. Di kelompok ini, Anggita itu penguasa peringkat 1, Sandi selalu nempel di peringkat 2, gue di peringkat 3, dan Andra di peringkat 4. Dan uniknya, formasi 1-2-3-4 ini nggak pernah berubah satu inci pun dari semester pertama kelas satu sampai sekarang."

Saskia terkejut, matanya membulat. "Hah? Jadi aku ini sekarang masuk ke dalam kelompok anak-anak berprestasi dong? Tapi kenapa namanya malah 'Kelompok Sableng'?"

Keempat sahabat itu terkekeh serempak. Anggita yang menjawab, "Itu gara-gara Pak Gunawan, guru matematika paling killer. Dia yang pertama kali melabeli kita kelompok sableng pas kelas satu dulu."

"Loh, kalian kan pinter-pinter, kok dibilang sableng sama guru?" tanya Saskia makin heran.

"Itu karena kita berempat hobi banget debat soal rumus di depan kelas," kenang Andra.

Vino menyela dengan semangat, "Iya! Jadi Pak Gunawan itu suka kasih soal dengan satu rumus standar. Nah, kita berempat ngerjain pakai cara itu, tapi pas dia nerangin cara cepat yang beda lagi, kita malah 'menyerang' balik dengan logika lain yang hasilnya sama. Kita bedah itu soal sampai ke akar-akarnya di depan papan tulis."

Sandi melanjutkan sambil tersenyum mengenang masa itu, "Kita tanya terus sampai dia kewalahan. Akhirnya dia geleng-geleng kepala dan bilang: 'Kalian berempat bener-bener sableng ya kalau sudah urusan tanya jawab, saya sampai kewalahan jawabnya!'. Nah, dari situ anak-anak satu kelas ikut manggil kita kelompok sableng sampai sekarang."

Saskia tertawa geli mendengar sejarah unik tersebut. Tepat saat cerita berakhir, seorang pelayan datang membawa nampan besar berisi paket ayam goreng yang mengepul panas, nasi hangat, dan gelas-gelas besar berisi Root Beer dengan foam melimpah.

"Dah, kita lanjutkan nanti sesi nostalgia-nya. Sekarang kita makan dulu, biar perut kita nggak konser lagi dan tenaga kita pulih buat perjalanan jauh nanti," ucap Andra memimpin. Mereka pun mengangguk kompak dan mulai menikmati makan siang yang terlambat itu dengan penuh kehangatan, sejenak melupakan urusan peringkat dan beban pelajaran sekolah.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!