Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.
Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 - Kepercayaan Yang Hancur
Malam itu turun lebih cepat dari biasanya, seolah langit sengaja menutup hari sebelum semuanya sempat membaik. Lampu-lampu di rumah keluarga Wijaya sudah menyala terang, tetapi cahayanya tidak mampu mengusir dingin yang merayap di setiap sudut ruangan. Lorong panjang yang biasanya sunyi kini terasa lebih hampa, seperti menyimpan sisa ketegangan dari siang tadi yang belum benar-benar hilang.
Alyssa berdiri di depan pintu ruang kerja Daren dengan langkah yang sempat terhenti beberapa kali sebelum akhirnya sampai di sana. Tangannya terangkat perlahan, namun jemarinya ragu untuk mengetuk karena ia tahu percakapan ini tidak akan mudah. Jika ia mundur sekarang, semua akan berakhir tanpa penjelasan, dan itu jauh lebih menyesakkan daripada menghadapi penolakan langsung.
Ia menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa. Ketukan itu akhirnya terdengar, tidak terlalu keras tetapi cukup untuk memecah keheningan yang menekan sejak tadi.
“Masuk.”
Suara dari dalam terdengar datar, tanpa nada yang bisa ditafsirkan sebagai sambutan. Alyssa membuka pintu perlahan, merasakan udara di dalam ruangan itu berbeda, lebih berat dibandingkan dengan lorong di luar.
Daren berdiri di dekat meja kerjanya, jasnya sudah dilepas dan hanya menyisakan kemeja dengan lengan yang digulung rapi sampai siku. Beberapa berkas terbuka di atas meja, tetapi jelas bukan itu yang menjadi fokusnya saat ini karena perhatiannya langsung beralih pada Alyssa begitu ia masuk.
“Ada apa lagi?”
Nada suaranya tidak kasar, tetapi tidak menyisakan ruang untuk kehangatan. Sisa kesal dari sebelumnya masih terasa jelas, membuat jarak di antara mereka terasa semakin lebar meskipun hanya beberapa langkah.
Alyssa menutup pintu di belakangnya dengan pelan, seolah tidak ingin menambah suara apa pun di tengah suasana yang sudah cukup tegang. Ia melangkah masuk, menjaga jarak secukupnya sebelum akhirnya berhenti.
“Saya ingin menjelaskan.”
Daren tertawa kecil, tawa yang terdengar lebih seperti reaksi refleks daripada sesuatu yang benar-benar lucu. Ia menggeleng pelan, seolah sudah terlalu sering mendengar kalimat itu hingga tidak lagi menimbulkan harapan.
“Menjelaskan apa? Bukankah kamu sudah bilang tidak tahu apa-apa?”
Alyssa menggenggam tangannya, berusaha menjaga agar suaranya tetap stabil meskipun dadanya terasa penuh. Ia tidak ingin terlihat goyah, meskipun tekanan dari tatapan Daren membuatnya sulit bernapas dengan normal.
“Saya memang tidak mengambil dokumen itu, dan saya juga tidak tahu bagaimana itu bisa ada di kamar saya. Tapi saya yakin ini bukan kebetulan, karena semuanya terasa terlalu rapi untuk disebut sebagai kesalahan.”
Daren menatapnya tanpa ekspresi, wajahnya sulit dibaca seperti biasa. Ia tidak langsung memotong, hanya memberi ruang singkat yang terasa seperti ujian.
“Lanjutkan.”
“Seseorang sengaja menjebak saya, dan ini bukan pertama kalinya terjadi. Dari awal semua selalu mengarah ke saya, mulai dari kalung sampai dokumen ini, dan caranya hampir sama seperti sudah direncanakan.”
Daren menyilangkan tangan di depan dada, sikapnya berubah sedikit lebih defensif. Ia berjalan mendekat dengan langkah tenang, tetapi tekanan dari kehadirannya terasa semakin kuat di setiap detik.
“Jadi sekarang kamu ingin menyalahkan orang lain?”
“Saya tidak menyalahkan tanpa alasan, saya hanya ingin kamu melihat polanya. Kalau semua kejadian selalu mengarah ke satu orang, bukankah itu seharusnya dipertanyakan?”
“Pola?” ulang Daren pelan, seolah mencoba mencerna kata itu dari sudut pandang yang berbeda.
Ia berhenti beberapa langkah di depan Alyssa, cukup dekat untuk membuat suasana semakin menekan. Tatapannya tajam, tidak memberi ruang bagi Alyssa untuk menghindar.
“Yang kulihat hanya satu pola, dan itu adalah kamu selalu berada di tengah setiap masalah.”
Alyssa menggeleng, napasnya sedikit tertahan karena tekanan yang semakin terasa. Ia tahu penjelasannya terdengar lemah tanpa bukti, tetapi ia tidak bisa berhenti di sini.
“Itu karena seseorang membuatnya terlihat seperti itu.”
“Dan kamu tidak punya bukti.”
Kalimat itu datang cepat dan langsung memutus alur pembicaraan. Alyssa terdiam sejenak, mencoba mencari kata yang bisa menahan percakapan ini agar tidak berakhir begitu saja.
“Saya tahu saya tidak punya bukti sekarang, tapi itu bukan berarti saya bersalah. Tidak semua yang terlihat itu benar, apalagi kalau memang ada yang sengaja mengaturnya.”
Daren menghela napas panjang, tangannya berpindah ke pinggang seolah mencoba menahan kesabaran yang semakin menipis. Ia memandang Alyssa dengan sorot mata yang lebih lelah daripada marah.
“Alyssa, aku sudah memberimu kesempatan untuk jujur.”
“Saya jujur.”
“Tapi semua yang kamu katakan tidak bisa dibuktikan, dan itu membuatnya tidak berbeda dari alasan.”
Alyssa menatapnya lebih lama, ada sesuatu di dalam dirinya yang mulai berubah perlahan. Rasa panik yang tadi mendominasi mulai digantikan oleh kelelahan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
“Lalu apa yang harus saya lakukan supaya kamu percaya?”
Pertanyaan itu keluar lebih pelan dari yang ia rencanakan, tetapi cukup jelas untuk didengar. Daren tidak langsung menjawab, hanya menatapnya seolah mempertimbangkan sesuatu.
“Katakan yang sebenarnya.”
“Saya sudah mengatakan yang sebenarnya.”
“Bukan itu.”
Nada suara Daren mulai meninggi, tidak lagi setenang sebelumnya. Ia melangkah lebih dekat, membuat jarak di antara mereka hampir tidak ada.
“Berhenti berbohong dan akui saja.”
Kata-kata itu terasa tajam, menghantam langsung tanpa memberi kesempatan untuk bertahan. Alyssa merasakan dadanya sesak, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam.
“Kenapa kamu begitu yakin saya berbohong?”
“Karena semua bukti ada di depan mata, dan kamu satu-satunya yang tidak masuk akal di dalamnya.”
“Bukti bisa dimanipulasi, apalagi kalau seseorang memang ingin menjatuhkan saya.”
Daren tertawa lagi, kali ini lebih jelas terdengar. Ia menggeleng pelan, seperti mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
“Dan kamu ingin aku percaya bahwa kamu adalah korban dari semua ini?”
“Saya tidak meminta kamu langsung percaya, saya hanya meminta kamu tidak langsung menyimpulkan bahwa saya bersalah.”
“Siapa yang kamu maksud?”
Pertanyaan itu datang tanpa jeda, membuat Alyssa terdiam. Nama itu sudah hampir keluar, tetapi ia menahannya di detik terakhir.
“Lihat, kamu bahkan tidak bisa menjawab itu.”
“Saya hanya tidak ingin menuduh tanpa dasar, karena itu hanya akan membuat semuanya lebih buruk.”
“Atau kamu takut.”
Alyssa mengangkat wajahnya, menatap Daren dengan ekspresi yang lebih tegas. Ada sesuatu yang berubah di matanya, sesuatu yang tidak lagi hanya berisi pembelaan.
“Takut apa?”
“Takut karena kamu tahu tidak akan ada yang percaya padamu.”
Kalimat itu mengenai tepat di bagian yang paling ia hindari. Alyssa membuka mulut, ingin membantah, tetapi kata-kata itu tidak keluar karena ia tahu ada bagian dari itu yang benar.
Daren melangkah sedikit lebih dekat, suaranya turun tetapi justru terasa lebih menekan.
“Aku tidak punya waktu untuk hal seperti ini.”
“Ini bukan hal sepele bagi saya.”
“Bagiku, ini sudah cukup.”
Alyssa merasakan sesuatu di dalam dirinya retak perlahan, bukan karena satu kalimat, tetapi karena semua yang terjadi sejak awal. Ia masih mencoba bertahan, meskipun sudah tahu hasilnya mungkin tidak akan berubah.
“Kalau kamu benar-benar tidak percaya saya, setidaknya beri saya kesempatan untuk membuktikan.”
“Bagaimana caranya?”
“Saya akan mencari siapa yang melakukan ini, dan saya akan membuktikan bahwa saya tidak bersalah.”
Daren menatapnya cukup lama sebelum akhirnya menggeleng. Ekspresinya kembali dingin, seperti menutup kemungkinan itu tanpa pertimbangan lebih jauh.
“Kamu pikir ini permainan detektif? Aku tidak akan membiarkan seseorang yang sudah dua kali terlibat masalah melakukan hal seperti itu.”
“Saya tidak terlibat.”
“Cukup.”
Satu kata itu kembali menghentikan semuanya. Alyssa terdiam, benar-benar kehilangan arah untuk melanjutkan percakapan ini.
Daren menatapnya dengan ekspresi yang lebih keras, seolah semua kesabaran yang tersisa sudah habis.
“Berhenti mengulang hal yang sama, aku sudah lelah mendengarnya.”
Alyssa tidak menjawab lagi, karena ia mulai menyadari bahwa apa pun yang ia katakan tidak akan mengubah keputusan yang sudah dibuat. Semua kalimat yang ia siapkan terasa sia-sia begitu keluar dari mulutnya.
“Apa kamu tahu hal paling melelahkan dari semua ini?”
Alyssa tidak menjawab, tetapi ia tetap menatap Daren.
“Melihatmu terus berpura-pura seolah kamu tidak bersalah.”
Kata-kata itu jatuh perlahan, tetapi dampaknya terasa jelas. Alyssa menunduk, tangannya yang tadi menggenggam perlahan melepas tanpa ia sadari.
“Kalau kamu menginginkan sesuatu, kamu bisa bicara. Tidak perlu melakukan hal seperti ini.”
Alyssa mengangkat wajahnya lagi, tetapi kali ini tatapannya berbeda. Tidak ada lagi usaha untuk meyakinkan, hanya ketenangan yang terasa asing.
“Saya tidak menginginkan apa pun.”
“Kalau begitu kenapa kamu masih di sini?”
Pertanyaan itu membuat ruangan terasa semakin sempit. Alyssa terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan nada yang tidak berubah.
“Karena saya belum pergi.”
Jawaban itu sederhana, tetapi tidak memberi penjelasan yang diharapkan. Daren mengerutkan kening, jelas tidak mengerti maksud di balik kalimat itu.
Alyssa menarik napas pelan, membiarkan semua emosi yang tadi ia tahan mereda dengan sendirinya. Ia berhenti berharap, berhenti mencoba memaksa orang lain memahami apa yang tidak ingin mereka lihat.
“Apa lagi?”
Alyssa menggeleng.
“Tidak ada.”
Ia tidak menambahkan apa pun, tidak juga mencoba mengulang penjelasan yang sama. Ia hanya berdiri diam, dan perubahan itu terasa jelas.
“Jadi itu saja?”
Alyssa mengangguk pelan.
“Iya.”
Daren memperhatikannya lebih lama dari biasanya, mencoba memahami perubahan yang terjadi begitu cepat. Ia terbiasa melihat Alyssa berusaha, membela, mencari celah untuk didengar, tetapi sekarang semua itu hilang.
“Alyssa.”
Wanita itu menatapnya.
“Iya?”
Daren sempat terdiam, seolah tidak yakin dengan pertanyaan yang akan ia ajukan. Namun akhirnya ia tetap berbicara.
“Kalau memang bukan kamu, kenapa kamu tidak berusaha meyakinkanku lagi?”
Alyssa diam sejenak sebelum menjawab, suaranya tetap lembut tanpa nada yang berlebihan.
“Saya sudah mencoba, dan kamu tidak percaya.”
Jawaban itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Daren terdiam. Tidak ada tuduhan di dalamnya, hanya pernyataan yang disampaikan apa adanya.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Alyssa menunduk sedikit sebelum akhirnya memutuskan untuk mengakhiri percakapan itu.
“Saya permisi.”
Ia berbalik dan berjalan menuju pintu dengan langkah pelan, tidak tergesa tetapi juga tidak ragu. Daren tidak menghentikannya, hanya memperhatikan setiap gerakannya dengan perasaan yang sulit ia jelaskan.
Pintu terbuka dan tertutup kembali, meninggalkan ruangan itu dalam keheningan yang lebih berat dari sebelumnya. Daren tetap berdiri di tempatnya, pikirannya tertahan pada percakapan tadi.
Ada sesuatu yang terasa berbeda, bukan dari kata-kata yang diucapkan, tetapi dari cara Alyssa mengatakannya. Dan semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas perasaan itu muncul, memberi kesan bahwa ada hal yang tidak berjalan sebagaimana seharusnya.
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
🤔🤔