NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai Merasa Nyaman

Pelayan membawakan dua piring steak yang aromanya sangat menggoda, jauh berbeda dengan bau saus botolan roti pinggir jalan yang biasa Cassie makan. Cassie sudah siap untuk makan besar, tapi dia teringat sesuatu. Rasa penasaran yang selama ini mengganjal hatinya.

"Liam, apa bisnismu berjalan lancar?"

​"Dari mana kau tahu soal bisnisku?" tanya Liam dingin, sambil memotong dagingnya dengan sangat presisi. Matanya menatap Cassie tajam melalui cahaya lilin di meja.

​Cassie meneguk air putihnya dengan cepat. "Ethan yang mengatakannya. Dia bilang kau pengusaha... yang sedikit licin di mata hukum."

​Liam mendengus sinis, sebuah tawa kering keluar dari bibirnya. "Rupanya kalian suka bergosip tentangku di belakang, ya? Mengharukan sekali. Aku tidak tahu polisi tampanmu itu punya hobi seperti ibu-ibu arisan."

​"Dia bukan menggosip! Dia hanya memperingatkanku," bela Cassie cepat.

​Liam meletakkan pisaunya, lalu condong ke depan, menatap Cassie dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Dengar, Cassie lain kali kau penasaran tentang apa yang aku lakukan, tanya langsung padaku. Jangan tanya pada orang yang pekerjaannya memang mencari-cari kesalahanku."

​Suasana di meja makan mendadak terasa sedikit lebih berat. Liam mengambil potongan dagingnya, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih rendah dan memerintah. "Dan satu lagi. Kalau bisa, kau tidak perlu bertemu dengan Ethan lagi. Dia tidak sebaik yang kau kira."

​Cassie langsung mengerutkan dahi, rasa tidak terima muncul seketika. "Kenapa? Ethan orang baik! Dia sopan, dia juga membantu mengerjakan tugas kuliahku kemarin, dan dia jujur. Kau hanya iri padanya karena dia punya seragam dan lencana yang dihormati semua orang kan?"

​Liam hanya menatapnya dengan tatapan datar, seolah sedang melihat anak kecil yang sedang merajuk.

​"Aku tidak akan berhenti menemuinya," lanjut Cassie dengan mantap. "Bahkan aku masih suka mencuri-curi pandang ke arah jendela kantor polisi setiap busku lewat sana, hanya untuk berharap bisa melihatnya sedang bekerja. Dia itu seperti... satu-satunya hal normal dan aman yang aku punya di kota ini."

​Liam terdiam sejenak mendengar kejujuran Cassie yang meledak-ledak. Ada sedikit kilatan aneh di matanya, rasa kesal atau mungkin ada sesuatu yang lain, sebelum akhirnya ia kembali menyandarkan tubuhnya dan tersenyum miring.

​"Mencuri pandang lewat jendela bus? Kau benar-benar seperti remaja yang sedang jatuh cinta, Cassie. Sangat menyedihkan," ejek Liam, kembali ke mode menyebalkannya. "Silakan saja teruskan hobimu itu. Tapi jangan menangis padaku kalau suatu saat 'keamanan' yang kau banggakan itu justru yang akan menjatuhkanmu."

​Cassie hanya mendengus dan melanjutkan makannya dengan penuh emosi, memotong steaknya seolah-olah dia sedang memotong harga diri Liam. Ia tidak peduli dengan peringatan Liam. Baginya, Liam tetaplah pria misterius yang bersembunyi di balik bayang-bayang, sementara Ethan adalah cahaya yang nyata.

***

Perjalanan pulang di dalam mobil mewah itu terasa jauh lebih sunyi dibandingkan saat berangkat tadi. Ketegangan soal Ethan masih menggantung di udara.

Cassie memilih untuk menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu kota Verovska yang mulai kabur karena rintik hujan yang turun tiba-tiba.

​"Kenapa diam? Takut makanannya aku minta bayar?" suara Liam memecah keheningan dengan nada yang masih mengejek.

​"Aku cuma lelah," jawab Cassie singkat tanpa menoleh. "Dan aku masih tidak mengerti kenapa kau begitu membenci Ethan. Padahal dia memperlakukanmu seperti teman."

​Liam tidak menjawab. Ia hanya menambah kecepatan mobilnya saat melewati jalanan yang mulai sepi menuju area Raven's Gate. Ketika mobil itu akhirnya terparkir di depan gedung apartemen mereka yang suram, Liam tidak langsung mematikan mesin.

​"Kau tahu kenapa aku bilang dia tidak sebaik yang kau kira?" tanya Liam tiba-tiba, suaranya terdengar sangat serius, membuat Cassie menoleh.

​"Kenapa?"

​"Karena orang yang 'terlalu bersih' biasanya punya cara paling kotor untuk menutupi noda mereka," jawab Liam sambil menoleh ke arah Cassie. Matanya yang gelap tampak sangat dalam di tengah cahaya kabin yang redup.

"Sedangkan orang sepertiku? Kau sudah tahu aku kotor sejak awal. Jadi kau tidak perlu takut akan ada kejutan yang menghancurkanmu."

​Cassie terdiam, mencoba mencerna kata-kata itu. Ia ingin membantah, tapi ada kejujuran yang pahit dalam nada bicara Liam.

​"Ayo masuk," Liam mematikan mesin mobilnya. "Jangan lupa kunci pintu kamarmu. Dan jangan coba-coba menguping lagi, aku mau tidur cepat."

​Cassie turun dari mobil, diikuti oleh Liam yang berjalan di belakangnya menuju lobi. Saat mereka masuk ke lift, Cassie merasa suasana sudah tidak semencekam dulu. Kehadiran Liam di sampingnya,meski pria itu menyebalkan, memberikan rasa aman yang aneh.

​Sesampainya di lantai tiga, tepat di depan pintu unit mereka yang bersebelahan, Liam berhenti.

​"Cassie," panggilnya saat gadis itu hendak memutar kunci.

​"Apa lagi?"

​Liam merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah benda kecil—sebuah gantungan kunci berbentuk kelinci, yang entah sejak kapan ia beli. Ia melemparkannya begitu saja dan ditangkap dengan kikuk oleh Cassie.

​" Pakai itu di kuncimu. Supaya kalau suatu saat terjatuh, suaranya lebih nyaring dan kau tidak perlu membuat orang lain repot mencarinya di lantai," ucap Liam sambil membuka pintu unit 305 tanpa menoleh lagi.

​Cassie menatap gantungan kunci di tangannya, lalu menatap pintu kamar Liam yang sudah tertutup. Ia tersenyum tipis tanpa sadar.

​Malam itu, saat Cassie sudah berbaring di tempat tidurnya, ia tidak lagi mendengar suara orang menelepon dari sebelah. Sebaliknya, ia mendengar suara musik klasik yang diputar sangat pelan dari kamar Liam. Musik itu mengantarnya tidur, memberikan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sejak pertama kali menginjakkan kaki di Raven's Gate.

***

Hari-hari berikutnya di Verovska terasa jauh lebih berwarna, atau setidaknya, jauh lebih mengenyangkan bagi Cassie. Hubungannya dengan Liam bergeser menjadi sebuah rutinitas baru yang sangat ganjil namun menguntungkan.

​Hampir setiap sore, tepat saat kelas terakhir Cassie selesai, mobil mewah Liam, yang sering berganti-ganti antara SUV hitam atau sedan sport-nya, sudah terparkir gagah di depan gerbang kampus.

Liam biasanya tetap di dalam mobil, hanya menurunkan kaca jendela dan memberikan isyarat dengan dagunya agar Cassie segera masuk sebelum kerumunan mahasiswa lain mulai berbisik-bisik.

​"Ayo cepat. Aku tidak punya waktu seharian untuk menunggumu melambai pada semua orang," ketus Liam saat Cassie baru saja membuka pintu.

​Cassie hanya mencibir, lalu duduk manis di kursi penumpang yang empuk. Ia sudah kebal dengan ejekan Liam. Kenapa harus marah kalau ujung-ujungnya ia akan dibawa ke restoran yang menyajikan makanan enak?

​"Hari ini kita makan apa? Jangan steak lagi ya, aku ingin pasta," pinta Cassie dengan nada yang sudah mulai berani menuntut.

​Liam meliriknya dengan sebelah alis terangkat. "Kau mulai pandai memerintah, ya? Ingat, kau itu numpang, bukan sedang memesan jasa pelayan pribadi."

​"Yah, kalau tidak mau menuruti permintaanku, turunkan saja aku di halte depan. Aku bisa makan roti dan sup langgananku," jawab Cassie sambil bersedekap, mencoba menggertak.

​Liam terkekeh rendah, suara yang kini mulai terdengar familiar dan sialnya sedikit menenangkan di telinga Cassie.

"Diam! Kita cari pastamu itu."

***

​Selama makan malam, interaksi mereka selalu diisi dengan debat kecil. Liam tidak pernah berhenti meledek gaya bicara Cassie, cara makannya yang masih mencoba sok anggun (meski sering gagal karena kelaparan), hingga pilihan pakaian musim dingin Cassie yang menurut Liam mirip tumpukan selimut berjalan.

​Namun, di balik semua ledekan itu, Cassie mulai merasa nyaman. Ia tidak lagi harus berjalan sendirian melewati lorong Raven's Gate yang gelap. Ia tidak lagi harus menghitung koin di sakunya hanya untuk membeli sepotong roti dan sup dingin.

​Pernah suatu kali, saat mereka sedang makan di sebuah kedai ramen tersembunyi, Cassie bertanya di sela-sela menyeruput kuahnya, "Kenapa kau melakukan ini, Liam? Menjemputku dan memberiku makan setiap hari. Kau tidak sedang merencanakan untuk menjual ginjal tetanggamu sendiri, kan?"

​Liam meletakkan sumpitnya, menatap Cassie dengan tatapan datar yang sulit diartikan. "Ginjalmu mungkin sudah penuh dengan pengawet dari makanan pinggir jalan itu, tidak akan laku mahal."

​Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah. "Anggap saja aku sedang melakukan kegiatan sosial, membantu seorang mahasiswa asing agar tidak mati kelaparan."

​Cassie mendengus, tahu bahwa Liam sedang menyembunyikan alasan aslinya di balik kalimat sinis. Tapi bagi Cassie, itu sudah cukup. Selama ada Liam di sampingnya, Raven's Gate tidak lagi terasa seperti neraka.

​"Terserah apa katamu," gumam Cassie sambil tersenyum tipis di balik mangkuk ramennya.

"Yang penting aku tidak harus mengeluarkan uang untuk membeli makan malam. Nanti kalau ayahku mengirim uang saku, gantian aku yang traktir ya."

​Liam hanya menggeleng-gelengkan kepala, pura-pura menyesal telah memberikan tumpangan pada gadis yang kini sudah tidak punya rasa takut lagi padanya.

1
Sri
Diihh
Harley
sama2 menurunkan ego 🥲
Harley
nurut2 aja
Ella Elli
Cassie sih lagian batuu, di bilang diem aja di rumah 😭
Malah memperburuk keadaan
Harley
iyuhh
Ella Elli
hmmm Cassie 😒
Harley
masih penasaran sama si ethan ethan itu
Donna
Paling nanti kalo ketemu sama amanda lagi, galau lagi
Donna
Idih amanda muluuu
Ella Elli
Harusnya kalo belum bisa lupain masa lalu, jangan memulai hubungan yang baru dulu.
Kasian Cassie 😭
Donna: Setujuuu
total 1 replies
Harley
lanjutttt
Harley
Seru dan ringan dibaca di waktu luang~
Harley
lanjuttt
Harley
lebih bertanggung jawab cenah wkwk
Harley
aman aman 🤭
Harley
sooo deep 🙂
Ella Elli
Tembak yang bener etdah
Harley
orang Italia lokal jg bilang padaku kalo mafia2 di novel 'it's scam' katanya wkwk
Four Forme: jauh dari bayangan ya haha
total 1 replies
Harley
kerja apaan tuh 👀
Hafiz Baihaqi
wey apa nih 🤣
Four Forme: hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!