NovelToon NovelToon
A Stepbrother'S Obsession

A Stepbrother'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Semalam Bersamaku

"Papa, ini ada nak Bagas datang ke sini. Nina malah nggak ngajak dia masuk! Anak itu memang  benar-benar ya!"

Nina menutup pintunya agak keras. Rasanya ingin kabur saja melihat orang tuanya lebih peduli terhadap pria itu.

"Eh..., Bagas, ayo sini-sini. Kita ngobrol-ngobrol di sini." Hermawan juga berkah tamah. Selama ini hanya Bagas yang memiliki keberanian sering main ke rumahnya. Selama tidak berlebihan, ia tak mempermasalahkan putrinya berteman dengan siapapun.

"Kalau ada temannya datang itu seharusnya diajak masuk, bukannya malah dibiarkan di luar, nggak sopan banget jadi orang!"

Widya masih mengomel sembari melirik anak perempuannya yang berjalan menuju bufet meletakkan handphonenya.

Bagas langsung menyalami Hermawan dan juga Rendra. Dia duduk berhadapan langsung dengan Rendra, sedangkan Nina sengaja mengambil tempat duduk di sebelah Rendra. Tak peduli tatapan horor yang dilayangkan oleh mantan kekasihnya.

"Tante, Om, ini saya bawakan oleh-oleh buat kalian."

Bagas menyodorkan paperbag ke atas meja. Setiap kali pria itu berkunjung selalu membawakan buah tangan.

"Nak Bagas, nggak perlu repot-repot bawa oleh-oleh segala. Kalau mau main ya main aja," tegur Hermawan.

Bagas terkekeh. "Enggak apa-apa Om, kebetulan tadi mampir ngopi di pinggiran jalan, sekali beli oleh-oleh buat kalian."

Nina membuang muka acuh tak acuh. Ia benar-benar sangat malas harus bersikap baik di depan mereka.

"Oh ya nak Bagas. Bagaimana dengan pekerjanya? Lancar kah?" tanya Hermawan.

Bagas mengangguk disertai senyuman tipis. "Alhamdulillah lancar Om. Kalau Om sendiri bagaimana?"

"Alhamdulillah lancar. Namanya orang usaha itu yang penting sabar. Sekarang Anaknya Om juga sudah pulang, jadi lebih tenang, ada yang bantuin."

Bagas mengedarkan pandangannya ke arah pria yang duduk bersebelahan dengan Nina. Ada rasa tak nyaman di hatinya, namun ia berusaha menutupinya.

"Oh, jadi ini anaknya Om?"

Hermawan mengangguk. "Iya, ini anaknya om, namanya Narendra, dia juga kakaknya Nina," celetuk Hermawan memperkenalkan putranya.

Rendra memasang wajah acuh, ia tak mau mengenal atau sekedar bertegur sapa, terserah kalaupun dianggap sombong.

"Kamu masih sangat muda, tentu semangatnya sangat tinggi. Sebaiknya fokus dulu dengan karir, jangan buru-buru menikah," nasehat Hermawan.

Rendra terkekeh dan mengangguk. " Iya Om. Untuk saat ini saya masih fokus dengan karir, soal pasangan hidup saya rasa tidak sulit untuk dicari. Jika Om berkenan saya ada rencana untuk meminang Nina. Lagi pula kami berdua sudah cukup lama saling mengenal."

Refleks Nina mendelik. "Apa kamu bilang? Kamu mau melamarku?"

Jelas gadis itu tersulut emosi. Setelah diselingkuhi kini berencana untuk dilamar. Bagas benar-benar sudah lancang.

"Lho! Memangnya kenapa kalau nak Bagas berniat untuk melamarmu?" Widya  menyahut.

Menurutnya Bagas pria yang sopan dan baik hati. Sudah cukup lama ia mengenalnya, tentu ia cukup hafal dengan karakternya.

"Ma, aku nggak mau buru-buru menikah. Aku masih ingin fokus sama kuliahku," bantahnya kesal.

"Memangnya siapa yang buru-buru ingin menikahkanmu? Ini masih juga rencana. Mama rasa nggak ada salahnya kalaupun kalian bertunangan dulu. Soal menikah kita bisa bicarakan baik-baik. Nak Bagas sudah memiliki pekerjaan yang mapan, dia sudah bisa bertanggung jawab terhadap rumah tangganya. Memangnya apa lagi yang tengah kamu cari? Tidak semua laki-laki memiliki pemikiran seperti nak Bagas Nin, harusnya kamu bersyukur bisa mengenalnya."

Nina mengedarkan matanya ke arah Widya dengan acuh. "Bersyukur Mama bilang? Justru petaka aku bertemu dengannya!"

"Ya ampun Nina, kamu ini ngomong apa?! Jaga sikapmu!"

Widya dibuat malu oleh sikap anak perempuannya yang terang-terangan menunjukkan kebenciannya terhadap Bagas, padahal sebelumnya sikap Nina begitu baik kepada Bagas, bahkan sering menyanjungnya.

Rendra yang mendengar perdebatan mereka tersenyum smirk. Dari situ ia tahu seperti apa karakter adik tirinya.

"Nina, Mama nggak habis pikir sama kamu! Di saat ada laki-laki baik yang memiliki  keinginan untuk meminangmu kamu malah menolaknya! Memangnya yang kamu cari itu laki-laki yang seperti apa?"

Sudah habis kesabaran Widya dipermalukan di depan tamu yang memiliki niatan baik ingin menjalin hubungan kekeluargaan dengannya. Entah seperti apa pria pilihan putrinya, tapi ia yakin pilihan putrinya tidak lebih baik dari Bagas.

"Kamu itu perempuan, seharusnya kamu bersyukur nak Bagas mau menjadikanmu pasangan hidupnya. Memangnya apa kekurangan nak Bagas?"

Nina menoleh dengan raut wajah datar penuh emosi. "Sekali tidak tetaplah tidak! Mama nggak ada di posisiku! Mama nggak tahu betapa brengseknya dia! Dia tidak sebaik seperti yang kalian lihat. Kalau kalian memaksaku lebih baik aku pergi!"

Nina beranjak dan melenggang pergi dengan membanting pintu. Semua orang yang ada di ruangan itu dibuat panik.

"Nina! Kamu mau ke mana?"

Widya beranjak hendak mengejarnya namun dihalangi oleh Rendra. "Ma, biarkan dia tenang dulu. Aku akan menyusulnya!"

Bagas juga nampak panik, gara-gara ulahnya Nina kabur.

"Om, saya izin untuk kejar Nina dulu ya? Gara-gara saya dia jadi marah gini!"

"Lebih baik nak Bagas jangan temui dia dulu. Biarkan dia tenang dulu. Nak Bagas nggak usah khawatir, Nina tidak akan kenapa-napa."

Hermawan sendiri juga tidak tahu apa yang membuat putri sambungnya itu begitu marah. Mungkin dia syok dengan pengungkapan Bagas yang berkeinginan untuk meminangnya, tapi apa salahnya jika pria itu memiliki etikat baik terhadapnya.

Nina menangis dengan berjalan cepat di trotoar. Dia tak peduli kalaupun ada orang jahat yang memiliki niatan buruk terhadap dirinya. Ia sangat kecewa dengan sikap orang tuanya yang lebih memihak Bagas dibandingkan dirinya yang nyata-nyata sudah dikhianati. Memang orang tuanya belum mengetahui seperti apa sifat Bagas yang sebenarnya, tapi dengan penolakannya seharusnya mereka peka.

"Nina berhenti!"

Rendra berhasil mengejarnya. Dia mengatur nafasnya setelah berlari cukup jauh dari rumahnya.

"Ngapain kakak mengejarku! Sana pulang! Aku ingin sendiri!"

Nina menoleh sekilas sembari mengomel mengusirnya.

"Kau itu mau ke mana? Ini sudah malam loh! Memangnya nggak takut ada orang yang berniat jahat? Kalau kamu diapa-apain gimana?"

"Aku nggak peduli! Lebih baik aku mati daripada harus menerima lamaran cowok bren-gsek macam dia!"

Rendra berlari kecil mensejajarinya. Dia tak lagi memaksanya buat pulang. Setidaknya ia ada untuk menemaninya.

"Tadi itu pacarmu?"

"Tepatnya hanya MANTAN," jawab Nina dengan menekan kata mantan.

"Mantan? Tapi kenapa dia masih datang ke rumah? Mama sama Papa bahkan sangat respect padanya?"

Nina mengedikkan bahunya. "Entahlah. Jujur, aku kecewa banget sama dia. Aku menyesal sudah percaya sama janji manisnya. Aku pikir dia setia, ternyata penghianat!"

Rendra menepuk pundaknya. "Tenangkan dirimu, jangan terbawa emosi."

Nina menghentikan langkahnya dengan melayangkan tatapan dingin. "Nggak terbawa emosi gimana? Seandainya ini terjadi padamu apa kau yakin nggak bakalan emosi? Dia sudah berselingkuh dengan wanita lain. Aku memergokinya lagi in the hoy di hotel. Dia menghianatiku kak Rendra! Apa kamu pikir aku nggak kecewa?"

Dengan amarah yang tak bisa dibendung Nina akhirnya mengungkapkan kekesalannya kepada Rendra. Ia tak peduli tanggapan Rendra, yang paling penting ia tak ingin lagi terlibat dengan pria yang sudah menghancurkan kepercayaannya.

"Oh..., jadi itu permasalahannya? Kamu menuduhnya berselingkuh bersenang-senang di hotel dengan wanita lain? Lalu bagaimana dengan kamu sendiri? Bukankah kamu semalaman juga menghabiskan waktu bersama denganku?"

1
Kadek Suarmi
kok tidak ada kelanjutannya?
Ermakusmini
nggak menarik
Ika Dw: nggak usah dibaca, out aja
total 1 replies
Ermakusmini
kok cuma 1 bab
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!