"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: JANGAN SENTUH PANGERANKU!
Di dalam pondok kayu yang harum dengan aroma mawar surgawi, suasana mendadak mencekam. Nael Gianluca Ryker, sang pewaris tunggal yang biasanya mengendalikan jutaan dolar dengan satu tanda tangan, kini hanya bisa terpaku di kursi akarnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena luka tembak yang baru saja sembuh secara ajaib, tapi karena bahaya yang mengintai di luar pintu.
Klik.
Suara kokang senjata api terdengar sangat jelas di tengah kesunyian hutan. Nael tahu suara itu. Itu adalah Glock 17, senjata favorit para pembunuh bayaran yang mengejarnya sejak dari kota.
Nael dengan panik menyambar ujung gaun sutra Alurra yang sedang asyik mengagumi kuku-kukunya sendiri. Ia menggeleng kuat-kuat, matanya yang kelam memancarkan ketakutan yang luar biasa. Ia menunjuk ke arah pintu, lalu menunjuk ke arah jendela belakang, memberi isyarat agar Alurra segera lari.
"Apa sih, Sayang? Kok tarik-tarik baju orang? Mau minta dikelonin ya?" tanya Alurra dengan nada santai, seolah-olah mereka sedang piknik di taman bunga, bukan sedang dikepung pembunuh.
Nael frustrasi. Ia mengambil ranting kecil yang tercecer di lantai, lalu menulis cepat di atas meja kayu: "MEREKA PUNYA SENJATA. LARI!"
Alurra melirik tulisan itu, lalu beralih menatap wajah Nael yang pucat pasi. Bukannya takut, Alurra malah mencubit hidung Nael dengan gemas.
"Aduh, Pangeranku ini perhatian sekali sih! Tenang saja, Sayang. Di langit sana, aku pernah dikejar naga api yang napasnya bau jengkol. Manusia-manusia di luar itu cuma remah-remah kerupuk buatku."
BRAKKK!
Pintu pondok yang terbuat dari jalinan akar itu ditendang hingga hancur berkeping-keping. Lima orang pria berpakaian taktis hitam-hitam merangsek masuk. Moncong senapan laras panjang mereka langsung mengarah tepat ke dada Nael.
"Ketemu kau, Tikus Kecil!" pimpin kelompok itu menyeringai di balik penutup wajahnya. "Dan siapa ini? Gadis hutan yang cantik? Sayang sekali, dia harus mati bersamamu agar tidak ada saksi."
Nael spontan berdiri. Meskipun kakinya masih agak lemas, ia pasang badan di depan Alurra. Ia merentangkan tangannya, melindungi bidadari itu dengan tubuhnya sendiri. Ia tidak bisa bicara, tapi tatapan matanya seolah berkata: Langkahi dulu mayatku sebelum menyentuhnya.
Alurra yang berdiri di belakang punggung lebar Nael mendadak tertegun. Jantung bidadarinya berdesir aneh. Wah, Pangeranku ini meskipun bisu ternyata jantan sekali ya? batinnya kegirangan.
Namun, romansa itu terganggu saat salah satu pria itu mulai menarik pelatuk.
"Minggir, Nael! Atau kau mau mati lebih cepat?" bentak pria itu.
Alurra menghela napas panjang. Ia menepuk bahu Nael dengan lembut, lalu dengan kekuatan yang tidak masuk akal, ia menarik Nael ke belakang hingga pria itu terduduk kembali di kursinya.
"Duduk manis saja di situ, Sayang. Jangan sampai keringatmu menetes, nanti ketampananmu luntur," bisik Alurra dengan nada yang tiba-tiba berubah dingin.
Alurra melangkah maju, menghalangi moncong senjata. Ia berkacak pinggang, menatap kelima pria itu satu per satu dengan tatapan meremehkan.
"Heh, Manusia-manusia Jelek! Kalian tahu tidak, merusak pintu rumah orang itu tidak sopan? Apalagi rumah bidadari secantik aku!" cerocos Alurra. "Kalian punya waktu tiga detik untuk minta maaf, bersujud, dan membelikanku pintu baru yang lebih mewah. Kalau tidak..."
"Kalau tidak apa, Hah?! Dasar gadis gila!" Pria itu tertawa mengejek. "Tembak dia!"
DOR! DOR!
Dua peluru melesat cepat menuju dahi Alurra. Nael memejamkan mata, jiwanya serasa tercabut. Ia ingin menjerit, namun kerongkongannya tetap terkunci.
Tapi, suara ledakan peluru itu tidak diikuti oleh suara jatuh tubuh. Sebaliknya, terdengar suara teng, teng seperti logam yang menghantam kaca baja.
Nael membuka mata dan terbelalak. Dua butir peluru itu berhenti di udara, tepat beberapa sentimeter di depan wajah Alurra, seolah tertahan oleh dinding transparan yang bercahaya hijau lembut.
"Cuma segini?" Alurra menjepit salah satu peluru di udara dengan dua jarinya yang lentik. "Logam murahan. Di langit, perhiasanku jauh lebih berat dari ini."
KREK!
Alurra meremas peluru itu hingga menjadi debu di depan mata mereka semua. Kelima pembunuh bayaran itu mundur selangkah, wajah mereka pucat pasi di balik topeng.
"Se-Setan! Kau setan hutan!" teriak salah satu dari mereka, tangannya gemetar hebat.
"Setan? Enak saja! Aku ini bidadari, tahu! B-I-D-A-D-A-R-I!" Alurra berteriak kesal. "Karena kalian sudah menghinaku, sekarang aku benar-benar marah!"
Alurra menjentikkan jarinya. Tiba-tiba, akar-akar pohon yang menjadi lantai pondok itu bergerak hidup seperti ular raksasa. Akar-akar itu melilit kaki kelima pria itu dengan sangat kencang hingga terdengar suara tulang yang retak.
"AAAKKKHHH!" Jeritan kesakitan memenuhi ruangan. Senjata mereka terlepas, hancur diremukkan oleh tanaman yang tiba-tiba menjadi ganas.
"Sayang, kau mau mereka diapakan?" Alurra menoleh ke arah Nael dengan senyum manis yang sangat kontras dengan pemandangan di depannya. "Mau dijadikan pupuk mawar, atau mau aku ubah jadi kodok buduk biar bisa kita jadikan sate?"
Nael hanya bisa melongo. Ia menatap Alurra seolah melihat makhluk paling ajaib sekaligus paling mengerikan yang pernah ada. Ia menggeleng lemah, lalu menulis lagi di meja dengan tangan gemetar: "JANGAN BUNUH. TANYA SIAPA YANG MENYURUH."
Alurra membaca tulisan itu lalu mengerucutkan bibirnya. "Ih, Pangeranku ini baik sekali sih hati nuraninya. Padahal mereka tadi mau membuatmu jadi sate manusia, lho."
Alurra mendekati pemimpin pembunuh bayaran yang sudah tergantung terbalik oleh akar di langit-langit pondok. Ia menarik penutup wajahnya kasar.
"Dengar ya, Om Jelek. Pangeranku ingin tahu, siapa majikanmu? Kalau kau bicara jujur, mungkin aku hanya akan mengubahmu jadi kelinci. Tapi kalau kau bohong..." Alurra mengeluarkan sebuah tanaman kecil berduri yang mengeluarkan asap ungu. "...aku akan membuatmu gatal-gatal di seluruh lubang tubuhmu selama seratus tahun. Mau coba?"
Pria itu gemetar hebat melihat tanaman di tangan Alurra. "Ka-Keluarga... Keluarga Ryker... Tuan Besar yang menyuruh kami..."
Mata Nael membelalak mendengar nama itu. Tubuhnya menegang. Pengkhianatan itu datang dari orang terdekatnya sendiri.
Alurra merasakan perubahan aura pada Nael. Ia mengibaskan tangannya, dan dalam sekejap, kelima pembunuh bayaran itu terlempar keluar pondok, mendarat jauh di semak-semak luar hutan.
"Pergi sana! Kalau kalian berani kembali, aku akan pastikan kalian tidak akan punya bulu kaki seumur hidup!" teriak Alurra bar-bar.
Suasana kembali sunyi. Alurra berbalik, menghampiri Nael yang tertunduk lesu. Kesedihan dan amarah memancar dari tubuh pria bisu itu. Alurra berlutut di depan Nael, meraih kedua tangan pria itu dan menggenggamnya erat.
"Hei, kenapa mukanya jadi mirip cucian kotor begitu?" Alurra menatap mata Nael dengan lembut, kali ini tanpa nada bercanda. "Jangan sedih. Ada aku di sini. Biarpun seluruh dunia membencimu, bidadari paling cantik ini akan selalu ada di sampingmu."
Nael mendongak. Ia menatap wajah Alurra yang begitu dekat. Ada rasa hangat yang perlahan mengalir ke hatinya, sebuah rasa aman yang tidak pernah ia rasakan sejak orang tuanya meninggal.
Nael ingin bicara. Ia sangat ingin berkata 'Terima kasih'. Bibirnya bergetar, jakunnya naik turun, tapi tetap saja, hanya kesunyian yang keluar. Air mata perlahan menetes di pipi pria dingin itu.
Alurra tidak menunggu ucapan terima kasih. Ia justru menarik kepala Nael dan membenamkannya ke pundaknya, memeluk pria besar itu seperti melindungi anak kecil.
"Ssshhh... jangan menangis. Bidadari tidak suka melihat pangerannya cengeng," bisik Alurra sambil mengusap punggung Nael. "Dengar ya, Nael. Mulai sekarang, suaraku adalah suaramu. Dan kekuatanku adalah pelindungmu. Siapa pun yang berani menyentuhmu, akan aku buat mereka menyesal pernah lahir ke bumi!"
Nael memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan Alurra. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin... hidupnya yang hancur ini masih layak untuk diperjuangkan.
...****************...
aku suka namanya Nael ....