NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 22 : Mekar nya harapan di taman rahasia

Udara di dalam paviliun terasa sangat kontras; ada hawa dingin yang murni dari sisi George dan kehangatan yang lembut dari sisi Celestine. Di tengah-tengah mereka, pot pualam itu mulai memancarkan cahaya biru yang samar.

​"George, tekan sedikit lagi energinya. Aku bisa merasakan akarnya mulai mencari jalan di dalam tanah," bisik Celestine dengan napas tertahan.

​"Aku mencoba, Celestine. Tapi benih ini sangat lapar akan mana. Ia menarik kekuatanku lebih cepat dari yang kubayangkan," jawab George, keringat dingin mulai tampak di pelipisnya.

​Julian, yang berdiri di belakang mereka, tampak sangat cemas. "Hati-hati, Kak! Jika kau memberikan terlalu banyak mana es tanpa penyeimbang, tanah ini akan membeku dan benihnya akan mati sebelum sempat pecah!"

​"Tenanglah, Julian. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Celestine, sekarang! Alirkan cahaya mataharimu ke titik tengah!" seru George.

​Celestine segera menempelkan kedua telapak tangannya ke permukaan tanah. "Tumbuhlah! Demi kedamaian dua dunia, tumbuhlah!"

​Seketika, sebuah tunas perak melesat keluar dari tanah. Tunas itu tumbuh dengan sangat cepat, melilit seperti spiral menuju cahaya lampu gantung di atas mereka. Hanya dalam hitungan detik, daun-daun kristal mulai terbentuk, dan sebuah kuncup besar muncul di puncaknya.

​"Luar biasa... aku belum pernah melihat mawar salju tumbuh secepat ini, bahkan di taman istana Utara sekalipun," gumam Julian dengan mata yang berbinar-binar.

​"Lihat! Dia mulai mekar!" seru Celestine sambil menunjuk kuncup itu.

​Kelopak demi kelopak terbuka perlahan, mengeluarkan aroma yang sangat segar. Bunga itu tidak berwarna merah seperti mawar Valley, melainkan putih transparan dengan guratan biru safir di setiap tepiannya. Saat mekar sempurna, sebuah pendaran cahaya platinum menyelimuti seluruh ruangan.

​"Dia sangat cantik, George. Sama seperti yang sering kau ceritakan saat kita masih di Utara dulu," kata Celestine sambil menyentuh kelopak bunga itu dengan ujung jarinya.

​"Tapi ada yang berbeda, Celestine. Mawar salju di Utara tidak mengeluarkan kehangatan seperti ini," sahut George sambil ikut menyentuh daunnya.

​"Itu karena ia tumbuh dari campuran mana kita berdua, George. Ini adalah simbol bahwa esmu kini sudah memiliki hati yang hangat," jawab Celestine dengan senyum manis.

​Julian melangkah mendekat, tampak sangat terharu. "Kak, jika Ayah melihat ini, dia pasti akan menangis. Selama ini orang-orang di Utara menganggap mawar ini hanya bisa tumbuh di atas penderitaan dan kedinginan yang ekstrem. Kau baru saja membuktikan bahwa mereka salah."

​"Mungkin selama ini kita hanya kurang memberikan 'cahaya' pada hidup kita di sana, Julian," balas George sambil menepuk bahu adiknya.

​Tiba-tiba, Theodore masuk ke paviliun dengan langkah yang tergesa-gesa, namun ia langsung berhenti saat melihat bunga tersebut. "Demi mahkota leluhurku... apakah itu benar-benar mawar salju yang melegenda itu?"

​"Benar, Theodore. Dan dia mekar dengan sangat subur di tanah Valley-mu," jawab Celestine dengan bangga.

​Theodore berjalan memutar, mengagumi keindahan bunga itu. "Ini luar biasa. Ini bukan sekadar tanaman, ini adalah pernyataan politik yang paling kuat yang pernah kulihat. George, dengan mawar ini, tidak akan ada satu pun penguasa di benua ini yang berani meragukan persatuan kita."

​"Aku tidak menanamnya untuk politik, Theodore. Aku menanamnya agar Celestine bisa melihat sedikit bagian dari rumahku yang tidak menyakitkan," kata George dengan jujur.

​Theodore tertawa kecil. "Pikiran seorang ksatria memang selalu lebih sederhana daripada seorang raja. Tapi itulah yang membuatmu hebat, George."

​"Jadi, Julian, apa yang akan kau katakan pada orang-orang di rumah saat kau kembali nanti?" tanya Celestine.

​Julian menatap mawar itu sekali lagi. "Aku akan memberi tahu mereka bahwa kakakku tidak hanya menjadi jenderal hebat di sini, tapi dia juga telah menjadi tukang kebun terbaik yang pernah ada. Dan aku akan memberi tahu mereka bahwa Valley adalah rumah yang paling indah untuk mawar salju kita."

​"Jangan lupakan bagian tentang kakak iparmu yang cantik ini, ya?" goda Celestine yang membuat Julian merona merah.

​"Tentu saja, Tuan Putri. Itu adalah bagian yang paling penting," jawab Julian sambil membungkuk hormat.

​Malam itu, mereka berempat duduk di sekitar mawar salju tersebut, menikmati teh dan menceritakan kembali kenangan-kenangan lama. Bagi George, mekarnya bunga itu bukan hanya akhir dari sebuah eksperimen botani, melainkan awal dari kehidupannya yang baru; sebuah kehidupan di mana es dan matahari tidak lagi saling menghancurkan, melainkan saling menghidupkan.

​"Terima kasih, Celestine," bisik George saat yang lain sedang asyik berbincang.

​"Untuk apa?" tanya Celestine pelan.

​"Untuk tidak pernah menyerah padaku, saat aku sendiri hampir menyerah pada diriku sendiri," jawab George.

​Celestine menggenggam tangan kristal George dan menciumnya. "Aku akan selalu ada di sini, George. Sampai semua mawar di dunia ini berhenti mekar."

Keheningan yang menyelimuti Paviliun Mawar terasa begitu sakral setelah hiruk-pikuk keberhasilan mereka menanam mawar salju tersebut. Cahaya biru safir yang memancar dari kelopak bunga kristal itu memantul di dinding pualam, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari seiring dengan embusan angin malam. George berdiri terpaku di depan pot besar itu, tangannya yang masih berbalut sisa-sisa energi es tampak bergetar pelan karena kelelahan mana yang luar biasa.

​"Kau memberikan hampir seluruh sisa energimu untuk bunga ini, George," ujar Theodore dengan nada yang kini lebih berat dan penuh wibawa. Ia melangkah mendekati pot pualam tersebut, menatap mawar yang tampak begitu rapuh namun memancarkan kekuatan yang menggetarkan. "Aku belum pernah melihat pengorbanan sebesar ini hanya untuk menumbuhkan sebatang tanaman."

​"Ini bukan sekadar tanaman bagi kami, Theodore," sahut George dengan suara baritonnya yang tenang. Ia menegakkan tubuh, mencoba menyembunyikan rasa lelah yang merambat di persendiannya. "Mawar ini adalah bukti bahwa masa lalu yang beku di Utara bisa bersatu dengan masa depan yang benderang di Selatan. Jika bunga ini mati, maka harapan untuk persatuan itu pun akan ikut layu."

​Celestine melangkah maju, meletakkan jemarinya yang hangat di atas tangan kristal George. "Ia tidak akan mati. Aku akan memastikan setiap pagi dan sore, cahaya matahari terbaik dari Menara Alkimia akan dialirkan ke ruangan ini. Resonansi antara esmu dan cahayaku telah menciptakan sebuah anomali biologis yang abadi."

​Julian, yang sejak tadi terdiam karena kagum, akhirnya angkat bicara. "Kak, apakah kau menyadari bahwa bunga ini tidak hanya mengeluarkan aroma? Ia mengeluarkan gelombang penenang. Lihatlah mawar-mawar merah di sekelilingnya; mereka biasanya layu jika terkena hawa dingin, tapi sekarang mereka justru tampak lebih segar dan bercahaya."

​"Itu karena mawar salju ini telah memurnikan energi di sekitarnya," jelas Theodore sambil mengamati kelopak bunga itu dengan saksama. "George, sebagai Raja Valley, aku harus menyatakan bahwa keberhasilan ini akan menjadi bab paling gemilang dalam sejarah diplomasi kita. Namun, aku juga harus memperingatkan mu. Kekuatan yang mampu menyatukan dua elemen ekstrem ini akan menarik perhatian mereka yang haus akan kekuasaan."

​George menoleh ke arah Theodore, tatapannya tajam dan dingin sekeras es abadi. "Siapa pun yang berniat mengusik kedamaian yang baru saja tumbuh ini, mereka harus melewati pedangku terlebih dahulu. Aku telah kehilangan banyak hal di Utara, dan aku tidak akan membiarkan Valley kehilangan cahayanya."

​"Aku tahu kau akan berkata begitu," Theodore mengangguk pelan, sebuah senyum tipis yang penuh rasa hormat tersungging di wajahnya. "Namun, pertahanan bukan hanya soal kekuatan fisik. Kita perlu membangun protokol keamanan alkimia yang baru di sekitar paviliun ini. Aku akan menugaskan Master Eldric untuk memimpin proyek tersebut mulai besok."

​Celestine kemudian mengambil sebuah cangkir perak berisi ramuan pemulih mana dan menyodorkannya kepada George. "Minumlah ini, George. Kau tidak bisa melindungi siapa pun jika intimu sendiri retak karena kelelahan. Julian, kau juga harus beristirahat. Perjalananmu dari Utara pasti sangat melelahkan, dan besok kau harus mulai mempelajari kurikulum akademi kami."

​"Aku siap, Putri Celestine," jawab Julian dengan semangat yang kembali berkobar. "Aku ingin membuktikan bahwa keluarga ksatria Utara bisa menjadi pelajar yang handal di bawah bimbingan para alkemis hebat seperti kalian."

​George menerima cangkir itu dan meminum isinya dalam sekali teguk. Rasa hangat segera menjalar ke seluruh tubuhnya, menambal celah-celah kosong dalam saluran mananya. Ia menatap ke luar jendela, ke arah kota Valley yang kini mulai tertidur di bawah naungan bintang-bintang.

​"Theodore," panggil George saat sang raja hendak meninggalkan ruangan.

​"Ya, Jenderal?" Theodore berhenti dan menoleh.

​"Terima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk menanam sesuatu yang hidup, bukan hanya menghancurkan sesuatu dengan pedangku," kata George dengan ketulusan yang mendalam.

​Theodore menatap George cukup lama, seolah sedang membaca jiwa sang ksatria. "Dunia ini sudah terlalu banyak memiliki penghancur, George. Apa yang Valley butuhkan adalah seorang pelindung yang tahu cara menumbuhkan kehidupan di tempat yang mustahil. Dan kau adalah orangnya."

​Setelah Theodore dan Julian pergi, ruangan itu kembali sunyi. Hanya tersisa George dan Celestine yang masih berdiri di hadapan mawar salju tersebut. Cahaya dari bunga itu kini tampak lebih redup, seolah ikut beristirahat bersama pemiliknya.

​"Apakah kau bahagia, George?" tanya Celestine pelan, sambil menyandarkan kepalanya di bahu George.

​George menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang membawa pergi beban bertahun-tahun yang selama ini ia pikul sendiri. "Aku merasa... lengkap, Celestine. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa seperti monster yang hanya membawa badai. Aku merasa seperti bagian dari sesuatu yang indah."

​"Kau memang luar biasa, George. Hanya saja kau butuh tempat yang tepat untuk bersinar," bisik Celestine.

​Mereka berdiri di sana untuk waktu yang lama, menikmati keheningan yang damai. Mawar salju di depan mereka terus berdiri tegak, menjadi saksi bisu atas sumpah tak terucap antara dua jiwa yang telah menaklukkan segala perbedaan demi sebuah harapan yang mekar di tengah gurun es dan matahari.

​Namun, di balik kegelapan malam, di perbatasan jauh Kerajaan Valley, sepasang mata merah dari balik jubah hitam mengawasi cahaya biru yang memancar dari kejauhan. Sebuah ancaman baru sedang mengintai, mengincar keajaiban yang baru saja lahir itu untuk tujuan yang jauh lebih gelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!