Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.
Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.
Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.
Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.
Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.
"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."
Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.
Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?
Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: KERIBUTAN DI PASAR MALAM
Beberapa hari setelah pertarungan dengan Pendekar Kipas Perak, suasana di Paviliun Bunga kembali tenang. Namun, bagi dua orang yang memiliki nasib tak biasa ini, kedamaian rasanya seperti barang langka.
"Hore! Akhirnya bisa keluar juga!" seru Lian Er dengan wajah berseri-seri. Ia melompat-lompat kecil di jalanan kota Chang An yang ramai.
Malam itu adalah malam pesta rakyat. Lampu-lampu lentera berwarna-warni bergelantungan di setiap sudut jalan, menerangi kerumunan orang yang sedang berbelanja dan bersenang-senang. Aroma makanan gurih dan manis berterbangan di udara, membuat perut langsung berbunyi.
"Dasar gadis kecil, lari saja tidak bisa pelan," gerutu Mo Fei sambil berjalan santai di belakangnya, tangannya tetap dimasukkan ke dalam lengan baju. Ia mengenakan pakaian yang lebih sederhana agar tidak terlalu mencolok, namun wajah tampannya tetap saja membuat beberapa gadis yang lewat menoleh dan tersipu malu.
"Kau ini tahu apa! Selama ini aku dikurung terus di istana! Hari ini aku mau makan sampai kenyang! Kau yang bayar lho!" teriak Lian Er sambil menunjuk sebuah gerobak penjual bakpao dan pangsit rebus.
"Iya-iya, yang penting jangan ribut-ribut," Mo Fei menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Ingat pesanku, kita keluar ini bukan buat jalan-jalan sembarangan. Aku ingin memantau situasi kota. Belakangan ini banyak pendekar asing yang berkeliaran."
"Tahu lah, tahu! Paling juga cari musuh! Sekarang makan dulu!"
Mereka akhirnya duduk di sebuah meja kayu panjang milik pedagang kaki lima. Dalam sekejap, piring di depan Lian Er sudah penuh dengan tumpukan bakpao daging dan pangsit. Ia makan dengan lahapnya, tidak peduli lagi dengan sopan santun seorang putri.
Mo Fei hanya tertawa melihatnya, sambil sesekali mengambil satu buah pangsit dan memakannya dengan santai. Matanya tetap waspada mengamati sekeliling.
"Hei... Mo Fei," ucap Lian Er dengan mulut penuh makanan. "Tadi si wanita cantik itu... Bai Yue namanya ya? Kenapa dia mau menangkapmu sih? Apa kau pernah berhutang sama dia?"
Mo Fei tersedak sedikit lalu tertawa kecil. "Bukan hutang uang, mungkin hutang nyawa atau hutang janji? Siapa tahu dulu aku pernah kenal dia di kehidupan sebelumnya, hahaha."
"Dasar sombong!" dengus Lian Er, tapi entah kenapa ada rasa sedikit tidak enak di hatinya melihat bayangan wanita cantik tadi. "Hmph, pokoknya dia jahat! Mukanya cantik tapi hatinya sedingin es!"
Tiba-tiba, tawa Mo Fei berhenti.
Senyum di wajahnya hilang perlahan. Tangannya yang sedang memegang pangsit berhenti di udara. Matanya tajam menatap ke arah sebuah gang sempit di seberang jalan.
"Putri..." bisik Mo Fei pelan.
"Ada apa lagi?" tanya Lian Er bingung.
"Makanannya enak kan? Tapi sepertinya... kita tidak bisa menghabiskannya dengan tenang," ucap Mo Fei.
Belum sempat Lian Er bertanya lagi, tiba-tiba suasana pasar yang tadinya riuh dan gembira berubah menjadi hening seketika.
Orang-orang berhenti bergerak. Pedagang berhenti bicara. Semua mata menatap ke arah ujung jalan dengan ketakutan.
Dari arah sana, datanglah sekelompok pria berjalan dengan langkah tegap dan angkuh. Mereka berjumlah sekitar dua puluh orang, semuanya mengenakan pakaian berwarna hijau gelap dengan lambang ular hijau di dada.
Di tengah mereka, berjalan seorang pria muda yang tampan namun wajahnya penuh kesombongan dan kekejaman. Rambutnya diikat tinggi, dan di pinggangnya terselip sepasang pedang kembar yang sarungnya berukiran naga hijau.
"Itu... Itu Qing Long, Putra Mahkota dari Sekte Ular Hijau!" bisik orang-orang dengan takut. "Duh, celaka! Kenapa dia bisa ada di sini?!"
Qing Long berjalan melewati kerumunan, orang-orang langsung menyingkir ketakutan seolah mereka adalah sampah. Matanya yang tajam menjelajahi tempat itu, hingga akhirnya berhenti tepat di meja tempat Mo Fei dan Lian Er duduk.
Wajah Qing Long langsung berubah menjadi masam dan penuh kebencian saat melihat Lian Er.
"Hah! Siapa yang kulihat ini? Bukankah itu Putri Kecil Kesayangan Kaisar?" seru Qing Long dengan suara keras dan mengejek. "Biasanya kau dikelilingi pengawal banyak, hari ini kok malah makan di tempat kotor begini sama cowok lusuh tidak jelas ini?"
Lian Er langsung berdiri, wajahnya memerah menahan amarah. "Kau berani menghina kami?! Qing Long, jangan cari masalah!"
"Mencari masalah? Aku hanya ingin mengajakmu bermain, Putri," Qing Long tersenyum menyeringai, matanya menatap Lian Er dengan pandangan yang sangat tidak sopan. "Ikut aku, aku akan memberimu kemewahan dan kekuatan. Tinggalkan bocah tidak berguna itu. Dia tidak pantas berdiri di sampingmu."
Mo Fei yang sedari tadi diam, perlahan meletakkan makanannya. Ia mengelap mulutnya dengan sapu tangan dengan sangat santai, seolah tidak mendengar penghinaan itu.
Lalu, ia berdiri perlahan.
Suasana menjadi sangat hening. Bahkan angin pun seakan berhenti berhembus.
Mo Fei melangkah maju selangkah, menatap lurus ke mata Qing Long.
"Telingaku kurang tajam nih," ucap Mo Fei dengan nada santai tapi dingin. "Boleh ulangi tidak? Tadi kau bilang... temanku siapa?"
Qing Long tertawa mengejek. "Hahaha! Kau dengar dia, kawan-kawan? Dia mau menantangku?! Bocah, lihat baju lusuhmu itu! Kau pikir kau siapa?! Aku adalah penerus Sekte Ular Hijau! Satu jentik jariku saja bisa membunuhmu!"
"Ah begitu," Mo Fei mengangguk-angguk seolah mengerti. "Jadi maksudmu... kau ingin mati hari ini?"
SYARRR!!!
Dua pedang kembar langsung terhunus bersamaan oleh Qing Long! Cahaya hijau memancar dari bilah pedang itu, membawa aroma racun yang mematikan.
"Bagus! Berani sekali kau! Karena kau sudah mengganggu kesenanganku, akan kubelah tubuhmu jadi dua! Serang!!"
Puluhan anak buah Sekte Ular Hijau langsung mengeluarkan senjata dan mengepung Mo Fei dan Lian Er.
Orang-orang berteriak panik dan lari menjauh untuk menyelamatkan diri. Pasar yang tadinya ramai kini berubah menjadi medan pertempuran dalam sekejap!
"Mo Fei! Hati-hati! Pedang mereka beracun!" teriak Lian Er siap bertarung juga.
Mo Fei tersenyum lebar, matanya berbinar penuh semangat.
"Tenang saja Putri. Orang yang berisik dan suka menghina... harus diberi pelajaran. Dan pelajaran hari ini... adalah tentang bagaimana cara menghargai orang lain."
Ia merapatkan lengan bajunya, ribuan jarum emas di dalamnya seakan bergetar tak sabar ingin beraksi.
"Qing Long... Terima kasih ya sudah datang. Tadi bakpaonya kurang pedas, mungkin darahmu bisa menambah rasanya."