NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Rahasia Yang Tersembunyi.

Begitu memasuki mansion yang megah itu, langkah Liora tiba-tiba berhenti seketika. Napasnya tercekat. Ada sesuatu—atau seseorang yang membuat tubuhnya membeku.

Tatapannya membesar, sulit berkedip.

Di ruang tengah yang luas, berdiri dua sosok pasangan paruh baya. Siluet tubuh mereka, cara mereka berdiri, bahkan aura kehadiran mereka… semuanya terlalu familiar. Terlalu dekat di hati. Terlalu mustahil untuk dilupakan.

Jantung Liora seakan melompat ke tenggorokan.

“Tante? Kenapa…?” tanya ketiga gadis yang mengikutinya, bingung melihat perubahan drastis pada raut wajah Liora.

Dua sosok itu perlahan menoleh.

Dan seketika

Deg.

Dunia Liora terasa seperti berhenti berputar. Waktu membeku.

Matanya langsung berkaca-kaca tanpa bisa ia cegah.

“…Ayah? Ibu?” suaranya keluar dalam bisikan gemetar, seolah dirinya sendiri tidak yakin sedang melihat kenyataan.

Air mata jatuh begitu saja, tanpa kendali.

“Sayang…” suara Heron terdengar lembut, dipenuhi kerinduan yang telah ia pendam lama.

“Putri ayah…” sambung Wilia, membuka kedua tangannya lebar-lebar dengan mata yang juga sudah basah.

Seolah seluruh logikanya runtuh, Liora berlari cepat, hampir tersandung oleh emosi sendiri, lalu memeluk kedua orang tuanya erat sekali—seakan takut jika ia melepaskan, mereka akan menghilang lagi.

“Hiks… ini tidak mungkin… ini mimpi, bukan? Atau ini kenyataan? Ayah… Ibu…” Ia menangis dalam sesenggukan yang pecah dari lubuk paling dalam.

“Sayang, ini nyata.” Heron mengusap kepalanya perlahan. “Ini ayah. Ini ibumu.”

“Kami minta maaf… putriku,” Wilia memeluknya sambil menangis sama derasnya.

Liora memejamkan mata, meresapi hangat tubuh mereka—hangat yang selama ini hanya bisa ia ingat dalam kenangan.

Tak lama kemudian, pintu belakang terdengar terbuka.

Tiga sosok laki-laki masuk: Victor, Albert, dan Sean.

“Kak…” panggil mereka hampir bersamaan, suara mereka lirih namun sarat arti.

Liora menoleh cepat, wajahnya dipenuhi keterkejutan baru.

“Kalian… apa semua ini…?”

Victor menarik napas panjang sebelum berkata, “Kak… ini memang benar Ayah dan Ibu. Ceritanya panjang…”

Albert ikut menjelaskan, “Saat itu… Ibu sebenarnya hampir ikut Ayah ke bandara. Tapi tiba-tiba Ibu merasakan sakit perut yang hebat. Ayah panik dan langsung membawanya ke rumah sakit untuk operasi darurat.”

Sean melanjutkan, “Dan tentang kecelakaan pesawat itu, Kak… semuanya hanya rekayasa. Berita itu disebarkan untuk menipu musuh Ayah.”

Liora terpaku, tubuhnya terasa ringan tapi juga sesak.

“Jadi… kalian semua… hidup? Selama ini… kalian tidak pernah benar-benar pergi?”

Victor mengangguk pelan. “Iya, Kak. Kami hanya disembunyikan. Semua ini rencana Leon, asisten Ayah.”

“Leon…?” Liora mengulang, nyaris tak percaya.

“Maafkan saya, Nona Liora,” suara seorang pria terdengar dari arah belakang.

Leon berdiri menunduk dalam, wajahnya dipenuhi rasa bersalah. “Semua tindakan itu… demi melindungi nyawa Tuan Heron dan Nyonya Wilia.”

Liora terdiam. Hatinya seperti diguncang badai.

“Aku… syok,” akhirnya ia berkata lirih. “Tapi… aku juga sangat lega…”

Ia mengangkat wajah.

“Kenapa kalian tidak langsung memberitahuku?” Liora menatap ketiga adiknya.

Victor mengusap lehernya gugup. “Kami ingin… sungguh kami ingin. Tapi Kakak baru saja kehilangan Adrian. Kami takut itu akan menghancurkan Kakak lebih dalam.”

Liora tidak menjawab. Matanya kembali berkaca-kaca, namun bukan oleh Kemarahan melainkan perasaan campur aduk yang sulit ia uraikan.

Tak lama, tiga gadis Viora, Viola, dan Viera datang membawa nampan berisi teh hangat dan kue kecil.

“Tante… silakan minum dulu,” kata Viera lembut.

Liora tersenyum tipis. “Terima kasih, sayang.”

Heron memandang putrinya dengan perhatian tajam seorang ayah yang mengenal setiap detail anaknya.

“Sayang… matamu bengkak sekali. Kamu sakit?”

Liora menggeleng pelan, senyumnya getir. “Aku hanya lelah, Ayah… terlalu banyak kesedihan yang aku simpan sendiri.”

Keheningan menyelimuti ruangan.

Heron mengelus kepala Liora dengan penuh kasih.

“Putri ayah yang dulu tegas, dingin, dan kuat… sekarang terlihat sangat rapuh.”

Liora menunduk. “Sikap itu hanya untuk dunia luar, Ayah…”

Ia menarik napas panjang.

“Di depan Ayah, Ibu, dan Adrian… aku tidak pernah benar-benar kuat.”

Tangisnya pecah lagi, lebih pelan tapi lebih mengiris.

Heron dan Wilia langsung memeluknya dari kedua sisi.

“Sayang kami…” bisik Wilia, suaranya bergetar oleh emosi.

Beberapa menit berlalu dalam pelukan hangat yang menenangkan jiwa. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Liora merasa benar-benar aman.

Setelah tangisnya mereda, Liora berkata lirih,

“Ayah… Ibu… aku bahagia kalian kembali. Tapi aku juga sedih… karena saat kita berkumpul lagi… Adrian sudah tidak ada.”

Hening menyelimuti ruangan.

“Aku mencintainya… lebih dari yang bisa kujelaskan. Dia satu-satunya orang yang mampu menembus dinding es di hatiku.”

Heron memeluknya lebih erat. “Sayang… ayah bangga. Kamu tetap berdiri meski kehilangan banyak.”

Liora mengangguk pelan. “Aku akan kuat. Demi Adrian.”

Ketiga gadis itu tiba-tiba menyela dengan polos, “Tante… kakek mirip sekali dengan ayah kami ya.”

Heron tertawa kecil. “Tentu saja. Kegantengan memang turunan keluarga.”

Semua tersenyum di tengah air mata yang masih tersisa.

Setelah suasana sedikit mencair, Heron kembali menatap Liora serius.

“Liora… selain untuk menenangkan diri, apa tujuanmu datang ke Amerika?”

Liora menghela napas, lalu menatap keluarganya satu per satu.

“Aku tidak hanya ingin beristirahat, Ayah. Aku juga mengurus perusahaan di sini. Dan… aku menjadi dosen di salah satu universitas.”

Semua langsung menunjukkan ekspresi terkejut.

“Aku bahkan mengajar di kelas keponakanku sendiri,” tambah Liora, sedikit tersenyum.

“Tapi itu bukan satu-satunya.”

Ia menatap lebih dalam.

“Aku juga ingin melindungi mereka.”

Suasana berubah kembali serius.

“Karena mereka adalah cucu dari Heron Wiliam Anderlecht.”

“Dan dunia kita… masih dipenuhi musuh yang belum mati.”

Heron terdiam cukup lama sebelum akhirnya tersenyum bangga.

“Putriku memang tidak pernah berubah… masih seperti dulu. Pelindung keluarga ini.”

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!