NovelToon NovelToon
Pawang Iblis Jalur Orang Dalam

Pawang Iblis Jalur Orang Dalam

Status: tamat
Genre:Iblis / Persahabatan / Slice of Life / Komedi / Tamat
Popularitas:840
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Bima cuma anak SMA sekolah sihir biasa yang mager-nya kebangetan. Pas ujian praktek manggil familiar (hewan peliharaan sihir), dia malah kepeleset, lidahnya keseleo, dan nggak sengaja ngebaca mantra terlarang. Bukannya dapet kucing terbang yang lucu, dia malah manggil Lucifer, salah satu petinggi iblis dari kerak neraka. Apesnya, kontrak sihir mereka permanen! Sekarang Bima harus rela kamarnya diacak-acak sama cowok emo bersayap kelelawar yang ternyata cepet banget adaptasi jadi wibu, kecanduan main PS5, dan doyan seblak level 5. Tapi jujur, lumayan sih buat disuruh ngerjain PR Matematika Sihir dan ngusir preman sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labrakan Ketua OSIS dan Diplomasi Seblak yang Berdarah-darah

Gue bener-bener nggak bisa fokus pas jam pelajaran terakhir. Pak Sumardi, guru Sejarah Sihir yang dahi dan kepalanya udah kayak lapangan golf, sibuk ngoceh soal Perang Iblis Ketiga yang terjadi ratusan tahun lalu. Padahal, di samping kaki gue, penyebab Perang Iblis itu lagi sibuk narik-narik tali sepatu gue di dalem tas.

"Bim, laper. Cacing di perut gue udah demo minta hak asasi," bisik suara cempreng dari balik resleting tas.

"Diem, Ci. Bentar lagi bel," sahut gue sambil pura-pura nulis catatan yang isinya cuma coretan abstrak nggak jelas.

"Diem-diem mulu lo. Muka lo tegang banget kayak mau disunat dua kali. Santai aja sih, cuma ketemu bocah ingusan yang sok jadi ketua OSIS itu kan?"

Gue nahan napas. Luci emang nggak ada beban hidup. Ya iyalah\, dia kan mantan penguasa neraka. Masalahnya\, yang bakal kena sanksi\, dikeluarin dari sekolah\, atau bahkan dijeblosin ke penjara sihir tuh gue\, bukan dia. Dia tinggal *poof* balik ke keraknya kalau suasana makin kacau\, lah gue? Gue cuma punya ijazah SMP dan kemampuan sihir yang seadanya banget.

*Kring!*

Bel bunyi. Suaranya yang melengking itu biasanya jadi musik paling indah di telinga gue, tapi hari ini kedengeran kayak lonceng kematian. Anak-anak lain langsung rebutan keluar kelas kayak ada bagi-bagi sembako gratis. Sementara gue, gue masih duduk, natap meja kayu yang penuh ukiran nama-nama alumni yang galau.

"Ayo, Bim! Jangan kayak siput kena garem gitu," Luci nongol dari tas, bentuknya masih kucing item kecil tapi matanya merah nyala.

"Lo bisa nggak sih, kalau nanti di sana, lo jangan banyak gaya? Jangan keluarin api, jangan keluarin sayap, dan tolong... jangan bikin dia mati," pinta gue memelas.

Luci muter bola matanya. "Tergantung. Kalau dia gantengnya ngalahin gue, mungkin gue khilaf."

Gue cuma bisa pasrah. Gue jalan ke arah tangga menuju atap sekolah. Tangga ini jarang banget dilewatin karena rumornya ada hantu penunggu yang suka narik kaki siswa, tapi jujur, gue lebih milih ditarik hantu daripada harus berhadapan sama Gery, Sang Ketua OSIS yang perfeksionisnya minta ampun.

Begitu gue buka pintu besi yang berderit itu, hawa dingin langsung nyamber muka gue. Padahal matahari sore lagi terik-teriknya, tapi di atap ini rasanya kayak masuk ke dalem kulkas.

Di sana, berdiri seorang cowok dengan seragam yang rapinya keterlaluan. Nggak ada lipatan sedikit pun di celananya. Rambutnya klimis, baunya wangi parfum mahal yang nyengat banget—tipe-tipe parfum cowok alfa yang kalau lo hirup kebanyakan bisa bikin asma. Gery.

Dia lagi berdiri ngebelakangin gue, natap pemandangan kota dari atas. Klasik banget gaya antagonis.

"Tepat waktu. Gue suka orang yang nggak buang-buang waktu gue," ucap Gery tanpa nengok. Suaranya berat, tipikal suara orang yang tiap pagi minum air zam-zam campur madu hutan.

Gue berdeham, nyoba buat kelihatan berani meskipun lutut gue udah tremor parah. "Langsung aja, Ger. Apa maksud surat itu? Rahasia apa yang lo maksud?"

Gery balik badan pelan-pelan. Dia senyum tipis, tapi senyumnya nggak nyampe mata. Di tangannya, dia lagi mainin sebuah bola kristal kecil yang terus muter-muter.

"Bima... Bima. Lo itu murid paling medioker di sekolah ini. Nilai praktek lo pas-pasan, nilai teori lo di bawah rata-rata, dan mager lo itu udah jadi legenda di kalangan guru. Tapi tiba-tiba, pas ujian praktek kemarin, ada lonjakan energi mana yang nggak masuk akal dari area lo. Energi yang baunya... nggak kayak sihir manusia."

Gue ngerasa tenggorokan gue kering. Gery jalan mendekat\, langkah sepatunya bunyi *tek-tek-tek* yang bikin jantung gue makin nggak karuan.

"Dan sekarang, lo bawa sesuatu di tas lo. Sesuatu yang punya aura gelap yang kental banget," lanjut Gery, matanya tajem banget natap tas gue.

Tiba-tiba, tas gue gerak-gerak. Sialan. Luci emang nggak bisa disuruh anteng.

"Aura gelap pala lo peyang!"

Tiba-tiba kepala Luci nongol dari tas gue. Dia nggak berubah jadi mode iblis tinggi besar, tetep kucing, tapi auranya... astaga, saking kuatnya, bola kristal di tangan Gery langsung retak.

Gery kaget setengah mati. Dia mundur dua langkah, mukanya yang tadinya sombong langsung pucat pasi. "Itu... itu bukan familiar biasa! Itu familiar kelas S! Dari mana murid kayak lo dapet makhluk kayak gitu?!"

"Bukan urusan lo, Mas-mas Parfum," celetuk Luci sambil lompat keluar dari tas dan duduk dengan santai di atas pembatas beton atap. "Gue cuma mau nanya satu hal. Lo punya seblak nggak? Kalau nggak punya, mending lo diem atau gue bikin seragam lo yang licin itu jadi lap pel."

Gue buru-buru nutup mulut Luci pake tangan. "Diem, Ci! Ger, dengerin dulu. Ini cuma salah paham. Gue nggak sengaja manggil dia pas ujian kemarin. Gue juga nggak mau kontrak sama iblis ini!"

"Iblis?!" Gery makin syok. "Lo... lo manggil makhluk dari Gehenna? Lo tau kan itu ilegal? Gue bisa laporin lo ke Dewan Sihir sekarang juga, Bim! Lo bakal dideportasi ke dimensi antah-berantah!"

Gery langsung ngangkat tangannya, siap-siap ngerapel mantra. Di sekelilingnya muncul lingkaran sihir warna biru cerah. Dia mau nyerang.

"Bim, boleh gue makan dia dikit? Bagian kakinya aja, biar nggak bisa lari?" Luci nanya sambil jilat-jilat tangannya, seolah-olah Gery itu cuma sepotong paha ayam goreng.

"Jangan! Luci, jangan!" teriak gue.

Tapi terlambat. Gery udah nembakin *Ice Bolt* ke arah gue. Serpihan es tajem meluncur cepet banget. Gue udah merem\, nunggu rasa sakit yang bakal dateng. Tapi ternyata\, nggak terjadi apa-apa.

Gue buka mata pelan-pelan. Luci berdiri di depan gue, cuma pake satu tangan (atau kaki kucingnya?) buat nahan semua es itu. Es-es itu langsung cair pas kena aura Luci.

"Woy, bocah," Luci suaranya berubah jadi berat, berwibawa, dan bikin bulu kuduk merinding. "Gue lagi laper, dan lo malah ngajak main es serut? Mau gue tunjukin cara bikin neraka di atap sekolah ini?"

Gery gemeteran. Lingkaran sihirnya pecah. Dia jatuh terduduk, keringet dingin ngucur dari jidatnya yang tadi kelihatan sombong. "S-siapa lo sebenarnya?"

"Nama gue terlalu suci buat disebut sama bibir lo yang bau lipgloss itu," sahut Luci balik ke mode santainya. Dia nengok ke gue. "Bim, si cupu ini kayaknya udah kicep. Gimana kalau kita bikin kesepakatan?"

Gue nyamperin Gery yang masih lemes. Sejujurnya, gue agak kasihan, tapi gue juga kesel. Dia udah intimidasi gue pake surat rahasia itu.

"Ger, dengerin gue," kata gue sambil jongkok di depan dia. "Gue nggak mau cari masalah. Gue cuma mau lulus sekolah dengan tenang. Kalau lo laporin gue, gue nggak bakal tinggal diem. Iblis ini... dia susah dikontrol. Kalau dia ngamuk, satu sekolah bisa ilang dari peta. Lo mau tanggung jawab?"

Gery natap gue, terus natap Luci yang lagi asik garuk-garuk telinga pake kaki belakangnya. Kontras banget antara aura membunuh tadi sama kelakuan kucing oren-item ini.

"Apa... apa mau lo?" tanya Gery gagap.

Gue mikir sebentar. Hmm, kesempatan emas nih. "Pertama, tutup mulut lo soal Luci. Kedua, rahasia ini tetep di antara kita bertiga. Ketiga... lo tau kan nilai Matematika Sihir gue anjlok?"

Gery ngerutin kening. "Lo mau gue bocorin soal ujian?"

"Nggak usah sejauh itu. Gue cuma mau lo jadi tutor gue. Biar nilai gue nggak bikin malu-malu amat. Dan... oh ya, satu lagi." Gue lirik Luci yang udah pasang muka melas. "Lo punya link pesenan seblak yang paling enak di kota ini? Dan tentu saja, lo yang bayar."

Gery bengong. Kayaknya dia nggak nyangka kalau ancaman dari "Pawang Iblis" kelas kakap bakal berakhir dengan permintaan tutor matematika dan seblak gratis. Tapi demi keselamatan nyawanya (dan reputasinya sebagai Ketua OSIS yang nggak mau sekolahnya rata ama tanah), dia cuma bisa ngangguk pasrah.

"O-oke. Deal," ucap Gery pelan.

Luci langsung lompat ke pundak gue. "Nah, gitu dong! Gitu namanya diplomasi yang sehat. Gery, lo lumayan juga. Nanti gue kasih tips cara dapet aura keren tanpa harus pake parfum satu botol."

Gery cuma bisa diem, mukanya masih syok. Gue berdiri, ngerasa beban di pundak gue agak sedikit berkurang, meskipun sekarang gue resmi punya "babu" baru yang menjabat sebagai ketua OSIS.

Pas kita mau turun, Luci bisik ke kuping gue. "Bim, seblaknya jangan lupa level 5 ya. Kalau bisa tambahin ceker sama tulang."

Gue cuma bisa ngelus dada. Baru bab 10, gue udah berhasil meras Ketua OSIS pake bantuan Iblis wibu. Gue nggak tau masa depan gue bakal gimana, tapi yang jelas, malem ini gue bakal makan enak tanpa perlu nguras tabungan gue yang isinya cuma recehan.

"Bim, lo tau nggak?" kata Luci pas kita udah di tangga.

"Apaan?"

"Tadi pas gue nahan es si Gery, gue sebenernya lagi nahan kentut. Aura gue jadi kelihatan keren karena kecampur gas beracun dari perut gue. Mujur banget tuh si Gery nggak pingsan karena baunya."

Gue berhenti melangkah. Gue natap Luci dengan tatapan kosong. "Luci... serius, lo itu iblis paling nggak ada harga dirinya yang pernah ada."

"Tapi lo sayang kan? Ayo cepet, seblaknya keburu tutup!"

Gue narik napas dalem-dalam, lanjut jalan turun. Sekolah sihir ini mungkin penuh dengan misteri dan bahaya, tapi kayaknya tantangan terberat gue bukan ngelawan naga atau penyihir hitam, melainkan gimana caranya biar iblis di pundak gue ini nggak malu-maluin gue lebih jauh lagi.

Satu hal yang gue pelajari hari ini: jalur orang dalam itu emang sakti, apalagi kalau orang dalemnya itu penguasa neraka yang doyan makanan pedas.

1
Umi Saadah
seruuuu
Syruuu: aaaaa makasihhhh kalau kakak sukaaa❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!