Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Penghakiman di Aula Utama dan Bangkitnya Stempel Leluhur
Matahari pagi bersinar terik menyinari jalanan Kota Daun Gugur, namun tidak mampu mengusir hawa dingin yang menguar dari sosok pemuda berjubah abu-abu yang melangkah membelah keramaian. Lin Tian tidak lagi repot-repot menggunakan jalur sempit atau menyembunyikan auranya. Langkahnya tenang, ritmis, dan setiap pijakannya memancarkan keyakinan mutlak yang membuat para penduduk biasa secara naluriah menyingkir dari jalannya.
Tujuannya hanya satu: Gerbang Utama Klan Lin.
Di depan gerbang yang terbuat dari kayu besi merah yang megah, enam penjaga elit Klan Lin berdiri dengan postur arogan. Mereka semua berada di Pengumpulan Qi Tingkat 4. Ketika mereka melihat sosok Lin Tian berjalan mendekat, beberapa dari mereka menyipitkan mata, lalu tertawa meremehkan.
"Hei, lihat siapa yang berani kembali! Bukankah itu Tuan Muda Sampah kita?" seru komandan penjaga, menyilangkan tombaknya untuk memblokir jalan. "Kudengar sejak kemarin kau menghilang bersama ayah lumpuhmu. Kepala Klan sudah mengeluarkan perintah penangkapan. Menyerahkan diri secara sukarela? Setidaknya kau tahu diri."
Lin Tian menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan ujung tombak mereka. Sepasang matanya menatap keenam penjaga itu bagaikan memandang sekumpulan mayat yang sudah membeku.
"Minggir. Aku tidak punya waktu untuk mengurus anjing penjaga," ucap Lin Tian dengan nada suara yang sangat datar, namun mengandung tekanan spiritual yang membuat udara di sekitar mereka terasa berat.
Komandan penjaga itu merasa terhina. Wajahnya memerah. "Mencari mati! Tangkap dia dan patahkan kedua kakinya!"
Keenam penjaga itu serentak menusukkan tombak mereka, mengalirkan Qi untuk mengunci segala arah pelarian Lin Tian. Secara logika, seorang kultivator tingkat bawah tidak mungkin bisa menghindari formasi serangan serentak ini.
Namun, di mata Lin Tian, kecepatan tombak-tombak itu lambat seperti siput yang merayap.
Ia tidak mundur. Alih-alih menghindar, ia melangkah maju menyongsong ujung tombak tersebut. Menggunakan prinsip dasar dari Seni Pedang Ilusi Pemutus Bayangan, tubuhnya berkelebat meninggalkan bayangan abu-abu di tempat asalnya.
Trang! Trang! Trang!
Hanya dengan sapuan punggung tangannya yang telah dilapisi Qi Primordial yang sekeras baja, keenam bilah tombak itu patah berkeping-keping. Sebelum para penjaga itu sempat bereaksi terhadap hancurnya senjata mereka, bayangan Lin Tian telah melewati mereka.
Brak! Dua tinju Lin Tian menghantam dada dua penjaga terdepan. Suara tulang rusuk yang remuk terdengar nyaring. Gelombang kejut dari pukulan itu menyapu empat penjaga lainnya, melempar mereka ke udara hingga menabrak dinding batu dan memuntahkan darah segar. Seluruh proses pertarungan itu terjadi kurang dari dua detik. Kemutlakan kekuatan fisik Tubuh Pedang Kekacauan berbicara tanpa kompromi.
Lin Tian tidak menoleh ke belakang. Ia berdiri di depan gerbang kayu besi merah setebal setengah meter yang tertutup rapat. Ia menarik napas panjang, memutar energi di Dantiannya, dan melancarkan satu tendangan lurus tanpa teknik yang berlebihan.
BOOM!
Gerbang raksasa yang diklaim mampu menahan serangan siluman tingkat tinggi itu meledak ke dalam. Serpihan kayunya meluncur bagaikan badai peluru, menghancurkan pelataran depan klan dan memicu jeritan panik dari para pelayan di sekitarnya.
Sementara itu, di dalam Aula Utama Klan Lin, suasana sedang sangat tegang.
Kepala Klan Lin Kuang duduk di kursi kebesaran berlapis kulit harimau, wajahnya gelap seperti badai. Di sisi kiri dan kanannya, selusin Tetua Klan duduk dengan ekspresi cemas.
"Sudah dua belas jam dan Tabib Lin Hua belum juga ditemukan! Begitu pula dengan pengawal elit yang mengikutinya!" Lin Kuang menggebrak meja batu giok di depannya hingga retak. "Dan sekarang, Lin Zhen dan sampah kecil itu juga lenyap dari gubuk mereka! Apakah intelijen klan ini dipenuhi oleh orang-orang buta?!"
Seorang Tetua Pertama bangkit dengan ragu-ragu. "Kepala Klan, mungkinkah faksi lama pendukung Lin Zhen secara diam-diam menyelundupkan mereka keluar kota? Jika mereka berhasil mencapai Ibukota Kekaisaran dan melapor ke otoritas..."
"Omong kosong!" potong Lin Kuang. "Semua pendukung faksi lama sudah kubuang ke tambang batu bara! Tidak mungkin ada yang berani membantu mereka. Aku lebih khawatir tentang Stempel Kepala Klan..."
Kata-kata Lin Kuang terhenti seketika.
Sebuah ledakan dahsyat terdengar dari arah gerbang depan, mengguncang seluruh bangunan Aula Utama. Debu merayap masuk melalui celah pintu. Semua tetua serempak berdiri, menarik senjata spiritual mereka.
"Siapa yang berani menyerang Klan Lin di siang bolong?!" raung Lin Kuang, melepaskan aura puncak Tahap Inti Emasnya yang menekan seluruh isi ruangan.
Pintu ganda Aula Utama ditendang terbuka dengan kasar. Sinar matahari dari luar menyorot masuk, memperlihatkan siluet seorang pemuda yang berjalan menembus debu. Di tangannya, ia menyeret kerah baju salah satu penjaga yang sudah pingsan, lalu melemparkannya ke tengah ruangan layaknya melempar karung sampah.
"Kau mencariku, Lin Kuang?" suara sedingin es abadi bergema ke setiap sudut aula.
Mata Lin Kuang membelalak. Para tetua klan tersiap.
"Lin Tian?!" seru Lin Kuang tak percaya. Namun, ketidakpercayaannya segera tergantikan oleh keterkejutan yang lebih dalam ketika ia merasakan fluktuasi energi di sekitar pemuda itu. "Pengumpulan Qi Tingkat 7?! Bukankah meridianmu sudah hancur total?!"
Lin Tian berjalan perlahan menuju tengah aula, sama sekali tidak terpengaruh oleh aura Inti Emas milik Lin Kuang. "Meridianku mungkin pernah hancur. Tapi ambisimu yang buta tidak akan pernah memiliki fondasi. Tiga tahun kau menyiksa ayahku, meracuninya dengan Parasit Yin, dan bersekongkol dengan Sekte Pedang Surgawi untuk mengkudeta posisi sahnya. Hari ini, aku datang untuk menagih utang darah itu."
"Kurang ajar!" teriak Tetua Kedua yang merupakan kaki tangan setia Lin Kuang. "Hanya dengan Pengumpulan Qi Tingkat 7 kau berani bersikap arogan di depan Kepala Klan dan puluhan ahli? Penjaga! Cincang pengkhianat ini!"
Namun, Lin Kuang mengangkat tangannya, menghentikan para penjaga yang hendak masuk. Ia tertawa sinis, sebuah tawa yang dipenuhi rasa superioritas logis.
"Hahaha! Aku akui, kau mungkin mendapatkan semacam warisan misterius untuk memulihkan kultivasimu. Kau bahkan bisa menembus Tingkat 7 dalam waktu singkat. Jenius? Mungkin. Tapi kau sangat bodoh, Lin Tian!" Lin Kuang melangkah turun dari podium. Aura Inti Emasnya menyala, membentuk proyeksi bayangan harimau api di belakangnya. "Tingkat 7 hanyalah semut di hadapan Inti Emas! Kau mengantarkan nyawamu sendiri kemari!"
Secara matematis, perbedaan kekuatan antara Pengumpulan Qi dan Inti Emas adalah dua batas alam besar. Itu adalah jurang absolut yang tidak bisa diseberangi oleh bakat apa pun. Lin Kuang memiliki alasan rasional untuk meremehkan Lin Tian.
Lin Tian tidak membantah. Ia justru menyetujui logika tersebut. "Kau benar. Melawan ahli Inti Emas secara frontal di usia remajaku saat ini adalah tindakan yang menyalahi akal sehat."
Lin Tian perlahan merogoh saku jubahnya.
"Namun, di dalam Klan Lin, kekuatan pribadi bukanlah satu-satunya bentuk kekuasaan."
Ia menarik tangannya, mengangkat sebuah kotak timah kecil yang telah ia buka. Di dalamnya, bertengger sebuah stempel batu giok putih susu dengan ukiran kepala harimau yang memancarkan aura elemen angin yang sangat agung.
Melihat benda itu, wajah Lin Kuang seketika pucat pasi. Matanya melotot seolah melihat hantu. Seluruh Tetua Klan menahan napas serentak.
"S-Stempel Kepala Klan?!" teriak Tetua Pertama dengan suara bergetar.
"Artefak pembangun fondasi... Stempel yang asli!"
Wajah Lin Tian berubah sekeras batu pualam. Tanpa ragu, ia menggigit ujung jarinya dan meneteskan setetes darah murninya ke atas stempel tersebut. Tubuh Pedang Kekacauan miliknya memiliki kemurnian garis keturunan leluhur Lin yang melampaui batas. Begitu darahnya terserap, stempel giok itu meledakkan pilar cahaya putih yang melesat menembus atap aula, menyambung langsung ke langit.
Seketika, seluruh tanah di kompleks Klan Lin bergetar hebat. Jaringan urat bumi di bawah mereka menyala terang, membentuk ribuan simbol formasi kuno yang melayang di udara. Ini adalah Formasi Penekan Leluhur, sebuah susunan pertahanan pamungkas yang dibangun oleh pendiri klan, yang hanya tunduk pada pemegang stempel asli.
"Lin Kuang," suara Lin Tian menggema, diperkuat oleh kekuatan formasi klan, terdengar seperti dewa penghakiman. "Berdasarkan hukum leluhur, mereka yang mengkudeta kepemimpinan tanpa stempel yang sah adalah pengkhianat yang harus dihukum mati!"
Lin Tian mengarahkan telunjuknya ke arah Lin Kuang.
Wush!
Simbol-simbol cahaya formasi di langit-langit aula langsung merosot turun bagaikan air terjun, membentuk puluhan rantai energi spiritual raksasa yang langsung melilit tubuh Lin Kuang.
"Tidaaak! Lepaskan aku!" Lin Kuang meraung, meledakkan seluruh energi Inti Emasnya untuk melawan.
Namun, formasi ini didesain khusus untuk menekan siapa pun di dalam wilayah klan yang berani melawan pemegang stempel. Rantai energi itu menyerap dan menekan sirkulasi Qi Lin Kuang secara paksa. Dalam hitungan detik, aura puncak Inti Emas Lin Kuang menyusut drastis, jatuh ke Tahap Pendirian Yayasan, lalu terus ditekan hingga ia hanya setara dengan kultivator di alam yang sama dengan Lin Tian—Pengumpulan Qi Tingkat 7.
Kepanikan absolut kini tergambar jelas di wajah arogan pria paruh baya itu. Jurang perbedaan kekuatan yang ia banggakan telah dihapus secara paksa dan logis oleh otoritas formasi leluhur.
Lin Tian dengan santai menarik belati berukir rune dari pinggangnya. Aura abu-abu pekat dari Mutiara Primordial mulai menyelimuti ujung bilahnya, memancarkan niat membunuh yang murni dan mematikan.
"Kau bilang Inti Emas adalah jurang yang tidak bisa kuseberangi," ucap Lin Tian, melangkah mendekat sementara Lin Kuang berjuang keras menahan tekanan rantai formasi. "Sekarang kita berada di tanah yang datar. Mari kita lihat, apakah 'Kepala Klan' yang agung ini bisa menahan satu tebasan dari seorang sampah yang pernah ia buang."
Hawa dingin menyapu seluruh aula. Hari ini, garis keturunan Klan Lin akan ditulis ulang dengan darah.