NovelToon NovelToon
MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
​Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
​Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
​Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
​Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Pembedahan Anatomis Sang Dewa

​Jauh di bawah tanah Menara Naga di Kunlun, sebuah fasilitas riset dan pengembangan (R&D) berskala raksasa beroperasi dengan tingkat kebisingan yang nyaris nol. Tempat ini adalah perpaduan gila antara laboratorium sains fana dan ruang alkemi kultivasi tingkat tinggi. Dinding-dindingnya terbuat dari paduan obsidian dan baja titanium, dipenuhi oleh layar holografik yang menampilkan ribuan baris data analitik spiritual.

​Di tengah ruangan, di atas meja operasi antigravitasi, terbaring empat mayat bersayap naga milik Utusan Darah dari Alam Atas yang sebelumnya dihancurkan Arya di bumi. Mayat-mayat itu telah dibekukan menggunakan Qi es murni untuk mencegah dekomposisi energi.

​Arya Permana berdiri di sisi meja. Ia mengenakan jas laboratorium putih bersih di atas kemejanya. Matanya yang keemasan memindai struktur biologis makhluk di hadapannya dengan ketelitian tingkat subatomik. Di seberangnya, Penilai Chen—yang kini menjabat sebagai Kepala Divisi Rekayasa Bio-Spiritual Dragon Corp—berdiri dengan tangan gemetar memegang instrumen pembedah.

​"Struktur epidermis mereka mengandung rasio logam spiritual yang tinggi, membuat mereka kebal terhadap peluru fana," gumam Arya, mencatat observasinya secara logis. Ia mengangkat tangan kanannya. Sebuah pisau bedah yang murni terbuat dari Qi Inti Emas Naga Leluhur bermanifestasi di ujung telunjuknya.

​Tanpa ragu, Arya menggores dada salah satu mayat utusan itu. Kulit bersisik yang diklaim tak bisa ditembus artileri militer itu terbelah dengan mulus seperti mentega panas.

​"Perhatikan rongga dadanya, Penilai Chen," perintah Arya datar.

​Chen mencondongkan tubuhnya, menatap ke dalam tubuh mayat itu. Ia tersentak kaget. "Tuan Arya! M-Mereka tidak memiliki jantung! Apa... apa benda kristal merah yang berdenyut di sana itu?"

​"Itu adalah Inti Buatan (Artificial Core)," Arya menjelaskan, membedah struktur energi benda tersebut. "Mereka bukan dewa. Mereka bahkan bukan makhluk hidup alami. Mereka adalah drone biologis—senjata organik yang direkayasa menggunakan sisa-sisa DNA naga kuno dan dikendalikan secara nirkabel oleh Dewa Naga Darah melalui frekuensi Qi tertentu."

​Arya mengekstrak kristal merah itu dari tulang belakang mayat, membiarkannya melayang di udara.

​"Jika mereka mengandalkan frekuensi eksternal untuk berfungsi," Arya menyeringai tipis, sebuah senyum kalkulatif yang mengerikan, "maka secara teori jaringan, kita bisa meretas sinyal tersebut. Jika kita mengirimkan resonansi Qi pembalik—sebuah malware spiritual—melalui frekuensi yang sama, kita bisa melumpuhkan seluruh pasukan Alam Atas dari jarak jauh tanpa perlu menebas mereka satu per satu."

​Penilai Chen menelan ludah. "Meretas... dewa? Tuan, itu adalah pemikiran yang benar-benar menentang hukum alam!"

​"Hukum alam ada untuk dioptimalkan," jawab Arya. "Chen, gunakan seluruh tungku alkemi dan mesin fabrikasi di fasilitas ini. Produksi seratus ribu 'Bom Resonator Anti-Dewa' berdasarkan cetak biru frekuensi kristal ini. Pasang bom-bom itu pada hulu ledak misil bumi dan kapal udara Kunlun. Aku ingin sistem pertahanan udara kita selesai dalam waktu tujuh puluh dua jam."

​"B-Baik, Tuan! Saya akan menggerakkan seluruh alkemis di akademi sekarang juga!" Chen membungkuk dalam-dalam dan segera berlari menuju stasiun kerjanya.

​Tepat setelah Chen pergi, pintu otomatis laboratorium terbuka. Nona Feng melangkah masuk dengan langkah cepat, hak sepatunya berketuk tajam di lantai logam.

​"Tuan Arya," lapor Nona Feng, berdiri tegap. "Ada perkembangan taktis di permukaan. Pemimpin dari tiga sekte pemberontak yang tersisa—Sekte Pedang Petir, Istana Awan Putih, dan Lembah Teratai Es—telah tiba di depan gerbang Menara Naga."

​Arya melepaskan jas laboratoriumnya dan mencuci tangannya di wastafel sterilisasi tanpa menoleh. "Apakah embargo ekonomi kita sudah membuat mereka kelaparan hingga mereka datang untuk melakukan serangan bunuh diri?"

​"Bukan serangan, Tuan," suara Nona Feng terdengar sedikit ragu karena takjub. "Mereka datang tanpa senjata. Mereka melepas mahkota sekte mereka dan berlutut di pelataran utama. Laporan intelijen kami menyebutkan bahwa mereka telah menyaksikan atau merasakan gelombang kejut dari pertarungan Anda menembus dimensi saat melawan Dewa Naga Darah. Mereka menyadari bahwa musuh sejati akan segera turun dari langit."

​Arya mengeringkan tangannya. "Mereka datang untuk menyerah."

​"Lebih tepatnya, mereka memohon Aliansi Antar-Dimensi, Tuan. Mereka ingin berlindung di bawah sayap Naga Leluhur saat Kiamat Alam Atas terjadi."

​Arya merapikan kemejanya. Senyum rasional kembali menghiasi wajahnya. "Sebuah korporasi yang sedang bersiap menghadapi perang besar selalu membutuhkan lebih banyak prajurit infanteri tingkat rendah (cannon fodder). Mari kita temui calon karyawan baru kita."

​Di pelataran obsidian di depan Menara Naga.

​Ribuan murid dari tiga sekte besar Kunlun berbaris rapi dengan kepala tertunduk. Di barisan paling depan, tiga Master Sekte—tokoh-tokoh legendaris yang masing-masing berada di Ranah Inti Emas Tahap Awal dan Menengah—berlutut di atas batu yang dingin. Harga diri mereka sebagai penguasa Kunlun telah sepenuhnya diremukkan oleh realitas perbedaan kekuatan absolut.

​Pintu utama Menara Naga yang terbuat dari paduan logam spiritual bergeser terbuka.

​Arya Permana melangkah keluar, diikuti oleh Elena dan Nona Feng di kedua sisinya. Hawa keberadaan Arya kini tidak lagi disembunyikan. Aura Inti Emas Naga Leluhur memancar keluar, menekan gravitasi di seluruh pelataran hingga membuat ketiga Master Sekte itu semakin menunduk, kesulitan untuk sekadar bernapas.

​Pemimpin Sekte Pedang Petir, seorang pria paruh baya dengan pedang patah di punggungnya, memberanikan diri untuk bersuara.

​"Yang Mulia Arya Permana... Kaisar Kunlun," suaranya bergetar penuh penghormatan dan ketakutan. "Kami memohon ampun atas kesombongan kami di masa lalu. Kami datang untuk menyerahkan seluruh pusaka, tanah, dan murid sekte kami. Kami memohon agar kami diizinkan bergabung dalam pasukan Anda untuk menghadapi invasi Alam Atas."

​Pemimpin Istana Awan Putih, seorang wanita tua yang anggun, ikut mengangguk. "Langit Kunlun akan segera robek. Hanya Anda yang memiliki kekuatan untuk memukul mundur para dewa palsu itu."

​Arya berdiri menatap ketiganya. Ia tidak menunjukkan kepuasan arogan atau sikap pahlawan yang pemaaf. Matanya hanya memancarkan efisiensi seorang penguasa tatanan baru.

​"Aliansi adalah istilah yang digunakan oleh dua pihak yang memiliki kekuatan setara," suara Arya menggelegar tenang, memecah kesunyian pelataran. "Di hadapanku, kalian tidak memiliki modal apa pun untuk menawarkan aliansi."

​Ketiga Master Sekte itu memucat. Keringat dingin mengucur deras. Apakah iblis ini akan mengeksekusi mereka semua di sini?

​"Namun," lanjut Arya, memutar keadaan secara metodis, "Dragon Global Corp selalu terbuka untuk akuisisi penuh. Jika kalian ingin berlindung di balik perisaiku, kalian harus menandatangani Kontrak Jiwa Korporat."

​Arya menjentikkan jarinya. Nona Feng melangkah maju, membagikan tiga gulungan perkamen yang memancarkan segel hukum spiritual berwarna emas.

​"Mulai detik ini, sekte kalian dibubarkan. Semua properti adalah milik perusahaan. Tidak ada lagi murid, yang ada hanyalah Pasukan Divisi Infanteri. Kalian bertiga akan diturunkan jabatannya menjadi Komandan Lapangan. Pembangkangan sekecil apa pun akan langsung membakar jiwa kalian hingga menjadi abu," Arya membacakan Syarat dan Ketentuan secara taktis.

​"Tanda tangani dengan darah kalian, atau silakan pulang dan tunggu sampai dewa-dewa Alam Atas menjadikan kalian pupuk."

​Ketiga tokoh legendaris itu saling berpandangan. Tidak ada pilihan logis lain. Bertahan berarti kematian absolut; menyerah kepada Arya berarti menjadi budak korporasi, namun setidaknya mereka hidup dan berada di bawah lindungan kekuatan terkuat di alam semesta saat ini.

​Tanpa ragu lagi, ketiga Master Sekte itu menggigit jari mereka dan menempelkan cap darah di atas perkamen tersebut.

​[Ding! Akuisisi Tiga Sekte Besar Selesai.]

[Populasi Pasukan Bertambah: 300.000 Kultivator.]

[Pencapaian Tidak Terkunci: Monopoli Dimensi Kunlun (100%).]

​Gulungan itu terbakar menjadi cahaya keemasan yang masuk ke dalam dahi mereka, menandai kepatuhan absolut yang tidak bisa dikhianati.

​Arya mengangguk pelan. "Selamat bergabung di Dragon Corp. Elena, distribusikan seragam taktis standar dan persenjatai mereka dengan senapan spiritual yang sudah dipasangi peluru malware resonansi. Waktu istirahat sudah habis."

​Tiba-tiba, langit Kunlun di atas mereka berubah warna. Dua bulan kembar yang biasanya bersinar tenang kini tertutup oleh kabut berwarna merah kehitaman. Suara gemuruh dari tabrakan lempeng dimensi terdengar memekakkan telinga, menciptakan gempa lokal yang mengguncang seluruh daratan.

​Retakan raksasa, jauh lebih besar dari yang muncul di Puncak Darah, perlahan robek di cakrawala. Dari balik retakan itu, siluet armada kapal perang kosmik yang terbuat dari tulang naga mulai menampakkan wujudnya.

​Invasi skala penuh dari Dewa Naga Darah akhirnya tiba.

​Arya menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung. Ia menatap lautan armada dewa yang turun dari langit dengan seringai yang menyiratkan tantangan murni.

​"Mereka datang," bisik Arya, matanya menyala keemasan. "Seluruh unit. Bersiap untuk Pemutusan Hubungan Kerja massal."

1
T28J
hadiir 👍
Aisyah Suyuti
menarik
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!