NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Putri Terbuang: Pelayan Itu Ternyata Suamiku

Reinkarnasi Putri Terbuang: Pelayan Itu Ternyata Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Putri asli/palsu / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
​Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
​Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
​"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
​Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: RACUN DALAM CANGKIR KRISTAL

​"Sepuluh tahun, Nerina. Sepuluh tahun kami memberimu tempat berteduh, dan sekarang kamu ingin membantah keputusan Ayah hanya karena masalah sepele seperti jadwal fitting baju?"

​Suara berat Elyas Lynn menggema di ruang kerja yang dipenuhi aroma kayu mahoni dan cerutu mahal. Pria itu tidak menatap Nerina; ia sibuk menandatangani beberapa dokumen, pena emasnya bergerak dengan irama yang angkuh.

​Nerina berdiri di tengah ruangan, tangannya terlipat dengan anggun di depan tubuh. Di kehidupan sebelumnya, nada bicara seperti itu akan membuatnya gemetar dan segera bersujud memohon maaf. Namun sekarang, ia hanya merasa sedang menonton sebuah pertunjukan teater yang buruk.

​"Aku tidak membantah, Ayah," sahut Nerina, suaranya tenang, nyaris datar. "Aku hanya mengatakan bahwa Andrew bisa pergi lebih dulu. Aku ingin memastikan dokumen audit bulanan perusahaan yang aku kelola sudah rapi sebelum aku fokus pada urusan pernikahan."

​Elyas menghentikan gerakan penanya. Ia mendongak, menatap Nerina dengan mata yang menyipit. "Audit? Sejak kapan kamu begitu peduli pada hal teknis? Bukankah tugasmu hanya memastikan laba tetap stabil?"

​"Justru karena aku peduli pada laba, aku ingin memeriksa semuanya kembali," Nerina tersenyum tipis. "Bukankah Ayah yang bilang bahwa keluarga Lynn tidak boleh membiarkan satu sen pun terbuang sia-sia?"

​Elyas terdiam sejenak, lalu mendengus. "Baguslah kalau kamu sadar diri. Tapi jangan biarkan Andrew menunggu terlalu lama. Keluarga Fidelis adalah kunci ekspansi kita di sektor pelabuhan. Jangan merusak rencana itu dengan sikap keras kepalamu."

​"Tentu, Ayah. Rencana Ayah adalah prioritasku," jawab Nerina dengan penekanan tersembunyi pada kata 'prioritas'.

​Saat Nerina berbalik untuk keluar, pintu ruangan terbuka. Anora Lynn masuk dengan langkah terburu-buru, wajahnya tampak lebih cerah dari biasanya—binar yang Nerina tahu persis apa artinya.

​"Elyas! Baru saja ada kabar dari informan kita di perbatasan!" Anora berseru, hampir mengabaikan keberadaan Nerina. Namun kemudian ia berhenti dan menatap anak angkatnya itu dengan pandangan yang sulit diartikan. "Oh, Nerina, kamu masih di sini? Kupikir kamu sudah pergi bersama Andrew."

​"Aku baru saja akan pergi, Ibu," jawab Nerina. Ia memperhatikan bagaimana tangan Anora sedikit gemetar karena kegembiraan.

​Dia sudah tahu, batin Nerina. Mereka sudah menemukan jejak Elysia.

​"Bagus, pergilah. Dan... Nerina?" Anora mendekat, mengusap pipi Nerina dengan jemari yang terasa sedingin es. "Apapun yang terjadi nanti, ingatlah bahwa kami selalu memberikan yang terbaik untukmu. Jangan pernah lupakan itu."

​"Aku tidak akan pernah melupakannya, Ibu. Sedetik pun tidak," sahut Nerina, menatap langsung ke dalam mata Anora hingga wanita itu sedikit memalingkan wajah.

​Nerina melangkah keluar dari ruang kerja, menyusuri koridor panjang yang dihiasi lukisan-lukisan minyak leluhur keluarga Lynn. Di ujung koridor, ia melihat sosok tinggi tegap yang sedang berdiri dalam posisi istirahat yang sempurna.

​Ergino.

​Pria itu segera membungkuk saat Nerina mendekat. "Mobil Anda sudah siap di depan, Nona Aralynn."

​Nerina berhenti tepat di sampingnya. Ia tidak menatap jalan keluar, melainkan menatap profil samping wajah Ergino yang tajam. "Kamu mendengar semuanya, Gino?"

​"Tugas saya adalah berada di tempat yang dibutuhkan, Nona. Mendengar terkadang menjadi bagian dari paket pekerjaan itu," sahut Ergino tanpa ekspresi.

​"Lalu, apa pendapatmu tentang 'informasi dari perbatasan' yang membuat Ibuku begitu bersemangat?"

​Ergino menoleh sedikit, matanya yang kelam bertemu dengan mata Nerina. "Saya rasa, badai yang saya katakan tadi malam mungkin akan tiba lebih cepat dari perkiraan cuaca, Nona."

​Nerina terkekeh pelan. "Kalau begitu, aku butuh payung yang sangat kuat. Atau mungkin, sebuah kapal yang tidak bisa tenggelam."

​"Atau mungkin," sela Ergino, suaranya merendah hingga hanya bisa didengar oleh Nerina, "Anda hanya perlu membiarkan mereka tenggelam sementara Anda berdiri di dermaga."

​Nerina terdiam sejenak, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut pria yang di masa depan akan meratapi kematiannya itu. Ia kemudian melangkah menuju pintu utama, di mana sebuah mobil sedan hitam mewah sudah menunggu.

​Saat ia akan masuk ke mobil, Nero tiba-tiba muncul dari arah taman, wajahnya tampak gusar.

​"Nerina! Tunggu!" Nero mencekal pintu mobil sebelum Nerina bisa menutupnya. "Apa-apaan ini? Andrew meneleponku lagi, dia bilang kamu mematikan ponselmu?"

​Nerina menghela napas, menatap kakak angkatnya itu dengan bosan. "Aku sedang bicara dengan Ayah, Kak. Ponselku mati karena kehabisan daya. Kenapa Andrew begitu dramatis? Aku hanya terlambat sepuluh menit, bukan sepuluh tahun."

​"Jangan bicara lancang!" Nero membentak. "Andrew itu calon suamimu. Dia pewaris Fidelis! Kamu seharusnya bersyukur dia masih mau menunggumu setelah semua skandal kecil yang kamu buat di kantor."

​"Skandal?" Nerina mengangkat alisnya. "Maksudmu saat aku memecat sepupu Andrew yang terbukti mengorupsi dana operasional? Itu bukan skandal, Kak. Itu pembersihan."

​"Sudahlah!" Nero mengibaskan tangan. "Cepat berangkat. Dan kamu, Gino! Kenapa kamu hanya berdiri di sana seperti patung? Masuk ke kursi kemudi. Kamu yang akan mengantar Nona hari ini."

​Nerina sedikit terkejut. "Gino?"

​"Sopir pribadimu sedang izin sakit mendadak," Nero mendengus. "Kepala pelayan ini bilang dia bisa mengemudi. Jadi biarkan dia berguna untuk hal lain selain menuangkan teh."

​Ergino tidak memprotes. Ia hanya membungkuk kecil dan berjalan menuju kursi pengemudi. Nerina masuk ke kursi belakang, merasa sebuah ketegangan aneh mulai merayap di udara.

​Mobil meluncur membelah jalanan kota yang padat. Nerina duduk di belakang, menatap punggung Ergino melalui kaca spion tengah. Pria itu mengemudi dengan sangat tenang, sangat halus, seolah ia sudah terbiasa membawa kendaraan lapis baja di medan perang daripada mobil mewah di jalan raya.

​"Gino," panggil Nerina.

​"Iya, Nona?"

​"Kenapa kamu tidak bilang kalau sopirku sedang sakit?"

​"Karena dia tidak sakit, Nona," jawab Ergino datar tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.

​Nerina mengernyit. "Lalu?"

​"Saya hanya menyarankan padanya untuk mengambil cuti panjang di kampung halamannya. Saya rasa, untuk beberapa hari ke depan, Anda akan lebih aman jika saya yang memegang kemudi."

​Nerina bersandar pada kursi kulitnya, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. "Kamu sangat lancang untuk ukuran seorang pelayan, kamu tahu itu?"

​"Lancang adalah nama tengah saya jika itu menyangkut keselamatan Anda, Nona."

​Keheningan kembali menyelimuti mereka selama beberapa menit. Mobil berhenti di lampu merah. Ergino melirik melalui spion, menatap mata Nerina yang tampak lelah namun waspada.

​"Nona Aralynn," panggil Ergino.

​"Ya?"

​"Di butik nanti, Andrew Fidelis tidak akan sendirian. Dia telah mengatur pertemuan 'kebetulan' dengan seorang wanita bernama Elysia. Informasi dari perbatasan yang Ibu Anda dengar... itu adalah jebakan yang sudah disiapkan untuk menguji reaksi Anda."

​Nerina tersentak. Tangannya mengepal kuat. Jadi, pertemuan dengan Elysia akan terjadi hari ini? Lebih cepat dari kehidupannya yang dulu?

​"Bagaimana kamu bisa tahu sejauh itu?" tanya Nerina, suaranya bergetar karena amarah yang mulai membuncah.

​"Seperti yang saya katakan, saya punya mata di mana-mana," jawab Ergino. Lampu berubah hijau, dan ia kembali menjalankan mobil. "Pertanyaannya adalah, apakah Anda akan berpura-pura terkejut, atau Anda akan menunjukkan pada mereka bahwa Anda sudah tahu sejak awal?"

​Nerina memejamkan matanya sejenak, membayangkan wajah pura-pura polos Elysia dan pengkhianatan Andrew. Saat ia membuka mata, sorot matanya sudah sedingin es utara.

​"Gino, belok ke jalan samping. Kita tidak langsung ke butik."

​"Ke mana tujuan kita, Nona?"

​"Ke bank pusat," sahut Nerina tajam. "Jika mereka ingin membawa 'putri asli' kembali hari ini, maka aku harus memastikan bahwa saat dia masuk ke rumah itu, semua brankas sudah kosong."

​Ergino tidak bertanya lagi. Ia memutar kemudi dengan gerakan cepat dan efisien, membawa mobil menjauh dari rute menuju butik.

​"Pilihan yang cerdas, Nona," gumam Ergino.

​"Ini bukan sekadar cerdas, Gino. Ini adalah masalah kelangsungan hidup," Nerina menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi yang berlari menjauh. "Mereka ingin mengganti mawar dengan melati. Tapi mereka lupa, mawar ini punya duri yang beracun."

​Di depan, melalui pantulan kaca, Nerina bisa melihat sudut bibir Ergino terangkat sedikit—sebuah senyum tipis yang penuh dengan kepuasan dan bahaya.

1
Aditya Rian
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Ariska Kamisa
/Shhh//Shhh//Shhh//Shhh//Shhh/
aditya rian
burulah dinikahin nerina nya gino
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
anak angkat seakan sengaja dibuang agar bisa hidup
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
wow/Scare/
Ariska Kamisa: 🤔🤔🤔🤔🤔
total 1 replies
aditya rian
mulai babak drak romance
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
rahasia terbaru👍
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
gino tidak mati dulunya? apakah time traveler?
Ariska Kamisa: ikuti terus ya🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
ergino keren amat
Ariska Kamisa: terimakasih🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
cettaass
aditya rian
wow tentara bayaran
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
💪💪💪💪💪💪
Ariska Kamisa: 💪💪💪💪💪
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
sepertinya ergino terobsesi 🤭
Ariska Kamisa: yes👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
ini mulai babak baru , misteri ibu kandung nerina.
Ariska Kamisa: betul
total 1 replies
aditya rian
gob**k elysia 🤣
aditya rian
ibu kandung nya hidup???
aditya rian
dibutakan oleh rasa bersalah karena telah terpisah lama ini orang tuanya jadi anak salah geh kaya ga mau salah🤭
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
rame👍
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!