Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di gerbang langit
Langit di atas pesantren malam itu tidak lagi teduh. Awan hitam bergulung-gulung seolah menyimpan amarah semesta yang tertahan. Bagi Zayna, suara guntur yang menggelegar adalah musik latar yang sempurna untuk hatinya yang sedang hancur lebur.
"Mbak Zay, jangan nekat! Di luar badai, nggak ada ojek yang mau lewat! Jalanan licin, Mbak!" tangis Zoya pecah. Ia memegangi ujung gamis Zayna, mencoba menahan sahabatnya yang sudah menenteng tas ransel dengan wajah pucat.
"Lepasin, Zoy! Aku lebih baik tersesat di tengah hutan daripada harus terjebak di sini, melihat dia yang sok suci padahal hatinya punya rahasia!" Zayna mendorong pintu kamar asramanya dengan kasar.
Ia berlari menembus pelataran. Angin kencang langsung menyambar kerudungnya hingga terlepas sebagian, memperlihatkan rambutnya yang basah kuyup. Zayna tidak peduli. Air mata yang sejak tadi ia bendung kini menyatu dengan air hujan yang dinginnya menusuk hingga ke tulang.
Ia berlari menuju gerbang utama, tempat satu-satunya jalan keluar menuju kebebasan. Namun, baru saja tangannya menyentuh besi dingin gerbang itu, sebuah tarikan kuat pada tas ranselnya membuat langkahnya terhenti. Zayna terjerembap ke belakang, namun sepasang tangan yang kokoh menangkap bahunya agar tidak jatuh ke lumpur.
Zayna berbalik dengan napas memburu. Di hadapannya, berdiri Gus Haidar.
Pemandangan itu sungguh asing. Haidar yang biasanya rapi dengan baju koko putih, kini basah kuyup. Rambutnya yang hitam legam menempel di dahi, dan pecinya entah jatuh di mana. Dan yang paling mengejutkan—Gus Haidar tidak lagi menunduk.
Ia menatap lurus ke dalam mata Zayna. Tatapan itu tajam, membara, namun menyimpan luka yang sangat dalam. Untuk pertama kalinya, Zayna melihat "singa" yang sebenarnya dalam diri Haidar.
"Mau ke mana?" suara Haidar menggelegar, namun bergetar hebat.
"Pulang! Lepasin, Gus! Cari aja 'Janji Lama' Gus itu! Jangan urusin saya! Saya cuma pengganggu di sini, kan?!" Zayna berteriak histeris, tangannya memukul-mukul dada Haidar yang keras seperti batu.
Haidar tidak bergeming. Ia membiarkan setiap pukulan itu mendarat, seolah fisik itu tak seberapa sakit dibanding apa yang ia rasakan. Tiba-tiba, Haidar menangkap kedua pergelangan tangan Zayna, menguncinya dengan kuat namun tidak menyakiti.
"Cukup, Zayna! Diam!" bentak Haidar.
Zayna terdiam karena terkejut. Belum pernah ia mendengar suara lembut itu meninggi.
"Kamu pikir saya diam karena saya tidak peduli? Kamu pikir saya menjaga pandangan karena saya benci melihat wajahmu?" Haidar melangkah satu tindak lebih dekat, hingga jarak mereka hanya seujung jari. "Setiap detik di pesantren ini, saya berjuang melawan ego saya sendiri. Saya ingin kamu mencintai tempat ini bukan karena paksaan Ayahmu, bukan karena kontrak perjodohan yang kita miliki sejak bayi, tapi karena kamu menemukan Tuhan di sini!"
Zayna membeku. Seluruh syarafnya seolah mati rasa. "Perjodohan... sejak bayi?"
Haidar tersadar. Rahasia yang ia simpan rapat selama dua puluh tahun itu tumpah bersama badai. Ia melepaskan tangan Zayna perlahan, wajahnya kembali menunduk, bahunya gemetar menahan dingin dan penyesalan.
"Masuklah, Zayna. Jangan sampai kamu sakit," ucap Haidar, suaranya kini kembali lembut, nyaris seperti bisikan yang menyayat. "Jika kamu sakit, bukan hanya Ayahmu yang hancur. Tapi ada satu pria di sini yang akan merasa gagal menjaga separuh agamanya, bahkan sebelum ia sempat memilikinya."
Haidar berbalik, berjalan gontai menembus hujan tanpa menoleh lagi. Zayna jatuh terduduk di atas semen basah, menatap punggung itu menghilang di balik kegelapan.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp