Di bawah rindangnya pohon randu angker di sudut kampung, seorang pemuda bernama Langit tumbuh dewasa tanpa mengenal siapa orang tua kandungnya. Setiap senja, ia merenung di sana, merasa namanya seluas langit namun tak punya pijakan. Ia tak tahu, takdirnya sudah "terjerat" sejak hari ia ditemukan sebagai bayi di bawah pohon keramat itu oleh Nenek Wati.
Sembilan belas tahun kemudian, rahasia kelam masa lalu mulai terkuak, menyeret Langit pada sebuah pencarian identitas yang tak hanya mengancam hidupnya, tapi juga menguji perasaannya. Ketika ia dihadapkan pada sosok Intan, wanita yang sudah "terjerat" pernikahan namun begitu "layak diperjuangkan", akankah Langit mampu melepaskan diri dari belenggu masa lalu dan menemukan tempat sejatinya? Atau justru semakin dalam "terjerat" dalam takdir yang tak pernah ia minta?
Ikuti perjalanan Langit menemukan jati diri, cinta, dan rahasia yang terkubur di dalam novel TERJERAT.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 24: KEKUATAN DI BALIK LAYAR & KEDATANGAN JAJI
Dari balik pepohonan dan kabut tebal, muncul lima sosok pria berpakaian serba gelap. Mereka berjalan dengan langkah pelan namun mantap, lalu berdiri rapi di hadapan Langit. Sikap mereka sopan namun memancarkan aura kewibawaan yang kuat.
Pria yang berdiri paling depan, bertubuh kurus namun matanya tajam seperti elang, melangkah setapak ke depan.
"Saya Rio, pemimpin kelompok ini," ucapnya dengan suara rendah dan berat. "Kami sudah menunggu perintah Anda, Tuan Langit. Abah Haruman sudah kembali ke asalnya, namun sebelum pergi beliau memberikan amanat agar saya dan rekan-rekan siap mengabdi dan mengemban tugas apa pun dari Anda. Perintahkanlah kami."
Langit mengangguk pelan, lalu mulai membagi tugas dengan tegas bak seorang jenderal.
"Dengarkan baik-baik pembagian tugas kita."
"Dua orang, jaga rumah Nenek Wati 24 jam. Jangan biarkan satu nyamuk pun masuk yang berniat jahat."
"Dua orang lagi, awasi rumah Intan dan si kembar. Lindungi mereka bagai menjaga bola kristal."
"Rio, kau bersamaku. Jadilah bayanganku yang tak terlihat."
Langit menatap langit yang mulai cerah.
"Terima kasih Abah atas pasukan terbaik yang kau titipkan. Dengan ini, aku yakin badai besar akan segera berlalu."
Ia pun berjalan pulang, diikuti oleh Rio yang menjaga jarak aman dari kejauhan.
Pagi telah tiba.
Pagi telah menyapa desa. Udara segar beraroma daun teh memenuhi udara.
Saat Langit sampai di halaman rumah, ia melihat Nenek Wati sedang asyik menyiram tanaman. Namun sebelum sempat menyapa, terdengar teriakan kecil yang sangat akrab.
"OM NGITTT...! Adi kangen!"
"Om Ngit...! Adel juga kangen, mau digendong!"
Si kembar, Adi dan Adel, berlarian menyambutnya dengan wajah ceria. Hati Langit langsung meleleh. Ia jongkok dan menyambut pelukan hangat kedua keponakannya itu.
"Ponakan Om yang paling ganteng dan cantik," ucapnya sambil menggendong mereka berdua mendekati Neneknya.
Nenek Wati menoleh dengan senyum lembut.
"Sudah lama kamu tak pulang, Nak. Aku tahu kamu sedang memikul beban berat, tapi ingat... rumah ini selalu tempatmu pulang."
"Maafkan Langit Nek, membuat Nenek khawatir," jawabnya tulus.
Mereka duduk bersama di teras, menikmati teh hangat. Meskipun Langit berusaha terlihat biasa saja, Nenek Wati seolah mampu menembus pikiran cucunya itu.
"Jangan menyembunyikan apa pun dariku Nak. Aku sudah tua, tapi mataku masih tajam. Ada badai besar yang datang kan?"
Langit akhirnya menceritakan sedikit demi sedikit soal klaim tanah dan orang-orang jahat, namun menyembunyikan detail rahasia dirinya dan Abah Haruman.
"Tenang saja Nak. Tanah ini adalah darah daging suamiku. Kita tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya seenaknya," tegas Nenek Wati penuh semangat.
#PUSAT KOMANDO RAHASIA
Masuk ke dalam kamarnya yang sederhana, Langit berubah total menjadi sosok yang dingin dan fokus. Ia mengeluarkan laptop jadul yang tersembunyi dan mulai berkomunikasi.
Layar berkedip, muncul wajah Yusuf di sana.
"Langit, laporan masuk. Surat klaim itu sudah pasti palsu. Aku sudah pegang bukti otentiknya. Dan kabar baiknya... Sri dan Dewi sudah setuju untuk bekerja sama dengan kita. Mereka siap jadi mata-mata di dalam."
"Bagus kerja mu Kang," balas Langit puas. "Kau memang tangan kanan yang paling bisa diandalkan."
Ia juga mengirim sinyal ke Rio dan pasukan bayangan lainnya untuk mulai mengintai gerakan di rumah Jaji dan markas Pardi.
Malam harinya, Langit menyelinap ke ruang bawah tanah kecil peninggalan Kakek. Di sana tersimpan dokumen-dokumen kuno dan alat komunikasi canggih pemberian Abah Haruman. Tempat inilah yang akan menjadi markas besarnya untuk mengatur segalanya.
Saat kembali ke kamar, Nenek Wati sudah menunggu dengan semangkuk bubur hangat.
"Aku tahu kau sering keluar malam Nak. Aku tak tanya kemana, tapi tolong... jaga dirimu baik-baik. Kau satu-satunya yang aku punya."
Hati Langit terenyuh. Ia memeluk erat neneknya.
"Janji Nek, Langit akan selamat dan membawa keadilan untuk kita semua."
#KEDATANGAN YANG TIDAK DIUNDANG
Keesokan paginya, saat Langit sedang membantu Nenek di dapur, terdengar suara ketukan pintu yang keras dan kasar.
BRAKK! BRAKK!
Langit mengernyitkan dahi. Ia keluar dan melihat Jaji berdiri di sana, ditemani dua pria bertubuh besar dan garang bak badak.
"Selamat pagi, Bu Wati," sapa Jaji dengan senyum yang sangat dipaksakan dan terlihat licik. "Kami datang untuk menegaskan kembali. Tanah perkebunan teh itu adalah hak milik keluarga kami. Lebih baik kalian menyerah dengan baik-baik."
Langit melangkah maju, berdiri di depan Nenek Wati melindunginya. Wajahnya datar tanpa ekspresi namun matanya tajam menusuk.
"Sudah cukup, Pak Jaji. Kami sudah katakan berkali-kali, klaim kalian itu TIDAK SAH dan PALSU. Silakan pergi sebelum hal yang tidak mengenakkan terjadi."
Salah satu pria besar itu mulai tidak sabar, tangannya mengepal kuat dan siap menerjang Langit. Namun Jaji cepat-cepat menahannya.
Jaji menatap Langit dengan tatapan membunuh.
"Oke... kita lihat saja nanti. Bersabarlah sedikit, karena sebentar lagi kalian akan menyesal."
Mereka pun pergi meninggalkan suasana yang mencekam.
Langit tidak membuang waktu. Segera ia menghubungi Yusuf lewat alat komunikasi.
"Kang, mereka mulai menekan. Hari Minggu adalah hari H. Pastikan semua pasukan dan strategi sudah siap 100%."
Dari seberang sana, suara Yusuf terdengar mantap.
"Siap Tuan! Semua sudah di garis finis. Tinggal tunggu perintah tembak!"
Malam sebelum hari penentuan (Hari Sabtu), kelima pasukan bayangan dan perwakilan strategi berkumpul secara virtual maupun fisik.
"Dengarkan instruksi terakhir," ucap Langit dingin di ruang bawah tanah.
Rio akan bergabung dengan Yusuf di garis depan untuk menghadapi kekuatan Pardi dan preman-preman gila itu.
Dua orang tetap menjaga Nenek Wati dengan ketat.
Satu orang ditugaskan khusus mengawasi rumah Intan.
Langit sendiri akan tetap di kamar, menjadi otak yang mengendalikan seluruh alur pertempuran dari balik layar dan radio.
"Ingat... kita tidak menyerang pertama," tegas Langit. "Biarkan mereka yang mencolokkan senjatanya lebih dulu. Tapi setelah mereka menyerang... pastikan tidak ada satu pun yang bisa pulang dengan selamat jika mereka berniat jahat. Berikan balasan setimpal!"
Di luar ruangan, di ruang tengah, Nenek Wati bersimpuh di depan altar leluhur. Tangannya tergenggam erat, matanya terpejam berdoa dengan sungguh-sungguh memohon keselamatan untuk cucu kesayangannya dan keluarga mereka.
Namun di dalam hatinya, badai besar sedang terjadi. Ia mulai bergumam pelan, berbicara dalam hati kepada sosok yang sudah tiada namun pengaruhnya masih terasa begitu kuat.
"Ayah... aku tahu orang yang dibawa Langit tadi. Itu Rio kan? Murid terbaik Ayah yang paling setia dan tangguh..."
Suaranya bergetar, penuh tanda tanya besar.
"Apakah Ayah memang sudah punya firasat sejak lama? Bahwa dua kekuatan besar akan datang memburu cucuku? Atau... jangan-jangan Ayah memang benar-benar ingin melawan kekuatan kekasihku sekaligus sahabat ayah sendiri?"
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Nenek Wati, namun ia menahannya agar tidak jatuh. Pikirannya kalut, terbelah menjadi dua.
"Aku bingung saat ini, Yah... Dulu Ayah sudah tiada di dunia ini, tapi kenapa seolah-olah Ayah masih ada dan bisa mengatur segalanya? Apakah Ayah benar-benar sudah mati? Atau Ayah hanya bersembunyi di balik kegelapan, menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali?"
Hati dan pikirannya penuh konflik yang menyakitkan.
"Haruskah aku memihak cinta dan kesetiaanku pada kekasihku... ataukah aku harus mengikuti kasih sayang dan bimbingan dari Ayah mertuaku demi kebaikan Langit?"
Ia menunduk dalam, jiwanya bergumul hebat antara dua dunia dan dua sosok besar yang sangat ia hormati namun berada di sisi yang berbeda.
CATATAN PEMBACA:
SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!
SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.
JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!
SALAM DARI ANAK KAMPUNG,
ARIS.
Bersambung.