Raina Azzahra, gadis tomboy berusia 20 tahun dari Surabaya yang dikenal sebagai preman kecil — bandel mulut, keras kepala, dan suka melawan aturan agar disegani. Dipaksa mondok di Pesantren Salafiyah Al-Hidayah di Pasuruan, ia bertemu Gus Haris, ustadz muda tampan yang sabar dan lemah lembut.
Tanpa diduga, Raina dijodohkan dan dinikahkan dengan Gus Haris. Awalnya Raina memberontak habis-habisan dengan sikap nakalnya, tapi kesabaran dan kelembutan Gus Haris perlahan meluluhkan hatinya yang keras.
Cerita slow-burn tentang seorang gadis nakal yang berubah menjadi istri di pelukan ustadz saleh, penuh momen manis seperti anak kecil sekaligus dewasa penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mystique17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Masih Berdarah
Surat balasan Raina dikirim ke Surabaya keesokan harinya. Gus Haris yang mengurus pengiriman melalui kurir resmi pesantren, sementara Raina duduk di teras dengan tangan dingin, memandang kebun melati yang mulai mekar.
Ia berharap itu akhirnya. Ia berharap Dika akan menerima dan berhenti.
Tapi tiga hari kemudian, badai yang lebih besar datang.
Pagi itu, saat Raina sedang mengajar santriwati kecil di ruang belajar belakang asrama, Bu Nyai datang dengan wajah pucat. Di tangannya ada amplop tebal lagi, kali ini disertai sebuah flashdisk kecil.
“Raina… ini datang pagi tadi. Dari Surabaya. Ada catatan di luar amplop: ‘Untuk dibuka bersama suami kamu’.”
Raina merasa darahnya membeku. Ia mengambil amplop itu dengan tangan gemetar dan langsung pulang ke rumah kecil mereka. Gus Haris sedang membaca kitab di teras. Begitu melihat wajah Raina, ia langsung berdiri.
“Apa itu?”
“ Dari Dika lagi,” jawab Raina dengan suara hampir hilang. “Kali ini ada flashdisk.”
Mereka duduk di meja makan. Raina membuka amplop itu. Di dalamnya ada surat pendek dan flashdisk hitam polos.
Suratnya hanya beberapa baris:
“Rain,
Lo bilang lo sudah tutup bab itu. Gue hormati. Tapi gue kirim ini supaya lo ingat siapa lo sebenarnya. Buka flashdisk ini malam ini bersama suami lo. Kalau setelah itu lo masih yakin memilih dia, gue akan benar-benar mundur.
Ini bukan ancaman. Ini kebenaran.
Dika”
Raina menatap flashdisk itu seperti benda beracun. Gus Haris mengambilnya dengan tenang.
“Kita buka bersama,” katanya. “Kamu siap?”
Raina mengangguk, meski hatinya berdegup kencang.
Mereka menghubungkan flashdisk ke laptop kecil yang biasa dipakai Gus Haris untuk menulis materi pengajian. Ada satu folder bernama “Malam Hujan”.
Di dalamnya ada beberapa video pendek.
Video pertama: Malam hujan deras di pinggir jalan tol Surabaya. Raina berusia 18 tahun, rambut pendeknya basah kuyup, jaket kulit hitam menempel di tubuh. Ia tertawa keras sambil memeluk pinggang Dika dari belakang di atas motor. Suaranya jelas terdengar meski hujan deras: “Gue nggak mau pulang! Gue mau balap lagi sama lo malam ini!”
Video kedua: Di sebuah warung kopi pinggir jalan, Raina duduk di pangkuan Dika, tangannya memegang botol bir kecil. Ia tertawa sambil mencium pipi Dika. “Lo satu-satunya yang ngerti gue,” katanya di video itu. “Orang tua gue nggak pernah ngerti. Lo yang selalu ada.”
Video ketiga: Raina sedang naik motor sendirian di jalan tol malam-malam, kamera dari helm Dika yang mengikuti di belakang. Raina berteriak gembira, “Gue bebas! Gue nggak takut apa-apa!”
Raina menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mengalir deras di pipinya. Ia merasa seperti sedang melihat orang asing — versi dirinya yang liar, yang tidak takut apa pun, yang merasa hidup hanya saat adrenalin mengalir di pembuluh darahnya.
“Gue… gue nggak ingat gue pernah sejahat itu,” bisiknya dengan suara pecah. “Gue minum. Gue bohong. Gue biarin Dika pegang gue seperti itu. Gue… gue benar-benar hancur waktu itu.”
Gus Haris mematikan video itu. Ia tidak marah. Ia tidak menuduh. Ia hanya menarik Raina ke dalam pelukannya dan membiarkan istrinya menangis di dada nya.
“ Itu kamu dulu,” katanya pelan. “Bukan kamu sekarang. Kamu yang sekarang adalah perempuan yang berani berdiri di depan ratusan santri dan mengakui masa lalunya. Kamu yang sekarang adalah istri yang berani cerita luka terdalamnya kepada suaminya.”
Raina mengangkat wajahnya, mata birunya bengkak dan penuh rasa bersalah.
“Gue takut lo akan jijik sama gue setelah lihat video itu. Gue takut lo akan berpikir ‘ini istri gue?’ Gue takut lo akan menyesal.”
Gus Haris memegang wajah Raina dengan kedua tangannya, matanya menatap langsung ke mata istrinya.
“Aku melihat video itu. Aku melihat gadis yang tersesat dan mencari arti hidup di tempat yang salah. Tapi aku juga melihat Raina yang sekarang — yang berani menghadapi semua itu. Aku tidak jijik. Aku sedih untuk kamu yang dulu. Dan aku semakin cinta sama kamu yang sekarang.”
Raina menangis lebih keras di dada suaminya.
“Gue mau hapus video itu. Gue mau hapus semuanya. Gue nggak mau bagian itu masih hidup di dalam gue.”
Gus Haris menggeleng pelan.
“Jangan hapus. Simpan. Kadang kita perlu mengingat dari mana kita berasal supaya kita tahu seberapa jauh kita sudah berjalan.”
Malam itu, Raina tidur dengan kepala di dada Gus Haris, tapi mimpi buruk datang lagi — mimpi tentang jalan tol basah hujan, suara knalpot, dan tawa Dika yang memanggil namanya.
Ia terbangun tengah malam dengan napas tersengal. Gus Haris langsung memeluknya erat.
“Gue takut gue masih punya bagian yang kangen kebebasan itu,” bisik Raina di kegelapan. “Gue takut suatu hari gue akan memilih jalanan lagi.”
Gus Haris mencium keningnya dengan sangat lembut.
“Kalau hari itu datang, aku akan ingatkan kamu siapa yang kamu pilih sekarang. Tapi hari ini… kamu memilih aku. Dan itu sudah cukup.”
Raina memeluk suaminya lebih erat.
Besok pagi, ia tahu ia harus menghadapi konsekuensi surat dan video itu.
Mungkin gosip akan semakin besar.
Mungkin orang-orang akan memandangnya dengan tatapan yang lebih tajam.
Tapi kali ini, Raina memutuskan:
Ia tidak akan lagi lari dari luka itu.
Ia akan hadapi — bersama Gus Haris.