NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar di Ujung Dermaga dan Panggilan London

​​Seminggu telah berlalu sejak badai di Makassar mereda. Ayah Ziva sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa, dan kondisinya menunjukkan kemajuan pesat. Senyum sudah kembali menghiasi wajah ibunda Ziva, yang tak henti-hentinya menyuguhkan jalangkote dan kopi susu untuk Arkan setiap kali menantu kesayangannya itu datang berkunjung.

​Pagi itu, udara Makassar terasa hangat. Arkan dan Ziva berdiri di balkon rumah sakit yang menghadap langsung ke arah Pelabuhan Paotere. Di kejauhan, kapal-kapal pinisi bersandar dengan gagah, mengingatkan Ziva pada akar keluarganya yang kuat dan tangguh.

​"Ar," panggil Ziva, memecah keheningan. "Papa beneran

kirim jet pribadi buat kita?"

​Arkan mengangguk, menyesap kopi hitamnya. "Iya. Dia bilang jam empat sore nanti kita harus sudah di bandara. Dia nggak mau kita ketinggalan kuliah lebih lama lagi. Apalagi kamu punya deadline liputan di New York minggu depan, kan?"

​Ziva menghela napas, menyandarkan kepalanya di bahu Arkan. "Gue ngerasa berat buat ninggalin Bapak lagi. Tapi Bapak yang paling kenceng nyuruh gue balik. Katanya, 'Jangan jadi pelaut yang takut ombak, Ziv. Selesaikan apa yang sudah kamu mulai'."

​Arkan merangkul pinggang Ziva, menariknya lebih dekat.

"Bapak bener. Kita pulang ke sana bukan untuk lari, tapi untuk jemput masa depan supaya nanti pas kita balik lagi ke sini, kita sudah punya 'kapal' sendiri buat jagain mereka."

​Perpisahan yang Hangat

​Di ruang rawat, suasana penuh haru. Ayah Ziva, meski kakinya masih digips, berusaha duduk tegak untuk melepas keberangkatan anak dan menantunya.

​"Arkan," panggil sang mertua dengan suara serak namun mantap. "Terima kasih sudah jaga putriku. Dan titip salam buat Pak Wijaya. Bilang sama dia, terima kasih sudah jadi 'kakak' yang baik buat keselamatanku."

​Arkan tersenyum tipis, menjabat tangan pria tua itu dengan sangat hormat. "Pasti, Pak. Bapak fokus sembuh saja. Ziva bakal sering-sering telepon."

​Ziva memeluk ibunya lama, membisikkan janji untuk belajar lebih giat lagi. Saat mereka melangkah keluar dari ruangan, Pak Wijaya ternyata sudah menunggu di lorong bersama asistennya. Ia tidak masuk ke dalam, seolah memberikan ruang privasi bagi keluarga kecil itu.

​"Siap?" tanya Pak Wijaya singkat saat melihat Arkan dan Ziva mendekat.

​"Siap, Pa," jawab Arkan.

​Pak Wijaya menepuk bahu Arkan—sebuah gestur yang sangat jarang ia lakukan selama bertahun-tahun. "Jaga istrimu di sana. Dan Arkan... jangan lupa kirimkan laporan magangmu ke email Papa. Papa mau lihat analisis pasarmu."

​Arkan mengangguk, matanya berkilat penuh semangat.

"Pasti, Pa. Aku bakal buktiin kalau aku bisa sukses tanpa harus selalu pakai nama belakang Wijaya."

​Di Atas Awan: Strategi Masa Depan

​Jet pribadi itu melesat membelah awan menuju rute internasional. Di dalam kabin yang mewah namun sunyi, Arkan dan Ziva duduk berhadapan. Di atas meja di depan mereka, Arkan membuka laptopnya, sementara Ziva sibuk mencatat di buku jurnalisnya.

​"Gue baru sadar satu hal, Ar," ucap Ziva tiba-tiba.

​"Apa?"

​"Kita ini bener-bener tim yang hebat ya? Lo jago di angka dan strategi, gue jago di cerita dan investigasi. Kalau kita lulus nanti, kita bisa bangun sesuatu yang gede bareng-bareng."

​Arkan menatap Ziva dengan tatapan yang sangat dalam.

"Aku sudah kepikiran itu, Ziv. Aku mau bangun yayasan atau firma yang fokus pada pemberdayaan masyarakat pesisir seperti di Selayar, pakai model ekonomi yang aku pelajari di London. Dan kamu... kamu yang bakal jadi suaranya. Kamu yang bakal kasih tahu dunia lewat tulisanmu."

​Ziva tersenyum lebar. Rencana itu terasa jauh lebih nyata daripada sekadar janji-janji manis di masa SMA. "Pak Ketos bener-bener udah berubah jadi Direktur Strategis ya sekarang."

Awal yang Baru di Australia

​Di Sydney, Revan baru saja menyelesaikan sesi latihan pagi. Ia duduk di pinggir lapangan, membuka akun media sosialnya. Ia melihat postingan terakhir Arkan—sebuah foto sayap pesawat dengan caption sederhana: "Back to the grind. Different continents, same goal."

​Revan menyukai foto tersebut. Ia merasa beban di hatinya benar-benar sudah terangkat.

​"Revan! Ada agen dari liga Eropa yang mau bicara sama kamu!" teriak pelatihnya dari ujung lapangan.

​Revan berdiri, mengenakan jersey-nya kembali dengan penuh percaya diri. "Gue dateng, Coach!"

​Ia menyadari bahwa setiap orang punya jalannya

masing-masing. Arkan dan Ziva punya cinta mereka yang tangguh, dan Revan punya ambisinya yang besar. Tidak ada lagi dendam, hanya ada masa depan yang harus dikejar.

​Pendaratan di London: Dingin yang Dirindukan

​Setelah belasan jam perjalanan, jet itu mendarat di London. Udara dingin khas Inggris menyambut Arkan. Ziva hanya transit beberapa jam sebelum melanjutkan penerbangan ke New York.

​Di gerbang keberangkatan internasional London, mereka kembali berdiri berhadapan—persis seperti adegan di bandara Jakarta beberapa bulan lalu. Namun kali ini, tidak ada tangis. Hanya ada keyakinan.

​"Tiga bulan lagi liburan musim panas," ucap Arkan sambil merapikan syal Ziva. "Aku yang bakal ke New York, atau kita ketemu di Paris?"

​Ziva tertawa, mengecup pipi Arkan dengan cepat. "Paris kedengarannya bagus. Tapi gue mau lo fokus dulu sama ujian lo. Jangan sampai dapet poin pelanggaran dari profesor lo ya!"

​"Siap, Bu Jurnalis."

​Saat Ziva melangkah menjauh menuju gerbang keberangkatannya, Arkan tetap berdiri di sana sampai punggung istrinya hilang di balik kerumunan. Ia tahu, samudra masih akan memisahkan mereka untuk sementara waktu, tapi akarnya sudah tertanam sangat dalam di Makassar, dan hatinya sudah terkunci rapat di New York.

​Arkan berbalik, melangkah keluar bandara menuju asramanya di London. Fajar baru saja menyingsing di langit Inggris, membawa janji bahwa sejauh apa pun mereka terbang, mereka akan selalu tahu jalan untuk kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!