Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Ruang simulasi itu luas dan dingin. Dindingnya dilapisi bahan peredam mana tingkat tinggi.
"Baik," Han Jue berdiri di balik panel kontrol. "Sistem dunia biasanya memberikan nama otomatis untuk setiap kemampuan. Apa yang diberikan padamu?"
Ren terdiam sejenak. Ia teringat tulisan transparan yang muncul di hadapannya waktu itu: Tak Melakukan Apa Pun.
Nama itu terdengar seperti hinaan.
"Zero Act," jawab Ren pelan. Hampir tersendat.
Han Jue mencatatnya. "Zero Act. Terdengar seperti tipe negasi pasif. Mari kita lihat parameternya."
Tes dimulai.
Ren diminta berlari di treadmill kecepatan tinggi. Hasilnya: payah. Ia tidak bisa menyaingi kecepatan treadmill dan jatuh.
Ren diminta memukul samsak pengukur kekuatan. Hasilnya: seperti pukulan amatiran yang baru belajar boxing.
Tes Energi Eksternal: Indikatornya tidak bergerak.
"Ini membuang waktu," gerutu Han Jue dari balik pengeras suara. "Kau gagal di semua parameter fisik dan energi. Ren, kau benar-benar yakin telah Awakened?"
Ren mengatur napasnya. Ia berdiri di tengah ruangan. "Coba serang saya."
Hening sejenak di ruang kontrol. Suara itu terdengar sangat nekat.
"Kau menantangku?" suara Han Jue naik satu oktav. "Aku pengguna Pyrokinesis. Aku bisa memanggangmu dalam dua detik."
"Saya bertaruh Anda tidak bisa melukai saya," sahut Ren.
Mata Han Jue menyipit. Kekesalannya memuncak. Bayangan yang hilang dan sikap apatis Ren membuatnya kehilangan kesabaran.
"Keputusanmu itu, jangan sampai kau tarik lagi!"
Han Jue melompat turun dari ruang kontrol. Tangannya bergerak cepat, membentuk segel energi. Api biru meledak dari telapak tangannya. Suhu ruangan melonjak hingga titik didih.
Api itu bukan sekadar api. Itu adalah manifestasi kemarahan yang terkonsentrasi.
Wussssh!
Bola api biru raksasa melesat, menelan tubuh Ren sepenuhnya. Lidah api menjilat dinding, menciptakan jelaga hitam di permukaan beton yang seharusnya tahan api. Ledakan itu menciptakan gelombang kejut yang menggetarkan kaca ruang kontrol.
Asap tebal memenuhi ruangan.
Han Jue terengah. Ia merasa sedikit menyesal. "Sial, aku terlalu berlebihan—"
Asap itu menipis.
Ren berdiri di sana. Di tengah lingkaran tanah yang hangus.
Kausnya tetap rapi. Rambutnya tidak berubah posisi. Bahkan tidak ada bau gosong sedikit pun di udara sekitar tubuhnya. Ia sedang menggaruk lehernya yang tidak gatal, tampak bosan.
"Sudah?" tanya Ren.
Han Jue mematung. Tangannya masih gemetar karena sisa energi. "Bagaimana bisa? Sensor mana tidak mendeteksi adanya perisai. Tidak ada bentrokan energi. Api itu ... api itu seperti melewatinya."
"Saya sudah bilang," kata Ren, melangkah keluar dari area hangus. "Zero Act."
Han Jue kembali ke meja konsol. Ia mengetik dengan kecepatan gila. Matanya memindai angka-angka yang muncul. Nihil. Semuanya nol.
"Kemampuanmu tidak masuk akal," gumam Han Jue. Ia memijat dahi. "Kau tidak punya daya serang. Kau tidak bisa menyembuhkan orang. Kau tidak punya kecepatan. Kau hanya bisa bertahan."
"Jadi, kelas apa yang saya dapat?"
Han Jue menatap layar, lalu menatap Ren. Ada kilat jahat dan geli di matanya.
"Kelas C," putus Han Jue.
Ren mengernyit. "C? Saya baru saja menahan serangan Anda tanpa satu goresan pun."
"Secara teknis, kau adalah Awakened paling tidak berguna dalam tim penyerang," Han Jue menyeringai, merasa menang. "Dalam misi, kau tidak bisa membunuh monster. Kau hanya akan jadi batu sandungan yang tidak bisa mati. Jadi, Kelas C adalah nilai paling objektif. Juga, kekuatan tipe pertahanan sudah banyak."
Ia mencetak sebuah kartu lisensi perunggu dan melemparkannya ke arah Ren. Mukanya terlihat tampak kesal oleh sesuatu. Ren menangkapnya tapi tidak mengetahui kesalahan apa yang ia perbuat.
Ren mengambil kartu itu. Ia menatap fotonya sendiri yang terlihat mengantuk di sana. Di bawahnya tertulis dengan jelas: Class C - Support (Self-Preservation).
"Cukup adil," gumam Ren.
"Cih, hanya itu reaksi yang kau tunjukkan?" Desis Han Jue. "Setidaknya beri reaksi yang lebih bermakna."
Han Jue keluar dari ruangan itu, langkahnya cepat.
Ren sudah menangkapnya dari awal, tapi tidak tahu apa yang membuatnya semarah itu.
"Apakah karena taruhan itu?"