Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela kamar, namun suasana hati Ambar mendadak mendung saat Thomas mengumumkan kedatangan terapis yang diutus oleh Dokter Edward.
Di ambang pintu, berdirilah seorang wanita muda bernama Siska.
Ia tampak sangat profesional dengan seragam medis yang pas di tubuhnya, namun tak bisa dimungkiri, Siska memiliki kecantikan yang sangat menonjol dengan rambut hitam yang diikat rapi dan senyum yang sangat manis.
Ambar yang sedang membantu Baskara merapikan duduknya di sofa, seketika merasakan cubitan aneh di hatinya.
Ia melirik suaminya, mencoba mencari tahu bagaimana reaksi Baskara melihat wanita secantik itu masuk ke ruang pribadi mereka.
"Selamat pagi, Tuan Mahendra. Saya Siska, terapis fisik yang ditunjuk oleh Dokter Edward untuk menangani pemulihan saraf kaki Anda," sapa Siska dengan suara lembut yang sangat merdu.
Baskara hanya mengangguk datar, wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi—khas dirinya saat berhadapan dengan orang asing. Namun, ia tetap bersikap sopan demi kesembuhannya.
"Pagi. Siska, silakan, masuk saja," ucap Baskara sambil memberikan isyarat ke arah area terapi di sudut ruangan.
Ambar berdiri mematung di samping Baskara. Ia memperhatikan bagaimana Siska mulai menyiapkan alat-alat medis dan matras lipat.
Ada rasa cemburu yang menggelitik saat menyadari bahwa wanita ini akan menyentuh kaki suaminya dan berada di dekat Baskara selama berjam-jam setiap hari.
"Ambar, ada apa?" tanya Baskara pelan saat menyadari istrinya hanya diam sambil menatap tajam ke arah Siska.
"Tidak ada apa-apa," jawab Ambar ketus, meskipun tangannya tanpa sadar mencengkeram lengan kursi roda Baskara lebih erat.
"Aku hanya berpikir, apa tidak ada terapis pria yang tersedia di kota ini?"
Baskara yang mendengar itu langsung menahan senyumnya.
Ia tahu betul arti dari perubahan nada bicara istrinya itu.
Dengan gerakan yang tidak terlihat oleh Siska, ia menarik tangan Ambar dan mengecup punggung tangannya singkat.
"Jangan mulai, Sayang. Dia hanya terapis," bisik Baskara menenangkan, namun matanya berkilat geli melihat sisi cemburu Ambar yang menurutnya sangat menggemaskan.
Ambar memilih untuk tidak memperlihatkan kekesalannya secara terang-terangan di depan terapis baru itu.
Dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan sedikit keras, ia memutar tubuh dan keluar dari ruang terapi.
"Aku ke butik dulu, Bas. Banyak pekerjaan yang tertunda," ucap Ambar singkat tanpa menoleh lagi.
Ia berjalan menuju dapur, berniat mengambil segelas air dingin untuk mendinginkan hatinya yang panas. Namun, langkah Ambar mendadak terhenti di lorong saat telinganya menangkap suara yang sama sekali tidak ia harapkan.
"Hahaha! Tuan bisa saja, saya baru tahu kalau Tuan punya selera humor seperti ini."
Suara tawa merdu Siska terdengar begitu lepas. Dan yang membuat dada Ambar semakin sesak adalah suara tawa bariton yang menyusul setelahnya—suara tawa Baskara.
Suaminya, yang biasanya bersikap sedingin es kepada orang asing, kini terdengar tertawa terbahak-bahak bersama wanita itu.
Ambar berdiri mematung di balik dinding lorong. Ia meremas gelas kosong di tangannya.
Di kepalanya terbayang bagaimana Siska mungkin sedang memijat kaki Baskara sambil melemparkan candaan-candaan manis yang membuat suaminya nyaman.
"Baru juga ditinggal lima menit, sudah tertawa seru begitu," gumam Ambar dengan bibir yang mengerucut tajam.
Rasa percaya dirinya sebagai istri seolah terusik. Selama ini, ia merasa hanya dirinyalah yang bisa membuat "Sang Naga" itu tertawa lepas.
Mendengar Baskara tertawa dengan wanita cantik lain di dalam kamar mereka sendiri benar-benar membuat api cemburu Ambar berkobar lebih hebat daripada sebelumnya.
Ambar tidak jadi ke butik. Ia justru berbalik arah dan berdiri tepat di depan pintu ruang terapi yang sedikit terbuka, mencoba menguping apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan hingga terlihat begitu asyik.
Telinga Ambar terasa panas. Dari balik celah pintu yang sedikit terbuka, ia mendengar suara Siska yang kini merendah, nada bicaranya berubah menjadi lebih manja dan penuh sanjungan yang tidak perlu.
"Tuan Baskara ini ototnya sangat kuat ya, pasti karena sering berolahraga. Istri Tuan sangat beruntung, meskipun sepertinya dia tipe wanita yang sangat sensitif," ucap Siska lembut, diiringi tawa kecil yang terdengar sangat dibuat-buat di telinga Ambar.
"Dasar, perempuan tidak tahu diri!" desis Ambar dalam hati.
Giginya bergelatuk menahan geram. Rasanya ia ingin sekali masuk dan menjambak rambut terapis itu, namun harga dirinya melarang Ambar untuk terlihat seperti istri yang tidak berkelas di depan orang asing.
Dengan wajah memerah dan napas memburu, Ambar memutuskan untuk tidak memperpanjang drama di depan pintu.
Ia menghentakkan kakinya, berjalan cepat menuju kamarnya sendiri yang berada di sayap lain rumah besar itu.
Brak!
Ambar menutup pintu kamar dengan sedikit keras, meluapkan kekesalannya.
Ia melemparkan tasnya ke atas meja, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk. Namun, pikirannya tetap tidak bisa tenang.
Bayangan Siska yang tersenyum manis pada Baskara terus menghantuinya.
"Baskara juga! Kenapa dia harus meladeni tawa wanita itu? Dasar laki-laki!" gumamnya kesal sambil meraih buku sketsa dan pensil yang ada di nakas.
Ia mulai menggoreskan pensilnya dengan kasar di atas kertas.
Ambar mencoba mengalihkan seluruh emosinya ke dalam desain gaun.
Garis-garis yang ia buat tampak tajam dan tegas, mencerminkan suasana hatinya yang sedang meledak-ledak.
Ia menggambar sebuah gaun malam berwarna hitam pekat dengan aksen yang berani, seolah sedang mendesain zirah untuk dirinya sendiri.
Meski tangannya sibuk menggambar, telinganya tetap tajam mendengarkan suasana rumah.
Setiap ada langkah kaki di lorong, jantungnya berdegup kencang, berharap itu adalah Baskara yang datang untuk menjelaskan semuanya atau sekadar membujuknya agar tidak lagi marah.
Waktu seolah merayap lambat bagi Ambar. Dua jam berlalu tanpa suara langkah kaki yang mendekat ke kamarnya, sementara imajinasinya terus liar membayangkan apa yang terjadi di ruang terapi.
Kelelahan emosional dan sisa pemulihan fisiknya akhirnya menang; Ambar jatuh tertidur dengan buku sketsa yang masih terbuka di sampingnya dan pensil yang terlepas dari jemarinya.
Pintu kamar terbuka dengan sangat pelan, nyaris tanpa suara.
Baskara muncul dari balik pintu, kini sudah tidak menggunakan kursi roda melainkan bertumpu pada tongkat penyangga tunggal.
Napasnya sedikit terengah karena sesi terapi yang cukup menguras tenaga, namun wajahnya langsung melunak saat melihat pemandangan di depannya.
Ia melangkah perlahan mendekati ranjang, mencoba tidak menimbulkan bunyi lantai yang berderit.
Baskara berdiri mematung di sisi tempat tidur, menatap wajah tidur Ambar yang tampak damai namun masih menyisakan sedikit kerutan di dahi—bekas kekesalan tadi pagi.
Mata Baskara beralih ke buku sketsa yang ada di samping Ambar. Ia melihat desain gaun hitam dengan garis-garis tajam yang digambar istrinya.
Baskara tersenyum tipis; ia cukup cerdas untuk menyadari bahwa desain itu lahir dari rasa cemburu yang membara.
Baskara meletakkan tongkatnya di sandaran ranjang, lalu dengan hati-hati ia duduk di tepi kasur.
Ia mengulurkan tangan, membelai lembut pipi Ambar dengan punggung jarinya.
"Dasar pencemburu kecil," bisiknya sangat lirih, hampir tak terdengar.
Ia tahu tadi Siska mencoba bersikap genit, dan ia sengaja tertawa hanya untuk melihat sampai mana batas kesabaran istrinya. Namun, melihat Ambar yang sampai tertidur karena mungkin kelelahan memikirkan dirinya, membuat rasa bersalah mulai muncul di hati Baskara.
Baskara menarik selimut perlahan untuk menutupi tubuh Ambar hingga sebatas dada.
Saat ia hendak menarik tangannya, Ambar melenguh kecil dalam tidurnya, tanpa sadar mencari kehangatan dari tangan Baskara yang lebar.
Baskara tidak beranjak. Ia membiarkan tangannya digenggam oleh istrinya yang sedang bermimpi itu, sambil terus menatap Ambar dengan pandangan penuh pemujaan yang tidak pernah ia berikan kepada wanita mana pun di dunia ini, termasuk kepada terapis secantik apa pun.
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰