not allowed to copy , cerita ini 100% hasil dari pikiran ku sendiri, jadi jangan copy cerita ini,
cerita ini berjudul *menikah dengan musuh!! *
pemeran perempuan dalam cerita ini sangat membenci seorang lelaki yang sangat nakal dan sering bolos waktu sma, dan nama nya adalah ALRESCHA dan kerap di panggil al/reska
ayana/ pemeran utama dari cerita ini sangat membenci al,namun al menyukai nya dari zaman sma hingga kuliah, namun al sama sekali tidak pernah mengungkapkan cinta nya kepada ayana, dan sekarang dia di pertemukan lagi, dan di paksa oleh kedua orang tua mereka untuk menikah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaNa/ji-eun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
"Oh ya, Al... kamu sendiri sudah punya pacar belum?" tanya Syefana menyelidik.
"Nggak ada. Sudah ya, saya mau duluan," jawab Al singkat. Tanpa basa-basi atau tawaran mengantar pulang, Al langsung melangkah pergi meninggalkan Syefana.
Pikirannya hanya tertuju pada Ayana, Reva, dan Alin yang pasti sudah menunggunya di area bermain tadi.
Namun, saat Al kembali ke tempat awal, ketiganya sudah tidak ada di sana. Al mencoba menghubungi nomor Ayana beberapa kali, tapi tidak ada respons sama sekali.
Al mulai mengelilingi mall dengan langkah cepat, hingga akhirnya ia menemukan mereka sudah berdiri di dekat mobil di area parkir.
Ternyata, mereka sudah cukup lama menunggu di sana. Percakapan Al dengan Syefana tadi memang memakan waktu lebih lama dari yang ia perkirakan.
"Itu Papa baru datang, Sayang," ujar Ayana pelan kepada Reva, memberitahu bahwa sosok yang mereka tunggu akhirnya muncul.
"Papa ke mana aja? Capek tau nungguinnya!" keluh Reva dengan wajah cemberut.
Alin yang melihat keponakan kecilnya berani memarahi Papanya hanya tertawa kecil.
Berbeda dengan Ayana, ia hanya diam mematung sambil terus menatap layar ponselnya, seolah enggan menatap Al.
"Maaf ya, tadi Papa ketemu teman di sana, jadi lupa waktu sebentar," ucap Al berusaha mencairkan suasana.
Reva mengerucutkan bibirnya, tanda ia benar-benar sedang mogok bicara karena terlalu lama ditinggal. "Temannya cewek atau cowok?" tanya Reva tiba-tiba sambil membelakangi Al. Entah bagaimana, bocah kecil itu seolah punya insting untuk bertanya hal tersebut.
"Cowok kok," jawab Al berbohong demi menjaga keadaan.
"Ya sudah, ayo pulang. Reva, Alin, ayo masuk ke mobil sekarang," potong Ayana.
Suara Ayana terdengar sangat dingin, jauh berbeda dari biasanya. Al terdiam sejenak; apakah Ayana juga ikut marah karena ia menghilang terlalu lama?
Mereka pun berangkat untuk mengantar Alin pulang terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah. Di sepanjang jalan, suasana di dalam mobil terasa sangat kaku. Hanya terdengar suara mesin dan gumaman kecil Reva yang sedang asyik memainkan mainan barunya, menutupi kecanggungan yang menyelimuti Al dan Ayana.
****************
"Ehh, Reva sudah pulang ya? Mainan buat Oma mana nih?" tanya Mama Al sambil menyambut mereka di ruang tengah.
"Gak ada, Oma. Oma kan sudah besar, jadi nggak dapet mainan," sahut Reva polos dengan wajah seriusnya.
Ayana tersenyum tipis mendengar celotehan Reva yang menggemaskan itu. Namun, senyumnya tidak bertahan lama. Setelah bersalaman dengan mertuanya, Ayana langsung beranjak menaiki anak tangga menuju kamar. Ia merasa sangat lelah, bukan hanya karena fisiknya yang terkuras setelah mengejar Reva yang terus berlarian di playground, tapi juga karena suasana hatinya yang mendadak suntuk.
"Oma, aku mau ke Mama ya. Dadah!" pamit Reva kecil sambil berusaha menyusul langkah Ayana.
Al yang melihat itu segera mengikuti dari belakang. Ia menjaga jarak di belakang Reva, siap siaga karena takut bocah kecil itu terpeleset atau terjatuh saat menaiki tangga dengan terburu-buru. Suasana rumah terasa tenang, namun ada ketegangan yang masih menyelimuti langkah Al dan Ayana.
"Mama, ayo main lagi..." rengek Reva sambil menarik ujung baju Ayana.
"Nggak dulu ya, Sayang. Mama capek banget, tadi kamu lari-larian terus di sana," sahut Ayana lembut namun terdengar letih.
Al yang melihat Ayana sedang memijat betisnya sendiri merasa tidak tega. Ia perlahan mendekat, berniat membantu memijat kaki istrinya itu agar lebih rileks.
Namun, belum sempat tangan Al menyentuh, Ayana dengan cepat menarik kakinya dan langsung menutupinya dengan selimut.
Sikap dingin Ayana membuat Al tertegun. Sangat jarang Ayana menolak perhatiannya seperti ini. Al memberanikan diri untuk bertanya, "Kamu... marah?"
Ayana menyahut singkat tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. "Nggak."
Al tahu betul ia sudah membuat mereka menunggu terlalu lama di mall tadi. Dulu, ia juga pernah membuat Ayana menunggu, tapi respon Ayana tidak pernah sedingin ini. Ini adalah kali pertama di tahun ini Al mendapatkan perlakuan sekaku itu. Dulu Ayana bersikap begini karena memang belum menyukainya, tapi sekarang, saat hubungan mereka sudah membaik, mengapa Ayana kembali menutup diri?
"Reva, mainnya sudah ya. Ayo tidur," ajak Ayana mengalihkan pembicaraan.
Karena sudah jam tidur, Ayana meminta Reva segera berbaring. Namun, jawaban Reva justru menambah kecanggungan di kamar itu. "Tapi Reva nggak mau tidur di dekat Papa!"
Ayana terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Ya sudah, sini di sebelah Mama saja."
Reva langsung merebahkan tubuhnya di sisi kiri Ayana. Kebetulan di sisi kasur mereka terdapat pembatas pengaman, sehingga Reva tetap aman meski tidur di bagian pinggir.
Suasana kamar mendadak hening, menyisakan Al yang terpaku menatap punggung Ayana dan Reva yang sudah memunggunginya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Sudah tiga hari Al selalu keluar rumah setiap malam tanpa pamit pada Ayana. Awalnya, Ayana berusaha berprasangka baik bahwa Al mungkin ada urusan kampus yang mendesak. Namun kenyataannya, Al pergi menemui Syefana. Meski terkadang Al mengajak sahabatnya agar tidak terlihat mencurigakan, tetap saja ada sesuatu yang ia sembunyikan.
Sudah tiga hari pula Ayana mendiamkan Al. Rasa penasarannya memuncak, tapi harga dirinya jauh lebih tinggi untuk memulai percakapan.
"Reva, besok malam Mama ada acara di kampus, jadi kamu sama Oma dulu ya," ucap Ayana pada gadis kecil yang sibuk dengan dunianya sendiri. Karena tidak ada respon, Ayana bertanya sekali lagi, "Reva dengar Mama, kan?"
"Reva nggak boleh ikut Mama?" tanya Reva polos.
"Nggak boleh, Sayang. Di sana acaranya untuk orang dewasa semua, nggak ada anak kecil," sahut Ayana lembut, menatap lekat bocah yang sudah ia jaga sejak bayi itu.
Keesokan harinya, Ayana berpakaian seperti biasa agar tidak mengundang kecurigaan. Ia sudah muak dan bertekad mencari tahu ke mana Al pergi setiap malam. Begitu mobil Al keluar pagar, Ayana langsung membuntutinya menggunakan motor sendiri. Ia tidak mau kejadian dulu terulang lagi, saat sopir yang mengantarnya justru melaporkan keberadaannya pada Al.
Ayana menjaga jarak cukup jauh agar tidak ketahuan. Hingga akhirnya, ia sampai di sebuah restoran mewah. Di sana, ia melihat Al duduk bersama seorang perempuan—sosok yang sama dengan yang ia lihat di mall tempo hari.
"Oh, pantas saja sering keluar. Ternyata selingkuh," gumam Ayana getir. Ini sudah kedua kalinya ia memergoki mereka. Hatinya mencelos. Tanpa berniat melabrak, Ayana langsung memacu motornya pergi mencari tempat sepi untuk menenangkan diri.
"Kenapa sih, Al? Waktu di mall kamu bilang belum nikah, maksud kamu apa?" tangis Ayana pecah di keheningan malam. "Kalau emang nggak suka, kenapa dipertahanin? Kenapa nggak ceraiin gue aja?"
Ternyata, alasan Ayana bersikap dingin selama ini adalah karena ia tak sengaja mendengar percakapan Al dan Syefana di mall. Kata-kata Al yang mengaku "belum menikah" terasa seperti sembilu yang mengiris hatinya.
Ayana menunggu kejujuran Al, namun yang ia dapatkan justru sebaliknya. Al semakin menjadi-jadi, hampir setiap malam pulang tengah malam dan seolah melupakan istri serta anaknya. Pikiran buruk mulai menghantui Ayana. Mengingat mereka selalu pulang larut, Ayana takut mereka sudah melakukan hal yang jauh di luar batas.
"Kapan kamu mau jujur, Al? Kenapa saat gue mulai cinta, kamu malah berbuat begini di belakang gue?"
Setelah merasa sedikit tenang, Ayana memutuskan pulang. Ia ingin melihat apakah besok Al akan mengulangi perbuatannya lagi.
Di perjalanan, fokusnya kacau. Pikirannya melayang kemana-mana hingga ia hampir menabrak mobil orang lain. Beruntung, ia cepat tersadar sebelum kecelakaan terjadi.
Sesampainya di rumah, Ayana langsung masuk ke kamar. Pandangannya tertuju pada Reva yang sudah terlelap di tepi kasur. Ia mendekat dan membisikkan kata-kata penuh luka di telinga bocah itu.
"Reva, kamu nggak akan ninggalin Mama, kan? Jangan tinggalin Mama ya, Sayang..."
Ayana segera merebahkan diri dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia tidak ingin saat Al pulang nanti, suaminya itu melihat matanya yang sembab dan hidungnya yang memerah karena terlalu banyak menangis.