Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PKI
Malam kian larut di teras rumah kayu itu, hingga tiba-tiba sepoi angin menjatuhkan sebuah pamflet kusam yang terselip di antara tumpukan koran tua di pojok meja—sebuah kertas menguning dengan simbol-simbol yang membuat rahang Mbah Sidik mendadak mengeras. Matanya yang semula sayu seketika menajam, menatap nanar ke arah kegelapan sawah seolah ingatan kelam tahun enam puluhan itu merayap keluar dari balik bayang-bayang pohon jati.
Ahmad yang menyadari perubahan raut wajah bapaknya hanya bisa terdiam mematung, sementara Mbah Sidik menarik napas dalam yang terasa sesak, lalu dengan suara rendah yang menggetarkan kesunyian malam, ia mulai membuka lembaran sejarah yang jauh lebih perih —kisah tentang pengkhianatan yang membelah jantung saudara sendiri.
"Margarana itu perang melawan musuh dari luar, Ahmad," suara Mbah Sidik parau, nyaris seperti gesekan amplas pada kayu tua. "Tapi apa yang terjadi di tahun '45 hingga puncaknya di '65... itu adalah luka di dalam daging sendiri. Kekejaman yang dilakukan oleh mereka yang menyebut dirinya PKI adalah luka yang sulit kering."
Mbah Sidik menghela napas berat, mengenang masa-masa mencekam di Madiun dan wilayah sekitarnya. "Mereka tidak hanya mengincar seragam, Ahmad. Mereka mengincar jiwa.
Bapak melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana ulama, kiai, dan pamong desa yang jujur diseret dari rumah mereka di tengah malam. Mereka yang seharusnya menjaga moral bangsa, justru dianggap penghalang."
Sidik teringat kawan-kawan tentaranya yang dikhianati. Mereka diculik, dimasukkan ke dalam lubang-lubang gelap, atau dibantai di ladang-ladang tebu yang sunyi. "Mereka tidak mengenal kata ampun. Bagi mereka, siapa pun yang tidak sejalan dengan ideologi merah itu adalah musuh yang harus dilenyapkan. Tak peduli itu tetangga sendiri atau orang yang setiap hari berpapasan di pasar."
"Kekejaman mereka bukan hanya soal peluru, tapi soal cara mereka menghabisi manusia tanpa rasa kemanusiaan," lanjut Mbah Sidik, tangannya bergetar sedikit. "Ada kawan Bapak, seorang bintara yang setia, ditemukan di dalam sumur tua dalam keadaan yang... ah, Bapak tidak sanggup menceritakannya padamu secara rinci, Ahmad. Terlalu ngeri untuk dibayangkan oleh anak seusiamu."
Mereka menggunakan intimidasi, menghasut rakyat kecil untuk membenci sesamanya, dan menciptakan suasana di mana tidak ada lagi rasa percaya. "Desa-desa yang tadinya tenang berubah menjadi mencekam. Setiap pintu rumah dikunci rapat saat matahari terbenam. Kami, para prajurit, harus berjaga ekstra ketat, karena musuh kali ini tidak memakai seragam NICA yang jelas, melainkan bersembunyi di balik wajah-wajah yang akrab."
Di tengah kekacauan itu, Mbah Sidik tetap berpegang teguh pada sumpahnya sebagai prajurit sapta marga. "Bapak melihat bagaimana mereka mencoba mengganti dasar negara kita. Mereka ingin menghapus ketuhanan dari bumi nusantara. Itulah yang membuat Bapak dan kawan-kawan bergerak. Bagi kami, membela negara juga berarti membela agama dan keyakinan."
Mbah Sidik menatap Ahmad dengan tatapan yang sangat tajam, seolah ingin menanamkan peringatan ini ke dalam sumsum tulang anaknya. "Jangan pernah biarkan paham yang menghalalkan segala cara itu tumbuh lagi di tanah ini. Mereka bicara soal keadilan, tapi tangannya berlumuran darah orang-orang yang tak berdosa."
Margarana adalah badai dari seberang lautan,
Namun prahara ini adalah racun di dalam ingatan
Saat merah mencoba membasuh putihnya nurani,
Meninggalkan duka yang menusuk hingga ke hati.
Lubang-lubang gelap menjadi saksi bisu,
Tentang nyawa yang hilang ditelan nafsu yang palsu.
Ulama dan ksatria gugur dalam khianat,
Oleh mereka yang lupa akan adab dan amanat.
Ahmad, dengarlah rintihan dari sumur tua,
Agar kau paham betapa mahalnya sebuah doa.
*Jangan biarkan khianat itu kembali menyapa,
Di tanah tempat Merdeka dan Iman bertahta.
**
Mbah Sidik menyandarkan punggungnya di kursi jati yang sudah tua itu. "Sejarah itu punya dua sisi, Ahmad. Ada sisi heroik seperti di Bali, dan ada sisi kelam yang memilukan. Bapak ceritakan ini agar kau waspada, agar kau tahu bahwa musuh yang paling berbahaya adalah mereka yang merusak persatuan dari dalam."
Ahmad hanya bisa tertegun, membayangkan betapa berat beban yang dipikul bapaknya selama ini. "Lalu, bagaimana cara Bapak bertahan di tengah ketakutan itu?"
Mbah Sidik memegang tasbih kayu di sakunya. "Dengan satu keyakinan, Ahmad: Bahwa kebenaran mungkin bisa disiksa, tapi ia tidak akan pernah bisa mati."
Mbah Sidik menarik napas panjang, lalu menyulut rokok klobotnya. Asap tipis mengepul, menari-nari di bawah lampu minyak yang temaram. Suasana malam di Jepara mendadak senyap, seolah alam pun turut mendengarkan lembaran sejarah kelam yang akan ia buka kembali.
"Ahmad, sejarah itu seperti sungai," ujar Mbah Sidik dengan suara yang berat. "Airnya mengalir, tapi dasar sungainya penuh dengan endapan batu yang tajam. PKI bukan tiba-tiba ada, mereka tumbuh dari benih kebencian dan ambisi yang disemai bertahun-tahun."
"Semuanya dimulai jauh sebelum merdeka, di tahun 1914. Mereka muncul membawa ideologi yang asing bagi bumi kita, mengatasnamakan kaum buruh dan petani untuk melawan ketidakadilan. Awalnya terdengar mulia, Ahmad. Tapi di balik janji-janji manis tentang kesetaraan, terselip ambisi untuk mengganti dasar bangsa kita dengan ideologi yang menihilkan Tuhan."
Mbah Sidik menjelaskan bagaimana sejak tahun 1926, mereka sudah mencoba melakukan pemberontakan melawan Belanda, namun gagal. Setelah Indonesia merdeka, mereka kembali dengan wajah yang lebih licin. "Mereka masuk ke pelosok desa, menyusup ke organisasi buruh, bahkan masuk ke dalam struktur pemerintahan. Mereka menggunakan taktik gerak ke bawah—mendekati orang-orang kecil yang sedang kesulitan ekonomi, lalu meracuni pikiran mereka dengan doktrin bahwa musuhmu adalah mereka yang punya harta'."
Mbah Sidik memandang api di ujung rokoknya. "Ingat peristiwa Madiun 1948? Saat kita sedang sibuk mempertahankan kemerdekaan dari agresi militer Belanda, mereka justru melakukan stab in the back—tikaman dari belakang. Mereka memproklamirkan negara sendiri di tengah gentingnya revolusi. Itu adalah pengkhianatan paling nyata. Kiai-kiai disembelih, aparat desa dibantai. Bagi mereka, tidak ada ruang untuk perbedaan pendapat."
"Itu sebabnya, Ahmad," lanjut Mbah Sidik, "Bagi tentara seangkatan Bapak, mereka bukan lagi sekadar lawan politik, tapi virus yang menggerogoti rumah kita sendiri."
"Makin mendekati tahun 1965, keadaan makin gila. Mereka mulai berani menantang TNI, menantang para kiai di pesantren, bahkan berani membuat isu-isu fitnah yang keji. Setiap hari ada saja keributan. Mereka melakukan aksi sepihak, menyerobot tanah rakyat yang bukan miliknya, menghasut orang untuk saling benci dengan tetangga sendiri. Desa-desa jadi tidak tenang. Orang tidak berani lagi bicara jujur karena takut dicap sebagai musuh rakyat atau antek asing."
"Suasana benar-benar mencekam. Kami, para veteran yang sudah kenyang makan asam garam perang, merasa ada badai besar yang akan datang. Dan benar saja, di malam 30 September itu, mereka menunjukkan taringnya yang paling tajam."
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
q berasa kaya lagi ngaji thor
siapa kah sebenarnya kang sidik ?