NovelToon NovelToon
Charming The Beast

Charming The Beast

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan dari Utara

Kedamaian di Lembah Saraswati adalah sebuah anomali. Setelah perayaan di bawah bintang-bintang, kehidupan mulai mengalir dengan ritme yang lebih teratur. Adrian mulai memimpin sesi meditasi pagi bersama anak-anak anomali lainnya, menggunakan frekuensinya untuk membantu mereka menstabilkan emosi. Namun, bagi Kenzo, setiap detik ketenangan adalah waktu yang dipinjam dari badai yang akan datang.

Pukul tiga pagi, saat kabut Lawu sedang tebal-tebalnya, ruang komando bawah tanah Saraswati berkedip dengan cahaya merah yang redup. Sebuah transmisi satelit terenkripsi masuk, menembus protokol keamanan berlapis yang dipasang Leo.

Aara, yang selalu memiliki insting tajam, sudah berada di sana sebelum alarm berbunyi. Ia duduk di depan layar, jemarinya bergerak cepat membedah kode yang masuk.

"Kenzo, ini bukan dari The Syndicate," bisik Aara saat suaminya masuk ke ruangan dengan kaos hitam dan celana taktis, wajahnya waspada. "Ini berasal dari koordinat yang sangat kita kenal. Svalbard, Norwegia."

Kenzo mengerutkan kening. Svalbard adalah tempat di mana *The Collector* seharusnya sudah tewas dan markasnya dihancurkan oleh kartel saingan. "Siapa yang masih tersisa di sana?"

"Bukan siapa, tapi apa," Aara membuka sebuah rekaman video otomatis dari salah satu drone pengintai Nusantara yang ditinggalkan di utara.

Layar menampilkan pemandangan salju abadi yang terbelah. Dari bawah es, muncul sebuah struktur logam raksasa yang belum pernah mereka lihat sebelumnysebuah kapal induk siluman bertenaga nuklir yang selama ini terkubur di bawah gletser. Kapal itu tidak membawa lambang FBA atau The Hive. Di lambungnya hanya ada satu simbol: Lingkaran Ouroboros ular yang memakan ekornya sendiri.

"Ouroboros..." Kenzo bergumam, suaranya mengandung nada ngeri yang jarang terdengar. "Kakekku pernah bercerita tentang mereka. Itu adalah organisasi induk yang mendanai Miller, The Hive, dan bahkan Nusantara di masa-masa awal. Mereka adalah 'Uang Tua' dunia bawah yang sebenarnya."

"Pesan ini ditujukan untuk Adrian," ucap Aara, suaranya bergetar.

Layar beralih menampilkan teks sederhana namun mengerikan:

"Darah kembali ke Tanah. Frekuensi kembali ke Sumber. Alpha, saatnya pulang ke Utara atau Nusantara akan kami bekukan."

Beberapa detik kemudian, laporan masuk dari Baskara di Jakarta. "Tuan! Sistem pendingin di seluruh gedung utama Nusantara di Jakarta dan Surabaya tiba-tiba mengalami malfungsi. Suhu ruangan turun menjadi minus sepuluh derajat dalam hitungan menit. Ini bukan peretasan biasa... mereka menggunakan emisi frekuensi endotermik!"

Ancaman itu nyata. Ouroboros tidak menyerang dengan peluru, mereka menyerang dengan memanipulasi energi termal melalui frekuensi teknologi yang jauh di atas apa yang dimiliki Miller.

Kenzo segera mengaktifkan Protokol Kiamat di Saraswati. "Baskara, evakuasi semua staf non-tempur. Aara, kunci semua akses satelit kita. Kita tidak boleh membiarkan mereka melacak frekuensi Adrian dari luar."

Adrian masuk ke ruang komando, wajahnya tenang namun matanya berkilat perak lebih terang dari biasanya. "Aku sudah merasakannya, Papa. Dingin itu... itu bukan dari udara. Itu dari pikiran mereka."

"Adrian, kau harus tetap di dalam bunker kristal," perintah Kenzo.

"Tidak, Papa. Jika mereka menggunakan frekuensi untuk membekukan Nusantara, aku bisa menggunakan frekuensiku untuk menghangatkannya," Adrian melangkah maju ke pusat kendali. "Eyang Ratri bilang, harmoni bukan hanya tentang kedamaian, tapi tentang keseimbangan. Jika mereka mengambil panas, aku akan memberikannya kembali."

Aara mulai melakukan serangan balik digital. Ia menyadari bahwa serangan Ouroboros menggunakan jaringan kabel fiber optik bawah laut sebagai konduktor frekuensi mereka.

"Mereka menggunakan infrastruktur kita sendiri untuk melawan kita!" seru Aara. "Kenzo, aku butuh kau pergi ke stasiun hub utama di Surabaya. Itu adalah titik pusat di mana frekuensi mereka masuk ke jaringan Indonesia. Jika kau bisa memutus koneksi fisiknya, aku bisa mengisolasi virus mereka."

Kenzo mengangguk. "Berapa lama waktu yang aku punya?"

"Tiga puluh menit sebelum seluruh sistem kelistrikan Nusantara meledak karena beban termal," jawab Aara.

Kenzo mencium kening Aara dan menepuk bahu Adrian. "Jaga rumah ini."

Kenzo berangkat menggunakan jet siluman tercepat milik Nusantara. Dalam dua puluh menit, ia sudah melompat terjun payung menuju gedung hub pusat di Surabaya yang kini diselimuti bunga es di tengah cuaca tropis.

Di dalam gedung, suhu mencapai minus 20 derajat Celcius. Kenzo bergerak dengan tabung oksigen dan baju pelindung termal. Ia harus menghadapi unit penjaga Ouroboros yang sudah berada di sana—pasukan robotik tak berjiwa yang kebal terhadap suhu dingin.

Pertarungan di dalam hub berlangsung brutal. Kenzo menggunakan granat termit untuk menghancurkan sendi-sendi robot tersebut. Setiap napasnya berubah menjadi kristal es di udara. Dengan tangan yang mulai membeku, ia berhasil mencapai ruang peladen utama.

"Aara! Aku sudah di depan unit pusat! Beri aku perintah!" teriak Kenzo melalui radio yang terdistorsi.

"Pasang alat pemicu frekuensi balik yang dibuat Adrian! Sekarang!"

Kembali di Saraswati, Adrian duduk di tengah ruangan kristal. Ia menggenggam liontin emas putihnya. Keringat bercucuran di dahi bocah itu meskipun suhu di sekitarnya mulai turun.

"Adrian, sekarang!" perintah Aara dari ruang kendali.

Adrian melepaskan gelombang energi yang luar biasa. Melalui koneksi yang dipasang Kenzo di Surabaya, energi hangat dari frekuensi Adrian merambat balik ke arah kapal induk di Svalbard.

Ini adalah tarung kekuatan murni. Di satu sisi, teknologi kuno Ouroboros yang mencoba membekukan segalanya. Di sisi lain, kehidupan dan kehangatan dari seorang bocah yang didukung oleh cinta orang tuanya.

Tiba-tiba, suara retakan besar terdengar di seluruh jaringan.

"Berhasil!" teriak Aara. "Suhu di Jakarta mulai naik! Frekuensi mereka terpental kembali ke sumbernya!"

Di layar satelit, mereka melihat kapal induk di Svalbard tiba-tiba mengeluarkan uap panas yang masif. Energi yang mereka kirimkan membanjiri sistem mereka sendiri, menyebabkan reaktor nuklir mereka mengalami overheat seketika.

Kapal raksasa itu tidak meledak, namun sistem senjatanya lumpuh total, membeku di dalam es yang mereka ciptakan sendiri.

Kenzo keluar dari gedung hub di Surabaya, terengah-engah menghirup udara malam yang hangat. Ia melihat bunga es di tangannya perlahan mencair.

Setelah situasi terkendali, sebuah pesan audio terakhir masuk ke Saraswati. Suaranya bukan suara mesin, melainkan suara seorang pria tua yang terdengar bijak namun dingin.

"Kau menang kali ini, Kenzo Arkana. Tapi kau harus tahu... kami bukan musuhmu. Kami adalah penciptamu. Adrian bukan hanya pewaris Nusantara, dia adalah kunci untuk mencegah apa yang akan datang dari luar cakrawala. Simpan dia dengan baik. Kami akan mengawasi."

Pesan itu terhapus secara otomatis.

Pagi harinya di Saraswati, Kenzo yang baru kembali disambut oleh pelukan hangat dari Aara dan Adrian. Mereka berdiri di tepi lembah, melihat matahari yang benar-benar hangat menyinari pegunungan Lawu.

"Apa yang mereka maksud dengan 'apa yang akan datang'?" tanya Aara pelan.

Kenzo menatap langit biru yang luas. "Entahlah. Tapi apapun itu, kita tidak akan menghadapinya sebagai korban. Kita akan menghadapinya sebagai satu keluarga."

Adrian menggandeng tangan kedua orang tuanya. "Papa, Mama... aku ingin belajar lebih banyak. Aku ingin siap."

Kenzo tersenyum, merasakan kekuatan di tangan kecil putranya. "Kita semua akan siap, Adrian. Perjalanan ini memang masih sangat panjang, tapi selama matahari masih terbit, kita masih punya waktu untuk bertarung."

Di bawah kaki mereka, tanah Nusantara terasa kokoh. Hantu-hantu dari utara mungkin masih mengintai, namun untuk saat ini, kehangatan cinta telah mengalahkan dinginnya pengkhianatan. Petualangan baru telah dimulai, dan kali ini, mereka memegang kendali atas frekuensi masa depan mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!