NovelToon NovelToon
DI ANTARA DUA KHUTBAH

DI ANTARA DUA KHUTBAH

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jesa Cristian

Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: SANG JENIUS YANG TERSEMBUNYI DI BALIK LELUCON

Suasana euforia pasca-presentasi Faris masih terasa hangat di Gang Tebet. Berita tentang "Sains Islam yang Membungkam Amerika" telah menjadi trending topic nomor satu di Twitter dan Instagram. Wartawan dari BBC hingga Al-Jazeera antre di depan gerbang masjid, berharap mendapatkan wawancara eksklusif dengan sang jenius misterius.

Namun, di dalam ruang tamu rumah Aris yang sejuk, suasana justru berubah menjadi sangat... aneh.

Faris, si ilmuwan dingin yang tadi siang berbicara tentang persamaan diferensial dan bio-fisika spiritual dengan wajah datar, tiba-tiba meletakkan tablet hologramnya. Ia meregangkan badan, lalu menepuk-nepuk pipinya sendiri sambil membuat suara "Cekrek-cekrek" seperti karet ditarik.

"Huh, akhirnya selesai juga!" seru Faris dengan nada yang sama sekali berbeda. Suaranya tidak lagi datar dan robotik, melainkan renyah, penuh intonasi, dan... lucu? "Kak, kamu tahu nggak? Tadi aku hampir ketawa pas lihat muka si Victoria yang pucat pasi itu. Kayak keju diparut! Hahaha!"

Aris yang sedang menyeruput teh tersedak. Rina melongo.

"Faris? Kau... baik-baik saja?" tanya Aris bingung.

Faris berdiri, lalu berjalan menuju cermin besar di dinding. Ia mengatur letak sorbannya dengan gaya berlebihan, lalu berpose seperti model majalah fashion.

"Tentu saja baik, Kak! Aku hanya bosan jadi robot terus. Kamu tahu, selama tiga tahun di laboratorium bawah tanah di Turki, aku cuma bicara sama tikus percobaan dan kitab kuno. Sekarang ketemu orang banyak, ah, rasanya ingin melawak!"

Tiba-tiba, Faris berbalik menghadap Aris dan Rina, lalu memulai sebuah monolog cepat.

"Jadi begini, Kak. Tadi ada profesor dari Jepang nanya, 'Pak Faris, apakah doa itu bisa diukur dengan mikroskop?' Lalu aku jawab, 'Bisa Pak! Kalau doanya khusyuk, gelombangnya kelihatan jelas. Tapi kalau doanya sambil main HP, gelombangnya jadi error 404: Faith Not Found!' Hahaha! Garing ya? Ah, sudahlah!"

Rina tertawa terbahak-bahak sampai memegang perutnya. "Ya Allah, Mas Faris! Ternyata kau pelawak?! Tadi siang kita semua kira kau alien sains yang serius!"

Aris menggeleng-gelengkan kepala, tersenyum kecut. "Jadi selama ini... semua teori rumit tentang algoritma Khawarizmi dan interferensi kuantum itu... kau sampaikan sambil menahan keinginan untuk bercanda?"

"Ya iyalah, Kak!" sahut Faris sambil mengambil sepotong kue lapis legit dan memakannya dengan lahap. "Orang pintar itu harusnya menyenangkan, Kak. Nabi saja suka bercanda tapi benar. Kalau mukanya cemberut terus, nanti dikira lagi sakit gigi. Lagipula, sains itu sebenarnya lucu lho. Alam semesta ini penuh dengan lelucon Tuhan yang hanya dipahami oleh mereka yang teliti."

Belum sempat Aris merespons kelucuan saudaranya ini, terdengar suara riuh rendah dari halaman depan. Bukan suara wartawan, tapi suara sekumpulan gadis-gadis muda.

"Masya Allah, itu dia!"

"Ganteng banget!"

"Dan pinter lagi! Jarang-jarang ada cowok bisa ngomong soal fisika kuantum sambil kutip hadis!"

"Itu senyumnya... aduh, meleleh hati saya!"

Ternyata, kabar tentang Faris yang jenius, tampan (karena wajahnya mirip Aris), dan kini terlihat santai serta humoris, telah menyebar seperti api di kalangan gadis-gadis Tebet dan sekitarnya. Siska, Yuni, bahkan gadis-gadis dari kampung sebelah yang biasanya sombong, kini berkerumun di pagar rumah, mengintip dengan mata berbinar-binar.

"Lihat tuh, Mas Faris lagi makan kue! Gemasnya!" bisik Siska pada Yuni. "Dulu aku naksir Aris karena dia ustadz ganteng. Tapi Faris? Dia ustadz jenius yang bisa bikin ketawa! Ini kombinasi mematikan!"

Yuni mengangguk kuat-kuat sambil membetulkan hijabnya. "Iya! Aku dengar dia hafal 5000 kitab plus bisa ngoding komputer. Kalau nikah sama dia, anakku nanti pasti jadi Einstein yang shaleh! Aku harus cari cara buat deketin dia!"

Di dalam rumah, Faris menyadari kerumunan itu. Alih-alih malu atau menghindar, ia justru tersenyum lebar, melambai-lambaikan tangan dengan gaya berlebihan ala selebriti

"Halo, Adik-adik cantik! Jangan dorong-dorongan pagarnya, nanti rusak! Nanti biayanya masuk anggaran riset saya lho! Hahaha!"

Para gadis itu histeris. Beberapa sampai pingsan pura-pura.

"Ih, suaranya merdu banget!"

"Dia nyapa aku! Dia nyapa aku!"

Aris menatap Faris dengan pandangan tak percaya. "Faris, kau sadar kan mereka sekarang mengincarmu? Besok lusa, surat cinta akan memenuhi kotak pos kita. Ibu-ibu akan datang bawa foto anak perempuan mereka untuk dijodohkan."

Faris tertawa lepas, lalu berbisik conspiratorial pada Aris. "Tenang, Kak. Itu bagian dari strategi dakwah juga. Kalau mereka jatuh cinta sama aku, otomatis mereka akan penasaran sama sains Islam yang aku ajarkan. Cinta adalah pintu masuk terbaik menuju ilmu, Kak! Ingat kisah Majnun dan Laila? Itu cinta yang bikin orang gila ilmu (dalam artian positif)!"

"Tapi jangan sampai kebablasan," peringatan Rina sambil tertawa. "Nanti malah jadi fitnah baru. 'Ustadz Jenius Main Mata dengan Gadis Kampung'."

"Ah, nggak mungkin, Kak Rina," jawab Faris santai sambil kembali membuat lelucon. "Aku ini punya prinsip: Hati hanya untuk Satu (Allah), akal untuk ribuan (ilmu), dan humor untuk semua (manusia). Selama aku bisa bikin mereka tertawa dan belajar, amanlah dunia."

Tiba-tiba, ponsel Faris berbunyi. Ia melihat layar, lalu wajahnya berubah sedikit serius meski masih menyisakan senyum nakal.

"Oh, ada pesan dari kontak rahasia di Kairo. Mereka bilang, Victoria Sterling tidak tinggal diam. Dia sedang mengirim tim investigasi khusus untuk menggali masa laluku. Mereka curiga ada yang tidak beres dengan 'sains' saya."

Aris langsung waspada. "Mereka akan menemukan apa?"

Faris terkekeh, matanya berkilat jenius. "Mereka akan menemukan tumpukan kitab kuno berdebu dan catatan eksperimen gila saya tentang 'Terapi Tawa Berbasis Neuro-Sains'. Mereka akan bingung, Kak. Apakah saya ini penipu, jenius, atau pelawak gagal? Kebingungan adalah senjata terbaik. Saat musuh bingung, mereka lengah."

Faris berjalan ke jendela, melambai lagi pada para gadis di luar yang semakin histeris.

"Lihat mereka, Kak. Mereka butuh harapan. Mereka butuh sosok yang membuktikan bahwa menjadi religius itu tidak berarti ketinggalan zaman, dan menjadi cerdas itu tidak berarti kehilangan rasa humor. Aku akan jadi jembatan itu. Dengan sedikit bumbu lawakan, tentu saja."

Malam itu, Gang Tebet tidak hanya ramai oleh diskusi agama, tapi juga oleh tawa. Faris mengadakan sesi "Ngaji Santai & Sains Lucu" di teras rumah. Ia menjelaskan teori Big Bang sambil memperagakan ledakan balon yang gagal, membuat ratusan warga tertawa terpingkal-pingkal, termasuk anak-anak kecil.

Di tengah tawa itu, Faris menyelipkan pesan-pesan mendalam tentang kebesaran Tuhan, tentang bagaimana alam semesta diciptakan dengan presisi matematika yang menakjubkan, namun tetap memiliki ruang untuk keajaiban dan humor ilahi.

Siska dan Yuni, yang tadinya hanya ingin mendekati Faris karena fisik dan kepintarannya, perlahan mulai tertarik dengan materi yang disampaikan.

"Ternyata... Islam itu keren banget ya," gumam Siska pada Yuni. "Aku nggak tahu kalau shalat itu ada hubungannya dengan gelombang otak yang bikin tenang kayak hasil riset tadi."

"Nah, itu dia," bisik Yuni. "Dia bukan cuma ganteng. Dia bikin kita pinter dan happy. Ini calon imam idaman sejati."

Sementara itu, di markas Victoria Sterling yang jauh di hotel mewah, sang wanita kaya raya itu membanting laporan investigasi timnya.

"Apa maksudnya ini?!" teriak Victoria frustrasi. "Laporannya bilang dia jenius, tapi tingkahnya seperti badut? Dia mengutip Ibnu Sina sambil bercerita lelucon tentang kucing? Siapa sih orang ini sebenarnya?!"

Asistennya menjawab ragu-ragu, "Nona, sepertinya... dia terlalu kompleks untuk dipahami. Dia menggabungkan logika tingkat tinggi dengan emosi manusia yang sangat cair. Kita tidak bisa memprediksi langkahnya. Setiap kali kita pikir kita tahu polanya, dia malah melawak dan mengubah arah pembicaraan."

Victoria menghela napas panjang, merasa lelah yang luar biasa. Musuhnya kali ini bukan sekadar pria shaleh atau pengusaha kaya. Musuhnya adalah anomali. Seorang pelawak jenius yang berlindung di balik data sains, yang dicintai rakyat karena kecerdasannya, dan dirayu gadis-gadis karena humornya.

"Awasi dia," perintah Victoria lirih. "Tapi hati-hati. Jangan sampai kita terjebak dalam leluconnya sendiri."

Di Tebet, Faris menutup acara malam itu dengan sebuah lelucon penutup:

"Ingat Bapak-bapak, Ibu-ibu. Hidup ini seperti ujian matematika. Kalau nggak bisa jawab, jangan nyontek tetangga. Tanyain sama Yang Punya Soal, yaitu Allah! Karena Dia Maha Mengetahui kunci jawabannya, dan Dia nggak pernah pelit kasih contekan berupa petunjuk alam semesta! Selamat malam, semoga mimpi kalian penuh dengan rumus-rumus indah dan malaikat yang lucu

Warga bertepuk tangan gemuruh. Aris dan Rina tersenyum bangga. Mereka sadar, kehadiran Faris bukan sekadar bantuan strategis. Faris adalah bukti bahwa Islam itu hidup, dinamis, menyenangkan, dan mampu menjawab tantangan zaman dengan cara yang paling tidak terduga: Melalui tawa dan ilmu.

Dan bagi para gadis desa yang sedang jatuh hati, mereka baru saja menemukan tipe pria baru: Pria yang bisa membuat mereka tertawa lepas, sekaligus membuat mereka merasa dekat dengan Tuhan. Sebuah kombinasi yang sulit ditolak.

Bersambung...

1
Jesa Cristian
ayo komen temen temen ku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!