NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Sang Mantan

Benih Rahasia Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.

Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.

5 tahun berlalu~

Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Miranda memalingkan wajah. Mengusap air matanya yang tak mampu dirinya tahan.

Afran tersenyum. Tanganya belum luruh. "Kalau mau peluk... Ayo peluk tubuh Paman!"

Tama reflek menoleh kearah Bundanya. Tatapan itu seolah meminta persetujuan.

Afran paham situasi itu. Dengan sikap hangatnya, ia yang lebih dulu memeluk tubuh Tama. "Paman bukan orang jahat. Kamu nggak perlu takut jika mau peluk Paman."

Tama sudah berada dalam gendongan Afran. Pria kecil itu mengalungkan kedua tanganya pada leher Afran. Meletakan kepalanya yang masih terasa panas pada bahu Afran.

"Paman, telimakasih ya...." Tama mengangkat wajahnya, menatap sosok yang mirip Ayahnya itu dengan lamat.

Afran mengangguk kecil. Kemudian bertanya, "Oh ya... Kita belum kenalan loh. Nama kamu siapa?"

"Tama, Paman...."

Mata Afran terbuka sedikit berbinar. "Oh ya, Tama... Nanti setelah sampai rumah, obatnya jangan lupa di minum ya! Biar lebih semangat, bagaimana kalau Paman belikan mainan baru?"

Wajah Tama menegak, berubah cerah seketika. Dan ketika menoleh, Bundanya tampak tidak setuju. Miranda mendekat lalu berkata, "Maaf, Mas Afran... Ini terlalu berlebihan. Sudah Anda tolong saja saya berterimakasih banyak. Tidak perlu repot-repot membelikan mainan Tama. Mainannya di rumah sangat banyak."

Afran menyeletuk, "Hanya sekedar mainan, bukan masalah berat, Miranda."

Miranda cukup terdiam. Ia rasa, sikap pria asing di depanya itu sudah terlalu jauh. Meskipun perasaannya menghangat melihat kedekatan itu, namun ada kecemasan yang menghantam dadanya; takut jika kedekatan itu membuat Putranya akan selalu berharap kepada sosok Afran.

Meskipun begitu, pelan-pelan Miranda akan memberi paham kepada Putranya, bahwa pertemuan tanpa kesengajaan itu hanyalah cara Tuhan mengingatkan ia dan putranya kepada sosok Arya. Dan bukan berarti Putranya harus menganggap sebagai hal yang sama, apalagi bergantung dengan orang lain.

Setelah selesai menebus obat, Afran langsung mengajak Tama mengunjungi toko mainan terbesar di Ibukota.

Selama perjalanan, meskipun badan Tama masih hangat, namun bocah tampan itu sejak tadi bersikap lincah dan aktif. Tama banyak menyanyikan lagu favoritnya, juga bercerita; menceritakan sosok Ayahnya yang selalu sabar dan sayang dalam memberinya pelajaran hidup. Meskipun dulu masih kecil, tapi Tama banyak menyerap ilmu, dan sikap tenangnya ia terapkan hingga kini.

Sementara Afran juga antusias menjawab maupun memberi beberapa pertanyaan. Suasana mobil yang biasanya senyap, malam ini pecah terasa hidup.

Hanya memerlukan waktu beberapa menit saja, mobil mewah itu sudah memasuki halaman pusatnya mainan.

Tama teringat, dulu ia juga pernah diajak sang Ayah mengunjungi tempat itu. Tama menyebutnya 'Castle Toys' dan hal itu membuat tawa Afran pecah.

"Oke, kita sudah sampai! Kita turun yuk. Tama mau di gendong Paman?"

Tak perlu berpikir dua kali, Tama langsung masuk dalam gendongan Afran.

Tanpa tersadari, kedekatan mereka sudah seperti layaknya sebuah keluarga cemara.

Dan begitu masuk, mata Tama terbuka lebar melihat beberapa mainan berjejer rapi di depanya. Afran membawa Tama menuju mainan khusus Dino.

"Tama... Tama suka nggak sama mainan Dino? Di rumah, Paman punya koleksi banyak loh khusus mainan Dino."

Afran menurunkan Tama, agar bocah kecil itu lebih leluasa memilih. Lalu, wajah pria tampan itu mendongak.

"Miranda... Apa di rumah Tama memiliki mainan Dino?"

Miranda tersadar. Ia sejak tadi mengkhawatirkan sang Putra, jika Tama memilih mainan dengan harga mahal.

"Oh, em... Dino dia tidak punya, Mas Arfan! Di rumah koleksinya hanya mobil-mobilan saja," jawabnya dengan segan.

Afran manggut-manggut, lalu antusias menjelaskan tentang beberapa mainan Dino yang berjejer.

Rupanya, di sudut ruang, seorang wanita cantik tengah syok dengan pemandangan pasangan di sebrang itu.

"Itu Afran 'kan? Bagaimana bisa bersama wanita lain? Dan, bocah itu? Siapa sebenarnya mereka? Aku harus merekam semua ini."

Wanita tadi sudah mengeluarkan gawainya, dan mengabadikan beberapa foto dan video.

"Lita harus tahu bagaimana sikap calon suaminya ketika diluar. Aku nggak mau sahabatku merasa sakit karena di khianati."

Setelah cukup, wanita tadi segera mengajak putrinya pergi.

Sepeninggal wanita tadi, kini suara bocah kecil yang tengah menarik-narik lengan Omnya, memekik dengan rengekan yang memekak telinga.

"Om Nanda, Leno mau gelembung tembak. Ayo...."

Dan ternyata pria itu adalah Nanda. Meskipun sedang me time dengan sang Keponakan, dirinya tak lepas dari beberapa data yang harus di kerjakan. Matanya bahkan tak lepas dari layar gawainya.

"Iya, iya... Bentar, Reno!"

Disaat matanya menatap depan, dahinya berkerut ketika melihat Miranda juga berada di tempat yang sama dengan dirinya.

"Itu Miranda 'kan? Sama siapa dia?" Dan ketika Afran menoleh kearah Miranda, sungguh Nanda semakin di buat syok hebat. "Apa? Itu bukanya suami Miranda? Tapi kenapa pihak kantor berkata jika pria itu sudah meninggal? Apa itu hanya sebagai pengalihan isu saja ya?! Pak Ezar harus tahu semua ini."

Nanda segera merekam semua gerak gerik Miranda bersama sosok pria yang dirinya yakini sebagai Arya, suami Miranda sendiri.

Beberapa foto dan video sudah terkirim.

*****

Gawai Ezar berkedip beberapa kali menandakan ada beberapa pesan masuk yang belum tersentuh. Gawi itu tergeletak diatas nakas, sementara pemiliknya kini berada di depan pintu kamar kakaknya.

Sebelum mengetuk, Ezar menarik napas dalam.

Tok!

Tok!

"Mas Dewa... Ini Ezar! Tolong buka pintunya...."

Lagi-lagi kebisingan itu membuat fokus membaca Dewa terganggu. Pria itu menutup bukunya, lalu beranjak untuk segera membukakan pintu.

Wajah Dewa sangat dingin. Sementara Ezar sudah mengayunkan obat yang tadi ia genggam.

"Ada yang ingin Ezar bicarakan. Boleh masuk?"

Dewa tak menjawab. Namun pintu ia buka lebih lebar. Gerakan itu seolah mengijinkan adiknya untuk masuk.

Pintu sudah tertutup kembali.

Bukan hal asing lagi bagi Ezar ketika memasuki kamar sang kakak. Rasa muak menyelinap masuk, ingin sekali dirinya memusnahkan buku-buku itu. Seolah, kedatangan Ezar tengah menjadi ejekan beberapa buku; bahwa akulah yang dapat mengambil hati Dewa dan mengalihkan dunia Dewa saat ini.

Pintu balkon terbuka. Dewa sudah duduk dibangku, menatap lurus kedepan, menyuguhkan sikap begitu dingin.

Ezar mulai duduk. Badanya bahkan sampai berpaling. Kali ini ia tatap wajah kakaknya yang begitu kaku.

"Mas... Mau sampai kapan kamu bersikap tertutup seperti ini? Tidak kah Mas Dewa ingin keluar? Dunia ini sangat indah, Mas! Kita jalan-jalan bersama seperti dulu... Mengunjungi tempat-tempat mewah-"

Dewa menyambar, "Aku sudah mendapatkan semua itu dari buku."

Point menyebalkan yang Ezar peroleh, bahwa ucapanya akan berakhir sia-sia, bak debu yang tertiup angin. Terkadang, emosi yang sering tak terkendali saat di luar, itu hanya pengalihan rasa frustasinya terhadap kegagalan dalam berhubungan baik dengan sang Kakak.

Ezar masih terus berusaha. "Mas... Besuk kita beribadah sama-sama, ya! Minggu paskah pasti ramai di Gereja. Apalagi Eyang sendiri yang memimpin doa di sana. Oh ya... Kalau Mas Dewa mau, Ezar akan menyiapkan kemeja terbaik untuk besok. Dan, Ezar juga akan menyiapkan Alkitab untuk Mas Dewa bawa."

Dewa terdiam. Diamnya bukanlah hal kosong. Kalimat Ezar mampu menghangatkan perasaannya. Menyelinap pada relungnya yang terdalam. Akan tetapi, kiblat mereka sudah tak sama lagi.

Dewa menyambar, "jika tidak ada yang lebih penting, lebih baik keluar! Waktu membacaku terbuang 10 menit."

1
Meliandriyani Sumardi
lanjut kak
Nesya
dasar maruk wanita jahat, lanjut thor
Nesya
hhmm muak kali ama ezar
Anonim
Jangan lama lama bersambung nya dong🥹
Meliandriyani Sumardi
semoga jodohnya miranda itu dewa...
Ig:@septi.sari21: kita doakan ya kak❤
total 1 replies
delis armelia
sedih banget jadi miranda
Ig:@septi.sari21: sangat kak💔
total 1 replies
I Love you,
dasar cowo letoi😤😤😤😡
Nesya
masih aja zuudzon ama miranda pengen tk 👊🏻👊🏻 akan nyesel kamu erza setelah tau kebenaran tentang miranda
Ayesha Almira
ni c erza suka skli memfitnah miranda...smga miranda enggan kembali bersma erza...
Ig:@septi.sari21: agak agak emang💔
total 1 replies
Nesya
kasihan miranda selalu di kelilingi orang2 toxic
Ig:@septi.sari21: potek hatinya🥀💔
total 1 replies
Nesya
ibu kandung dewa
Ig:@septi.sari21: ibunya Ezar juga kak💔
total 1 replies
I Love you,
😤😤😤 kesel lama lama..jahat banget
Ig:@septi.sari21: miranda kek serba salah💔
total 2 replies
Nesya
ngeselin bgt si lita g beradab
Ayesha Almira
lom da kebahagian yg akn menghampiri miranda
Nesya
tenang dewa, miranda udah janda, janda cantik soleha lagi.. bebas pedekate wkwk🤭
Meliandriyani Sumardi
lita berjilbab tapi ga punya etika dan adab...percuma....ditinggal sama arfan baru tau kamu lit...lanjut kak
I Love you,
waduh😭😡😤 tidak di akui karna miskin?!!😤😤😤😡
Ig:@septi.sari21: kasihan kak💔
total 1 replies
I Love you,
waduh😭😡😤 tidak di akui karna miskin?!!😤😤😤😡
Nesya
dihh ibu durhaka
Ig:@septi.sari21: jahat banget ya kak💔
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
Ig:@septi.sari21: kak dew, macihh bintangnya😍✋
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!