𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15| Pendapatan tang Berbeda
Tawa Karina meledak, mukanya merah padam. Ia menekan perutnya yang terasa sakit, Aluna menceritakan aib Kai yang niatnya menggoda Aluna malah berakhir naas. Karina tahu jika Kai yang diberi label 'player' dan 'red flag' itu memang tidak ada matinya menggoda banyak gadis remaja, hanya saja ia tak sangka jika Kai malah mengalami hal nasib memalukan.
"Gue rasa dia emang tipikal cowok yang nggak banget," kata Aluna lagi mengalun.
Karina tergolek di atas ranjang kamar Aluna, pulang sekolah ia memilih menyambangi mansion Aluna. Gadis yang bersandar di dasbor ranjang satu ini memang suka sekali menghindar darinya, pada akhir Karina tak tahan. Jika dulunya Aluna-lah yang sering menempel pada Karina, kini sebaliknya.
Telapak tangan Karina mengusap air mata yang jatuh di kedua sisi sudut matanya, ia menarik dan mengembuskan napas kasar menyudahi tawa yang melambung.
"Tapi keknya si Kai serius suka sama lo," balas Karina tampak yakin. "Gue tau sih, kalo dia emang punya kebiasaan godain anak gadis orang. Lo nggak mau mikir-mikir lagi nih, kata orang cowok yang kek gitu kalo dah jatuh cinta setianya setengah mampus."
Aluna berdecak, "Yeee! Enak aja lo kalo ngomong. Lo harus tau Karina, mau dia setia sekali pun. Deket-deket sama dia bisa bikin cewek melendung, lo tau nggak artinya melendung nih?"
Alis mata Karina berkerut, "Melendung apaan?"
Aluna mencondongkan tubuhnya ke arah Karina, dan menjawab, "Menderita karena mengandung."
Karina speechless, lidahnya mendadak kelu mendengar jawaban serius dengan intonasi nada pelan. Karina merubah posisi tidurnya menjadi duduk bersila di atas ranjang, manik mata Karina melirik wajah Aluna lalu turun ke arah perut datarnya.
"Iya juga ya, sayang banget kalo tiba-tiba lo garis dua." Karina mengangguk-anggukkan kepalanya, detik berikutnya ia terpekik keras saat bantal menghantam wajahnya.
Aluna berdecak kesal, ia melototi Karina yang kini cengengesan membayangkan Aluna nikah muda.
"Sialan lo, Na. Gue ogah mah hamil di usia kelewat muda, apalagi garis dua saat masih SMA. Gue nggak niat jadi Ibu, gue niatnya menikmati masa-masa sekolah dan masa perkuliahan. Gue masih mau idup happy tanpa beban," ujar Aluna menegaskan keinginan dan penolakannya.
"Lah kita 'kan udah kelas dua belas Aluna, bentar lagi tamat sekolah. Gue sih punya keinginan nikah muda, berkuliah sembari jalanin peran jadi istrinya Gavino," sahut Karina memeluk bantal, tersenyum lebar saat membayangkan hari-hari romantis berdua dengan pujaan hatinya.
Desahan tak berdaya mengalun dari bibir merah merekah Aluna, sebagai jiwa yang telah dewasa dan pekerja di dunia nyata. Aluna merasa pernikahan adalah kutukan menakutkan, masa-masa manis tampaknya hanya di enam bulan pertama. Kemudian disambut dengan banyaknya problem dan drama rumah tangga, Aluna menggeleng-geleng ngeri saat membaca berbagai komentar di video keluhan drama pernikahan orang-orang.
Dahi Karina berlipat, senyum di bibirnya perlahan memudar. "Kenapa sama raut wajah lo, huh?"
Aluna tak langsung menjawab ia merangkak turun dari atas ranjang, berdiri berkacak pinggang di samping ranjang menghadap ke arah Karina.
"Adek! Cinta tak selamanya indah, Dek!" seru Aluna dengan ekspresi wajah mencemooh, tak lupa intonasi nada suaranya dibuat-buat sedramatis mungkin.
Karina melotot mendengarnya, mendengus sebal. "Lo kayak orang udah pernah ngerasain nikah muda aja, cinta itu indah Sayang. Tiap hari lo bisa lakuin apa aja sama pasangan lo. Tidur berdua, makan berdua, mandi ber—"
"Stop! Okeh, gue emang belum pernah nikah. But, lo harus tau nikah itu kayak persiapan perang. Rata-rata paling pait kalo diuji dari segi affair, apalagi yang bulol kek lo gini. Beeeh! Ujian paling utama gue yakin seratus persen dah pasti dari hadirnya orang ketiga," potong Aluna menggebu-gebu.
Kedua kelopak mata Karina berkedip dua kali, dahinya berlipat ia terdiam cukup lama tanpa suara. Ekspresi frustrasi yang mendadak terlukis jelas di wajah Karina-antagonis yang niat awalnya ingin Aluna jauhi mendadak ia merasa kasian, telapak tangan Aluna menepuk-nepuk bahu Karina perlahan.
"Perjalanan lo masih panjang Na, hari ini lo suka sama Gavino. Masa depan nggak ada yang tau, bisa aja kalo jodoh lo bukan dia. Mending kita nikmati aja masa-masa putih abu-abu ini, soal cinta itu mah bonus. Yang penting kita punya banyak uang, ini obat anti galau dan cinta sesungguhnya," sambung Aluna tersenyum lebar saat membicarakan tentang uang, ah..., Aluna memang sangat menyukai senyum 'Soekarno-Hatta' dibandingkan senyuman lelaki lain.
"Lo kek cewek matre Lun," balas Karina menatap Aluna dengan ekspresi rumit.
Aluna terkekeh, tanpa malu-malu ia mengangguk antusias. "Duit adalah cinta, dan cinta adalah duit. Yeah..., terserah dunia dan orang mau bilang apa." Aluna kembali menepuk-nepuk bahu Karina.
...***...
Langkah kaki lebar Sebastian perlahan mulai pelan dan berhenti, suara adu mulut di balik pintu ruangan kerja yang terlihat terbuka setengah semakin membuat percakapan di dalam sana terdengar jelas. Sebastian sebisa mungkin agar langkah kakinya tidak mengganggu perdebatan kedua orang tuanya, bukan hal luar biasa lagi mendengar kedua adu mulut dengan suara keras. Ibunya keras kepala bahkan meledak-ledak saat marah, sayangnya yang keras itu hanya suaranya tidak dengan hatinya yang rapuh.
"Aku nggak sudi, sekali gundik tetap gundik gitu juga sama anaknya. Kamu harap aku mau terima kek gitu aja, aku nggak akan mau!"
Sebastian menyandarkan punggung lebarnya di dinding, suara ibunya yang menggelar menolak dengan lantang.
"Walaupun kayak gitu dia udah kasih aku empat orang anak, bahkan anak yang dia lahirin buat aku pun jauh lebih berkualitas daripada anak yang kamu lahirin. Jangan pikir aku bodoh nggak tau jika Sebastian nggak ada kemampuan, seujung kuku pun nggak mampu dibandingin sama putraku yang lain," sahut pria paruh baya itu blak-blakan.
Hati Sebastian berdenyut nyeri mendengar ayahnya membandingkan dirinya dan anak haram, tidak terdengar suara ibunya menjawab. Ruangan mendadak hening, Sebastian yakin ibunya menangis dalam diam saat ini. Dengusan kasar terdengar, samar-samar Sebastian menangkap suara tangisan.
"Nangis mulu, kalo udah kalah debat beginilah. Kalo kamu emang udah nggak tahan, sudahi pernikahan ini. Kamu dan aku cuma punya satu anak, Sebastian tetap akan jadi tanggung jawabku. Kamu bisa bebas di luar sana cari laki kere yang setia. Cuma laki kere yang nggak punya banyak duit yang mengembar-gemborkan kesetiaan. Sudah lama kita menikah perdebatan masih saja soal itu," monolognya mencemooh sang istri.
Hanya karena Abas ketahuan makan malam di luar bersama wanita yang telah ia nikahi secara siri lima tahun belakangan, sebelumnya hanya dijadikan simpanan selama belasan tahun. Sang istri lagi-lagi menyanyikan lagu lama. Perihal kemarah serta penghinaan terhadap wanita yang Abas cintai, bagi Abas wanita itu seratus persen lebih segala-galanya dibanding dengan istri sahnya satu ini. Jika bukan karena malu konflik rumah tangganya dijadikan gosip nasional, Abas mungkin sudah menceraikan wanita yang kini menangis tergugu.
Kedua sisi rahang Sebastian mengetat, ia menyesal pulang lebih cepat hari ini. Harusnya ia tetap di penthouse, dibandingkan kembali ke rumah. Senyum getir tersungging di bibirnya, kenapa rumahnya berbeda dengan rumah anak lain. Orang bilang rumah adalah tempat terhangat untuk kembali pulang, bagi Sebastian tidak demikian. Rumah mewah ini adalah neraka mematikan, perlahan-lahan menekan batinnya. Mengoyak sedikit demi sedikit kepercayaannya akan datangnya kebahagiaan setelah badai.
"Tau gini mending gue keluar lagi," gumam Sebastian lirih.
Ia mengayunkan kedua tungkai kakinya menuju pintu keluar, seragam sekolahnya bahkan masih melekat di tubuhnya. Kini ia harus kembali berkeliaran di luar sana bersama kegelapan malam.