NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Keluarga
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Udara pagi yang dingin menyelimuti rumah makan yang masih sunyi itu.

Maria, dengan senyum kecil di bibirnya, melangkah menuju kamar putrinya sambil membawa secangkir teh hangat.

Ia merasa lega melihat Aliya bisa beristirahat di rumah, jauh dari ketegangan keluarga Karadağ yang selalu membuatnya cemas.

"Aliya, ayo bangun, Sayang. Emirhan sebentar lagi sampai untuk menjemputmu ke sekolah," panggil Maria lembut sambil mengetuk pintu kayu yang sedikit terbuka.

Tidak ada jawaban. Sunyi.

Maria mengerutkan kening, ia masuk ke dalam kamar yang masih remang-remang itu.

"Aliya?"

Maria mendekat ke ranjang, tangannya terulur untuk mengguncang bahu putrinya yang masih tertutup selimut tebal.

"Ayo, nanti kamu terlambat—"

Kalimat Maria terhenti di tenggorokan. Saat ia menarik selimut itu, jantungnya seolah berhenti berdetak.

Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, wajah Aliya yang biasanya merona kini tampak pucat pasi dengan bibir yang mulai membiru.

"TIDAK!!" jerit Maria histeris.

Ia meraba leher Aliya, tangannya bergetar hebat. Kulit putrinya terasa kaku dan sedingin es.

Tidak ada hembusan napas, tidak ada denyut nadi yang terasa di jemarinya yang panik.

Dunia Maria runtuh seketika. Racun yang dituangkan Laura dalam dosis mematikan telah bekerja sepanjang malam, menghisap kehidupan dari tubuh gadis malang itu saat ia sedang tertidur lelap.

"ZARTAN!! ZARTAN, TOLONG!!" teriak Maria

dengan suara melengking yang membelah keheningan pagi.

Zartan yang sedang bersiap di dapur langsung berlari secepat kilat menuju kamar.

Ia tertegun di ambang pintu melihat ibunya yang bersimpuh di lantai sambil memeluk tubuh Aliya yang tak berdaya.

"Aliya? Ada apa dengan Aliya?!" Zartan mendekat, wajahnya berubah pucat saat melihat kondisi adiknya.

Tanpa membuang waktu untuk bertanya lebih lanjut, Zartan langsung membopong tubuh kaku Aliya ke dalam dekapannya.

Ia berlari keluar rumah menuju mobil tua mereka, sementara Maria mengikuti dari belakang dengan tangis yang pecah tak terkendali.

"Bertahanlah, Aliya! Kakak mohon, bertahanlah!" gumam Zartan dengan suara parau, mengabaikan fakta bahwa tubuh yang digendongnya sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Tepat saat Zartan membaringkan Aliya di kursi belakang mobil, sebuah mobil hitam mewah berhenti dengan mendadak di depan mereka.

Emirhan turun dengan senyum yang langsung sirna saat melihat kekacauan di hadapannya.

Ia terpaku melihat Aliya yang membiru di pelukan Zartan, menyadari bahwa ketakutan terburuknya telah menjadi kenyataan yang paling mengerikan.

Di dalam kabin mobil yang sempit dan berbau apek, suasana terasa begitu mencekam, berbanding terbalik dengan kemewahan yang biasa Emirhan rasakan.

Emirhan duduk di kursi belakang, mendekap tubuh Aliya yang kaku ke dalam pelukannya.

Ia tidak peduli lagi pada jas mahalnya yang kini kusut atau harga dirinya sebagai seorang Karadağ.

Zartan menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat mesin mobil tua itu menderu keras membelah jalanan pagi yang mulai padat.

Ia menerobos lampu merah, membunyikan klakson berkali-kali dengan tangan yang gemetar hebat di atas setir.

"Aliya, bangun! Aku mohon, bangun!" seru Emirhan dengan suara yang pecah.

Ia menggosok telapak tangan Aliya yang sedingin marmer, mencoba menyalurkan kehangatan tubuhnya yang juga mulai gemetar karena ketakutan.

Emirhan menempelkan telinganya ke dada Aliya, mencoba mencari detak jantung yang mungkin masih bersembunyi di balik racun yang telah melumpuhkan sistem saraf gadis itu. Namun, yang ia dengar hanyalah kesunyian yang menyiksa.

"Zartan, lebih cepat! Dia tidak bernapas!" teriak Emirhan frustrasi, air matanya kini jatuh membasahi kening Aliya.

"Aku sudah berusaha, Emir! Sedikit lagi!" balas Zartan dengan suara parau.

Ia melirik dari kaca spion, melihat adiknya yang membiru di pelukan pria yang sangat ia benci sekaligus ia harapkan bisa menyelamatkan adiknya saat ini.

Emirhan menangkup wajah Aliya, menatap kelopak mata yang tertutup rapat itu.

"Jangan tinggalkan aku seperti ini, Aliya. Kita belum sempat bicara, aku belum meminta maaf dengan benar. Bangun, Sayang. Aku mohon!"

Pikiran Emirhan melayang pada tawa Aliya kemarin sore, pada bentakannya yang kasar kemarin pagi, dan pada botol air minum yang ia lihat Aliya pegang saat ia menjemputnya.

Ia mulai merasa ada sesuatu yang tidak wajar, namun saat ini, rasa bersalah dan cinta yang luar biasa jauh lebih besar daripada kecurigaannya.

Mobil itu akhirnya mengerem mendadak di depan pintu darurat rumah sakit.

Emirhan langsung menendang pintu mobil hingga terbuka dan menggendong Aliya keluar, berteriak memanggil bantuan medis sementara dunianya terasa berhenti berputar tepat di depan matahari pagi yang baru saja terbit.

Suasana di lorong rumah sakit terasa begitu menekan.

Aroma disinfektan yang tajam seolah mempertegas kegentingan yang terjadi di balik pintu Unit Gawat Darurat (UGD).

Emirhan duduk di kursi tunggu dengan kepala tertunduk, sementara Maria hanya bisa bersandar pada bahu Zartan dengan isak tangis yang mulai mereda namun penuh dengan keputusasaan.

Pintu UGD terbuka perlahan. Seorang dokter melangkah keluar dengan wajah yang menunjukkan beban berat.

Emirhan dan Maria langsung bangkit berdiri, menyergap sang dokter dengan tatapan penuh tuntutan.

"Dokter, bagaimana keadaan Aliya?" tanya Emirhan, suaranya parau dan bergetar.

Dokter itu menghela napas panjang sebelum menatap mereka satu per satu.

"Kami sedang melakukan bilas lambung dan mencoba menstabilkan kondisinya. Tapi jujur saja, detak jantungnya sangat lemah. Sebenarnya, apa yang terjadi semalam?"

Maria melangkah maju, air matanya kembali mengalir.

Ia menceritakan semuanya dengan suara terputus-putus.

"Dia pulang sekolah dengan wajah pucat, Emirhan mengantarnya. Dia bilang hanya kelelahan, lalu dia tidur, tapi pagi ini, dia sudah membiru dan kaku. Tidak ada tanda-tanda sakit sebelumnya, Dokter. Dia anak yang sehat!"

Mendengar itu, Emirhan merasakan amarah dan kecurigaan mulai membakar dadanya.

Ia tahu ini bukan sekadar kelelahan. Dengan tangan gemetar, ia merogoh ponselnya dan menghubungi ayahnya.

"Ayah..." suara Emirhan terdengar dingin namun penuh luka saat Onur mengangkat telepon.

"Aliya di rumah sakit. Kondisinya kritis. Sesuatu telah terjadi padanya."

Di seberang telepon, suara Onur terdengar kaget namun berusaha tetap berwibawa.

"Tenang, Emir. Jangan panik. Ayah akan ke rumah sakit sekarang juga. Ayah akan pastikan dia mendapatkan dokter terbaik."

Tak lama kemudian, dokter yang tadi masuk kembali ke ruang UGD keluar lagi dengan membawa sebuah laporan kecil.

Wajahnya kini terlihat lebih tegang dari sebelumnya.

"Hasil tes awal laboratorium baru saja keluar," ucap dokter itu pelan, membuat suasana seketika hening.

"Ini bukan penyakit biasa. Kami menemukan jejak cairan dari ekstrak bunga beracun yang sangat langka di dalam sistem tubuhnya. Dosisnya sangat tinggi, hampir mustahil ini adalah sebuah ketidaksengajaan."

Emirhan mematung. Kata "racun" bergema di telinganya seperti lonceng kematian.

Pikirannya langsung melayang pada mansion Karadağ, pada tatapan benci Laura, dan senyum dingin Zaenab.

Maria hampir pingsan mendengar pernyataan itu, sementara Zartan mencengkeram kerah baju Emirhan dengan amarah yang meledak.

"Racun?! Di rumahmu atau di sekolahnya, Aliya selalu berada di bawah pengawasan orang-orangmu, Emirhan! Siapa yang tega melakukan ini pada adikku?!"

Emirhan tidak melawan. Ia hanya menatap pintu UGD yang tertutup rapat, menyadari bahwa musuh yang ia hadapi tidak menggunakan senjata tajam, melainkan pengkhianatan yang mematikan dari dalam keluarganya sendiri.

Langkah kaki yang berat dan terburu-buru bergema di lorong rumah sakit.

Onur Karadağ muncul dengan raut wajah yang sulit dibaca, diikuti oleh Hakan yang berjalan di belakangnya dengan gaya angkuh seolah tempat ini tidak cukup berkelas untuk kehadirannya.

Begitu sampai di depan ruang tunggu, Onur menatap Emirhan yang berantakan, lalu beralih menatap Maria yang masih menangis.

Ada kilatan penyesalan di mata Onur saat melihat wanita dari masa lalunya itu hancur, namun ia segera menepisnya.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Onur singkat.

Sebelum Emirhan sempat menjawab, Hakan menyela dengan nada meremehkan. Ia melirik Maria dan Zartan dengan tatapan jijik.

"Ayah, kenapa kita harus repot-repot ke sini?" cetus Hakan sambil mendengus sinis.

"Gadis itu pasti hanya berpura-pura. Ini hanya trik murah dari keluarganya agar kita merasa iba dan memberikan mereka lebih banyak uang. Aliya itu pintar bersandiwara, dia tahu cara menarik perhatian Emir agar tidak melepaskannya."

Suasana seketika membeku. Kata-kata Hakan bagaikan bensin yang disiramkan ke dalam api amarah Emirhan yang sudah memuncak.

Tanpa peringatan, Emirhan melesat maju.

Bugh!

Sebuah pukulan keras mendarat tepat di rahang Hakan, membuat pria itu terjerembap ke lantai rumah sakit yang dingin.

Keributan kecil itu membuat para perawat tersentak, namun Emirhan tidak peduli.

Ia mencengkeram kerah baju Hakan dan menariknya berdiri kembali.

"Ulangi sekali lagi..." desis Emirhan dengan suara

yang sangat rendah namun mematikan.

Matanya merah, penuh dengan duka dan kemarahan yang meluap.

"Katakan sekali lagi kalau dia berpura-pura, dan aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa bicara lagi selamanya!"

"Emirhan, hentikan!" teriak Onur mencoba menengahi, namun ia sendiri terpaku melihat betapa hancurnya putra mahkotanya itu demi seorang gadis pelayan.

Hakan terbatuk, darah merembes dari sudut bibirnya.

Ia menatap Emirhan dengan ketakutan, menyadari bahwa kakaknya tidak sedang bermain-main.

"Dia sekarat karena racun, Hakan! Racun yang datang dari lingkungan kita!" bentak Emirhan tepat di depan wajah saudaranya itu.

"Jika aku tahu kamu atau siapa pun di rumah itu terlibat, aku tidak akan memandangmu sebagai keluarga lagi."

Emirhan melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Hakan terhuyung.

Di sudut koridor, Maria menatap pemandangan itu dengan hati yang semakin perih; ia melihat bagaimana kekuasaan dan kebencian keluarga Karadağ mulai menghancurkan satu sama lain, tepat saat nyawa Aliya sedang dipertaruhkan di dalam sana.

1
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!