NovelToon NovelToon
Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Amirur Rijal

Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Tidak Bisa Dibeli

Acara gala Hartono Group akhirnya selesai menjelang tengah malam.

Para tamu satu per satu meninggalkan aula hotel mewah itu. Lampu kristal masih menyala terang, tapi suasana sudah jauh lebih sepi dibanding beberapa jam sebelumnya.

Beberapa staf hotel mulai membereskan meja.

Sisa musik lembut masih terdengar di sudut ruangan.

Rania berdiri sendirian di dekat jendela besar yang menghadap kota.

Gaun hitamnya masih terlihat sempurna, namun ekspresinya jauh lebih lelah daripada sebelumnya.

Arsen datang menghampiri sambil membawa dua gelas air mineral.

Ia menyerahkan satu pada Rania.

“Kau membuat setengah kota bisnis membicarakan acara ini.”

Rania menerima gelas itu.

“Bukankah itu tujuan acara bisnis?”

Arsen menggeleng kecil.

“Tidak dengan cara seperti itu.”

Ia menatap aula yang hampir kosong.

“Video tadi… terlalu tajam.”

Rania tidak menjawab.

Ia hanya memandang lampu-lampu kota yang terlihat kecil dari ketinggian hotel itu.

Arsen melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Kau benar-benar ingin menghancurkan Adrian.”

Rania akhirnya menoleh.

“Tidak.”

Arsen mengangkat alis.

“Tidak?”

Rania berkata dengan tenang,

“Aku hanya ingin dia merasakan sebagian kecil dari apa yang pernah kurasakan.”

Arsen terdiam.

Ia tahu Rania tidak berbohong.

Namun ia juga tahu sesuatu yang lain.

Ketika seseorang menyentuh luka lama seperti itu perasaan yang muncul tidak selalu berhenti pada balas dendam.

Di sisi lain gedung hotel Adrian berdiri sendirian di balkon kecil luar aula.

Angin malam bertiup pelan.

Ia membuka kancing atas jasnya sedikit.

Di tangannya ada segelas minuman yang hampir tidak ia sentuh.

Beberapa menit yang lalu beberapa pengusaha sempat mencoba mengajaknya berbicara.

Namun Adrian hanya menjawab seperlunya.

Pikirannya masih terjebak pada satu hal.

Video itu.

Wajah Rania malam itu.

Cara ia berdiri sendirian di depan gerbang rumah keluarganya.

Dan yang paling menyakitkan wajahnya sendiri yang berdiri diam di samping ibunya.

Tanpa mengatakan apa pun.

Tanpa melakukan apa pun.

Suara langkah tiba-tiba terdengar dari belakang.

Arsen.

Ia berdiri di pintu balkon.

“Boleh?”

Adrian tidak menoleh.

“Silakan.”

Arsen berjalan mendekat dan bersandar di pagar balkon.

Beberapa detik mereka hanya diam.

Lalu Arsen berkata santai,

“Rania tidak pernah menunjukkan luka itu ke siapa pun sebelumnya.”

Adrian menatap kota di bawah.

“Sekarang dia menunjukkannya ke seluruh dunia.”

Arsen mengangguk pelan.

“Ya.”

Ia berhenti sebentar.

“Dan itu berarti lukanya jauh lebih dalam dari yang kau kira.”

Adrian mengepalkan tangannya sedikit.

“Aku tahu.”

Arsen menatapnya sebentar.

“Apa kau benar-benar tahu?”

Adrian akhirnya menoleh.

Tatapannya tenang, tapi ada sesuatu yang berat di dalamnya.

“Aku mulai mengerti.”

Arsen menghela napas kecil.

“Itu masih belum cukup.”

Adrian mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Arsen tersenyum tipis.

“Rania tidak ingin kau mengerti.”

Ia menatap Adrian langsung.

“Dia ingin kau merasakannya.”

Kalimat itu membuat Adrian terdiam.

Arsen menepuk ringan pagar balkon sebelum berdiri tegak.

“Selamat malam, Adrian.”

Ia berjalan pergi meninggalkan balkon.

Adrian tetap berdiri di tempatnya.

Angin malam terasa lebih dingin sekarang.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama ia benar-benar mulai memikirkan satu pertanyaan yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.

Bagaimana rasanya menjadi Rania malam itu.

Sementara itu di dalam hotel Rania akhirnya berjalan menuju lift pribadi.

Arsen sudah kembali lebih dulu.

Beberapa staf hotel menunduk sopan ketika ia lewat.

Lift terbuka dengan bunyi pelan.

Rania masuk sendirian.

Pintu lift tertutup perlahan.

Begitu pintu benar-benar tertutup senyum tipis di wajahnya perlahan menghilang.

Ia bersandar pada dinding lift.

Matanya terpejam beberapa detik.

Bukan karena menyesal.

Bukan juga karena ragu.

Tapi karena sesuatu yang lain.

Kenangan.

Ia masih bisa mengingat malam tiga tahun lalu itu dengan sangat jelas.

Udara dingin di depan gerbang rumah keluarga Adrian.

Tatapan dingin ibu Adrian.

Dan yang paling menyakitkan diamnya Adrian.

Lift berhenti di lantai parkir.

Pintu terbuka.

Rania berjalan keluar dengan langkah tenang.

Namun sebelum ia masuk ke mobil—

ia melihat seseorang berdiri di dekat mobil hitam di ujung parkiran.

Adrian.

Ia berdiri dengan tangan di saku jasnya.

Menunggu.

Beberapa detik mereka hanya saling menatap dari kejauhan.

Akhirnya Adrian berjalan mendekat.

Langkahnya tidak terburu-buru.

Namun ada sesuatu yang berbeda dari ekspresinya malam ini.

Ia berhenti beberapa langkah dari Rania.

“Acara yang mengesankan.”

Rania menjawab datar,

“Terima kasih.”

Beberapa detik sunyi.

Lalu Adrian berkata pelan,

“Kalau ini balas dendammu…”

Ia berhenti sebentar.

“…aku tidak akan menghentikanmu.”

Rania menatapnya tanpa ekspresi.

“Siapa bilang ini balas dendam?”

Adrian sedikit mengernyit.

“Lalu apa?”

Rania membuka pintu mobilnya.

Namun sebelum masuk, ia berkata pelan,

“Aku hanya memperlihatkan kebenaran.”

Ia menatap Adrian lurus.

“Kebenaran yang dulu kau biarkan terjadi.”

Adrian tidak menjawab.

Rania akhirnya masuk ke mobil.

Namun sebelum pintu tertutup ia berkata satu kalimat lagi.

“Dan percayalah…”

Ia menatap Adrian dengan mata yang sangat tenang.

“…ini masih belum mahal.”

Pintu mobil tertutup.

Mobil itu perlahan keluar dari parkiran hotel.

Adrian berdiri diam melihat lampu belakang mobil itu menghilang di tikungan.

Untuk pertama kalinya ia mulai menyadari sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

Uang.

Kekuasaan.

Perusahaan.

Semua itu bisa ia dapatkan kembali jika hilang.

Tapi ada satu hal yang mungkin sudah tidak bisa ia beli lagi.

Kepercayaan Rania.

1
Amirur Rijal
siap, makasih
Lena mula
Semangat terus nulisnya ya kak💪🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!