Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Sugar Baby?
Malam kian larut di Starlight Club, tetapi intensitasnya justru semakin memuncak. Pukul 22.00, udara di dalam klub terasa tebal oleh asap rokok, aroma alkohol mahal, dan dentuman musik trance yang membius. Di tengah hiruk-pikuk itu, Aluna bergerak lincah di antara meja-meja VIP. Senyumnya, meski terlatih untuk terlihat ramah dan manis, menyembunyikan kelelahan dan tekad baja yang ia rasakan. Setiap tawa palsu adalah pengorbanan, dan setiap tegukan alkohol yang ia tuangkan adalah langkah untuk mengamankan kebutuhan keluarganya.
Sementara Aluna melayani tamu-tamu biasa, Friska sudah berada di ruang VIP khusus bersama Pak Daniel, pengusaha tambang batu bara yang sangat royal. Pria berumur hampir kepala empat namun necis itu seolah sudah menjadikan Friska sebagai pelayan eksklusifnya. Pak Daniel hampir setiap malam datang, dan hanya bersedia dilayani oleh Friska.
Friska memang memiliki daya tarik yang sulit diabaikan. Wajahnya cantik, dengan pembawaan yang supel dan mudah bergaul. Walaupun hanya tamatan SMA, pengetahuannya terbilang luas didapat dari obrolan dengan tamu-tamunya yang berlatar belakang elit, atau dari rajinnya ia membaca berita dan update di media sosial. Ia adalah pendamping yang cerdas sekaligus menghibur.
Sudah dua bulan terakhir, Friska mengikuti jejak Aluna menolak layanan yang lebih intim (one stand night). Sejak Aluna menakut-nakutinya dengan risiko penyakit menular seksual terutama HIV, Friska benar-benar merasa ngeri. Ia masih mengizinkan sentuhan fisik sebatas grepe-grepe atau pelukan manja, tetapi batasan pelayanan ekstra telah ia tegakkan dengan ketat. Konsekuensinya jelas, pendapatannya menurun drastis kini hanya mengandalkan tip yang besarnya tidak menentu. Hal ini sama persis dengan yang dialami Aluna sejak awal masuk.
Marko, yang berada di balkon VIP kembali menatap lurus ke arah Aluna, tatapannya dingin dan penuh perhitungan, seolah menantikan momen yang tepat untuk melancarkan serangan.
Sementara di ruang VIP yang lain, Daniel menarik Friska mendekati membelai lembut pipi Friska dengan jari telunjuknya. Suaranya rendah dan sarat godaan.
“Apa kau tak mau melakukannya denganku, Friska? Aku benar-benar ingin.” kata Daniel.
Friska tersenyum manis, membalas pandangan mata Daniel tanpa gentar. “Maaf, Pak. Tapi saya sudah berhenti. Sekarang saya hanya melayani tamu seperti ini.” Ia menuangkan whiskey ke gelas kristal Daniel dengan gerakan luwes.
“Kenapa?” Daniel tampak kecewa.
“Saya takut tertular penyakit, Pak. Jadi sebelum semuanya terlambat, lebih baik saya berhenti.” jawab Friska jujur, mengadopsi ketakutan yang ditularkan Aluna.
Daniel tersenyum, senyum seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. “Aku jamin, aku bebas dari penyakit itu. Dan bagaimana jika hanya aku yang kamu layani? Atau… kamu jadi baby sugarku saja.” Tawaran itu dilontarkan dengan santai, seolah Daniel baru saja memesan menu makan malam.
Friska melototkan matanya, terkejut. “Baby sugar?”
Daniel mengangguk mantap. “Ya, jadilah baby sugarku. Maka kamu akan mendapatkan segalanya. Bahkan kamu bisa berhenti dari sini dan hanya menjadi milikku.”
“Tapi…” Friska tampak berpikir keras. Tawaran ini sungguh menggiurkan.
“Tidak usah jawab sekarang. Pikirkan baik-baik, Sayang. Keuntungannya, kamu hanya melayaniku dan tidak lagi berurusan dengan lelaki hidung belang lain di klub ini. Aku akan memberimu fasilitas apartemen mewah, mobil dan uang bulanan yang lebih besar dari gajimu sekarang.”
Bagi Friska yang mati-matian menahan diri demi menghindari risiko penyakit, tawaran ini terasa seperti pintu keluar emas. Uang yang ditawarkan pastilah fantastis dan ia tidak perlu lagi mempertaruhkan kesehatan atau menghadapi ketidakpastian klub.
“Saya akan pikirkan, Pak. ” kata Friska, menahan kegembiraan. Setelah itu, mereka kembali mengobrol santai sambil diselingi sentuhan-sentuhan manja.
**
Di tengah lantai utama, Aluna kembali dipanggil. Kali ini, ia langsung menuju Ruang VIP Marko. Ia tahu, setelah semua pembicaraan dengan Friska tentang utang dan kebutuhan Ibu, ia harus memaksimalkan tip dari bos klub ini.
Aluna duduk di pangkuan Marko, melayani pria itu dengan menuangkan minuman ke gelasnya. Hanya ada mereka berdua di dalam ruangan yang sunyi dan bertekanan.
“Apa kau habis menangis?” tanya Marko tiba-tiba.
Aluna terkejut. " Dari mana dia tahu kalau aku habis menangis? Apa mataku masih terlihat bengkak?" Batinnya bertanya dengan panik.
“Matamu masih bengkak.,” potong Marko, menebak isi kepala Aluna.
"Apa dia bisa baca pikiran orang? Lagian kenapa dia harus memerhatikan hal yang tidak penting." batin Aluna lagi, semakin merasa terintimidasi.
“Berhentilah berpikiran macam-macam. Apa kamu ada masalah?” tanya Marko.
Aluna menggeleng kaku. “Tidak, Pak.”
“Lalu kenapa kamu menangis?” tanya Marko lagi, nadanya terdengar seperti interogasi.
Kenapa Pak Marko jadi kepo begini,batin Aluna, semakin merasa tidak nyaman.
“Apa kamu bisu?” tanya Marko, tidak sabar.
“Hanya… hanya ingin menangis, Pak.” jawab Aluna bodoh, karena tidak tahu harus memberikan alasan apa.
Marko menaikkan sudut bibirnya, mengabaikan jawaban konyol itu. Ia tidak mau menanyakan lebih banyak lagi, ia sudah tahu segalanya dari laporan Renaldi.
Tiba-tiba ponsel Marko berdering. Panggilan dari Renaldi.
Marko segera berdiri, mengakhiri sesi mereka. “Saya harus pergi sekarang. Ini tip buat beli tisu.” katanya, meletakkan sepuluh lembar uang merah di meja.
Aluna tersenyum lega, hatinya sedikit terangkat. “Terima kasih, Pak.”
Ia memang sangat membutuhkan uang itu. Minggu depan, biaya kontrol dan obat Ibu mencapai dua juta tiga ratus ribu rupiah setiap bulan. Aluna telah memutar otak, mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Alika, dan pengobatan Ibu.
“Hufft… untung saja Pak Marko kasih tip sejuta, jadi untuk kontrol dan obat Ibu sudah cukup. Terima kasih Ya Allah. Meskipun pekerjaanku kotor, selalu saja ada jalan yang Kau tunjukkan tiap bulan untuk pengobatan Ibu.” gumam Aluna dalam hati, matanya berkaca-kaca karena rasa syukur yang bercampur dengan rasa bersalah.
Setelah keluar dari ruangan, ia mendapati Friska sedang duduk sendirian di mini bar, termenung sambil mengaduk minumannya.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Aluna, mengernyitkan keningnya.
Friska melorotkan bahunya dan menatap Aluna dengan pandangan pekat." Kalau aku terima tawaran Pak Daniel, bagaimana dengan Aluna? Dia pasti sendirian di sini. Aku tidak bisa meninggalkannya sendiri. Siapa yang akan menjaganya jika ada costumer yang menginginkan lebih lagi dari Aluna." batin Friska.
Aluna yang ditatap seperti itu semakin bingung. Ia melambaikan tangan di depan wajah Friska. “Hei, Fris… kenapa sih?”
Sekali lagi Friska menghela napas panjang. “Aku hanya sedang memikirkanmu.”
Aluna ikut duduk dan meminta Jody, sang barista, membuatkan jus jeruk. “Jeruk, Jod.”
“Oke, Aluna cantik.” jawab Jody ramah.
“Kenapa kamu memikirkanku?” tanya Aluna.
“Ya, soalnya khawatir. Kalau aku berhenti kerja di sini, siapa yang bakal jagain kamu? Siapa yang bakal bantu kamu?” kata Friska gusar.
Aluna melototkan matanya. “Kamu mau berhenti? Kamu sudah mau tobat?” tanya Aluna polos.
Friska mencubit gemas pinggang Aluna. “Ih kamu ya, enggak bisa diajak serius.”
“Ih aku juga serius, Fris." protes Aluna.
“Aku bukannya mau tobat Lun, tapi tadi Pak Daniel menawari aku jadi sugar baby-nya. Dia menyuruh aku berhenti kerja di sini, dan dia akan menjamin hidup aku jika aku setuju.” jelas Friska.
“Hmm… jadi keputusan kamu?” tanya Aluna, sedikit takut mendengarnya.
“Aku belum kasih dia jawaban. Aku mikirin banyak hal, termasuk kamu,” kata Friska.
“Kamu enggak usah mikirin aku. Aku bisa jaga diri, kok. Kalau kamu mau ambil tawaran Pak Daniel, ambil saja. Barangkali saja dari sugar baby jadi istri, kan? Hehehe.” kekeh Aluna, menyeruput jusnya.
“Issttt, kamu mikir terlalu jauh, Lun.” kata Friska.
“Aminkan, Frisk. Lagian kan Pak Daniel itu duda. Jadi bisa kan kalau tiba-tiba kamu ditawari jadi istrinya juga.” desak Aluna.
“Hmmm… Siapa juga yang mau memperistri orang rusak seperti aku, Lun. Hmm…nanti dipikirkan lagi, deh. Kita layani tamu yang baru datang itu.” kata Friska, mengalihkan pembicaraan.
“Itu kan Kak Budi…” kata Aluna, melihat segerombolan laki-laki yang baru masuk.