Maya, gadis manis yang harus mengganti identitas dan namanya setelah kecelakaan besar nyaris merenggut nyawanya.
Ia bangkit dari kematian setelah diselamatkan oleh seorang dokter yang mengangkatnya sebagai anak. Ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia bersumpah membalaskan dendam atas kematian ayah dan juga adiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona.sv95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Hukum
Dua minggu kemudian, waktu persidangan untuk keadilan bagi Vello akhirnya tiba. Maya sudah datang di depan gedung pengadilan, dengan Vello yang terlihat sudah sedikit membaik tengah duduk di kursi roda dan di temani Fernand sang ayah.
Mata Maya terus memindai sekeliling gedung pengadilan, mencari Max yang masih belum terlihat. Ia pikir, Max mungkin sedang mengambil berkas ketinggalan, entah pergi ke toilet atau apapun. setidaknya, dengan berpikir begitu... Maya masih memiliki harapan.
Namun sialnya, seberapa lama Maya mencari, Max memang tidak ada disana. Entah memang belum datang, atau tidak akan datang.
"Apa Max belum datang?? Dia tidak mungkin terlambat kan? Ini bukan sidang mediasi, tapi ini benar-benar sidang penting?" monolog Maya, dengan terus memperhatikan jam tangan juga ponselnya.
Maya mencoba berkali-kali menghubungi Max, tapi ponselnya sama sekali tidak aktif. Bahkan sudah dari sejak kemarin, Maya sama sekali belum bisa mengirim pesan pada Max.
"Kemana kau Max?? Kenapa ponselmu tidak aktif sejak kemarin? Bagaimana caranya aku menghadapi kasus ini sendirian tanpa bantuan darimu? Tolong jangan menghilang," rintih Maya.
Maya merasa cemas, karena saat ini yang bisa membantunya menang dalam kasus ini hanya Max. Perasaannya tidak tenang, sejak Max mengatakan akan membawa salinan bukti ke rumahnya, Max tidak bisa di hubungi sama sekali.
*
Acara persidangan sudah di mulai, tapi Max sama sekali belum datang. Maya semakin merasa risau, apalagi saat dia tidak melihat satupun dari saksi yang sebelumnya mengatakan siap datang di pengadilan untuk membela Vello.
Setiap hakim meminta saksi dan juga bukti dari maya, tak satupun dari mereka yang datang. Bahkan, kuasa hukum yang mendampingi maya pun tidak datang.
Sedangkan dari pihak Bryan, satu per satu saksi, mulai memberikan keterangannya tentang dimana dan apa yang Bryan lakukan di tanggal dan waktu yang di tuduhkan Maya.
Bahkan mereka memiliki bukti, menguatkan kesaksian mereka masing-masing.
"Nona Maya, saya harap anda tidak main - main dalam hal ini. Dimana saksi yang pernah anda katakan akan hadir hari ini!"
"Kami sedang menunggu kedatangan mereka, bahkan Max sebagai kuasa hukum saya juga tidak datang!"
"Lalu, bagaimana dengan bukti yang anda katakan. Seharusnya itu sudah berada diatas meja,"
"Bukti-bukti sudah berada di tangan kuasa hukum saya pak, tapi sepertinya dia datang terlambat!"ucap Maya gugup.
"Bagaimana bisa dia datang, jika yang kau berikan itu keterangan-keterangan palsu kak Maya!" tiba-tiba seseorang menyahuti ucapan Maya, dari kursi tamu yang hadir.
Semua mata tertuju pada sumber suara yang menyela ucapan Maya, memastikan siapa yang bicara. Termasuk Maya dan Juga pihak keluarga Bryan.
"Nyla? Kau ada disini, syukurlah. Akhirnya Kau mau datang juga dan mau membantu kami dalam kasus ini," ucap Maya penuh antusias, dengan suara yang terdengar bergetar.
Namun bukan sambutan yang bagus yang diberikan Nyla, ia justru mendengus sinis ke arah Maya yang menatapnya penuh harap.
"Siapa yang mengatakan aku akan membantu kalian kak??"
"Nu, apa maksudmu? Jangan main-main."
"Untuk apa main-main disaat seperti ini, Kak. awalnya aku memang sempat percaya dan bahkan bersimpati padamu. Tapi sekarang, saat aku tahu semuanya.. Aku yakin kalau aku tidak akan memihak kalian lagi," sahut Nyla dengan tegas. Lalu ia beralih kearah hakim, tanpa memperdulikan raut terkejut diwajah Maya.
"Maaf yang mulia hakim, saya Nyla salah satu saksi yang sebelumnya dimasukan kedalam daftar saksi dari pihak Vellona Fernand, yang mengaku korban dalam kasus pelecehan yang dilakukan Bryan kali ini. Mohon izin untuk saya memberikan kesaksian yang sebenarnya dan juga beberapa bukti kuat sebagaimana mestinya,"ucap Nyla, dengan tegas dan lantang.
Ia sama sekali tidak berniat menoleh kearah Maya, meski gadis itu terlihat memohon pada Nyla agar tidak asal bicara.
"Nyla... Bicara apa kamu. Kenapa begini?"
"Harap tenang nona Maya, biarkan saksi bicara," sela Hakim, lalu beralih pada Nyla. "Saksi Nyla, silahkan beberkan apa yang anda miliki dan berikan kesaksian anda sepenuhnya, tanpa ditutupi."
Nyla mengangguk, lalu berjalan kearah witness stand. Setelahnya, ia disumpah beberapa saat dibawah kitab yang dipimpin oleh hakim ketua langsung, sebelum memberikan kesaksiannya secara mendetail.
"Sumpah sudah dilakukan. Silahkan katakan, kesaksian seperti apa dan bukti apa yang anda punya," ujar Hakim, mempersilahkan Nyla untuk mulai bicara.
"Izin yang mulia."
"Diizinkan. Katakan, apa yang anda tahu tentang nona Vellona dan kasus yang terjadi saat ini?" tanya hakim.
"Vellona gadis yang sangat baik dan juga dia teman yang bisa di andalkan. Saya sangat bangga, bahkan merasa sangat beruntung memilik teman yang begitu baik seperti dia," ungkap Nyla sedikit terdengar bergetar dengan sesekali menoleh kearah bangku audience sidang, seolah memastikan sesuatu. sebelum akhirnya ia kembali bicara.
"Tapi sayangnya, itu saya rasakan dulu sebelum akhirnya saya tahu bagaimana sebenarnya mereka yang ternyata bisa menghalalkan segala cara, untuk mencapai tujuannya."
Nyla menghela napas sebentar, lalu kembali melanjutkan kesaksiannya.
"Yang mulia hakim. Saya memang sebelumnya memberikan kesaksian tentang pelecehan yang di lakukan Bryan dan juga ketiga temannya. Bahkan kesaksian itu sempat di rekam oleh tuan Max sebagai penasihat sekaligus kuasa hukum dari Vello.
Tapi itu semua tidak benar adanya yang mulia dan semua kesaksian saya saat itu palsu! Saya di paksa Maya untuk mengatakan semua sesuai yang dia inginkan!"
"Apa..?"