NovelToon NovelToon
Jodoh CEO Lumpuh

Jodoh CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / CEO
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Itsaku

Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'

Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Salah Paham

"Bu Yumna sakit apa, papaa...?" tanya Aluna pada Elbara.

"Bu Yumna hanya kecapekan. Kalau sudah sembuh pasti akan datang lagi belajar sama Aluna." ujar Elbara.

"Papa..., aku mau melihat Bu Yumna. Boleh...?" tanya Aluna kemudian.

"Tapi rumah Bu Yumna jauh. Harus naik mobil kalau mau kesana." kata Elbara lagi.

"Naik mobil..."

Tentu saja Aluna kecewa. Karena sejak insiden itu Aluna tidak pernah mau diajak keluar rumah, apalagi naik mobil. Dia selalu merasa ketakutan saat masuk ke dalam mobil.

"Tapi Aluna mau melihat Bu Yumna..." gumamnya pelan.

"Aluna bisa video call. Mau...?" Elbara menawarkan solusi untuk Aluna.

"Mau..., Mau...!!" serunya.

"Tapi Aluna makan dulu." bujuk Elbara.

Tadinya Elbara sedang di kantor. Tapi karena Aluna mogok makan, Bu Kartika memutuskan untuk menghubungi putranya itu agar membujuk Aluna. Selama ini hanya Elbara yang bisa melakukan hal itu.

"Tidak mau..."

"Kalau tidak makan, nanti perut Aluna sakit lagi. Makan ya. Papa suapin. Oke...?!!" Elbara merayu gadis kecilnya lagi.

Tiba-tiba...

"Nona kecil...!! Nona kecil...!!" seru Vivi. "Coba lihat siapa yang datang...!!" katanya sekali lagi.

Aluna, Elbara, dan Bu Kartika menoleh ke arah Vivi. Rupanya Yumna yang datang.

"Ibu...!!" serunya.

Aluna turun dari kursi, lalu berlari ke arah Yumna. Bu Kartika tersenyum lega. Sedangkan Elbara...

"Kenapa dia datang? Apa dia sudah benar-benar baikan...?"

"Sus Vivi bilang Aluna tidak mau makan, kenapa?" tanya Yumna setelah menggendong gadis kecil itu.

"Aku sedih karena Bu Yumna sakit, dan tidak datang..." jawabnya dengan jujur.

"Sekarang Bu Yumna sudah datang. Aluna makan ya..." kata Yumna.

"Em." Aluna menganggukkan kepalanya.

"Katanya kamu sakit. Kok tiba-tiba datang?" tanya Bu Kartika, setelah Yumna dan Aluna bergabung di meja makan.

"Saya sudah baikan, Bu. Semalam hanya merasa pusing." bohongnya.

"Aluna makan sama sus dan Oma, ya. Papaa mau bicara sebentar dengan Bu Yumna." ujar Elbara.

Seketika Bu Kartika menatap curiga pada putranya itu. Sedangkan Yumna justru berdebar-debar.

"Ada apa ini...?" pikir Yumna.

___

Di ruangan Elbara...

"Bukankah saya sudah menyuruh kamu istirahat? Kenapa masih memaksa datang?" tanya Elbara. Dingin...

Yumna tidak langsung menjawab. Dia belum bisa mengontrol debaran di dadanya yang terasa sangat sesak.

"Jawab, nona Yumna!" katanya lagi.

"Sa..., saya..." Yumna terdiam, menarik nafas panjang untuk yang kesekian kalinya. "Karena saya sudah merasa lebih baik." akunya.

"Fisikmu terlihat baik. Tapi hatimu, perasaanmu, apa sebaik itu...?!"

Nyuuut...!!

Ucapan Elbara benar-benar menusuk hati Yumna. Tanpa dia tahu, kalau Elbara sudah mengantongi banyak informasi tentang kehidupannya dari orang-orang kepercayaannya.

"Kenapa aku harus bertemu orang sepeka ini...?!!" batin Yumna.

"Pekerjaan saya lebih penting dari apapun. Dan lagi, bersama dengan Aluna, membuat suasana hati saya jauh lebih baik." katanya.

"Disaat keluarga saya tidak menginginkan kehadiran saya. Aluna justru sangat menginginkan saya. Aluna sudah mengubah pemikiran saya selama ini." tutur Yumna lagi.

"Maksud kamu?"

"Dulu saya berpikir, mana ada orang yang peduli sama saya. Sedangkan keluarga saya saja sangat membenci saya. Bahkan menyesali kehadiran saya." Yumna bicara dengan suara pelan.

"Tapi Aluna..., dia dengan ketulusannya bersedia menerima saya. Padahal banyak guru-guru hebat dia tolak begitu saja. Tapi saya dengan segala kekurangan saya ini. Yang tak sehebat para guru itu, bisa mendapatkan kepercayaan dari gadis kecil seperti Aluna. Itu adalah sebuah kebanggan tersendiri bagi saya, pak Bara." ujar Yumna dengan mata berkaca-kaca.

Pada akhirnya air mata itu menetes juga, setelah Yumna gagal menahannya. Elbara tidak tahu saja. Kalau sambil mengutarakan isi hatinya itu, Yumna teringat akan semua hal menyakitkan yang dia alami. Segala perlakukan buruk yang dia terima.

Elbara mendorong kotak tisu di atas meja, agar Aluna bisa menjangkaunya. Kemudian dia berkata...

"Maaf..., seharusnya saya tidak seperti ini." Yumna menundukkan kepalanya lagi. Dia merasa sangat buruk di hadapan Elbara.

"Kenapa aku berkata seperti itu? Pak Bara pasti berpikir aku terlalu berlebihan. Bagaimana kalau pak Bara semakin meragukan aku...?!!"

"Kamu ingat, waktu pertama kali kita bertemu...? Saya pernah bilang, kalau kamu bisa hubungi saya jika butuh sesuatu." ujarnya. "Sekarang, saya tanya sama kamu. Apa yang bisa saya lakukan untukmu, nona Yumna...?"

Yumna mengangkat kepalanya setelah menghapus air matanya. Lalu dia menatap Elbara.

"Kalau boleh, tolong jangan pecat saya, pak Bara. Meski kehidupan pribadi saya rumit, saya janji itu tidak akan mempengaruhi pekerjaan saya. Saya tidak akan merugikan Aluna. Saya berjanji." Yumna mengutarakan permintaannya itu dengan tegas dan cepat.

"Pecat...?!" gumam Elbara setelah Yumna berhenti bicara.

"Memangnya kapan saya bilang mau memecat kamu?!" Elbara jadi bingung. Dia merasa tidak pernah membahas pemecatan dengan Yumna.

"Semalam..." jawab Yumna ragu-ragu. "Pak Bara menyuruh saya beristirahat sampai kondisi saya membaik. Saya pikir pak Bara sengaja mengatakan itu, sebagai bahasa lembut pemecatan saya." ujarnya menjelaskan.

Elbara tak habis pikir, Yumna memiliki pemikiran sesempit itu. Dia pun sampai tersenyum tipis, saking tipisnya sampai Yumna pun tak menyadarinya.

"Tidak ada yang akan memecat kamu, nona Yumna. Karena kamu satu-satunya guru yang bisa bertahan di sini, dan Aluna sangat menyukai kamu." tutur Elbara.

"Jadi saya tidak akan dipecat?!" sahut Yumna. "Syukurlah... Keluarga pak Bara sudah menerima saya, makanya saya berusaha memberikan yang terbaik." katanya lagi.

"Sekarang kamu boleh kembali. Jangan sampai Aluna ngambek sama saya, karena kamu terlalu lama di sini." ujar Elbara memberi perintah.

"Baik, pak Bara. Terimakasih atas semuanya. Saya akan menemui Aluna." Yumna pun beranjak dari tempatnya.

"Nona Yumna...!" panggil Elbara.

"Iya?!" Yumna kemudian menoleh pada Elbara.

"Kalau nona Yumna butuh tempat tinggal. Dan tidak ingin merepotkan Tante Sasa terus. Nona bisa hubungi saya atau Niko."

Yumna mengangguk, lalu tersenyum. Meskipun dalam hati dia merasa aneh dengan tawaran dari Elbara. Seolah pria itu tahu kalau dia ingin sekali keluar dari rumah orang tuanya.

___

Kegiatan belajar selesai, tapi Yumna tidak langsung pulang. Dia masih berada di kamar Aluna, memeriksa buku materi dan alat tulis milik Aluna. Kemudian dia akan mencatat barang yang Aluna perlukan.

"Nona Yumna, diminum dulu. Sepertinya nona Yumna masih kurang sehat ya?" suster Vivi menyajikan segelas teh di atas meja.

"Terimakasih." balas Yumna. "Saya baik-baik." katanya lagi.

Yumna menghentikan aktivitasnya, lalu dia duduk bersama Vivi di dekat jendela kamar Aluna. Sedangkan Aluna sudah tertidur pulas, setelah Yumna membacakan dongeng.

"Kamu sudah lama kerja di sini?" tanya Yumna pada suster Vivi.

"Kalau benar-benar kerja, sejak non Aluna kecil. Tapi saya sejak dalam kandungan sudah di sini." ujar Vivi sambil tertawa pelan.

"Ibu saya dulu ART di sini. Bisa dikatakan seangkatan dengan bu Binar. Tapi waktu saya SMP, ibu meninggal karena sakit. Dan nyonya Kartika yang merawat saya, seperti anak sendiri. Demi ibu saya, dan demi balas jasa keluarga nyonya Kartika. Saya mau mengabdikan diri di sini seperti ibu." katanya lagi.

Yumna meraih tangan Vivi, seolah memberikan dukungan padanya.

"Kamu hebat. Kamu juga beruntung. Berada di tengah keluarga yang menyayangi kamu." ujar Yumna.

"Iya, nona benar." sahut Vivi.

"Saya juga sangat bersyukur bisa diterima kerja di sini. Meskipun sebagai guru privat. Tapi saya merasa nyaman berada di lingkungan ini." ekspresi Yumna berubah sendu.

"Nona kenapa sedih...?" tanya Vivi, yang ikutan sedih.

"Tidak apa-apa." Yumna tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

"Sepertinya saya harus segera pulang." Yumna melihat Aluna yang masih pulas di atas kasurnya.

"Biar pak supir yang antar ya, non." sahut Vivi.

"Tidak perlu, saya naik taksi saja." balas Yumna.

"Ini catatan kebutuhan Aluna." Yumna kemudian memberikan selembar kertas pada Vivi.

"Iya, non. Nanti akan saya sampaikan pada Bu Kartika."

Yumna melangkah keluar dari kamar Aluna, ditemani oleh Vivi. Saat menuruni anak tangga, tiba-tiba tatapan matanya bertemu dengan Elbara. Elbara pun menghentikan laju kursi rodanya.

"Mau pulang?" tanya Elbara, saat Yumna sudah berada di hadapannya.

"Iya, pak Bara." jawab Yumna.

Elbara melihat kertas yang dipegang oleh Vivi.

"Apa itu?" tanya Elbara, tanpa ekspresi yang berarti.

"Daftar kebutuhan nona, tuan." jawab Vivi.

Elbara memberi kode dengan tangannya, agar Vivi menyerahkan catatan itu padanya.

"Kamu temani Aluna!" titah Elbara pada Vivi.

"Iya, tuan." Vivi pun patuh, dia kembali ke kamar Aluna.

"Saya antar, sekalian jalan." kata Elbara kemudian.

Yumna mengangguk saja. Dia ingat betul pesan dari Niko, bahwa dia harus patuh pada Elbara.

"Saya bantu." Yumna mengambil alih kursi roda Elbara dengan sopan.

Dengan hati-hati Yumna mendorong kursi roda itu keluar dari rumah mewah itu.

"Kemana dulu, tuan?" tanya Niko setelah dia duduk di belakang kemudi.

"Ke mall. Beli perlengkapan Aluna." jawabnya.

"Siap, laksanakan!" balas Niko.

"Nona Yumna lebih tahu apa yang Aluna butuhkan. Saya harap nona Yumna tidak keberatan menemani saya belanja kebutuhan Aluna." ujar Elbara.

"Tentu saja tidak, pak." sahut Yumna yang duduk di depan, di samping Niko.

"Kenapa kok saya merasa tuan Bara ini sedang modusin nona Yumna, ya...?" batin Niko.

"Kalau ternyata benar, baguslah. Biar si Felly itu berhenti mengganggu tuan Bara." ujarnya lagi. Yang hanya bisa dia dengar oleh dirinya sendiri.

......................

1
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
bagus ceritanya doubel up thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!