Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
babi hutan
Luce kembali membawa wadah kayu berisi beberapa ubi rebus dan dua gelas susu. Ia kemudian duduk bersila di depan Vivi. Luce menyerahkan segelas susu kepada Vivi, mengambil sebutir ubi, lalu mulai makan. Vivi pun menyambutnya dan ikut makan dalam diam.
"Ah... makan setelah babak belur rasanya nikmat banget, ya... haha," ujar Luce dengan senyum tipis, bukan senyum jahil yang biasanya ia tunjukkan.
"Heh, mulut besar juga kau. Padahal tadi hampir sekarat," ejek Kenny sambil menyambar ubi dan mulai mengunyah. "Kalau tidak ada Vivi, kau pasti sudah kuseret ke ruang pemulihan sekarang!" lanjutnya diiringi tawa.
"Halah... kau tadi juga kena dua kali, kan?" bela Luce tak mau kalah.
“Cuma dua kali, lebam dikit aja,” balas Kenny santai. “Kau itu tujuh kali! Hahaha!" Ia terkekeh lagi. “Sial… sial… diketawain pula sama spiroranya.”
Luce mendongak bingung dengan mulut penuh ubi. "Ha? Maksudnya?"
Pertanyaan itu membuat Vivi yang sedang menyesap susu dan Ursha'el yang sedang menyantap rotinya serempak menoleh.
"Diketawain Spirora?" ulang Luce.
"Iya! Loh, memangnya kau tidak dengar?" tanya Kenny heran. "Masak kau tidak dengar tawa kecil dari riak lendir di tiang batu biru itu pas dia menghajarmu tadi?"
"Hah? Enggak, tuh..." jawab Luce jujur. Wajahnya jelas kebingungan.
"Memang sih, banyak orang yang menertawakanku tadi. Tapi aku sama sekali tidak dengar suara tawa dari Spirora itu. Dia cuma terdengar seperti mendengus bingung saat aku masuk ke rune persegi. Ah! Kau pasti sedang mengejekku karena aku ditertawakan orang-orang tadi, ya?" Luce tersenyum, mencoba menebak maksud Kenny.
"Tidak, Luce. Aku juga ditertawakan kok," celetuk Vivi tiba-tiba dengan ekspresi tetap datar.
Luce menoleh ke arah Vivi, membuat telinga Elf gadis itu berdenyut pelan. "Oh, sungguh?" tanya Luce. "Aku tidak dengar apa-apa. Aneh..."
Ursha'el, yang sedari tadi menyimak sambil tersenyum geli, akhirnya angkat bicara. "Hmm... mungkin kau memang tidak terlalu menarik untuk ditertawakan, Luce. Hahaha!"
"Ah... butiran kata yang mengalir dari bibir manismu benar-benar merobek hatiku," ujar Luce, kembali ke mode lebay-nya sambil memegang dada secara dramatis. Hal itu sontak memancing tawa tipis dari Kenny dan Ursha'el.
"Ah, mulai lagi..." Ursha'el menggelengkan kepala, namun nadanya kemudian berubah serius. "Tapi tidak, Luce, aku sungguh-sungguh. Slime di dalam Spirora itu jahil. Ia akan tertawa jika berhasil membuat orang lain kesal. Itu berarti kau sama sekali tidak merasa frustrasi atau jengkel tadi, makanya ia tidak menertawakanmu."
"Oh, benarkah?" sahut Luce. "Mungkin saja sih..."
Mereka berempat kemudian menoleh ke arah Spirora di tengah lapangan. Dornus berdiri tegak di pusatnya, memancarkan uap Mana berwarna merah yang kuat. Keempat tiang batu berlendir itu menjulurkan lidah lendir mereka, melahap uap energi Mana yang dipancarkan Dornus, tampak seperti sekumpulan anjing peliharaan yang jinak di tangan majikannya.
"Mana Instruktur Dornus luar biasa melimpah, ya..." komentar Kenny, membuat yang lain ikut tertegun. "Sudah jadi instruktur pelatihan fisik, jago magis pula."
"Wajar saja, dia punya dua pangkat," jawab Luce. "Mage Kelas E dan Ksatria Kelas E. Memang orang kuat."
Ursha'el menoleh ke arah Luce dengan dahi berkerut. "Eh? Benarkah? Tahu dari mana kau? Kau sepertinya tahu banyak tentang instruktur."
"Jelas aku tahu," jawab Luce tenang. "Saat aku masih kecil, dia sering datang ke rumah untuk minum anggur bersama ayahku. Dia dulunya seorang Aegis juga, sama seperti ayah."
"Oh... begitu..." Ursha'el manggut-manggut paham. "Tapi dia tetap keras padamu ya, meskipun teman lama ayahmu," sambung Ursha'el sembari tertawa tipis.
Luce menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya, begitulah...mungkin dia malah heran bagaimana bisa ayahku punya anak sepayah aku, hahaha!" tambah Luce. Tawa getir itu mendadak membuat suasana menjadi hening sesaat.
Kenny mengalihkan pembicaraan. "Padahal baru Kelas E, ya, tapi sudah sekuat itu. Gimana dengan bapakmu yang Kelas F, Ursha'el? Aku sampai tidak bisa membayangkan sehebat apa dia, hahaha!" ujar Kenny sembari menoleh ke arah Ursha'el.
"Hah?" Luce ikut menoleh, raut wajahnya tampak bingung. "Kelas F?"
Ursha'el mengunyah potongan apel terakhirnya dengan tenang. Ia menatap kedua temannya itu dengan tatapan datar. "Ya...begitulah .."
"Coba ceritakan, Ursha'el... seperti apa sihir ayahmu?" tanya Kenny, rasa penasarannya kian memuncak.
Ursha'el menegakkann punggungnya ke batang pohon. "Entahlah, Ken. Aku sendiri tidak pernah melihatnya. Dia tidak pernah menggunakan sihir apa pun di rumah," jawabnya datar.
"Tunggu, tunggu... Ini serius, Ursha'el?! Ayahmu Mage Kelas F?!" sela Luce, masih tidak percaya.
"Ah, kau ini bagaimana, sih... Ketinggalan informasi sekali, Ursha'el itu anak angkatnya Hiru yang namanya sering ditulis di papan kabar itu loh!" potong Kenny dengan nada berlagak.
Mulut Luce menganga, menatap Ursha'el nyaris tak percaya.
"Heleh, kau juga baru tahu satu jam yang lalu, sudah berlagak paling tahu," ujar Ursha'el geli, diikuti tawa tipis yang jarang diperlihatkannya.
"Oh, ayolah! Biar kelihatan keren sedikit," tawa Kenny pecah. "Tapi benar, kau sama sekali tidak tahu tentang sihir ayahmu?"
Ursha'el terdiam sesaat. Ia mengalihkan pandangannya, menatap hamparan langit biru dari celah dedaunan tempatnya bersandar.
"Hmm... Pernah sih, sekali. Saat aku masih kecil, sekitar umur enam tahun. Aku ingat betul kejadiannya..."
****************
Pagi yang cerah menyelimuti Paxvar. Di halaman sebuah rumah sederhana, seorang gadis kecil berkulit hijau zamrud asyik bermain tanah dibawah naungan pohon apel, jemarinya sibuk membentuk gundukan kecil sambil bersenandung pelan.
Tiba-tiba-
“Awas! Awaaas!!”
Teriakan panik terdengar dari kejauhan, disusul suara kekacauan, teriakan orang-orang, benda-benda roboh, dan hentakan berat di atas tanah. Suara itu semakin dekat… semakin cepat… hingga akhirnya,
BRAKK!!
Seekor babi hutan raksasa dengan moncong kasar berlumur tanah, sepasang gading kuning melengkung yang tajam dan mematikan. Matanya kecil, merah menyala. Kulitnya hitam legam, bulunya berdiri kaku, dan setiap embus napasnya terdengar seperti dengusan kemarahan. Menerobos masuk ke halaman rumah
Binatang itu mengamuk, menyeruduk apa pun yang ada di hadapannya.
“WUAHH!! IBUU!!” Gadis kecil itu menjerit ketakutan dan berlari sekuat tenaga menuju pintu rumah. Tepat saat ia mencapai ambang, pintu terbuka.
“Ada apa?!” Seorang pria berambut hitam dan seorang wanita elf keluar tergesa. Gadis kecil itu langsung memeluk sang elf erat-erat, tubuhnya gemetar.
Tanpa ragu, pria itu melangkah turun ke halaman. Babi hutan masih mengamuk. Si babi hutan berhenti sejenak, menoleh ke arah pria itu, kemudian mengambil beberapa langkah mundur. Tanah terinjak keras. Lalu ia melesat menyeruduk!
Pria itu segera berlutut, satu tangannya menekan tanah. Suaranya menggema tegas.
“Wahai nadi bumi yang terkubur, hantamlah!
Terra Surge!”