NovelToon NovelToon
RAHASIA SURAT WASIAT

RAHASIA SURAT WASIAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.

Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Catatan

Cahaya pagi menyelinap melalui celah tirai bambu yang menutupi jendela kamar kecil di rumah Kakek Sembilan. Ridwan sudah bangun sejak subuh, menghabiskan waktu dengan membaca kembali buku-buku pengobatan kuno milik ibunya yang tersimpan di dalam tas kanvas tua. Di tengah halaman sebuah buku berjudul “Rahasia Tanaman Obat Jawa Barat”, sesuatu yang tidak biasa menarik perhatiannya—selembar kertas tipis yang terlipat rapi tersembunyi di antara lembaran halaman yang sudah menguning akibat usia.

Dengan hati-hati, ia menarik kertas tersebut keluar dari buku. Kertasnya sudah cukup lama, dengan bagian sudut yang sedikit sobek dan warnanya yang mulai memudar. Ia membukanya dengan sangat hati-hati agar tidak merusaknya, dan tulisan tangan ibunya yang rapi serta dikenalinya dengan baik muncul di depannya.

“Catatan Rahasia – Hanya Bisa Dibaca Oleh Ridwan Sayangku”, tertulis dengan huruf besar di bagian atas kertas.

Ridwan merasa jantungnya berdebar kencang. Ia segera duduk di atas lantai kayu yang halus, menempatkan buku di pangkuannya sambil fokus membaca setiap kata yang ditulis ibunya.

“Jika kamu menemukan catatan ini, berarti kamu telah menemukan buku-buku yang kukumpulkan dengan cinta selama bertahun-tahun,” mulai tulisan ibunya. “Aku menulis ini pada malam sebelum aku merasakan gejala penyakit yang akhirnya membawaku pergi. Aku merasa harus mencatat semua yang aku ketahui agar suatu hari nanti kamu bisa mengetahui kebenaran yang telah disembunyikan dari kamu.”

Ia terus membaca dengan pandangan yang tidak mau melewatkan satu detail pun.

“Beberapa bulan yang lalu, aku membuat surat wasiat resmi yang menyatakan kamu sebagai ahli waris utama dari seluruh harta dan aset yang kumiliki—termasuk saham mayoritas di PT. Dewi Santoso. Aku menyimpan surat wasiat tersebut di tempat yang sangat aman, jauh dari jangkauan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hanya satu orang yang tahu lokasinya selain aku sendiri—Kakek Sembilan, yang telah menjadi teman dan guru yang aku percayai sepenuhnya.”

Ridwan mengangkat pandangannya ke arah luar jendela, melihat ke arah ruang tamu di mana Kakek Sembilan sedang menyusun ramuan obat. Rasanya seperti ibunya sedang berbicara langsung padanya, memberitahukan rahasia yang telah disimpan selama bertahun-tahun.

“Aku mulai merasa tidak nyaman dengan perilaku Ratna semenjak dia mulai bekerja sebagai sekretaris di kantor kita,” lanjut tulisan ibunya. “Aku melihat dia sering mengakses dokumen penting tanpa izinku, berbicara dengan orang-orang yang tidak dikenal melalui telepon yang diam-diam, dan memberikan senyum yang penuh dengan niat jahat setiap kali melihatmu. Pada awalnya aku berpikir itu hanya rasa cemburu atau kekhawatiran yang berlebihan, tapi kemudian aku menemukan bukti yang tidak bisa aku abaikan.”

Ridwan merasakan darahnya mulai mendidih dengan kemarahan saat membaca bagian selanjutnya.

“Aku menemukan bahwa Ratna telah menyuntikkan zat berbahaya ke dalam obat-obatan yang kumakan setiap hari—zat yang perlahan-lahan merusak tubuhku dan menyebabkan penyakit yang tidak dapat dijelaskan oleh dokter. Aku juga menemukan bahwa dia telah bekerja sama dengan beberapa orang di dalam perusahaan untuk memalsukan dokumen dan mengalihkan dana perusahaan ke rekening pribadi mereka. Bahkan, aku memiliki bukti bahwa dia telah membujuk ayahmu untuk menyetujui rencana mereka dengan memberitahukan kebohongan tentang aku dan tentang masa depan perusahaan.”

“Aku sangat yakin bahwa apa yang mereka lakukan bukan hanya pencurian atau pemalsuan dokumen—ini adalah pembunuhan yang direncanakan dengan cermat,” tulis ibunya dengan tangan yang mulai sedikit goyah di beberapa bagian, menunjukkan betapa terpengaruhnya dia saat menulis catatan ini. “Mereka ingin menghilangkan aku agar bisa mengambil alih seluruh kendali perusahaan dan menghapus segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga Wijaya darinya. Dan yang lebih mengerikan lagi, mereka juga merencanakan untuk menghilangkanmu agar tidak ada orang lain yang bisa mengklaim hak atas apa yang seharusnya menjadi milik kita.”

Ridwan merasa air mata mulai menggenang di matanya. Ia bisa membayangkan bagaimana rasanya bagi ibunya untuk mengetahui bahwa orang yang dipercayainya ternyata ingin membunuhnya dan juga berniat menyakiti anaknya sendiri. Ia menggenggam catatan tersebut dengan sangat erat, seolah ingin menghubungkan dirinya dengan ibunya melalui kata-kata yang ditulisnya.

“Surat wasiat yang kubuat menyatakan bahwa seluruh saham dan aset kumiliki akan jatuh ke tanganmu setelah wafatku,” lanjut tulisan ibunya. “Aku juga telah menyimpan semua bukti tentang kejahatan yang dilakukan oleh Ratna dan rekan-rekannya di tempat yang sama dengan surat wasiat tersebut. Kakek Sembilan akan memberitahumu lokasinya ketika kamu sudah cukup kuat untuk menghadapi segala konsekuensinya.”

“Jangan pernah menyerah, Ridwan sayangku,” akhir tulisan ibunya dengan penuh harapan. “Kamu adalah anak yang kuat dan berharga, dan kamu berhak mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikmu. Jangan biarkan orang-orang yang kejam ini mengambilnya darimu. Cari keluarga Wijaya—mereka akan membantumu dan akan memberikan keadilan yang pantas bagi kita berdua. Aku selalu mencintaimu, di mana pun aku berada.”

Ridwan menutup matanya sejenak, mencoba menahan emosi yang meluap di dalam dirinya. Ketika dia membukanya kembali, dia melihat Kakek Sembilan berdiri di pintu kamar dengan wajah yang penuh dengan pengertian dan kasih sayang.

“Kamu akhirnya menemukannya, ya nak?” ujar Kakek Sembilan dengan suara yang pelan namun jelas. Dia mendekati Ridwan dan duduk di sisinya, mengambil napas dalam sebelum melanjutkan. “Aku telah menunggu saat ini datang selama bertahun-tahun. Dewi memberitahuku tentang catatan tersebut dan tentang lokasi surat wasiat serta bukti-bukti penting yang dia simpan. Dia ingin aku memberitahumu semuanya ketika kamu sudah siap untuk menghadapi dunia luar dan untuk mengambil hakmu yang telah dirampas.”

“Di mana mereka disimpan, Kakek?” tanya Ridwan dengan suara yang sedikit gemetar namun penuh dengan tekad. “Di mana surat wasiat dan bukti-bukti ibumu berada?”

Kakek Sembilan mengangguk perlahan, menunjuk ke arah pohon beringin tua yang tumbuh di belakang rumah. “Di bawah akar pohon itu, nak,” katanya dengan suara yang penuh dengan makna. “Dewi dan aku menyembunyikannya di sana pada malam sebelum dia pergi kembali ke Bandung. Kita menggali lubang dalam di bawah akar yang paling kokoh, menempatkan semua dalam kotak kayu kedap air yang telah kita siapkan dengan hati-hati. Hanya aku yang tahu lokasinya selain dia.”

Mereka segera berdiri dan pergi ke belakang rumah. Di bawah naungan pohon beringin tua yang telah menyaksikan banyak hal selama bertahun-tahun, Kakek Sembilan mengambil sekop bambu dan mulai menggali tanah di bawah akar yang besar dan menjalar. Setelah beberapa saat, ujung sekop menyentuh sesuatu yang keras dan tidak seperti tanah atau akar.

Dengan hati-hati, mereka mengeluarkan kotak kayu besar yang kedap air dari dalam tanah. Kotaknya masih dalam kondisi baik meskipun telah terbenam selama delapan tahun. Kakek Sembilan membuka tutup kotak dengan perlahan, dan di dalamnya terdapat beberapa amplop kertas tebal yang dilindungi oleh plastik kedap air, sebuah kotak kecil berisi dokumen-dokumen penting, serta sebuah buku besar yang ditutupi dengan kulit kayu.

“Semua yang kamu butuhkan ada di dalam sini, nak,” ujar Kakek Sembilan dengan suara yang penuh dengan penghargaan. “Surat wasiat resmi Dewi, bukti-bukti tentang kejahatan yang dilakukan oleh Ratna dan Budi, serta semua dokumen yang membuktikan bahwa kamu adalah ahli waris sah dari seluruh hartanya.”

Ridwan mengambil surat wasiat dengan hati-hati. Di sampulnya tertulis nama lengkapnya—“Ridwan Wijaya Santoso”—dan cap resmi yang menunjukkan bahwa surat tersebut telah dibuat dan disahkan oleh notaris. Dia membukanya dengan lembut, dan tulisan resmi yang menyatakan dia sebagai ahli waris utama dari semua harta dan aset Dewi Wijaya Santoso muncul di depannya.

Di samping surat wasiat, terdapat juga berkas-berkas dokumen yang berisi bukti tentang pembunuhan yang direncanakan, pencurian dana perusahaan, dan pemalsuan dokumen yang dilakukan oleh Ratna dan Budi. Ada surat-surat antara Ratna dengan orang-orang yang bekerja sama dengannya, catatan keuangan yang tidak sesuai, serta laporan laboratorium yang menunjukkan adanya zat berbahaya dalam tubuh Dewi saat dia wafat.

Ridwan merasa tekad yang kuat membara di dalam dirinya. Ia melihat ke arah cincin warisan keluarga yang dikenakan di jari kirinya, kemudian melihat ke arah kota Bandung yang terletak jauh di kejauhan di balik bukit. Ia tahu bahwa saatnya telah tiba untuk pergi dan menghadapi orang-orang yang telah menyakitinya dan menyakitkan ibunya. Ia akan pergi ke Bandung, menemukan keluarga Wijaya, dan menggunakan bukti-bukti ini untuk membawa mereka ke pengadilan dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.

“Kamu sudah siap untuk pergi, bukan nak?” tanya Kakek Sembilan dengan suara yang penuh dengan keyakinan, melihat ekspresi wajah Ridwan yang kini penuh dengan tekad yang tak tergoyahkan.

Ridwan mengangguk dengan tegas, menyimpan semua dokumen dengan hati-hati ke dalam kotak kayu. “Ya, Kakek,” jawabnya dengan suara yang jelas dan kuat. “Saya sudah siap. Waktu telah tiba untuk memberikan keadilan bagi ibumu dan untuk mengambil kembali hak saya yang telah dirampas.”

Matahari sudah mulai tinggi di langit, menyinari jalan yang akan ditempuh Ridwan menuju Bandung. Di hatinya, ia berjanji kepada ibunya bahwa dia akan menggunakan semua yang telah dia berikan dengan bijak, bahwa dia akan menemukan keluarga Wijaya, dan bahwa dia akan memastikan bahwa orang-orang yang bersalah akan mendapatkan hukuman yang mereka pantaskan. Perjalanan yang akan datang tidak akan mudah, tapi dengan surat wasiat, bukti-bukti penting, dan dukungan Kakek Sembilan serta keluarga Wijaya yang akan dia temui, dia merasa bahwa dia memiliki kekuatan dan keberanian yang dibutuhkan untuk menghadapi segala tantangan yang akan datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!