NovelToon NovelToon
Mas Galak Saranghae

Mas Galak Saranghae

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romantis / Cintamanis / Fantasi / Cintapertama / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mahlina

Siapa bilang niat balas dendam akan berakhir sesuai rencana?

Buktinya nih si Nisa!

Hatinya udah di buat jungkir balik sama Aziz. Tetap aja hatinya gak bisa berpaling dari pria galak yang acap kali berkata nyelekit di hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

...🥀🥀🥀🥀...

Nisa dan Sabah menikmati semangkuk mi instan kuah. Sementara Naraya menatap kedua nya dengan kesal.

“Enak kan, yah! Habis nyebur, kedinginan, makan yang panas panas berkuah, wuaaaah seperti di surga kenikmatan, yah!” beo Nisa dengan tatapan berbinar, menimati mi instan milik nya.

“Ah kamu ini, mana ada surga kenikmatan? Yang ada itu surga dunia. Rasa nya sekali coba, pasti nagih dan mau lagi.” celetuk Sabah tanpa saringan.

Naraya melotot galak, “Astaga, ayah! Jangan asal ngomong!”

“Emang seperti apa sih surga dunia itu, yah?” tanya Nisa dengan polos nya, menatap sang ayah dengan penasaran.

Sabah menelan saliva nya sulit, netra nya menatap Nisa tajam, ‘Aduh mam pus aku! Nisa nih beneran nanya apa ngeledek aku sih? Apa iya dia gak tau surga dunia itu macam apa?’

“Jawab, yah! Seperti apa surga dunia itu!” beo Naraya dengan nada menggoda. Wanita yang gak lagi muda itu, menyanggah dagu dengan tangan nya yang ada di atas meja.

Sabah mengerdik kan dagu nya, menatap sang istri dengan wajah memelas, “Tolong bantu ayah jelasin dong, bu! Ini beneran sulit buat ayah!”

Naraya beranjak dari duduk nya, “Ayah jelasin aja sendiri! Maka nya lain kali punya mulut itu di jaga, yah! Di rem!”

“Ibu mau ke mana?” tanya Nisa, melihat sang ibu malah meninggalkan meja makan.

“Ibu mau lihat calon mantu, orang abis nyebur yang ada cari makanan hangat, ini malah lari. Wis aneh toh!” gerutu Naraya tanpa menghenti kan langkah nya.

Nisa mengerdik kan dagu nya, “Yah! Seperti apa surga dunia itu? Apa semenyenang kan ngerjain Aziz?”

Sabah menggaruk kepala nya frustasi, “Seperti apa ya!”

“Yeeeh ayah! Tinggal jawab yah!”

“A- anu emmmhhh kamu beneran gak tau surga dunia itu macam apa, Nis? Kamu gak lagi ngerjain ayah kan?”

Tawa Nisa pecah, “Ahahahahaha ayah setres bangat buat jawab, jelas Nisa tau lah! Ngerti malah. Ayah nya aja yang terlalu berpikir Nisa ini polos. Ahahahaha muka ayah lucu bangat kalo lagi bingung, setres bangat buat jawab ya yah?”

Pletak.

Dengan gemas Sabah menji tak kepala Nisa dengan ujung sendok.

“Aduh ayah, jorok ihs! Masa dari mulut di ge tok ke rambut Nisa! Rambut Nisa udah wangi juga!” Nisa mengerucut kan bibir nya kesal.

Sabah beranjak dari duduk nya, dengan hidung yang kembang kempis. Hati nya kepalang kesal dengan tingkah sang anak.

“Biar kamu mandi lagi! Kalo gak ingat kamu itu anak ayah, sudah ayah pi tes kamu, Nis! Cah gemblung!” cerocos Sabah, sebelum berlalu menyusul sang istri yang melangkah ke luar.

Nisa kembali terkekeh, bah kan sudut mata nya berair, “Lah kapan ayah yang ajarin Nisa jadi cah gemblung hehehehe!”

Nisa tersenyum pahit, menatap punggung sang ayah yang semakin menjauh dari pandangan nya. Seiring dengan bulir bening yang berhasil lolos menerobos kelopak mata nya.

‘Canda tawa, umpatan, dan amarah yang seperti ini yang bakal aku rindukan. Di saat ayah dan ibu meninggal kan ku untuk pekerjaan di luar kota. Aku gak keberatan kalian berdua melakukan perjalanan ke luar kota.

Aku sadar, apa yang ayah dan ibu laku kan. Itu semua untuk ku, demi masa depan ku yang cerah secerah matahari. Tapi aku juga butuh kalian di sisi ku! Aku kesepian yah, bu!’

Sementara di luar rumah.

“Udah lari nya nak Aziz?” tanya Naraya, melihat Aziz kini berlari ke arah nya. Tepat ia berdiri di depan gerbang rumah.

“Udah bu! Lumayan lah lari beberapa putaran!” beo Aziz, dengan keringat membanjiri wajah nya, namun gak meluntur kan kadar ketampan nya.

“Apa kamu sering lari kalo lagi kedinginan gitu, nak? Di dalam Nisa dan ayah lagi makan mi instan, kamu mau ibu buat kan?” cerocos Naraya.

“Gak juga, cuma pengen dinginin pikiran yang sedikit kacau, bu! Ibu gak usah repot masakin Aziz mi. Saya gak makan mi instan.” tolak Aziz dengan mantap, ia memilih duduk melantai di garasi rumah dengan kaki berselonjor. Mengendur kan urat urat kaki nya.

Naraya menatap lurus ke depan, seakan tengah menerawang, “Pikiran kamu pasti kacau gara gara Nisa ya, nak? Maapin kelakuan Nisa ya nak! Ibu sadar kok, Nisa melakukan itu semua hanya untuk menghibur diri nya. Anak itu pasti merasa kesepian di saat ayah dan ibu meninggal kan nya untuk urusan pekerjaan.”

“Apa kalian, gak kepikiran untuk menyerah kan urusan pekerjaan pada orang yang kalian percaya?” tanya Aziz.

Naraya menghembus kan nafas nya kasar, “Di jaman sekarang, harga kepercayaan itu sangat lah mahal, nak! Terlebih untuk orang yang sudah pernah di kecewa kan oleh orang kepercayaan nya sendiri. Kami harus memulai segala nya dari nol, saat uang perusahaan yang kami bangun. Di bawa lari oleh sekretaris ayah dulu.”

“Apa Nisa gak ingin menerus kan usaha kalian? Kelak perusahaan itu akan jatuh ke tangan nya juga kan?” tanya Aziz dengan wajah datar nya.

Sabah menggeleng, saat Naraya beradu pandang dengan sang suami yang sudah berdiri gak jauh dari nya.

“Kamu lari berapa putaran nak? Mandi keringat gitu! Harus mandi lagi itu! Tapi beda ya, keringat orang kepercayaan pak Alex, wangi!” cerocos Sabah.

Aziz tersenyum ramah, “Ayah bisa aja kalo ngomong!”

Sabar mengulur kan tangan nya ke depan, membantu Aziz untuk beranjak dari posisi duduk nya.

Grap.

Aziz menggenggam tangan Sabar, pria muda itu menerima uluran tangan dari ayah Nisa. Wanita yang selama ini ia musuhi saat berada di kediaman utama.

“Orang yang tepat, datang di saat yang tepat.” ujar Sabah dengan tatapan penuh arti.

Aziz mengerut kan kening nya penuh tanya, “Maksud ayah?”

“Terima kasih, yah!” beo Aziz lagi dengan posisi yang sudah berdiri tegak.

Tanpa sungkan, Sabah merangkul Aziz melangkah ke rumah. Dengan di ikuti Naraya yang mengekori kedua nya.

“Seperti perkataan ayah dan ibu beberapa saat lalu, ayah dan ibu setuju kamu berhubungan dengan Nisa. Kami malah ingin melihat kalian berdua menikah.” ujar Sabah terus terang.

Aziz menghenti kan langkah nya, “Tapi yah, jujur aku dan Nisa …”

Naraya menyela dengan senyum tipis nya, “Pura pura pacaran? Ibu sudah tau itu, nak!”

Aziz menatap Naraya dan Sabah bergantian, “Ibu sudah mengetahui nya? Apa ayah juga?”

Pluk.

Sabah mencengkram bahu Aziz.

“Kamu pikir orang tua seperti ayah dan ibu bisa di bohongi anak gadis nya hem? Biar gimana pun, kami ini orang tua nya. Kami mengenal betul seperti apa Nisa, jadi tau lah bagaimana Nisa itu!” ujar Sabah panjang kali lebar.

Aziz mendengus kesal, “Lalu kenapa kalian gak membongkar kebohongan putri kalian sendiri? Malah ikut dalam permainan sandiwara yang jelas salah!”

Bersambung …

1
lina
Kasih tau gak y
partini
wah banyak Banggt yg pdkt
lina: Biar aziz ke bakar 😄
total 1 replies
lina
Marahnya awet amat
lina
Yaah beeet
partini
ngilu Banggt tuh terong 🍆🤣🤣
lain kamar aja lah nis bukan muhrim loh ,tadi kata mu ini itu macam tau itu salah kalau masih satu kamar ya pada Bae itu mah 🤣🤣🤣
lina: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
lina
polih mna y
lina
goroh
lina
tul itu
lina
udh penggel bae itu palanya pak
lina
kga syg nyawa 🤣🤣
lina
ulahnya s hans
lina
ora mati sekalian.
lina: aman itu🤭
total 2 replies
lina
sukirin
lina
minta d beri
lina
semprul
lina
nangis lah. u hila
lina
d dengar g y
lina
cuma tanya. d samain ngulur waktu. aitu ngelawak?
lina
harus pede ngadepin ajis
lina
kutu kupret klo nyeletuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!