Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. HARAPAN KAMPUNG
..."Ketika pintu balai dibuka, harapan menerjang seperti air bah dan seorang tabib harus memilih siapa yang diselamatkan dulu."...
...---•---...
Ayam jantan berkokok untuk kedua kalinya ketika Doni membuka mata. Cahaya pagi menerobos celah-celah dinding bambu, menciptakan garis-garis terang di wajahnya. Tubuhnya masih pegal dari semua yang terjadi kemarin: otot kaku, punggung nyeri, tapi ada sesuatu yang berbeda pagi ini.
Ada tujuan yang jelas. Ada alasan untuk bangun.
Mbok Wulan sudah di tungku belakang gubuk, mengaduk nasi. Aroma tempe goreng dan nasi hangat menguar, membuat perut Doni berbunyi. Tari duduk di tikar, wajahnya lebih segar meski masih sesekali batuk.
"Kau bangun," kata Mbok Wulan sambil menoleh. "Makan dulu sebelum ke balai. Hari ini akan panjang."
Mereka makan di lantai gubuk. Pak Karso sudah pergi ke sawah sejak subuh. Karyo melahap makanannya, tapi matanya tak lepas dari Doni: tatapan tak berkedip, terlalu lama, membuat udara terasa berat.
"Berhenti menatapku seperti itu," gumam Doni.
"Aku tak bisa tidak menatap." Karyo meletakkan tempe di mulutnya. "Kemarin kau selamatkan Mbok Supi dari mati. Aku lihat sendiri kau satukan tulangnya yang patah. Itu bukan..." Ia berhenti. "Itu bukan sesuatu yang manusia biasa bisa lakukan."
"Aku manusia biasa. Hanya tahu beberapa hal yang orang lain tak tahu."
"Beberapa hal?" Karyo tertawa pendek. "Itu ilmu tinggi. Ki Darmo puluhan tahun jadi dukun, tapi aku tak pernah lihat dia lakukan hal seperti itu."
Doni diam. Ia menghabiskan sarapannya, lalu mencuci muka dengan air dari tempayan. Air dingin itu menyegarkan, mengusir sisa kantuk.
...---•---...
Ketika mereka berjalan ke balai kampung, matahari sudah naik sepenuhnya. Udara masih sejuk, membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja. Kampung mulai hidup, tapi pagi ini ada yang lain.
Lebih ramai.
Orang-orang berkumpul di sepanjang jalan, berbisik sambil menatap Doni. Ada yang membungkuk. Ada yang tersenyum. Ada yang hanya diam, mata mengikuti setiap langkahnya.
"Itu dia tabib ajaib."
"Masih muda sekali."
"Sudah selamatkan dua orang."
"Ki Darmo pun tak bisa lakukan itu."
Bisikan-bisikan itu mengikutinya. Setiap tatapan seperti beban. Tapi ia tak bisa berhenti. Di ujung jalan itu, ada orang-orang yang membutuhkan.
Balai kampung terletak di tengah perkampungan: bangunan kayu dengan atap genteng, teras luas dengan tiang kokoh, lantai papan yang rata.
Tapi pagi ini, terasnya sudah penuh.
Puluhan orang. Mungkin hampir seratus.
Berkumpul seperti pasir yang menumpuk. Ada yang duduk di bangku. Ada yang berdiri. Ada yang menggendong bayi. Wajah-wajah pucat menatapnya. Ada yang menggenggam erat anaknya. Ada yang mencengkeram dada sendiri.
Pak Wiryo sudah di sana, berdiri di tengah dengan tongkat bambu, coba atur kerumunan. Di sampingnya, seorang pria tua berpakaian rapi: surjan dan blangkon. Pak Lurah. Matanya tajam, suaranya tegas.
"Tertib! Tertib!" teriak Pak Wiryo. "Kalian semua akan dapat giliran! Tapi harus tertib!"
Melihat Doni datang, kerumunan bergejolak seperti air mendidih. Orang-orang maju, tangan terulur.
"Tolong anakku!"
"Ibuku sakit berbulan-bulan!"
"Kakiku luka tak sembuh-sembuh!"
Pak Wiryo langsung membentengi Doni dengan tubuhnya: bahu lebar, tangan terentang. "Mundur! Mundur semua! Kalau tak tertib, tak ada yang diobati!"
Pak Lurah mengetuk tongkatnya keras ke lantai. Suara ketukan bergema, memotong kebisingan. "Dengarkan!" Suaranya tajam seperti pisau. "Kami sudah buat aturan! Yang sakit paling parah duluan! Yang ringan tunggu! Dan semua harus antri tertib! Kalau ada yang buat ribut, akan dikeluarkan!"
Otoritas dalam suaranya membuat kerumunan agak tenang. Orang-orang mundur pelan, meski masih saling lirik tak sabar.
Pak Lurah menghampiri Doni, membungkuk sedikit. "Selamat datang, Doni. Maaf... kami tak sangka akan seramai ini. Bahkan ada yang dari kampung sebelah, dari kota kecamatan."
"Tak apa, Pak Lurah," jawab Doni. "Saya akan coba bantu sebisa saya."
"Bagus." Pak Lurah menunjuk seorang pemuda tinggi kurus. "Ini Bambang, anakku. Dia akan bantu catat nama dan keluhan pasien. Dia bisa baca tulis."
Bambang melangkah maju, membungkuk hormat. Di tangannya ada buku compang-camping dan sebatang arang. "Siap membantu, Kang Doni." Matanya berbinar dengan keingintahuan yang hampir berlebihan. "Aku ingin belajar ilmu pengobatan dari Kang Doni juga, boleh?"
Doni mengangguk. Setidaknya ada yang mau belajar. Itu bagus. "Boleh. Tapi catat dulu. Kita bicara sambil bekerja."
Mereka masuk ke dalam balai. Ada ruangan kecil di samping, biasanya untuk simpan barang. Tapi pagi ini sudah dibersihkan, diberi tikar dan meja kecil. Cahaya matahari masuk lewat jendela kayu.
"Ini tempatnya," kata Pak Wiryo. "Kami pikir lebih baik kau periksa di ruangan tertutup. Untuk privasi."
Tenggorokan Doni tercekat. Mereka miskin, tak berpendidikan, tapi mereka tahu. Mereka mengerti apa yang dibutuhkan.
"Satu lagi," tambah Pak Wiryo. "Istri dan anak perempuanku sudah siapkan ramuan dasar. Jahe, kunyit, daun sirih, semua sudah dicuci dan dipotong. Kalau kau butuh yang lain, tinggal bilang."
Jari-jari Doni menggenggam ujung kain. Dada sesak, tapi bukan karena sedih.
"Baik," ia menarik napas. "Mari mulai. Bambang, panggil pasien pertama. Yang paling parah."
...---•---...
Bambang mengangguk dan keluar. Sebentar kemudian, ia kembali membimbing seorang perempuan tua yang berjalan tertatih, tubuh bungkuk hampir setengah lingkaran. Napasnya ngik-ngik di setiap langkah, seperti peluit retak. Di belakangnya, seorang perempuan muda menopang.
"Ini Mbah Tinem, Kang," kata Bambang sambil mencatat di bukunya. "Dia sulit napas sejak bertahun-tahun. Makin hari makin parah."
Doni bantu Mbah Tinem duduk. Perempuan tua itu menatapnya dengan mata keruh seperti kaca berkabut. Bibir bergetar. Tangan mencengkeram lututnya sendiri.
"Mbah, sudah berapa lama sulit napas?"
"Entahlah, Nak..." Suara Mbah Tinem lemah dan terputus. "Sudah... bertahun-tahun... dukun bilang... ada jin di dada... tapi jimat tak... tak mempan..."
Doni dengarkan dadanya dengan telinga ditempelkan ke punggung. Suara mengi khas. Hembusan napas memanjang. Napas bersiul di kedua paru.
Asma atau PPOK. Diperparah paparan asap kayu bakar bertahun-tahun di dapur tanpa ventilasi.
"Mbah sering masak pakai kayu bakar di ruangan tertutup?"
"Ya, Nak... setiap hari... di gubuk kecil..."
Doni mengangguk pelan, lalu menoleh pada anak perempuannya. "Bu Siti," ia menggunakan suara yang lembut tapi tegas. "Paru Mbah sudah rusak karena menghirup asap bertahun-tahun. Seperti..." ia mencari perumpamaan yang bisa dimengerti, "seperti kain putih yang terus-menerus kena jelaga. Lama-lama hitam dan keras."
Mata Siti melebar. "Apakah bisa sembuh?"
Doni terdiam sejenak. Aku bisa bohong. Bilang ada harapan. Mereka akan senang. Tapi besok? Lusa? Ketika tak ada perubahan?
"Kerusakan yang sudah terjadi..." Ia tatap Siti. "Tak bisa diperbaiki sepenuhnya. Tapi gejalanya bisa dikurangi. Mbah harus hindari asap sebisa mungkin. Masak di tempat terbuka kalau bisa, atau buat lubang asap yang besar. Dan minum ramuan yang bantu buka saluran napas."
Ia panggil Karyo yang menunggu di luar. "Ambil jahe merah, madu kalau ada, dan daun mint."
"Daun mint tak ada, tapi ada daun kemangi," jawab Karyo.
"Itu juga bisa. Cepat."
Sambil menunggu, Doni jelaskan pada Siti dengan detail. "Tidurkan Mbah dengan bantal tinggi, seperti ini." Ia tunjukkan dengan tangan. "Dua atau tiga bantal. Jangan biarkan dia tidur datar. Dan kalau udara dingin atau lembab, tutup jendela. Itu akan buat napasnya makin susah."
Karyo kembali dengan bahan-bahan. Doni racik sendiri di depan mereka, tangan bergerak cekatan. "Jahe merah untuk radang di paru. Madu tenangkan tenggorokan. Dan daun kemangi ini..." Ia hancurkan daun dengan jari, aroma segar menyeruak. "Membantu buka saluran napas. Minum tiga kali sehari, pagi, siang, petang."
Bambang mencatat dengan rajin, mata mengikuti setiap gerakan Doni. "Kang, boleh aku tanya? Kenapa harus jahe merah, bukan jahe biasa?"
"Jahe merah lebih panas, lebih kuat efeknya untuk radang," Doni menjelaskan sambil terus bekerja. "Tapi kalau tak ada, jahe biasa juga bisa. Hanya saja harus lebih banyak."
Siti terima botol kecil berisi ramuan dengan tangan gemetar. "Berapa harus bayar?"
"Bayar seikhlasnya. Kalau tak punya, tak apa."
"Tapi..."
"Sudah. Pasien berikutnya menunggu."
Siti membungkuk dalam, hampir melipat dua. Air mata di matanya. Ia keluarkan beberapa keping uang tembaga dari kain, letakkan di atas meja. "Ini yang bisa kami beri. Terima kasih, tabib."
...---•---...
Jam demi jam berlalu. Wajah demi wajah berganti.
Seorang anak kecil digendong ibunya, dehidrasi berat dari diare. Doni buat larutan rehidrasi oral, tunjukkan cara memberi minum sedikit demi sedikit. "Setiap lima menit, satu sendok. Jangan berhenti meski dia muntah lagi."
Seorang lelaki paruh baya dengan lengan dibungkus kain kotor, luka bakar terinfeksi, garis merah menjalar. Bau busuk menyeruak saat kain dibuka. Doni bersihkan dengan air garam, irigasi sampai bersih. Lelaki itu meringis, gigi gemeretak, tapi tak berteriak. "Ganti perban setiap hari. Kalau demam atau garis merah makin panjang, datang lagi."
Seorang perempuan dengan sakit kepala yang tak henti, migrain atau hipertensi. Ramuan jahe dan daun pegagan. "Hindari cahaya terang dan suara keras saat sakit datang."
Setiap kasus, Doni diagnosa dengan teliti. Tidak ada yang terburu-buru.
Tapi lelah menumpuk.
Di luar, kerumunan masih ramai. Suara-suara bercampur jadi satu: batuk-batuk kering, tangis bayi yang kelaparan, desahan orang tua yang kesakitan, bisikan-bisikan gelisah.
Menjelang siang, suara keributan tiba-tiba meledak dari luar.
"Aku duluan! Anakku lebih parah!"
"Tidak! Ibuku sudah menunggu dari pagi!"
"Menyingkir! Kakiku bernanah!"
Doni keluar dari ruangan. Pak Wiryo sudah berusaha melerai, tapi dua orang lelaki hampir baku hantam. Kerumunan berdesakan, saling dorong.
"BERHENTI!"
Suara Doni memotong keributan. Tidak keras, tapi ada otoritas yang membuat semua orang terdiam.
Ia berjalan ke tengah, berdiri di antara dua lelaki yang bertengkar. Matanya menyapu kerumunan, satu per satu.
"Kalian semua akan dapat giliran," katanya dengan suara tenang tapi tegas. "Tapi kalau kalian ribut seperti ini, tidak ada yang diobati. Saya akan pulang, dan kalian bisa cari dukun lain."
Hening.
Ancaman itu menggantung di udara seperti pedang.
"Pak Wiryo sudah atur antrian dengan adil," Doni melanjutkan. "Yang paling parah duluan. Yang ringan menunggu. Itu aturannya. Kalau kalian tak setuju, silakan pulang sekarang."
Tak ada yang bergerak. Tak ada yang bicara.
"Bagus." Doni menoleh pada Pak Wiryo. "Lanjutkan."
Ia kembali ke ruangan, meninggalkan kerumunan yang kini tenang seperti anak-anak yang baru ditegur.
Mereka butuh kepastian. Butuh aturan. Kalau aku biarkan kekacauan terjadi, sistem ini akan runtuh.
...---•---...
Pasien berikutnya membuat Doni berhenti bernapas sejenak.
Seorang kakek tua dengan batuk yang tak sembuh-sembuh. Ketika kakek itu batuk di hadapan Doni, ada bercak merah di kain penutup mulutnya.
Darah.
Dadanya sesak. Penyakit paru basah. Hampir pasti.
"Kakek batuk darah sudah berapa lama?"
"Dua bulan, Nak. Makin hari makin banyak. Badan juga makin kurus..."
Doni periksa lebih lanjut. Demam ringan malam hari. Keringat malam. Berat badan turun drastis.
Tanpa antibiotik, tanpa rifampisin, isoniazid... aku hanya bisa beri nutrisi baik, istirahat, dan isolasi agar tak menular.
"Kakek," Doni memilih kata dengan hati-hati. "Ini penyakit yang bisa menular lewat batuk. Kakek harus tidur terpisah dari cucu-cucu. Tutup mulut dengan kain saat batuk. Jangan ludah sembarangan. Dan makan sebanyak mungkin : telur, daging kalau ada, sayur hijau. Tubuh perlu kuat untuk lawan."
Wajah keluarga kakek itu pucat. Ada ketakutan di mata mereka.
Mereka takut dikucilkan. Takut dianggap membawa kutukan.
"Ini bukan kutukan," tegas Doni dengan suara lebih keras. "Ini penyakit seperti yang lain. Memang bisa menular, jadi harus hati-hati. Tapi bukan berarti Kakek harus diusir atau dijauhi sepenuhnya. Hanya perlu jaga jarak saat batuk, pakai kain penutup mulut, dan jangan makan dari piring yang sama."
Keluarga itu mengangguk perlahan, masih ragu tapi setidaknya ada pemahaman di wajah mereka.
Bambang menulis dengan cepat, lalu bertanya. "Kang, apa perbedaan penyakit yang menular dan yang tidak?"
"Nanti aku jelaskan kalau sudah selesai," Doni menjawab sambil meracik ramuan untuk kakek. Setidaknya ada yang ingin belajar. Mungkin aku bisa latih dia jadi asisten.
...---•---...
Menjelang siang, istri Pak Wiryo datang bawa nasi bungkus dan sayur. "Kau harus makan," katanya lembut. "Kau tak bisa tolong orang lain kalau kau sendiri sakit."
"Terima kasih, Bu." Doni terima dengan tangan gemetar.
Ia duduk sebentar, makan nasi dalam lima menit: kunyah cepat, telan tanpa rasa, sambil dengar Bambang bacakan daftar pasien yang masih menunggu.
"Masih ada sekitar dua puluh lima orang, Kang."
Dua puluh lima.
Mata Doni seperti digesek amplas. Pelipis berdenyut. Tangan gemetar saat letakkan piring kosong: jari-jari kaku, susah diluruskan.
Tapi di luar, suara kerumunan masih terdengar. Bisikan-bisikan. Batuk-batuk. Tangis bayi. Desahan orang sakit.
Mereka semua menunggu. Bergantung padaku.
Ia berdiri. Lutut hampir tak kuat menopang. Tapi ia paksa kakinya tetap tegak.
"Panggil pasien berikutnya."
Karyo menatapnya dengan campuran kagum dan khawatir. "Kau yakin? Kau terlihat seperti akan roboh."
"Aku baik-baik saja," Doni tarik napas dalam. "Masih ada dua puluh lima orang di luar. Aku tak bisa berhenti sekarang."
...---•---...
...Bersambung...
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲