Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian yang Salah Diartikan
Aruna mulai ngerasa... berbeda belakangan ini.
Bukan berbeda yang enak. Bukan berbeda yang bikin seneng.
Tapi berbeda yang... mencekam.
Kayak ada mata yang terus ngeliatin dia. Mata yang nggak suka. Mata yang... benci.
Dan Aruna tau siapa pemilik mata itu.
Nisa.
Cewek itu makin sering ngeliatin Aruna dengan tatapan yang... tajam. Dingin. Penuh kebencian. Tiap kali Dhira duduk deket Aruna, tiap kali mereka ngobrol—meskipun cuma sebentar—Nisa selalu... ngeliatin. Dari kejauhan. Dengan rahang yang mengeras. Dengan tangan yang mengepal.
Aruna ngerasa.
Dan itu... bikin takut.
---
Siang ini, jam istirahat kedua.
Aruna dan Kayla duduk di kantin. Meja pojok deket jendela—tempat biasa mereka. Aruna pesen nasi goreng, tapi belum dimakan. Cuma diaduk-aduk sendoknya, ngeliatin nasi yang udah dingin.
Kayla ngunyah nasi uduknya sambil sesekali ngeliatin Aruna. "Run, kamu nggak makan? Makananmu dingin lho."
"Nggak napsu makan, Kay..."
"Kenapa? Sakit?"
"Nggak... cuma... nggak enak aja rasanya..."
Kayla tau. Dia tau maksud Aruna. Nggak enak karena... karena Nisa.
Nisa yang duduk tiga meja di belakang mereka, dikelilingi gengnya—Alya, Dinda, sama Sari. Cewek-cewek yang... yang selalu ikut-ikutan Nisa kemana-mana. Yang selalu... nyinyir.
Dan sekarang... mereka lagi ngobrol. Keras. Sengaja keras supaya kedengeran.
"Pasti Aruna yang nempel terus sama Dhira," kata Nisa, suaranya nyaring banget, kayak sengaja dikerasin. "Kasihan banget sih, caper mulu."
Deg.
Aruna berhenti ngaduk nasinya. Tangannya... kaku.
Kayla langsung noleh ke belakang, tatapannya tajam. "Nis—"
"Biarin, Kay..." Aruna nahan tangan Kayla. "Biarin aja..."
Tapi Nisa nggak berhenti.
"Dhira deket sama dia juga cuma karena tugas kelompok," lanjut Nisa sambil ketawa—ketawa yang... ngejek. "Masa iya cowok sekeren Dhira mau sama cewek kaku kayak dia?"
Alya nyamber, ketawa juga. "Iya sih, Nis. Liat aja caranya jalan. Kayak robot. Ngomong juga pelan banget. Kayak bisikan hantu."
Hantu.
Kata itu... nyelekit.
Aruna nunduk makin dalam. Tangannya menggenggam sendok erat. Sampai buku-buku jarinya putih.
"Terus rambutnya itu lho," kata Dinda sambil ngelirik ke arah Aruna. "Lusuh gitu. Kayak nggak pernah diurus. Mana bajunya gitu-gitu aja. Kampungan."
Kampungan.
Aruna... nggak bisa napas.
Dadanya sesak. Tenggorokannya kayak dicekik. Matanya panas.
Sari ngelirik langsung ke Aruna sekarang, senyumnya... sinis. "Dhira pasti cuma kasihan. Atau dia dipaksa Bu Maita. Kasihan ya Dhira, dapet partner beban. Dia bisa apa coba? Nulis doang kan? Mana tulisannya juga cupu. Paling cuma curhat-curhat gaje di buku lusuh itu."
Buku lusuh.
Jurnal.
Mereka... mereka tau tentang jurnalnya?
Aruna ngeliat ke tasnya yang ada di samping kaki. Jurnal coklatnya nyempil di kantong samping. Kelihatan ujungnya.
*Ya Allah... mereka liat jurnalku?*
Kayla udah berdiri. Tangannya mengepal. Wajahnya merah. "Kalian—"
"Kay, jangan." Aruna narik tangan Kayla, suaranya gemetar. "Kumohon... jangan..."
"Tapi Run, mereka—"
"Aku udah biasa, Kay..." Aruna nunduk, air mata udah ngumpul di pelupuk mata. "Aku... aku udah biasa..."
Biasa.
Tapi tetep sakit.
Tetep... nyesek.
Kayla duduk lagi, tapi tangannya masih gemetar. Pengen banget hajar Nisa. Tapi Aruna... Aruna nggak mau ribut. Nggak mau jadi pusat perhatian.
Dan tiba-tiba...
Brak.
Suara kursi yang ditabrak.
Keras.
Semua orang di kantin noleh.
Adrian.
Senior kelas dua belas yang tinggi besar, rambut gondrong, seragam nggak dimasukin, tatapan mata yang... kasar.
Cowok itu jalan lewat meja Aruna. Sengaja. Sengaja nabrak kursi Aruna sampai kursinya geser—kriet—keras banget.
Aruna nyaris jatuh. Untung tangannya nangkep pinggiran meja.
Adrian berhenti. Noleh. Senyum—senyum yang... jahat.
"Wih, si cupu lagi makan," katanya sambil ketawa. "Kok nggak di kandang aja makannya?"
Temen-temennya yang ikut di belakang—dua cowok lagi—ketawa keras. Ngakak.
Aruna... nggak ngangkat kepala.
Cuma... diem.
Tangannya gemetar pegang sendok. Napasnya pendek-pendek.
*Ya Allah... kenapa... kenapa mereka nggak berhenti...*
Adrian jalan lagi, masih ketawa, keluar dari kantin bareng temen-temennya.
Dan Aruna...
Aruna kehilangan napsu makan sepenuhnya.
Tangannya lepas sendok. Sendok itu jatuh ke piring—kring—bunyi kecil yang cuma Aruna denger.
Kayla ngeliat Aruna. Mata sahabatnya itu... berkaca-kaca.
"Run..." bisik Kayla pelan. "Kamu... kamu nggak apa-apa?"
Aruna ngangguk. Tapi nggak ngomong apa-apa.
Karena kalau dia ngomong... dia takut suaranya bakal... pecah.
---
Dari sudut kantin, deket pintu menuju koridor yang nyambung ke perpustakaan...
Dhira berdiri.
Cowok itu lagi ambil minum—botol air mineral di tangan—tapi dia... denger semuanya.
Denger kata-kata Nisa.
Denger ketawa Alya, Dinda, Sari.
Denger Adrian nabrak kursi Aruna.
Dan sekarang...
Sekarang dia ngeliat Aruna.
Ngeliat gadis itu duduk diem, nunduk, gemetar.
Dhira... marah.
Marah yang dia jarang rasain. Marah yang... bikin dadanya panas. Bikin rahangnya mengeras. Bikin tangannya mengepal erat sampai botol air mineral di tangannya nyaris kempes.
Dia jalan.
Langkah tegas. Auranya... berubah. Nggak santai lagi. Nggak tenang lagi.
Dingin.
Dhira jalan langsung ke meja Nisa.
Berdiri tepat di depan meja itu. Bayangannya nutupin cahaya lampu kantin yang menyinari meja mereka.
Nisa menengadah. Wajahnya... langsung pucat.
"L-lo... ngapain di sini?" tanya Nisa, suaranya gemetar dikit.
Dhira nggak jawab langsung. Dia cuma... natap. Tatapan dingin yang bikin Nisa, Alya, Dinda, sama Sari... diem semua.
"Lu ngomong apa barusan?" tanya Dhira, suaranya rendah. Tapi... mengancam.
Nisa menelan ludah. "A-aku... aku cuma... cuma ngobrol biasa kok—"
"Ngobrol biasa?" Dhira nunduk dikit, tatapannya makin tajam. "Lu ngejek Aruna. Lu ngerendahin dia. Lu bilang dia beban. Lu bilang dia cupu. Lu bilang jurnalnya gaje."
Nisa... nggak bisa jawab.
"Gue tanya sekali lagi," lanjut Dhira, nada suaranya nggak naik tapi... lebih dingin. "Lu ngomong apa barusan?"
Sunyi.
Semua orang di kantin ngeliatin mereka sekarang. Bisik-bisik mulai terdengar.
Tapi Nisa... nggak berani ngomong apa-apa.
Alya, Dinda, Sari juga diem. Nunduk semua.
Dhira nggak ngelanjutin. Dia cuma... natap Nisa beberapa detik lagi. Tatapan yang cukup buat bikin Nisa nggak berani ngomong apapun hari ini.
Terus Dhira noleh.
Ngeliat Adrian yang masih di sudut kantin, lagi ngobrol sama temennya, masih nyengir.
Dhira jalan ke sana.
"Lu juga," katanya singkat, ngeliat Adrian dengan tatapan yang sama.
Adrian nyengir. Tapi... ada rasa nggak enak di matanya. Cowok itu nggak bales ngomong. Cuma... diem.
Dhira berbalik. Jalan keluar kantin.
Dan seluruh kantin... sunyi.
---
Dari sudut perpustakaan yang berbatasan dengan kantin, ada jendela kaca yang tembus pandang—bisa liat ke kantin dari sini.
Dan di sana...
Elang Alfarizi berdiri.
Cowok kelas sebelas juga. Kurus. Berkacamata tebal dengan bingkai hitam. Rambut rapi disisir ke samping. Seragam selalu rapi, dimasukin. Buku-buku tebal—buku filsafat, buku sains—selalu di pelukannya.
Cowok yang... pendiam. Lebih pendiam dari Aruna.
Cowok yang nggak punya temen banyak. Cuma... duduk sendirian. Baca buku sendirian. Makan sendirian.
Tapi...
Matanya... menatap Aruna.
Dari kejauhan. Lewat jendela kaca itu.
Menatap gadis yang masih duduk di meja kantin, nunduk, gemetar.
Elang... ngeliat semuanya tadi.
Ngeliat Nisa ngejek Aruna.
Ngeliat Adrian nabrak kursi Aruna.
Ngeliat Dhira membela Aruna.
Dan... dadanya sesak.
Sesak yang dia nggak ngerti kenapa.
Sesak yang... familiar tapi asing.
Elang nunduk, ngeliat buku di tangannya—buku filsafat berjudul "Tentang Cinta"—terus tutup buku itu pelan.
"Aruna..." bisiknya pelan, suaranya nyaris nggak kedengeran. "Kenapa... kenapa aku... ngerasa kayak gini..."
Dia ngeliat Aruna lagi.
Ngeliat gadis itu sekarang berdiri, jalan keluar kantin bareng Kayla, masih nunduk, masih... lemah.
Dan Elang... ngerasa pengen... pengen ngomong.
Pengen bilang sesuatu.
Pengen... peduli.
Tapi dia nggak berani.
Karena dia tau.
Aruna... Aruna ngeliat Dhira.
Nggak ngeliat dia.
Dan itu... itu yang bikin dadanya makin sesak.
Elang berbalik. Jalan masuk ke perpustakaan. Duduk di meja paling pojok. Buka bukunya lagi.
Tapi matanya... nggak baca.
Cuma... kosong.
Kosong sambil mikirin gadis yang... yang nggak pernah tau dia ada.
---
Aruna jalan keluar kantin bareng Kayla.
Kakinya lemes. Dadanya sesak. Matanya masih basah meskipun air matanya ditahan.
"Run, kamu yakin nggak apa-apa?" tanya Kayla sambil merangkul bahu Aruna.
"Aku... aku nggak tau, Kay..." jawab Aruna pelan, suaranya gemetar. "Aku... aku capek..."
"Capek apa?"
"Capek... capek digituin terus... capek dihina terus... capek ngerasa... ngerasa aku... beban..."
Kayla berhenti jalan. Noleh, peluk Aruna erat.
"Run, kamu bukan beban. Kamu bukan. Mereka itu yang salah. Bukan kamu."
Aruna nangis di pelukan Kayla. Pelan. Nggak berisik. Cuma... nangis.
Dan dari kejauhan...
Dhira ngeliat.
Ngeliat Aruna nangis di pelukan Kayla.
Dadanya... sesak lagi.
*Kenapa... kenapa gue nggak bisa lindungi dia sepenuhnya...*
*Kenapa... kenapa gue cuma bisa... bela dia dari jauh...*
*Kenapa gue... kenapa gue nggak berani bilang... bilang kalau gue...*
Dhira tutup mata. Tarik napas dalam.
*Astafirullah. Gue... gue jatuh cinta sama dia.*
*Beneran jatuh cinta.*
*Dan gue... gue nggak tau... gimana cara ngomong...*
---
Malam itu.
Aruna duduk di kamarnya.
Jurnal terbuka.
Halaman baru.
Pulpen di tangan.
Dia nulis.
---
...Hari ini Dhira membela aku....
...Dia bentak Nisa. Dia... dia marah buat aku....
...Dan aku... aku nggak tau harus ngerasa gimana....
...Seneng? Sedih? Takut?...
...Semuanya campur jadi satu....
...Karena semakin dia peduli... semakin aku jatuh cinta....
...Semakin aku berharap....
...Padahal aku tau... aku nggak boleh berharap....
...Karena aku dan dia... beda....
...Tapi kenapa... kenapa hati ini tetep... tetep suka dia?...
...Ya Allah... tolong... tolong jauhkan perasaan ini......
...Atau... atau biarkan aku tau... apa dia ngerasa hal yang sama......
...Karena aku... aku nggak kuat lagi... nggak kuat sendiri......
---
Aruna berhenti nulis.
Tangannya gemetar.
Air mata jatuh ke halaman jurnal. Bikin tintanya blur.
Dia tutup jurnalnya. Peluk erat.
Dan bisik pelan:
"Ya Allah... aku cinta dia..."
"Tapi aku takut... takut dia nggak cinta aku..."
"Dan aku... aku nggak tau... gimana cara berhenti..."
Hujan mulai turun di luar.
Rintik pelan.
Kayak air mata langit.
Yang nemenin... air mata Aruna.